Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH DI ATAS SUTRA
Sementara itu, di kamar utama, Flaire meringkuk di balik sofa besar yang ia balikkan sebagai perlindungan. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari balkon.
PRANG!
Seorang pria bertubuh besar dengan penutup wajah melompat masuk, memegang pisau komando yang berkilat. Ia melihat Flaire dan menyeringai di balik kain hitamnya.
"Nyonya Shelby... Seraphina ingin kulit wajahmu yang cantik ini sebagai kenang-kenangan," bisik pria itu sambil melangkah maju.
Flaire gemetar hebat. Tangannya yang memegang pistol pemberian Jaydane terasa sangat berat. Ia teringat Jorden di kamar sebelah, ia teringat bagaimana Jaydane melindunginya selama ini. Kekuatan seorang ibu mendadak merasuki jiwanya.
"Jangan... mendekat!" teriak Flaire.
Pria itu tertawa mengejek, menganggap Flaire hanya mangsa lemah. Saat ia melompat hendak menerjang, Flaire memejamkan mata sejenak, membayangkan instruksi Jaydane: Tarik napas, kunci sasaran, dan tekan tanpa ragu.
DOR! DOR!
Dua tembakan dilepaskan Flaire. Peluru pertama mengenai bahu pria itu, membuatnya terpental. Peluru kedua, yang dilepaskan dengan kemarahan murni, tepat bersarang di dadanya. Pria itu tersungkur tak bernyawa di atas karpet bulu putih yang kini mulai meresap darah merah pekat.
Flaire jatuh terduduk, napasnya memburu. Ia baru saja membunuh seseorang. Namun, ia tidak punya waktu untuk trauma. Ia segera berlari menuju pintu penghubung ke kamar Jorden.
Di bawah, Jaydane telah melumpuhkan semua orang kecuali Seraphina. Ia mencengkeram leher wanita Italia itu dengan satu tangan, mengangkatnya hingga kaki Seraphina menendang-nendang udara.
"Kau ingin tahu apa yang terjadi pada wanita yang mencoba menyentuh milikku?" Jaydane berbisik di depan wajah Seraphina yang mulai membiru.
Tepat saat itu, pintu lantai atas terbuka. Flaire muncul sambil menggendong Jorden yang menangis, dengan noda darah memercik di wajah cantiknya.
"Jay! Jorden aman!" teriak Flaire.
Jaydane menoleh, matanya berkilat bangga melihat Flaire berdiri tegak dengan senjata di tangan lainnya. Ia kembali menatap Seraphina.
"Lihat dia? Dia jauh lebih kuat dari bayanganmu. Dan sekarang, kau tidak punya kegunaan lagi."
Jaydane melempar Seraphina ke arah anak buahnya, Marco, yang baru saja muncul dari kegelapan.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah. Aku ingin ayahnya melihat video eksekusinya besok pagi. Pastikan dia merasakan setiap detik penderitaan yang ia rencanakan untuk Flaire."
Jaydane kemudian membuang senjatanya ke lantai dan berlari menaiki tangga. Ia merengkuh Flaire dan Jorden dalam pelukan raksasanya. Ia mencium kening Flaire yang masih gemetar.
"Kau melakukannya, Little Bird. Kau melindunginya," bisik Jaydane bangga.
Flaire menyandarkan kepalanya di dada bidang Jaydane yang hangat. "Bawa kami pergi dari sini, Jay. Aku ingin memulai hidup baru... tanpa darah."
***
Setelah debu pertempuran di Berlin mereda, Jaydane tidak membuang waktu. Ia membawa Flaire dan Jorden menggunakan jet pribadinya menuju Shelby’s Sanctuary, sebuah pulau pribadi di kepulauan Karibia yang tidak terjamah oleh radar mana pun. Di sana, pasirnya seputih kristal dan air lautnya berwarna biru jernih, sejernih mata Crush Green milik istri dan anaknya.
Jorden, yang sudah kembali ceria, asyik bermain di pinggir pantai dengan penjagaan ketat para pengawal di kejauhan. Sementara itu, di dalam vila mewah yang menghadap langsung ke samudra, ketegangan yang berbeda mulai terbangun.
Flaire berdiri di balkon, menikmati semilir angin laut yang menerpa jubah sutra tipisnya. Tiba-tiba, sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi laut dari tubuh Jaydane langsung menyerbu indra penciumannya.
"Jorden sudah bersama pengasuhnya untuk makan siang," bisik Jaydane, suaranya kini terdengar jauh lebih rendah dan berbahaya daripada saat ia memegang senapan. "Tidak akan ada alarm, tidak ada musuh, dan tidak ada gangguan lagi malam ini... atau bahkan sepanjang hari ini."