Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 33
Celina dan Andin akhirnya pergi ke mall setelah kemarin sempat batal karena hujan deras. Keduanya masuk ke toko perhiasan, Andin berniat ingin membelikan sesuatu buat menantunya.
"Aku yang ini saja, Ma!" Celina menunjuk sebuah cincin berukuran kecil dengan kadar emas tidak terlalu besar.
"Itu terlalu kecil, pilih yang lain!" pinta Andin yang tak mau memberikan hadiah yang sangat murah.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagian aku akan memakainya setelah melahirkan!" kata Celina.
"Baiklah, kamu boleh pilih cincin itu tapi kamu juga ambil gelang dan antingnya juga!" ucap Andin.
"Cincin sudah cukup, Ma!" kata Celina lagi.
"Mama tidak mau kamu menolak!" tegas Andin tapi dengan raut wajah tersenyum.
Celina akhirnya mengangguk setuju.
Selepas dari toko perhiasan mereka melanjutkan langkahnya ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari toko.
Keduanya duduk saling berhadapan lalu memesan makanan dan minuman. Celina kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pamit hendak ke toilet.
"Mau Mama temani?"
"Tidak usah, Ma. Aku bisa sendiri."
"Hmm.. baiklah!" Andin manggut-manggut.
Setelah Celina melangkah menuju toilet, Andin dengan gerakan matanya meminta salah satu pengawalnya mengikuti menantunya. Seorang wanita muda yang duduk tak jauh dari mereka lantas berdiri dan menjalankan perintah atasannya.
Celina sudah berada di toilet, pengawal wanita turut masuk dan berpura-pura mencuci tangan sembari mengawasi Celina yang tak mengetahui jika mertuanya meminta para ikut serta.
Celina yang hendak kembali ke restoran, tiba-tiba dihadang oleh Elma dan Ana. Tentunya kemunculan 2 wanita yang tak disukainya itu membuat hatinya jadi berantakan.
"Eh, ternyata Kak Celina hamil juga, Ma!" kata Elma melirik perutnya Celina yang tampak membuncit.
"Wah, selamat, ya, Celina. Mama tak tahu kamu telah mengandung, sejak menikah 'kan kamu tidak pernah mengunjungi rumah!" ucap Ana berbasa-basi.
Celina hanya tersenyum tipis.
"Aku pikir Kak Azka tidak mau menyentuh Kak Celina. Upss...!" ledek Elma seraya menutup mulutnya.
"Elma, kenapa bicara begitu?" tegur Ana dengan suara lembut.
"Maaf, Ma. Aku keceplosan!" ucap Elma tersenyum mengejek.
"Maaf, buru-buru. Aku sudah ditunggu mama mertuaku!" sindir Celina yang tahu jika Elma tak pernah mendapatkan kasih sayang dari mertuanya.
"Aku masih punya ibu kandung yang menyayangiku, Kak Celina selama ini 'kan selalu kekurangan kasih sayang padahal Mama Ana ingin memberikan itu tetapi Kak Celina terus menolak!" Elma balas menyindir.
Celina mengepalkan tangan mendengar ucapan adik sambungnya. "Aku tidak punya waktu buat meladeni pembicaraan kalian!" ia bergegas melangkah.
"Apa kamu yakin kalau yang dikandungannya adalah anaknya Azka?" tanya Ana kepada putrinya setelah Celina jauh beberapa meter.
"Aku juga tidak yakin, Ma. Secara Azka selama ini menyukaiku. Aku rasa itu tak mungkin terjadi jika Azka menyentuhnya!" jawab Elma.
"Apa mungkin dia menggoda Azka? Dia selama ini 'kan memakai cara licik buat mendapatkan keinginannya?" terka Ana menuding.
"Kemungkinan bisa jadi, aku akan tanyakan ini kepada Azka jika bertemu dengannya," kata Elma yang juga penasaran.
Sementara itu, Celina sudah kembali ke restoran. Duduk berhadapan dengan ibu mertuanya dan meneguk air dari botol mineral.
"Kenapa lama sekali? Apa ada yang mengganggumu?" Andin coba menebak.
"Tidak ada, Ma!" Celina berkata bohong, ia tak mau mertuanya kepikiran.
"Jika ada yang berani mengganggumu katakan pada Mama!" ucap Andin.
"Iya, Ma. Aku akan katakan kalau ada yang berani menggangguku!" kata Celina tersenyum tipis.
Selang 1 jam kemudian, Azka tiba di mall tempat ibunya dan istrinya berkunjung. Ia sengaja menjemput keduanya meskipun sudah ada sopir yang menunggu dan pengawal yang menemaninya.
Ketika hendak memasuki lift, Azka berpapasan dengan Elma dan ibunya yang baru saja keluar dari tempat itu.
"Elma, Tante Ana!" Azka menghentikan langkahnya dan menyapa keduanya.
"Hai, kebetulan kita bertemu di sini!" balas Elma menyapa.
"Aku mau menemui Celina dan mamaku," kata Azka.
"Azka, kami ingin bicara denganmu. Apa kamu punya waktu sebentar saja?" pinta Tante Ana.
Azka tampak berpikir sejenak.
"Sebentar saja!" mohon Elma.
"Baiklah!" Azka pun setuju.
"Bagaimana kalau di sana?" Tante Ana menunjuk tempat yang jarang dilalui pengunjung mall.
Ketiganya pun melangkah ke sana bersama-sama.
"Apa yang mau Tante bicarakan?" tanya Azka.
"Maaf sebelumnya, Azka. Jika pertanyaan Tante menyinggung perasaanmu," jawab Tante Ana.
"Ya, tidak apa-apa!" kata Azka.
"Kamu menikahi Celina 'kan karena terpaksa. Apa benar anak yang dikandung Celina adalah calon bayi kalian?" Tante Ana bertanya dengan hati-hati.
"Tidak ada yang perlu diragukan, Celina wanita yang jujur dan bukan wanita penggoda jadi aku yakin anak yang dikandungnya adalah calon anakku," jawab Azka mantap sekaligus menyindir.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Tante hanya tak mau kamu kecewa saja!" Tante Ana pura-pura tersenyum lega.
"Iya, benar. Kami cuma ingin memastikan saja!" sahut Elma yang juga menunjukkan wajah pura-pura lega.
"Kalian cuma ingin bertanya itu saja?" Azka menatap Elma dan ibunya secara bergantian.
"Ya, hanya itu saja. Selamat buat kalian, ya!" ucap Tante Ana tersenyum.
"Terima kasih. Kalau begitu, aku duluan, permisi!" Azka pun berlalu.
"Sial...kita gagal mempengaruhinya!" umpat Ana yang kesal.
"Kita pakai cara yang lain saja, Ma!" usul Elma.
"Ya, kamu benar. Kita harus pikirkan cara lainnya buat menghancurkannya!" Ana mengepalkan tangannya.
Masih cinta km sama si upik abu elma tercintamu