NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Tahun Kemudian

Sebelum pagi menjelang, Aiza dan Warih sudah meninggalkan stasiun. Tadi, selesai shalat subuh dengan tempat seadanya, Aiza langsung keluar dari stasiun itu, menyusuri debu dan hiruk pikuk Jakarta yang tidak peduli pada rasa lapar mereka. Setelah malam yang panjang meringkuk di ubin stasiun, Aiza menuntun Warih berjalan menyusuri gang-gang sempit di pinggiran kota, berniat mencari tempat tinggal untuk bisa berteduh.

Setiap ada tulisan "Terima Kos" atau "Kontrakan", Aiza mengetuk pintu dengan tangan gemetar.

"Maaf, Pak... boleh kami tinggal dulu? Nanti setelah saya dapat kerja, langsung saya bayar lunas," mohon Aiza pada seorang pemilik kontrakan.

"Aduh, Neng. Di sini bukan panti asuhan. Bayar di muka baru bisa masuk," jawab pria itu sambil menutup pintu rapat-rapat.

Hampir sepuluh rumah Aiza datangi, namun semua menolak. Sampai akhirnya, seorang pria tua keturunan Tionghoa yang kasihan melihat Warih yang sudah pucat, menunjuk ke sebuah lorong buntu yang becek.

"Di sana ada bekas gudang, sudah rusak atapnya. Kalau mau, pakai saja dulu. Saya nggak minta bayaran mahal, cicil saja kalau sudah punya uang. Tapi ya itu... kondisinya seadanya," ucap Pak Tua itu.

Rumah itu lebih mirip reruntuhan. Dinding papannya berlubang, lantainya semen kasar yang lembap, dan bau apek menyengat. Tapi bagi Aiza, itu adalah istana. Di sanalah ia merebahkan Mbah Warih, lalu ia sendiri duduk di pojokan sambil menangis dalam diam.

___

Tak terasa, satu bulan perjuangan itu membawa mereka pada hari kemenangan. Namun bagi Aiza, tidak ada baju baru, tidak ada ketupat, apalagi tawa keluarga.

Pagi itu, suara takbir berkumandang dari masjid besar di dekat gang. Sejak subuh, Aiza terbangun dengan perut yang sangat melilit. Satu bulan ini ia bekerja serabutan, mulai dari mencuci baju tetangga sampai menyapu jalanan, hanya agar bisa makan nasi dan garam bersama Warih.

"Mbah... selamat lebaran," bisik Aiza sambil memeluk kaki Warih di atas kasur tipis yang mereka dapatkan dari barang bekas.

"Selamat lebaran, Nduk. Maafkan Mbah ya, malah jadi beban buat kamu," suara Mbah Warih parau.

Aiza menggeleng kuat. Ia hanya punya satu bungkus nasi putih yang ia beli dengan uang terakhirnya, dan sepotong tempe yang dibagi dua untuk mereka berdua. Tidak ada opor ayam seperti di rumah Papa Dirgantara dulu. Tidak ada kehangatan seperti di kampung dulu. Tapi setidaknya__bagi Aiza hidup seperti ini lebih baik daripada harus tinggal nyaman di istana dengan batin terluka.

Aiza keluar sebentar ke depan pintu kontrakannya yang reyot. Ia melihat anak-anak kecil berlarian dengan baju baru yang warna-warni. Di saat itulah, bayangan Arjuna dan Briana melintas. “Mungkin mereka sedang tertawa, menikmati hidangan mewah, atau mungkin sedang merayakan kehamilan kedua,” batin Aiza pedih.

Ia kembali masuk, membuka kitab pemberian Gus Qais. Air matanya jatuh tepat di atas lembaran yang membahas tentang kesabaran.

"Ya Allah... jika ini adalah lebaran paling sunyi yang harus kujalani, biarlah rasa sakit ini menjadi penggugur dosa-dosaku. Aku hanya punya Engkau."

Malam lebaran itu, di bawah atap yang bocor karena hujan turun lagi, Aiza dan Mbah Warih tertidur dalam keadaan lapar yang amat sangat.

***

Tiga tahun telah berlalu. Tiga tahun itu adalah waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, namun juga waktu yang panjang untuk sebuah perjuangan hidup yang sunyi. Aiza bukan lagi wanita dengan khimar dan cadar sutra yang duduk di rumah mewah, ia telah bertransformasi menjadi pejuang yang tangguh di sudut Jakarta yang terlupakan.

