NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Ini sakit!

Minggu itu terasa seperti sebuah terowongan gelap yang tidak memiliki ujung. Kelelahan yang kuhadapi bukan hanya soal fisik, melainkan jiwa yang sudah terkikis habis. Di rumah, suasana tak kalah mencekam dibandingkan di sekolah. Ketika aku sedang sibuk mencuci tumpukan baju di belakang rumah, adikku terjatuh dari sepeda dan menangis histeris. Bukannya menenangkan, Mak justru datang dengan rentetan makian yang menghujam jantung.

"Hanie! Kamu ini memang anak tidak berguna! Hanya tahu memikirkan diri sendiri! Menjaga adik sebentar saja tidak becus!" teriak Mak, suaranya melengking membelah keheningan sore itu.

Aku hanya bisa terdiam, membiarkan air sabun mengering di tanganku yang gemetar. Kata-kata "anak tidak berguna" itu berdenging di telingaku sepanjang malam, membuatku sulit memejamkan mata.

Keesokan harinya, aku membawa seluruh beban kesedihan itu ke sekolah. Langkahku terasa berat, seolah setiap jengkal tanah yang kupijak menolak kehadiranku. Alih-alih masuk ke kelas yang penuh dengan tatapan menghakimi, aku memilih untuk menyelinap ke belakang blok bangunan sekolah. Itu adalah tempat persembunyian rahasia yang sunyi, di mana hanya ada tumpukan kursi rusak dan semak belukar yang menemaniku menenangkan diri.

Aku duduk bersandar pada dinding semen yang dingin. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku mengeluarkan cermin kecil dari saku. Aku menatap pantulan wajahku. Aku mencari lesung pipit yang dulu sering muncul setiap kali aku tertawa, namun kini lesung itu seolah telah terkubur di bawah lapisan kesedihan yang tebal. Aku menggunakan ujung jariku untuk membetulkan bulu mataku yang basah dan saling menempel karena air mata yang tak henti mengalir sejak subuh tadi.

"Hanie... kasihan sekali kamu. Di sekolah dirundung, di rumah ibu sendiri pun tidak suka padamu."

Suara itu bagaikan sambaran petir. Aku tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan cerminku. Syasya berdiri di sana, tepat di depanku, didampingi oleh Amani. Mereka berdua berdiri dengan tangan bersedekap, memasang senyuman sinis yang sangat memuakkan.

Seketika itu juga, aku menyadari kesalahan fatal yang pernah aku lakukan: aku pernah memercayai Syasya. Aku pernah menumpahkan segala rahasia tentang perlakuan Mak di rumah kepadanya, mengira dia adalah kawan yang tulus. Kini, rahasia itu menjadi senjata tajam yang dia gunakan untuk menyembelih perasaanku.

"Jangan ikut campur urusanku, Syasya," kataku dengan suara yang diusahakan tetap tegas, meski hatiku sedang menjerit ketakutan.

"Aku bukan ikut campur, aku hanya ingin memberi tahu seluruh kelas bahwa kamu ini memang 'pembawa sial'. Pantas saja Azka suka sekali merundungmu, karena kamu memang layak diperlakukan begitu," timpal Amani dengan nada bicara yang sangat meremehkan.

Duniaku serasa berputar. Aku berdiri dengan terburu-buru, ingin segera pergi dari tempat terkutuk itu. Namun, langkahku terhenti saat aku melihat sosok lain di sudut dinding.

Di sana, bersandar pada pilar gedung, berdiri Devian Azka. Dia ada di sana sepanjang waktu. Dia mendengar semuanya. Dia mendengar tentang penolakan Mak terhadapku, dia melihat betapa rapuhnya aku saat memegang cermin itu sambil menangis sesenggukan.

Mata hazel-nya yang biasanya penuh dengan binar jahat, kini bertembung tepat dengan mataku. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Kali ini dia tidak tertawa. Dia tidak mengeluarkan kata-kata pedas. Dia diam membisu, dan di dalam kedalaman mata hazel itu, aku melihat sesuatu yang menyerupai rasa kasihan atau mungkin penyesalan. Dia tampak seolah ingin melangkah maju, ingin mengatakan sesuatu mungkin sekadar bertanya apakah aku baik-baik saja.

Namun, momen itu hancur seketika ketika suara tawa Arif terdengar dari kejauhan, mendekat ke arah kami.

