“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PEMBASUHAN SUMSUM DAN MERIDIAN
Kesadaran itu datang seperti gelombang pasang yang perlahan menyapu pantai. Rimba Dipa Johanson merasakan kelopak matanya bergetar, namun ia belum sanggup membukanya. Hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah suara. Suara hujan yang tadi terdengar seperti amukan badai, kini terdengar lebih jernih di telinganya. Ia bisa membedakan antara bunyi tetesan air yang menghantam genteng tanah liat, suara air yang mengalir di talang yang bocor, hingga suara angin yang bersiul di sela-sela lubang ventilasi kayu.
Namun, ada sesuatu yang ganjil. Sangat ganjil.
Rimba ingat betul detik-detik terakhir sebelum kegelapan merenggutnya. Ia terkapar di parit sawah yang dingin, basah, dan kotor. Seharusnya saat ini ia merasa menggigil hebat, atau setidaknya merasakan air parit yang meresap ke dalam lukanya. Namun, punggungnya justru merasakan permukaan yang rata dan keras, namun kering. Ia juga tidak lagi mencium bau tanah basah yang menyengat, melainkan aroma kayu tua dan debu tipis yang sangat ia kenal.
Perlahan, Rimba membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan cahaya lampu bohlam lima watt yang temaram. Langit-langit ruangan itu terbuat dari bilik bambu yang di beberapa sudutnya sudah menghitam karena usia.
"Kamarku?" bisiknya parau. Tenggorokannya terasa kering, namun rasa sakit yang luar biasa akibat pengeroyokan tadi entah mengapa terasa jauh berkurang.
Rimba mencoba menyentuh keningnya. Area itu terasa sangat panas, berdenyut-denyut seperti ada jantung kedua yang berdetak di sana. Seiring dengan denyutan itu, sebuah sensasi aneh mulai menjalar. Ia merasakannya pertama kali di ulu hati—sebuah titik pusat yang tiba-tiba terasa hangat.
Hangat itu bukan sekadar suhu, melainkan sebuah gelombang energi. Gelombang itu bergerak keluar dari perutnya, melesat menuju ujung jari tangan, turun ke ujung kaki, lalu memutar kembali menuju perutnya dengan kecepatan yang sangat stabil.
Wush... Wush...
Rimba bisa merasakannya. Sensasi itu membuat bulu kuduknya meremuk. Bukan karena takut, melainkan karena rasa nyaman yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Seolah-olah setiap sel di tubuhnya sedang dipijat oleh tangan-tangan tak kasat mata.
Penasaran, Rimba mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Ia membolak-balikkan telapak tangannya, berharap melihat ada cahaya biru atau aliran listrik yang kasat mata. Namun, tangannya tampak biasa saja. Masih tangan pemuda jangkung dengan kulit pucat dan beberapa bekas luka memar yang mulai memudar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Meski secara visual tidak ada yang berubah, di balik kulit dan otot itu, Rimba tahu ada sesuatu yang sedang berlari bolak-balik tanpa henti.
"Apa ini sebenarnya?" batinnya berkecamuk. "Cahaya tadi... apa itu semacam meteor? Atau aku sedang bermimpi di tengah koma?"
"Kau tidak sedang bermimpi, Anak Muda."
Sebuah suara berat, tenang, dan berwibawa memecah keheningan kamar itu. Rimba tersentak hebat. Ia refleks bangkit dan duduk di atas kasur tanpa dipannya, matanya menyapu sudut ruangan dengan waspada.
Di sana, tidak jauh dari tempat tidur, duduk seorang pria tua dengan posisi bersila yang sempurna. Penampilannya sangat eksentrik, seolah baru saja keluar dari film kolosal zaman dulu. Ia mengenakan jubah putih bersih yang tampak bercahaya lembut di dalam kegelapan. Rambutnya panjang memutih, serasi dengan kumis dan jenggot panjang yang terawat rapi, semuanya sewarna salju.
"Bapak siapa?" tanya Rimba. Suaranya bergetar antara rasa hormat dan bingung. "Kenapa Bapak bisa ada di kamar saya? Dan... bagaimana saya bisa sampai di sini? Tadi saya ada di parit dekat jalan masuk kampung."
Orang tua itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat kemarahan atau ketakutan apa pun di hati Rimba mendadak sirna. "Aku adalah seutas energi yang mengawal Esensi Ilmu Kehidupan yang tadi telah menyatu dengan tubuhmu," jawabnya tenang. "Mengenai namaku, itu tidak penting. Aku yang membawamu pulang ke sini setelah melihat jejak auramu yang meredup di tepi jalan."
Rimba mengerutkan kening. Istilah-istilah yang diucapkan orang tua itu terdengar sangat asing bagi logikanya yang biasanya dipenuhi oleh bahasa pemrograman dan matematika. "Esensi Ilmu Kehidupan? Aku benar-benar tidak mengerti, Pak. Apa itu sejenis sihir? Atau teknologi?"
Orang tua itu terkekeh pelan. "Bisa dibilang itu adalah ekstrak dari semua ilmu yang ada di alam raya ini. Segalanya—mulai dari cara memahami angin, membelah gunung, hingga memahami rahasia penciptaan. Semuanya sudah masuk ke dalam dirimu. Tugasmu nanti adalah memilah dan memilih ilmu apa yang ingin kau pelajari agar berguna bagi hidupmu, dan yang lebih penting, bagi hidup orang lain."