Pagi itu, matahari baru saja naik setinggi galah, menyelinap di antara celah-celah seng berkarat di sebuah lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang dewasa. Di ujung lorong itu, terdapat sebuah bangunan tua, kontrakan tak terpakai milik seorang warga yang dulunya adalah gudang rongsokan. Di sanalah Aiza dan Warih membangun hidup baru mereka selama tiga tahun terakhir.

Dindingnya hanya separuh semen, sisanya adalah papan kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Namun, di dalam ruangan yang hanya seukuran kamar kos itu, semuanya tertata sangat rapi dan bersih.

"Mbah, Aiza berangkat dulu ya. Air minumnya sudah Aiza taruh di dekat tempat tidur. Jangan banyak gerak dulu, kakinya masih bengkak," ucap Aiza sambil mencium punggung tangan Mbah Warih yang kini rambutnya sudah memutih sempurna.

"Iya, Nduk. Hati-hati. Jangan lupa makan, kamu makin kurus," bisik Mbah Warih dengan suara yang semakin parau.

Aiza tersenyum tipis, senyum yang kini terasa lebih tulus meski guratan lelah tak bisa disembunyikan di bawah matanya. Ia mengenakan jilbab dan cadar dengan kain sederhana, serta sepatu kets yang solnya sudah mulai menipis, bahkan sudah sedikit bolong.

Tujuannya setiap pagi adalah sebuah warung makan kecil di pinggir jalan raya, tempat ia bekerja sebagai pelayan sekaligus tukang cuci piring.

Sudah dua tahun ini ia bekerja di sana. Meskipun gajinya tak seberapa, tapi cukup untuk menyambung hidup sehari-hari.

"Aiza! Cepat, pesanan meja nomor empat belum diantar!" teriak pemilik warung saat Aiza baru saja mengikat celemeknya.

"Iya, Bu, segera!" sahut Aiza tangkas.

Tangan Aiza yang dulu halus, kini mulai kasar dan pecah-pecah karena terlalu sering terkena sabun cuci piring yang tajam. Ia membawa nampan berisi piring-piring panas dengan cekatan, melayani pelanggan yang terkadang bersikap kasar padanya. Namun, Aiza tidak pernah mengeluh. Baginya, setiap rupiah yang ia dapatkan adalah kemuliaan yang ia jemput sendiri tanpa harus merendahkan diri di depan Arjuna atau menanggung fitnah Briana.

Tiga tahun telah berlalu, dan Jakarta tidak lagi terasa semenakutkan malam saat ia kecopetan di stasiun. Di lorong terpencil itu, di antara tumpukan piring kotor, Aiza menemukan kembali jati dirinya. Ia bukan lagi istri yang terbuang, melainkan seorang wanita yang berdaulat atas hidupnya sendiri.

__

Senja itu Jakarta diguyur hujan gerimis yang tanggung, membuat udara terasa lengas dan pengap. Aiza berjalan menyusuri gang sempit dengan langkah gontai. Bahunya merosot, kelelahan setelah berdiri sepuluh jam melayani pelanggan warung makan yang tak henti-hentinya datang karena tanggal muda.

Tangannya meraba saku gamisnya yang lusuh. Ada senyum tipis yang terukir di bibirnya yang pucat. Alhamdulillah, hari ini ibu pemilik warung memberinya bonus nasi bungkus sisa dan sedikit uang tambahan karena Aiza membantu mencuci tumpukan piring hajatan di belakang.

"Mbah pasti senang, hari ini ada ayam goreng sedikit buat lauknya," gumam Aiza pelan. Ia bahkan sudah membayangkan akan menyuapi Mbah Warih sambil menceritakan kejadian lucu di warung tadi.

Namun, perasaan hangat itu mendadak menguap saat ia sampai di depan pintu kontrakannya yang hanya terganjal kayu. Pintu itu sedikit terbuka. Suasana di dalam sangat sunyi—terlalu sunyi. Biasanya, jam segini Mbah Warih sudah menyalakan radio tua atau setidaknya terdengar suara batuk kecilnya.

"Assalamualaikum, Mbah? Aiza pulang…”

Aiza melangkah masuk. Kegelapan menyambutnya karena lampu lima watt di langit-langit belum dinyalakan. Saat jemarinya menekan sakelar, cahaya redup itu menerangi pemandangan yang membuat jantung Aiza seolah berhenti berdetak.

Mbah Warih tergeletak di lantai semen yang dingin, tepat di samping tempat tidurnya. Tangannya masih memegang gelas plastik yang tumpah, membasahi lantai di sekitarnya. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal pendek-pendek dengan mata yang terpejam rapat.

"MBAH! ASTAGFIRULLAH, MBAH!"

Nasi bungkus di tangan Aiza jatuh berhamburan begitu saja di lantai. Ia lari bersimpuh, memangku kepala neneknya. Dingin. Kulit Warih terasa sangat dingin.

