Lilyana Cooper, ialah seorang dokter bedah jenius dengan tingkat keberhasilannya dalam mengobati pasien 99% membuatnya diagung-agungkan sebagai dewi penyembuh oleh orang-orang.
Akan tetapi dalam 1% itu ialah hasil dari kegagalannya, entah kutukan atau apa tetapi ia selalu gagal mengobati orang yang ia sayang, termasuk suaminya sendiri.
Ditengah keterpurukan dan kehilangan orang yang ia mata cintaku, setelah ia gagal menyelamatkannya, tiba-tiba dia terbunuh saat sudah menyelamatkan seseorang ditangan seorang anak kecil, membuatnya langsung mati di tempat berdampingan dengan jasad suaminya.
Bukannya menyusul suaminya dan mati tetapi ia malah terlempar ke zaman kuno dimana semua penduduknya yaitu ras beasthuman, dan ia terlahir kembali sebagai salah satu penduduk disana, sebagai manusia setengah binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorong Smartphone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilepaskan?!
...----------------...
Ular piton itu hanya memerhatikan diam sembari mengibaskan ekornya seolah bosan dengan drama tersebut, seketika ia bergerak masuk kembali dalam air mulai berjalan kembali pergi meninggalkan dua orang yang saling mengungkapkan perasaan, tanpa menyadari hal itu.
Tapi keduanya Yuna dan Ashen sama-sama tidak sadar sibuk saling mencurahkan perasaan untuk terakhir kalinya, Yuna berbaring memeluknya sembari terisak-isak.
Sedangkan Ashen menerima seolah pasrah dengan nasibnya, ia mulai mengelus rambutnya berusaha dengan tenaganya.
"Kau harus tetap pergi, setelah melewati gua akan ada pemukiman tempat para beasthuman tinggal, kau bisa bersembunyi disana dan tinggal untuk sementara waktu hingga kau kembali ke tempatmu berasal, jika kau terus-menerus disini, kau hanya akan jadi santapannya, ular itu kemungkinan tidak akan memakanmu, tapi kau akan jadi budak nafsunya, dan fisikmu akan rusak jika berhasil tertangkap."
Mendengar itu Yuna bergidik ngeri, namun ia menggeleng tegas menolak untuk menjauh, menyeka air mata menatapnya tajam.
"Tidak, aku akan tetap disini, kau juga bagaimana jika dimakan olehnya? lagipula tidak ada jalan keluar, pasti aku akan diikuti."
"Yuna...."
"Pokoknya aku akan tetap disini.."
Mendengar jawaban tegas darinya membuat Ashen akhirnya pasrah mulai memeluknya, berharap ini bisa menjadi momen terakhirnya sebelum ia pergi.
"Kau keras kepala." ucapnya pasrah sembari mengelusi surai rambut hitamnya.
"Aku tau, tapi kau tidak boleh menyuruhku pergi lagi." Yuna semakin mengeratkan pelukan, sebelum ia melonggarkan karena takut menekan luka-luka nya, ia hanya diam menikmati kecupannya, mungkin ini kebersamaan terakhir kali sebelum keduanya dimangsa.
"Yuna...
"Ashen..."
Sedangkan dari kejauhan seseorang berhasil menemukan orang yang ia cari dalam waktu yang cukup lama itu, bingung saat melihat keduanya diam saling berpelukan, bermesraan di tepi sungai seolah akan mengalami perpisahan untuk terakhir kalinya, ia mendekati mulai menyapa keduanya santai.
"Oh Ashen kau ternyata disini bersama em.... Siapa?" menatapnya kagum melihat betina yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya, sebelum terpana ia buru-buru menyadarkan diri menggeleng menghilangkan pikiran buruk yang menguasainya.
"lni pasangan orang lain, sadarlah kuda busuk kau tidak mungkin bisa merebutnya..... Ahh, kau darimana saja? Ibumu selalu menanyakanku mengapa kau belum pulang."
Seketika Yuna dan Ashen saling melirik, Arshen tiba-tiba tersadar menatapnya heran terkejut mengapa ada orang disini dan santai mendekati keduanya saat di belakang mereka ada ular piton yang sedang mengintai siap memangsa. "Laso, apa yang kau lakukan?! Bahaya disini ada ular piton."
