NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Dokumen palsu

Kertas-kertas itu terbentang di atas meja kayu, disinari lampu kecil yang cahayanya temaram. Bima menatapnya dengan dahi berkerut. Angka-angka, tanda tangan, dan stempel resmi tampak begitu meyakinkan. Terlalu meyakinkan. Justru di situlah letak kecurigaan.

“Ini rapi,” gumam Kirana pelan. “Terlalu rapi.”

Dokumen yang mereka salin dari brankas rumah dinas pejabat kota itu seharusnya menjadi bukti pamungkas. Namun, setelah dianalisis lebih dalam, beberapa kejanggalan mulai muncul. Format surat berbeda dari standar pemerintahan. Nomor arsip tidak sinkron dengan tanggal penerbitan. Dan tanda tangan yang tercantum, meski mirip, terasa janggal.

“Ada yang sengaja menyiapkan ini,” ujar Kirana sambil memperbesar salah satu tanda tangan di layar laptop. “Bukan sekadar memalsukan. Ini disusun oleh orang yang benar-benar paham sistem.”

Bima merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Jika sebagian dokumen itu palsu, artinya mereka sedang digiring ke jebakan. Bukti yang seharusnya menjerat justru bisa berbalik menghancurkan.

“Ini umpan,” katanya pelan. “Mereka ingin kita membawa dokumen ini ke publik, lalu menjatuhkan kita dengan tuduhan fitnah dan rekayasa.”

Ayah Bima menghela napas panjang. “Mereka bukan hanya ingin kita kalah. Mereka ingin kita hancur.”

Kesadaran itu membuat suasana ruang tamu semakin tegang. Tim kecil pencari kebenaran kini dihadapkan pada dilema: mana yang bisa dipercaya, dan mana yang harus dibuang. Setiap lembar kertas kini tak lagi sekadar bukti, melainkan potensi ancaman.

Kirana menghubungi Mira di bank. Melalui saluran aman, mereka memeriksa ulang alur transaksi. Hasilnya mengejutkan: beberapa rekening yang tercantum dalam dokumen ternyata fiktif. Nomornya ada, tapi tidak pernah terdaftar secara resmi.

“Ini bukti kuat bahwa ada rekayasa,” ujar Mira di ujung telepon. “Dan pelakunya jelas orang dalam.”

Bima menutup mata sejenak. Rasa marah dan frustasi bercampur menjadi satu. Setelah sekian lama menyusun langkah, mereka hampir saja terperangkap.

Namun, justru di situlah muncul tekad baru.

“Kalau mereka membuat dokumen palsu,” kata Bima, membuka mata, “berarti ada dokumen asli yang lebih berbahaya.”

Kirana mengangguk. “Dan mereka berusaha menutupinya.”

Malam itu, mereka membagi ulang seluruh data. Dokumen yang mencurigakan dipisahkan. Hanya bukti yang bisa diverifikasi silang dari banyak sumber yang disimpan sebagai inti. Sisanya ditandai dan dianalisis lebih lanjut.

Di tengah proses itu, Pak Jaya datang membawa kabar baru. Seorang mantan staf administrasi rumah dinas menghubunginya secara diam-diam. Orang itu mengaku pernah diperintahkan mengganti beberapa arsip sebelum penggeledahan internal.

“Dia takut,” kata Pak Jaya lirih. “Tapi dia juga lelah hidup dalam tekanan.”

Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah warung kecil di pinggir kota. Pria itu datang dengan topi ditarik rendah, wajahnya pucat, matanya gelisah.

“Aku tahu ini berbahaya,” katanya tanpa basa-basi. “Tapi aku tak sanggup lagi memikul rasa bersalah.”

Ia menceritakan bagaimana beberapa pejabat tinggi memerintahkan pembuatan arsip baru dengan dokumen palsu yang disusun sedemikian rupa agar tampak sah. Tujuannya satu: mengaburkan alur kejahatan sesungguhnya dan menjebak siapa pun yang mencoba mengungkap.

“Mereka punya tim khusus,” ujarnya. “Orang-orang dengan latar belakang hukum, administrasi, dan IT. Mereka bisa membuat kebohongan tampak seperti kebenaran.”

Pengakuan itu membuat dada Bima sesak. Lawan yang mereka hadapi jauh lebih terorganisir dari yang dibayangkan.

“Kau punya bukti?” tanya Kirana.

Pria itu mengangguk, lalu mengeluarkan flashdisk kecil. “Ini salinan server internal. Ada log perubahan dokumen, nama pengguna, dan waktu pengeditan.”

Hening menyelimuti meja mereka.

“Ini berbahaya,” lanjut pria itu. “Kalau mereka tahu aku menyerahkan ini, hidupku selesai.”

“Kami akan melindungimu sebisa kami,” ujar Bima mantap.

Kirana segera mengamankan data itu. Di dalamnya, mereka menemukan jejak digital yang jelas—siapa mengubah apa, kapan, dan dari terminal mana. Bukti ini bukan hanya menunjukkan pemalsuan, tapi juga mengaitkan langsung pejabat-pejabat kunci.

Namun, bahaya datang lebih cepat dari yang diduga.

Malam itu, listrik di rumah kontrakan padam mendadak. Gelap menyelimuti ruangan. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah di luar pagar. Bayangan bergerak cepat.

Bima menggenggam senter dan menahan napas. Kirana segera menyembunyikan laptop dan dokumen penting. Ayah dan ibu Bima bersembunyi di kamar.

Suara pagar berderit pelan, lalu berhenti.

Beberapa menit berlalu dalam ketegangan mencekam, hingga akhirnya langkah-langkah itu menjauh. Tidak ada teriakan, tidak ada penggerebekan. Hanya pesan bisu: mereka sudah sangat dekat.