Rimba terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Ia merasa seperti sedang berada di dalam plot novel fantasi yang sering ia baca di internet. "Tapi, bagaimana mungkin? Semua ilmu itu... di mana saya bisa mempelajarinya? Saya tidak melihat ada buku atau gulungan di sini."
"Semuanya sudah ada di dalam kepalamu, Anak Muda," orang tua itu menunjuk ke arah kening Rimba. "Sekarang, kepalamu tidak ubahnya sebuah perpustakaan ilmu yang sangat besar, lebih besar dari perpustakaan mana pun di dunia ini. Namun, kau tidak bisa membukanya begitu saja. Untuk memahami dan mendalami ilmu-ilmu itu, kau membutuhkan wadah yang kuat. Kau membutuhkan Kultivasi."
"Kultivasi?" Rimba mengulang kata itu dengan nada asing. "Apa itu seperti... latihan fisik?"
"Lebih dari sekadar fisik," jelas si orang tua. "Kultivasi adalah proses meningkatkan kemampuan tubuh dan jiwamu hingga melampaui batas manusia pada umumnya. Di dunia ini, atau di dunia mana pun yang kau tempuh nanti, ada dua belas tingkatan kultivasi. Setiap tingkat memiliki empat tahapan: Rendah, Menengah, Tinggi, dan Puncak."
Rimba mendengarkan dengan saksama. Sebagai calon mahasiswa IT, ia mulai mencoba mengorganisir informasi ini di otaknya seperti sebuah struktur data.
"Setiap kali kau naik tahap, kekuatanmu akan meningkat secara luar biasa," lanjut orang tua itu. "Sederhananya, jika orang di tingkat awal memiliki kekuatan dasar satu satuan—sebut saja satu 'G'—maka saat naik ke tahap Rendah, kekuatannya menjadi dua G. Di tahap Menengah menjadi empat G. Di tahap Tinggi menjadi delapan G. Begitu seterusnya. Setiap kenaikan tahap, kekuatanmu akan berlipat dua dari sebelumnya. Bayangkan betapa dahsyatnya kekuatanmu jika kau mencapai tingkat-tingkat yang lebih tinggi."
Rimba menelan ludah. Jika setiap tahap melipatgandakan kekuatan, maka pada tingkat dua belas, angka itu akan menjadi sesuatu yang sangat fantastis, melampaui imajinasi manusia.
"Lalu, bagaimana cara saya memulainya, Pak? Bagaimana cara melatih kultivasi itu?"
Orang tua itu menatap Rimba dengan tatapan yang dalam. "Langkah pertama adalah membuka Pusat Meridianmu. Saat ini, gelombang yang kau rasakan di dalam tubuhmu itu sedang bekerja. Itu adalah proses pembasuhan sumsum dan pembersihan jalur meridian. Gelombang itu sedang mengikis semua hambatan, lemak, dan kotoran yang menyumbat aliran energimu selama belasan tahun ini."
Orang tua itu memberi isyarat dengan tangannya agar Rimba kembali berbaring. "Berbaringlah lagi, Anak Muda. Proses ini akan mencapai puncaknya. Selain membuka jalan bagi energimu, proses ini juga akan menajamkan panca indra dan persepsimu. Kau akan melihat dunia dengan cara yang berbeda setelah ini."
Rimba ragu sejenak, namun rasa hangat yang semakin kuat di perutnya seolah memaksanya untuk patuh. Ia merebahkan kembali tubuh jangkungnya di atas kasur tua itu. Begitu punggungnya menyentuh kasur, gelombang energi yang tadi bergerak konstan tiba-tiba berakselerasi.
Wush! Wush! Wush!
Kecepatannya berlipat ganda dalam hitungan detik. Rimba memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa tubuhnya seperti sebuah mesin yang sedang dipacu hingga batas maksimal. Rasa panas di keningnya kini menjalar ke seluruh tulang belakangnya.
Tiba-tiba, di dalam kesunyian kamar itu, terdengar suara yang hanya bisa didengar oleh Rimba.
Krak!
Suara itu seperti cangkang telur yang renyah yang remuk. Kemudian disusul oleh deretan suara berderak lainnya dari dalam persendian dan tulang-tulangnya. Rasanya seperti ada dinding kaca di dalam tubuhnya yang hancur berkeping-keping, melepaskan sumbatan yang selama ini mengikat potensinya.
Rimba mendesah pendek, tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya jatuh lemas sepenuhnya ke atas kasur. Keringat dingin bercampur cairan hitam berbau agak amis keluar dari pori-pori kulitnya—sisa-sisa kotoran meridian yang dikeluarkan paksa.
Ia merasa sangat ringan. Seolah jika ia melompat sekarang, ia bisa menyentuh langit-langit dengan mudah. Pikirannya jernih, sejelas air kristal.
Rimba membuka matanya perlahan. Orang tua berbaju putih itu masih di sana, duduk dengan tenang, menatap Rimba dengan tatapan bangga.
"Proses pembersihan awal selesai," ucap orang tua itu pelan. "Selamat, Rimba. Kau baru saja melangkah keluar dari batas kemanusiaanmu. Tapi jangan senang dulu, ini hanyalah pintu gerbang terkecil dari perjalanan panjangmu."
Rimba mengatur napasnya yang kini terasa lebih dalam dan bertenaga. Ia menatap orang tua itu, menyadari bahwa hidupnya sebagai pemuda yatim piatu yang malang di Kampung Kenanga telah berakhir malam ini.