NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:142
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Jenius Rendahan Callen Berubah

Hari Selasa.

Bagi sebagian besar siswa, ini hanyalah hari biasa. Tapi bagi kelas X-A, hari ini adalah hari penghakiman di mata pelajaran Geografi. Bu Laras sudah berdiri di depan kelas dengan senyum keibuan yang mematikan, memegang daftar nilai keramatnya.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Laras. "Sesuai janji Ibu minggu lalu, hari ini kita presentasi hasil observasi mitigasi bencana. Ibu tidak akan panggil urut absen, tapi acak. Jadi, siapkan mental kalian."

Kelas hening. Ketegangan merambat di udara.

Aku duduk diam di kursiku, menatap layar laptop Lenovo Legion hitam yang masih tertutup di atas meja. Di sebelahku, Zea terlihat gugup tapi antusias. Dia terus-menerus merapikan kerah seragamnya, memastikan dia terlihat sempurna di depan kelas.

"Kelompok pertama..." Bu Laras memindai ruangan, membuat jantung semua orang berdegup kencang. "...Kelompok 3. Tian, Lulu, Fani, dan Haza. Silakan."

Terdengar helaan napas lega dari kelompok lain, sementara Tian dan timnya maju dengan wajah pasrah.

Mereka menggunakan metode klasik: Karton manila putih besar yang ditempel di papan tulis, ditambah gambar manual menggunakan spidol warna-warni.

"Baik, teman-teman. Ini adalah peta Pontianak Timur," Tian membuka presentasi dengan canggung. Dia menunjuk gambar garis-garis sungai yang tidak terlalu lurus. "Di sini... ehm, daerah rawan banjir karena dekat sungai. Dan ini... pemukiman."

Presentasi mereka standar. Tidak buruk, tapi tidak istimewa. Gambar peta mereka agak melenceng skalanya—sungai Kapuas terlihat terlalu lebar dibanding jalan raya. Mereka menghabiskan waktu 20 menit, sebagian besar habis untuk menunjuk-nunjuk gambar kecil yang sulit dilihat dari bangku belakang.

"Baiklah, bagus sekali. Beri tepuk tangan," ucap Bu Laras sopan setelah mereka selesai. "Gambarnya cukup rapi, meski skalanya sedikit meleset di bagian utara."

Kelompok 3 kembali ke tempat duduk dengan wajah lega.

"Selanjutnya..." Bu Laras kembali melihat daftar. "Kelompok 2. Zea, Callen, Dinda, dan Rara. Silakan maju."

Deg.

Di sebelahku, Zea langsung menoleh. Dia tersenyum lebar padaku, lalu memberikan kode mata ke arah laptopku. Kode yang artinya: 'Ayo, Tuan Jenius. Saatnya pamer.'

Aku menghela napas panjang. Inilah saatnya.

Aku mengangkat tangan kanan.

"Izin, Bu," suaraku memecah keheningan kelas. "Kelompok kami ingin mempresentasikan materi menggunakan proyektor. Kami menyusun laporannya dalam bentuk PowerPoint."

Bu Laras tampak terkejut. Di kelas 10, jarang ada yang niat membuat slide presentasi digital, apalagi untuk tugas observasi lapangan yang biasanya manual.

"Oh? Menggunakan PPT?" Bu Laras tersenyum tertarik, matanya berbinar. "Bagus sekali. Silakan, kabel HDMI-nya ada di laci meja Ibu."

Beberapa anak di kelas mulai berbisik.

"Wih, gaya banget pake PPT." "Emang sempet bikinnya?"

Aku mengabaikan bisikan itu dan berjalan ke depan kelas membawa laptopku. Zea, Dinda, dan Rara mengikuti di belakang.

Saat aku mencolokkan kabel HDMI dan menunggu proyektor menyala, pikiranku melayang mundur ke beberapa hari yang lalu. Ke momen di mana keputusan ini dibuat.

(Flashback: Hari Jumat Sore)

Kami berempat duduk melingkar di meja beton belakang minimarket, setelah insiden pertemuan dengan Mam Genevieve.

Di atas meja, terhampar kertas coretan hasil observasi lapangan. Data tentang kedalaman parit, jenis tanah, dan wawancara warga berserakan.

"Oke, jadi kita bakal gambar peta ini di kertas A3 kan?" tanya Rara sambil memegang penggaris. "Sesuai saran Zea, skala 1:25.000."