"Mbah, bangun... Ini Aiza, Mbah. Jangan bercanda begini, Aiza takut..." Suara Aiza melengking, pecah oleh kepanikan yang luar biasa. Ia menepuk-nepuk pipi neneknya, namun tidak ada reaksi.

Pikiran Aiza buntu. Ia tidak punya uang untuk ambulans, ia tidak punya ponsel untuk menelepon siapapun. Tanpa pikir panjang, tanpa sempat mencari sandal atau membenarkan hijabnya yang berantakan, Aiza berlari keluar ke lorong.

"TOLONG! TOLONG SAYA! MBAH SAYA PINGSAN! TOLONG!"

Ia berlari di atas aspal yang masih basah, kaki telanjangnya menghantam kerikil tajam hingga lecet, namun ia tidak merasakannya. Rasa takut kehilangan

Warih jauh lebih menyakitkan daripada luka di kakinya.

Beberapa warga keluar, melihat Aiza yang tampak histeris tanpa alas kaki. Seorang tukang sayur yang baru mau pulang dengan mobil bak terbukanya segera berhenti.

"Ayo, Nak! Angkat ke bak belakang! Kita bawa ke Rumah Sakit Pusat!" seru warga itu.

Di atas bak terbuka itu, di tengah rintik hujan yang kembali menderu, Aiza memeluk tubuh ringkih Warih. Ia menutupi tubuh neneknya dengan tubuhnya sendiri agar tidak kedinginan, sementara air matanya bercampur dengan air hujan.

"Mbah... bangun, Mbah. Aiza mohon... jangan tinggalkan Aiza sendiri," isaknya parau.

Sesampainya di selasar rumah sakit Pusat, Aiza berlari mengiringi brankar Warih. Khimar dan cadarnya sedikit berantakan, gamis sederhananya terkena noda air hujan, dan kakinya kotor penuh debu jalanan. Di tengah kekalutan itu, takdir mempertemukannya dengan sosok yang paling ia hindari.

Briana.

Wanita itu berdiri di sana, tampil sangat glamor dengan tas branded dan riasan tebal, seolah hidupnya sangat sempurna setelah berhasil menyingkirkan Aiza. Dan, entah sedang apa dia di sana, mungkin sedang periksa kandungan yang ke sekian kalinya.

"Lho? Lihat siapa ini? Si p3mbunuh sekarang jadi gelandangan?" cemooh Briana dengan tawa merendahkan saat melihat penampilan Aiza yang berantakan.

Aiza tidak ingin melayani. "Minggir, Briana. Nenekku dalam keadaan darurat.”

"Nenekmu? Oh, mungkin dia sudah mencium bau tanah, sama seperti nasibmu yang busuk!" Briana sengaja menghalangi jalan. Ia merasa di atas angin karena selama tiga tahun ini Arjuna sangat memujanya.

Kesal karena Aiza hanya diam dan terus mencoba lewat, Briana kehilangan kendali. Ia meraih sebuah vas bunga kristal yang ada di meja pajangan koridor VIP dan melayangkannya dengan tenaga penuh ke arah kepala Aiza.

"M4ti saja kamu, p3ngemis!" teriak Briana.

Aiza memejamkan mata erat, bersiap merasakan hantaman benda keras itu. Namun, detik demi detik berlalu, rasa sakit itu tak kunjung datang.

Hap!

Sebuah tangan dengan jemari panjang dan kokoh menangkap vas kristal itu tepat beberapa sentimeter di depan kening Aiza. Suasana seketika membeku.

Aiza perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah lengan kemeja putih yang tergulung rapi hingga siku, menyingkap jam tangan perak yang sangat ia kenali. Aroma parfum sandalwood yang menenangkan, aroma yang selalu ada dalam mimpinya selama tiga tahun ini—menyeruak masuk ke indra penciumannya.

"Tangan yang digunakan untuk menyakiti... tidak pantas menyentuh benda seindah ini," suara itu berat, dalam, dan penuh otoritas.

Aiza mendongak. Di sana, berdiri seorang pria dengan jubah dokter putih yang menyampir di bahunya. Wajahnya semakin matang, kacamata berbingkai tipis itu membingkai mata yang biasanya lembut, namun kini menatap Briana dengan kilat amarah yang sangat dingin.

"Gus... Qais?" bisik Aiza dengan suara yang nyaris hilang.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
BundaNazwa: Hooh. Dibalikin nggak bisa lagi. Auto nangis dah tu🤧
total 1 replies
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
BundaNazwa: Siap😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!