NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: TITIK LEBUR CAHAYA

Suara retakan kaca itu terdengar seperti ledakan di telinga Kai. Di pusat perangkat dispersi, tabung 'Spektrum Biru' tidak lagi hanya berpendar; ia berdenyut liar seiring dengan resonansi suara Elara yang mencapai nada tertinggi. Cahaya biru yang memancar kini begitu pekat hingga udara di sekitarnya tampak mengkristal.

"Kai! Matikan sistemnya! Frekuensinya terlalu kuat!" teriak Sarah melalui speaker laptop yang mulai berasap.

Kai melihat ke arah Elara. Wanita itu seperti sedang berada dalam keadaan trans. Matanya terpejam, dan cahaya biru itu menyelimuti tubuhnya, membuat Elara tampak seperti entitas yang terbuat dari energi murni. Jika sistem ini meledak sekarang, Elara akan berada di titik pusat kehancuran gelombang elektromagnetik yang tak terkendali.

"Elara, berhenti!" teriak Kai, namun suaranya tenggelam dalam deru energi biru yang menyanyi.

Kai tahu apa yang harus dilakukan. Ayahnya pernah menulis di jurnalnya: *“Warna murni hanya bisa ditenangkan oleh sentuhan manusia yang berani menjadi wadahnya.”*

Tanpa perlindungan, Kai melangkah maju. Setiap langkah terasa seperti menembus dinding air yang sangat padat. Kulitnya terasa terbakar oleh radiasi warna yang terlalu indah untuk ditanggung indra manusia biasa.

"Kai, jangan!" Sarah berteriak dari layar, namun Kai sudah sampai di depan mesin itu.

Ia melihat tabung yang retak. Serbuk biru di dalamnya mulai menguap menjadi gas yang bercahaya. Kai tidak mematikan mesinnya—karena jika dimatikan tiba-tiba, energi yang terkumpul akan memicu ledakan frekuensi yang bisa membutakan seluruh orang di blok ini.

Ia melakukan sesuatu yang lebih nekat. Kai menjulurkan kedua tangannya, membungkus tabung yang panas dan retak itu dengan telapak tangannya sendiri.

*Zzzzzzt!*

Sensasi itu luar biasa. Bukan hanya rasa sakit fisik, tapi seolah-olah seluruh sejarah warna di alam semesta dipaksakan masuk ke dalam saraf-sarafnya. Kai melihat kilatan warna yang belum pernah ada namanya. Merah yang lebih dalam dari darah, kuning yang lebih terang dari matahari, dan biru yang begitu luas hingga ia merasa sedang tenggelam di samudra bintang.

"AAAGHHH!"

Kai berteriak saat energi itu tersedot masuk ke dalam tubuhnya, menggunakan sistem sarafnya sebagai jembatan untuk menetralkan sisa energi yang berlebih. Di saat yang sama, ia menggunakan tubuhnya untuk menghalangi radiasi langsung agar tidak mengenai Elara.

Tiba-tiba, sunyi.

Lampu-lampu papan iklan di seluruh kota padam serentak. Suara senandung Elara terputus. Cahaya biru yang tadi memenuhi ruangan perlahan memudar, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh bara kecil dari mesin yang terbakar.

Kai jatuh berlutut. Tangannya hitam karena luka bakar, namun ia tidak merasakannya. Dunianya mulai berputar.

"Kai? Kai!" Elara berlari ke arahnya, menangkap tubuh Kai sebelum ia ambruk ke lantai semen.

Elara memegang wajah Kai yang pucat. "Kenapa kau lakukan itu? Kau bisa mati!"

Kai mencoba membuka matanya. Ia melihat wajah Elara, namun pemandangannya mulai kabur. Warna-warna yang tadi begitu tajam mulai memudar satu per satu. Biru yang murni itu menghilang, digantikan oleh abu-abu. Hijau pupus di sudut ruangan berubah menjadi abu-abu gelap.

"Elara..." bisik Kai parau. "Apakah... apakah kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Kai. Aku di sini," Elara terisak, mendekap kepala Kai di dadanya.

"Syukurlah," Kai tersenyum lemah. "Dunia... dunianya kembali menjadi abu-abu, Elara. Aku tidak bisa melihat warnamu lagi."

Elara menatap mata Kai yang kini tampak kosong, namun damai. Pengorbanan Kai untuk menyerap kelebihan energi Spektrum Biru telah membakar saraf optiknya sekali lagi. Ia kembali ke dunianya yang monokrom.

"Tidak apa-apa," bisik Elara di sela tangisnya. "Jika kau tidak bisa melihat warna, aku yang akan menjadi warnamu. Aku akan menyanyi setiap warna untukmu sampai kau bisa merasakannya di kulitmu."

Di luar gedung, suasana kota berubah. Meskipun pameran itu hanya berlangsung beberapa menit, dampaknya permanen. Orang-orang di jalanan masih berdiri diam, merasa lebih tenang, lebih "terhubung". Para pengejar dari konsorsium yang tadi berlutut di koridor, kini perlahan bangkit dan pergi tanpa kata-kata. Mereka tidak lagi memiliki keinginan untuk mencuri sesuatu yang sudah menjadi milik jiwa semua orang.

Sarah, di ujung sambungan, menghapus air matanya. "Kai, transmisi itu berhasil. Seluruh data tentang kejahatan konsorsium dan formula Spektrum Biru sudah terenkripsi dan tersebar ke server publik di seluruh dunia. Mereka tidak bisa memilikinya lagi. Ini milik dunia sekarang."

Kai memejamkan matanya, merasakan napas Elara yang hangat. Ia kehilangan penglihatannya untuk kedua kalinya, namun kali ini ia tidak merasa hancur. Ia tidak merasa cacat.

"Aku tidak butuh mata untuk melihat bahwa malam ini sangat indah," ucap Kai pelan.

Di bawah reruntuhan laboratorium tua itu, di tengah kegelapan yang monokrom, Kai Malik akhirnya menemukan arti dari karyanya yang sebenarnya. Seni bukanlah tentang apa yang ditangkap oleh mata, tapi tentang apa yang ditinggalkan di dalam hati orang lain.

Namun, saat mereka bersiap untuk keluar, sebuah langkah kaki pelan terdengar mendekat. Bukan langkah bot militer, melainkan ketukan sepatu pantofel yang teratur.

Seorang pria tua dengan rambut putih bersih dan setelan jas kuno berdiri di ambang pintu. Di tangannya, ia memegang sebuah buku catatan kecil yang sangat familiar bagi Kai.

"Karya yang luar biasa, anak muda," ucap pria itu. "Ayahmu akan sangat bangga. Tapi Spektrum Biru hanyalah awal. Sekarang, saatnya kau belajar tentang Spektrum Putih."

Babak baru terbuka. Misteri tentang siapa sebenarnya ayah Kai dan siapa pria tua ini mulai membayangi kemenangan mereka. Dengan 34 bab tersisa, perjalanan untuk menyembuhkan dunia baru saja memasuki fase yang lebih mistis dan mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!