Aku melihat perubahan drastis pada wajah Azka. Kilat empati yang sempat muncul tadi langsung padam, digantikan oleh topeng dingin yang biasa ia kenakan. Dia menegakkan tubuhnya, memasang wajah angkuh yang paling menyebalkan.

"Woi Hanie! Kamu sedang membuat drama apa lagi di sini? Belum cukup juga perhatian yang kamu inginkan?" teriak Azka dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Arif bisa mendengarnya dengan jelas.

"Maaf Hanie"bisik Devian dalam hatinya.

Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Aku berlari melewati mereka semua, mengabaikan tawa Syasya dan Amani yang pecah di belakangku. Aku berlari dengan napas yang sesak, membawa luka baru yang jauh lebih perih.

Aku benci Azka. Aku benar-benar membencinya lebih dari siapa pun di sekolah ini.

Aku benci dia karena dia adalah seorang pengecut. Dia melihatku hancur berkeping-keping tepat di depan matanya, dia tahu kebenaran tentang penderitaanku di rumah, namun dia tetap memilih untuk "menginjak" dan menendangku lebih dalam lagi hanya demi terlihat hebat di depan kawan-kawannya. Dia lebih mementingkan ego dan posisinya di mata Arif daripada nuraninya sendiri.

Sepanjang hari itu, aku mengurung diri di perpustakaan, bersembunyi di balik rak-rak buku yang tinggi. Pikiranku terus memutar ulang kejadian di belakang blok tadi. Syasya yang kini benar-benar menjadi monster, Arif si iblis.Amani yang licik, dan Azka... Azka yang bermuka dua.

Dari setiap episode penderitaan yang sudah kulewati, hari ini adalah yang paling melelahkan. Aku merasa seolah-olah seluruh dunia telah bersepakat untuk memusuhiku. Jika di rumah aku dianggap tidak berguna, dan di sekolah aku dianggap sampah, lalu di mana tempatku di dunia ini?

Aku mengeluarkan kembali cermin kecilku. Kaca cermin itu kini tampak buram oleh bekas sidik jariku. Aku menatap mataku yang merah karena terlalu banyak menangis. Aku menyadari satu hal yang sangat pahit di tengah kerumunan manusia yang egois, aku hanya memiliki diriku sendiri.

"Hanie, jangan pernah percaya pada mata hazel itu lagi," bisikku pada diri sendiri. "Mata itu indah, tapi hatinya busuk. Dia hanya seorang pengecut yang berlindung di balik tawa orang lain."

Kebencianku pada Azka kini mencapai level yang baru. Jika sebelumnya aku merasa takut padanya, sekarang rasa takut itu telah berubah menjadi rasa jijik. Aku jijik pada kepura-puraannya. Aku jijik pada caranya mencari validasi dengan cara menghancurkan orang yang sudah hancur.

Malamnya di asrama, aku tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit kamar Bilik 7 yang gelap. Aku teringat bagaimana Kak Qasrina sekarang lebih memilih Amani, bagaimana Syasya menggunakan rahasia keluargaku sebagai bahan olok-olok. Aku merasa dikelilingi oleh serigala berbulu domba.

Aku merogoh saku dan menggenggam cermin kecil itu kuat-kuat. Cermin ini adalah satu-satunya benda yang tidak pernah berbohong padaku. Ia menunjukkan lukaku apa adanya, tanpa tambahan ejekan atau kepalsuan.

"Suatu hari nanti, aku akan pergi dari sini," janjiku dalam hati. "Aku akan membuktikan kepada Mak, kepada Syasya, dan terutama kepada si pengecut bermata hazel itu, bahwa mereka tidak berhasil membunuh jiwaku."

Meskipun hari ini aku berlari sambil menangis, suatu hari nanti aku akan berjalan dengan kepala tegak, meninggalkan mereka semua yang hanya berani bersorak di atas penderitaan orang lain. Episode ini mungkin adalah yang paling menyakitkan, tapi ia juga yang paling menguatkan tekadku untuk tidak lagi bergantung pada kebaikan manusia yang hanya bersifat sementara.

Aku memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menyelimuti lukaku. Esok adalah hari baru, dan aku harus siap mengenakan topeng kekuatanku lagi, karena di sekolah itu, hanya mereka yang keras yang akan bertahan, dan aku menolak untuk hancur sebelum sempat melihat mereka semua menyesali perbuatan mereka.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!