Sang beastman kuda tersebut seketika meliriknya bingung sebelum celingukan melihat sekeliling hingga menatapnya lagi. "Ular dimana? Tunggu-tunggu mengapa kau seperti ini..... Kau pasti meminum tumbuhan beracun sehingga halusinasi? Dan apa-apaan tubuhmu, kau bermain apa dengannya... Dia ganas sekali."
Seketika Yuna tersipu wajah memerah mendengar ucapannya, seketika ia melirik sekeliling heran sadar ucapannya benar, ularnya tidak ada. "Tadi ada bentuknya lebih tepatnya sebesar pohon... Tapi bagaimana bisa menghilang..?"
Arshen berusaha menegakan badan menengok sekeliling, sadar ucapannya benar, seketika ia melirik Yuna lagi.
Dan Yuna mengerti hanya mengangguk memastikan keduanya melihat bersama benar-benar tidak berhalusinasi, ia bingung mengapa keduanya tiba-tiba dilepaskan oleh ular tersebut dengan mudah.
Laso yang melihat pasangan aneh tersebut seketika mendengus iri sebelum berdehem menyadarkan keheningan, agar keduanya tidak terus-menerus bermesraan di matanya.
"Kau sebaiknya pulang dulu sembari memperkenalkan betinamu pada ibumu, sebelum dia mengamuk lagi berbuat onar karena khawatir kau tidak kunjung pulang."
Arshen akhirnya tersadar mulai mengangguk ia merasakan tubuhnya dibantu berdiri oleh temannya, dipapah agar ia cukup kuat walaupun sesekali desisan sakit terdengar di mulutnya.
Yuna terdiam tersipu bertanya-tanya apakah pendengarannya cukup salah, dia akhirnya akan bertemu pertama kalinya dan diperkenalkan ibu dari Ashen, merasa seolah diperkenalkan untuk memintai restu menikahinya.
"Mengapa kau diam Yuna? Ayo ikuti kami, nanti kau tertinggal."
Seketika Yuna tersadar melihat keduanya perlahan menjauh, dengan panik ia memungut pakaian keduanya kembali, sembari mengangkutnya cepat, pergi mengikutinya.
"Ah iya tunggu sebentar!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Seketika saat Yuna berjalan, masuk untuk pertama kalinya berkunjung dan berinteraksi dengan orang banyak di dunia ini, saat masuk ia terperanjat melihat sekumpulan pemukiman sederhana dari beberapa kayu yang dialasi pohon aren sebagai atap rumahnya, ia sadar ternyata seperti ini beasthuman hidup berkelompok bisa mempunyai kemajuan selayaknya manusia biasa, sesampainya di dalam pemukiman, Yuna langsung memperhatikan para beastman berbagai usia, semuanya melakukan aktivitas masing-masing dengan hanya memakai alas kain binatang untuk menutupi alat kelaminnya.
Saat ia masuk tentu saja merasakan perhatian mata tertuju padanya membuatnya seketika ciut hanya bisa menundukkan kepala.
"Siapa betina itu?!"
"Terlihat kurus, tapi halus juga lembut disaat bersamaan, dia dari ras kucing atau rubah?"
"Luar biasa, kau lihat dia dibawa Laso, apakah dia pasangannya?!"
"Hey, tidak mungkin, kau lihat Ashen dipapah olehnya, mungkin itu pasangannya, kuda buruk rupa sepertinya tidak mungkin beruntung."
"Apa yang kalian bilang hah?!" Amarah laso naik awalnya ia bangga ia dipuji mempunyai betina cantik yang dibawa Ashen, tapi lama-kelamaan mendengar ejekan orang-orang membuat amarahnya tersulut.
"Kau memang tidak laku, apa aku salah?"
"Benar, setelah ditolak Lara, tidak mungkin kau beruntung mempunyai betina cantik sepertinya."
"Apakah kita salah? Hahaha."
"Uh sialan!" hampir saja ia ingin menerjang membalas mereka yang menghinanya, namun dirinya sadar dari tadi sedang memapah temannya yang sedang terluka, membuat ia mengurungkan niat tersebut.
"Awas saja kalian! Kalian sendiri apakah lupa?Sadar diri para bujangan haus belaian."