Saat listrik menyala kembali, Bima menyadari satu hal bahwa permainan telah berubah. Ini bukan lagi soal mengumpulkan bukti, melainkan bertahan hidup sambil tetap melangkah maju.

Dan di tengah tumpukan dokumen palsu yang nyaris menjebak mereka, Bima belajar bahwa kebenaran bukan sekadar menemukan fakta, melainkan membedakan mana cahaya dan mana bayangan di dunia yang penuh tipu daya.

Pelajaran itu terasa pahit, namun justru memperkuat naluri dan ketajaman berpikirnya. Kini, setiap informasi yang masuk tidak lagi diterima begitu saja. Bima dan Kirana memeriksa ulang setiap detail, membandingkan sumber, dan menelusuri jejak sekecil apa pun yang terasa ganjil. Mereka sadar, satu kesalahan kecil dapat berakibat fatal.

Malam-malam berikutnya dihabiskan di bawah lampu redup, ditemani bunyi kipas angin tua dan detak jam yang seolah mempercepat waktu. Di layar laptop, deretan angka dan nama berkelebat, membentuk pola yang semakin jelas. Ada struktur, ada sistem, dan ada peran-peran kunci yang bergerak di balik layar.

“Ada pusat kendali,” gumam Kirana suatu malam. “Satu titik di mana semua alur palsu ini disatukan.”

Bima menatap peta digital yang terpampang di layar. Garis-garis penghubung menunjukkan pertemuan rahasia, transaksi mencurigakan, dan perubahan arsip. Semua mengarah ke satu nama yang selama ini jarang disebut, namun kerap muncul di balik berbagai peristiwa penting: Arman Darsana, konsultan hukum dan politik yang dikenal licin dan sulit disentuh.

“Orang inilah yang merancang semuanya,” kata Bima pelan. “Fitnah, dokumen palsu, tekanan ke aparat—semuanya melalui dia.”

Nama itu membuat suasana seketika sunyi. Arman Darsana bukan figur sembarangan. Ia sering tampil di media sebagai pakar hukum, dikenal dekat dengan berbagai elite, dan memiliki jaringan luas hingga ke pusat.

“Kalau kita bisa membuktikan perannya,” ujar Kirana, “runtuhlah seluruh skema.”

Namun, membuktikan keterlibatan Arman berarti memasuki wilayah paling berbahaya. Pria itu nyaris tak pernah meninggalkan jejak langsung. Semua instruksi disalurkan lewat perantara, pesan terenkripsi, dan pertemuan tertutup.

Mereka memutuskan untuk membagi tim kecil menjadi dua jalur: satu fokus mengamankan saksi, satu lagi melacak aktivitas Arman.

Bima mengambil peran kedua.

Ia menyamar sebagai mahasiswa magang di sebuah lembaga riset hukum tempat Arman kerap memberikan kuliah umum. Dengan bantuan teman lama, ia memperoleh akses terbatas ke jadwal dan aktivitas pria itu. Dari sana, ia mulai memetakan kebiasaan, pertemuan, dan jaringan sosialnya.

Hari-hari Bima kini dipenuhi kewaspadaan. Ia belajar berjalan di antara dua dunia: dunia biasa yang tampak normal, dan dunia gelap penuh intrik yang tersembunyi di baliknya. Setiap senyum terasa memiliki makna ganda, setiap jabat tangan menyimpan kemungkinan ancaman.

Sementara itu, Kirana dan Mira berusaha melindungi saksi administrasi yang telah memberikan flashdisk berisi log perubahan dokumen. Pria itu dipindahkan ke tempat aman, namun bayang-bayang ketakutan tak pernah benar-benar pergi.

“Kadang aku merasa dikejar bayangan sendiri,” ujar pria itu suatu malam. “Setiap suara membuatku terlonjak.”

Kirana menepuk bahunya pelan. “Kau tidak sendiri. Dan apa yang kau lakukan akan mengubah banyak hal.”

Namun, tekanan terus meningkat.

Sebuah artikel anonim muncul di blog gelap, menuduh Bima dan Kirana sebagai provokator yang memalsukan data demi kepentingan tertentu. Meski tanpa bukti, tulisan itu cepat menyebar di media sosial, menimbulkan gelombang komentar sinis.

“Ini perang opini,” kata Kirana getir. “Mereka mencoba merusak kredibilitas kita sebelum kita sempat bicara.”

Bima merasakan amarah menggelegak, namun ia menahannya. Ia tahu, terpancing emosi hanya akan memperlemah posisi mereka. Sebaliknya, mereka merespons dengan sunyi, memperkuat bukti dan menyiapkan momen yang tepat.

Suatu malam, Bima mengikuti Arman hingga ke sebuah restoran eksklusif. Dari sudut gelap, ia melihat pria itu bertemu dengan pemilik toko saingan dan seorang pejabat kota. Percakapan mereka tidak terdengar, namun gestur tubuh dan ekspresi wajah cukup bicara.

Dengan kamera kecil tersembunyi, Bima merekam pertemuan itu. Meski tidak menangkap isi pembicaraan, bukti visual tersebut menjadi penguat bahwa hubungan mereka bukan sekadar kebetulan.

Saat kembali ke rumah kontrakan, Bima menyadari betapa jauhnya ia telah melangkah. Dulu, hidupnya sederhana, diwarnai aroma gula dan cokelat di toko manisan ayahnya. Kini, setiap hari dipenuhi ketegangan dan risiko.

Namun, di tengah semua itu, satu hal tetap bertahan: tekad untuk menuntaskan perjuangan.

Dan di antara cahaya dan bayangan yang terus bertarung, Bima semakin memahami bahwa kebenaran bukan tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang menuntut keberanian, kesabaran, dan pengorbanan tanpa henti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!