"Iya," jawab Zea. "Tapi kayaknya bakal susah gambar detail parit kecilnya, Ra. Kertasnya nggak muat."

Aku yang sedang meminum es kopi kalengan, berdeham pelan.

"Jangan dipaksakan di kertas," potongku.

Mereka bertiga menoleh padaku.

"Kemarin aku sudah bilang, kan? Skala 1:5.000 itu wajib kalau mau bicara mitigasi di level komplek perumahan. Efisiensi dan kelengkapan data itu prioritas," jelasku tenang.

"Terus gimana dong, Cal?" tanya Dinda bingung. "Kalau 1:5.000 digambar di kertas, kita butuh karton segede meja pingpong."

"Pakai PowerPoint," jawabku singkat.

Zea, Rara, dan Dinda saling pandang dengan mata membulat.

"PowerPoint?" ulang Rara ragu. "Maksudnya... peta digital? Siapa yang bisa bikin? Aku cuma bisa bikin slide biasa yang ada animasi bintang-bintangnya doang."

Aku meletakkan kaleng kopiku. "Aku yang buat."

"Hah?"

"Kalian kirim semua data mentahnya ke WhatsApp-ku. Foto lokasi, data curah hujan, catatan wawancara. Biar aku yang olah jadi peta digital dan grafik," lanjutku. "Itu lebih cepat, lebih rapi, dan kita bisa pakai fitur zoom-in (inset) buat tunjukin detail parit tanpa terbatas ukuran kertas."

Dinda terlihat khawatir. Dia memajukan tubuhnya sedikit. "Bukankah itu akan membebanimu, Callen? Mengolah data digital itu susah lho. Makan waktu banget. Kami nggak enak kalau kamu kerjain sendirian."

Zea juga menatapku dengan mata cemas. "Bener kata Dinda, Cal. Kamu serius? Kami nggak mau jadi beban buat kamu."

Mendengar kata "beban", aku hampir tertawa. Dulu mereka mengira aku beban kelompok, sekarang mereka takut membebaniku.

Aku menggelengkan kepala.

"Kalian nggak perlu merasa kayak gitu," jawabku santai. "Buatku, gambar manual di kertas itu justru lebih ribet dan buang waktu. Olah data di laptop itu... mainan sehari-hariku. Sama sekali nggak berat."

Aku menatap mereka satu per satu.

"Jadi, kalau kalian setuju, kirim datanya nanti malam. Besok pagi drafnya sudah jadi."

Hening sejenak. Lalu serentak, wajah ketiga gadis itu berubah cerah.

"Terima kasih, Callen!" ucap mereka hampir bersamaan.

Zea menatapku dengan senyum yang sulit diartikan—campuran rasa terima kasih dan kekaguman yang makin dalam. "Makasih banyak ya, Cal. Kamu penyelamat."

(Kembali ke Masa Sekarang)

Layar proyektor menyala, menampilkan slide pertama kami.

Bukan slide norak dengan background bawaan Windows. Ini adalah slide profesional dengan tema dark mode, aksen neon biru dan hijau toska yang futuristik namun bersih. Peta Pontianak Tenggara terpampang jelas di tengah dengan resolusi tinggi.

"Wow..." terdengar gumaman kagum dari beberapa siswa.

"Selamat pagi," buka Zea dengan percaya diri. "Kami dari Kelompok 2 akan mempresentasikan analisis mitigasi banjir di sektor perumahan Pontianak Tenggara."

Presentasi dimulai.

Dinda mengambil alih dua slide pertama. Dia menjelaskan tata letak geografis dengan lancar, dibantu oleh pointer laser yang menunjuk peta digital yang kubuat. Peta itu terlihat hidup, batas-batas wilayahnya tegas.

Selanjutnya Rara maju untuk slide 3 dan 4. Dia membahas kepadatan penduduk. Grafik batang yang kutampilkan di layar muncul dengan animasi halus, menunjukkan korelasi antara padatnya rumah dengan berkurangnya daerah resapan air.

Kemudian Zea, sang primadona, mengambil panggung untuk slide 5 dan 6. Suaranya lantang dan karismatik saat menjelaskan program mitigasi pemerintah yang sudah berjalan, serta kekurangannya di lapangan. Semua mata tertuju padanya, terpesona oleh cara bicaranya.

Lalu, tibalah giliran dua slide terakhir. Bagianku. Bagian paling teknis.

Aku melangkah maju, berdiri di samping layar proyektor. Suasana kelas mendadak lebih hening. Mungkin mereka penasaran, apa yang bisa dijelaskan oleh si "Ranking 30" ini.