Arshen hanya menggeleng heran kemudian dengan sisa kekuatannya, menarik menggenggam tangan Yuna, agar ia dekat sehingga keduanya tidak sempat berjauhan membuatnya tidak merasa sendiri dan asing di tempat ini.
Yuna hanya menurut menerima, merasa cemasnya hilang saat merasakan sentuhannya, membuatnya senyumannya naik menjadi tersipu malu.
Tiba-tiba sebuah langkah tegas, cukup tajam dan dalam terdengar dari kejauhan, membuat seketika para beasthuman yang ada kompak mulai membungkuk seolah memberi hormat pada orang yang akan datang itu.
Laso yang sedang memapah juga memaksakan diri menunduk hormat, melihat tangan sebelah kanannya, Arshen juga ikut melakukan hal sama melipat tangannya yang menganggur, sedikit menundukkan kepala dengan kesusahan karena ia hanya bisa melakukan ini dengan kondisinya yang sekarang.
Yuna bingung bertanya-tanya mengapa semuanya melakukan hal sama karena kedatangan seseorang, namun ia hanya mengikuti orang-orang, takut melakukan kesalahan jadi ia ikut membungkuk hormat.
Enam orang datang, keempatnya ialah wanita berjalan tegas datang ke arah mereka, seluruh tubuhnya masing-masing dibaluti dengan kain lembut putih di lehernya membuat mereka terlihat mewah dan di tengahnya terdapat dua wanita yang diapit mereka, keduanya terlihat menarik perhatian terutama perbedaan fisik keduanya menonjol dari yang lainnya, seketika seperti putri yang dijaga oleh para troll.
Wanita pertama mempunyai rambut panjang cukup diikat kuncir kuda, dengan tubuh berisi cukup gempal dan memiliki wajah angkuh, disebelahnya lebih parah, fisiknya amat kusam dengan lemak yang menonjol di perutnya ditambah wajahnya berminyak jerawatan akan tetapi dengan angkuh ia tersenyum sombong seolah merasa paling cantik, selanjutnya wanita lebih ramping, lebih baik fisiknya dari keduanya namun rambutnya sebelahnya botak, ia juga mengunakan anting kebesaran, bertindik di telinga juga wajahnya, wanita di sebelahnya lagi, memiliki fisik berotot tidak gendut terlihat cukup mengesankan namun wajahnya galak menyerupai pria, sedangkan dua yang terakhir memiliki badan yang amat ramping, kulitnya cukup cerah juga putih dipadukan wajahnya bulat oval kecil, keduanya berjalan di tengah seolah memimpin mereka.
Seketika Yuna diam memerhatikan, mulai membanding-bandingkan rata-rata pria disini terlihat sangat tampan dan mengesankan dibandingkan di dunia aslinya, tapi kali ini ia melihat wanita disini, menyadari benar-benar perbedaan fisik keduanya cukup jauh, seperti si buruk rupa dan angsa, namun ia memilih diam tidak berkomentar, cukup mengamati merasa tidak bisa menghakimi.
Tiba-tiba satu dari dua wanita yang berada di tengah maju, rambutnya berwarna putih tergerai dipadukan bingkai aksesoris menghiasi kepala yang menambah kecantikannya, wajahnya yang tegas digantikan raut kekhawatiran saat mendekat memerhatikan Ashen di tempat yuna berada.
"Nak, apa yang terjadi, mengapa kau seperti ini?" ia berjalan mendekati menatap tubuhnya cemas dari atas kebawah, matanya berkaca-kaca saat menelisik meraba-raba pipinya pelan seolah takut menyakitinya.
"Aku tidak apa-apa bu, hanya saja sebelum kesini aku tiba-tiba diserang ular piton raksasa sehingga seperti ini." balas ashen mencoba membuatnya tidak cemas, ia berusaha tersenyum.
Sang ibu, juga laso yang menemaninya terbelak ngeri dan terkejut sadar apa yang terjadi, menyadari ternyata itu bukan candaan.
"Piton raksasa?! bagaimana bisa terjadi apalagi berkeliaran bebas di lingkungan ini---
Namun ucapannya terhenti seketika sadar melihat seorang gadis halus yang sedari tadi diam dibelakang tubuh putranya.
"Kau siapanya putraku?"
"Apa yang harus ku jawab?!"
...----------------...