"Data visual tidak akan lengkap tanpa data teknis," suaraku tenang, tidak keras tapi terdengar jelas di seluruh ruangan.

Di layar, muncul peta kontur tanah 3D yang menunjukkan elevasi (ketinggian) tanah. Bagian yang rendah berwarna merah, bagian tinggi berwarna hijau.

"Seperti yang kalian lihat," jelasku sambil menunjuk area merah. "Pontianak Tenggara adalah dataran rendah dengan jenis tanah gambut dan aluvial. Masalah utamanya bukan cuma curah hujan, tapi infiltrasi (penyerapan) air yang lambat saat jenuh."

Aku menjeda sebentar, lalu mengambil spidol hitam di meja guru.

"Izin, Bu. Saya mau menulis perhitungannya," ucapku pada Bu Laras. Dia mengangguk antusias.

Aku berbalik menghadap papan tulis putih di samping layar proyektor.

Tanpa ragu, tanganku mulai menari. Menuliskan rumus debit air dan volume genangan.

"Rumus Rasional," jelasku sambil menulis. "Q adalah debit air limpasan. C adalah koefisien aliran—untuk perumahan padat beton, nilainya tinggi, sekitar 0,7 sampai 0,9. I adalah intensitas hujan, dan A adalah luas area."

Aku menggambar skema parit sederhana di papan tulis.

"Masalah yang kami temukan saat observasi bukan di I (hujan), tapi di A (luas penampang parit). Parit di sana lebarnya 50 cm, tapi kedalamannya berkurang 20 cm karena sedimen."

Aku menuliskan perhitungan cepat di papan. Angka-angka berderet rapi, hasil perkalian dan pembagian kulakukan di luar kepala tanpa kalkulator.

"Artinya, kapasitas tampung parit berkurang 40%. Jika hujan turun selama 2 jam dengan intensitas 50mm/jam... maka dalam waktu 45 menit, air akan meluap setinggi 15 cm ke jalan raya."

Aku menutup spidolku. Klik.

Aku berbalik menghadap kelas.

"Kesimpulannya: Mitigasi terbaik bukan memperlebar parit karena lahan sempit, tapi memperdalamnya (normalisasi) dan menambah sumur resapan biopori di setiap 10 meter persegi halaman warga. Sekian."

Hening.

Benar-benar hening.

Teman-teman sekelasku menatap papan tulis yang penuh dengan angka dan rumus, lalu menatapku dengan mulut sedikit terbuka. Kevin melongo. Kelompok 3 yang tadi presentasi menunduk malu melihat perbedaan kualitas data kami.

Bu Laras adalah yang pertama memecah keheningan. Dia bertepuk tangan. Keras.

"Luar biasa!" seru Bu Laras. "Analisis yang sangat mendalam, Callen! Ibu tidak menyangka kamu memperhitungkan koefisien aliran sampai detail sedimen. Ini level analisis mahasiswa teknik sipil, bukan anak SMA kelas 1."

Tepuk tangan dari seluruh kelas menyusul, riuh rendah.

Dari sudut mataku, aku melihat Rafan di bangkunya. Dia bersandar santai, tersenyum bangga sambil menggeleng-gelengkan kepala. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk kalimat: 'Akhirnya pamer juga.'

Dan Zea...

Zea berdiri di sampingku. Dia tidak bertepuk tangan. Dia hanya menatapku. Matanya berbinar-binar, senyumnya merekah lebar hingga matanya menyipit. Ada rasa bangga yang meledak-ledak di wajahnya, seolah dia ingin berteriak ke semua orang: 'Liat! Itu cowokku! Eh, maksudnya temenku!'

Dalam hatinya, Zea semakin yakin. Tekadnya untuk mendapatkan hati Callen bukan lagi sekadar rasa penasaran atau taruhan konyol. Ini adalah kekaguman murni.

Siapa lagi orang jenius dengan kemampuan luar biasa seperti ini, tapi rela menyembunyikannya dari dunia? Cuma kamu, Cal. Cuma kamu.

Aku membereskan laptopku, mencabut kabel HDMI, dan kembali ke mode datar.

"Terima kasih," ucapku singkat, lalu berjalan kembali ke bangku belakang, mencoba mengabaikan tatapan takjub yang kini menempel padaku seperti lem.

Presentasi selesai. Tapi gosip tentang "Kebangkitan Callen" sepertinya baru saja dimulai.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!