Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14. BCS
Niat Alba mengajak Albi kerumah Fabio ingin menguji seberapa serius Albi menikahi perempuan bernama Prasasti. Fabio sedang berada di ruang kerja terkejut mendengar dari pembantunya kalau Albi datang ke rumahnya.
Fabio keluar menemui tamu, dengan langkah tegap berjalan ke ruang tamu. Disana Albi bersama pamannya berdiri melihatnya. Fabio menjabat tangan mereka dan mempersilahkan duduk.
“Ada apa tiba-tiba kemari, bukankah hari pernikahan tinggal menghitung hari saja," kata Fabio melihat paman dan keponakan itu penasaran.
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu anda, Pak Fabio. Sebenarnya kami hanya ingin berkunjung saja menyambung tali silaturahim agar lebih dekat," jawab Alba sambil menyenggol lengan Albi.
Fabio tersenyum mendengarnya, ia melihat ada rasa canggung pada diri Albi, dalam hatinya merasa tidak nyaman dengan sikap Albi.
"Saya ingin bertanya pada nak Albi. Kamu mau menikah dengan anak saya karena terpaksa atau sekedar tanggungjawab saja?" tanya Fabio dengan serius.
Albi terkejut sekaligus merasa tersudut dengan pertanyaan Fabio calon mertuanya. Albi tidak tahu harus bicara bagaimana, ingin menolak tapi terlanjur jauh melangkah, ingin jujur takutnya disangka tidak bertanggungjawab. Albi merasa serba salah.
“Albi," panggil Fabio menatap tajam Albi yang diam tidak menjawab pertanyaannya.
“Saya menikah tanpa ada paksaan dari siapapun, dan jika diminta untuk bertanggungjawab maka, akan saya lakukan tapi harus ada bukti yang kuat," jawabnya.
Fabio kagum mendengar jawaban Albi, namun ia tidak yakin jika Albi bisa memenuhi rasa bersalahnya.
"Bibi," Fabio memanggil pembantunya.
Seorang pembantu paruh baya datang sambil menunduk. "Iya, Pak. Ada apa Bapak memanggil saya?"
"Panggil Prasasti kemari," perintahnya.
"Baik, Pak," jawab Bibi kemudian pergi ke kamar Prasasti.
Pintu kamar Prasasti diketuk dari luar. Prasasti baru saja mandi segera mengenakan pakaiannya dan membuka pintu. “Ada apa, Bi?"
"Non, disuruh bapak ke ruang tamu," jawabnya.
“Memangnya ada tamu siapa, Bi?" tanya Prasasti lagi.
"Sepertinya calon suami, Non," jawab Bibi yakin.
Prasasti mengerutkan dahinya. " Baiklah, aku segera kesana,"
Bibi melanjutkan pekerjaannya dibelakang. Sementara Prasasti menyelesaikan ritual berhiasnya kemudian keluar dari kamar menemui papanya diruang tamu.
Prasasti berjalan menuju ruang tamu namun, ia terkejut ketika melihat Albi duduk bersama papanya dan pria bersamanya adalah pamannya. Ia memberi salam kepada mereka berdua lalu duduk didekat papanya.
“Ada apa , Pa?" tanya Prasasti heran.
Albi menatap Prasasti terlihat lebih cerah dan cantik, tentu saja karena baru saja mandi. Dan aroma khasnya tercium oleh indra penciumannya. Ia tidak munafik jika Prasasti memang cantik.
"Hari pernikahan kalian akan dipercepat," kata Fabio.
“Apa, Pa. Kenapa dipercepat tinggal beberapa hari lagi," Prasasti dibuat terkejut.
Beda dengan Albi dalam hatinya senang melihat ekspresi Prasasti. "Jangan harap dengan menikah kamu bebas, aku akan buat kamu nurut sama aku" batin Albi.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Prasasti menatap Albi seolah mengajak berantem.
"Biasa saja," sahut Albi lirih namun terdengar oleh telinga Prasasti.
"Maksudmu apa bicara seperti itu?" Prasasti tidak terima.
"Mau kamu kita menikah sekarang begitu, oke siapa takut," Albi menantang.
Prasasti terdiam tak menyangka pikiran Albi lebih buruk daripada sikapnya. "Aku tidak mengatakan apapun, kamu saja membuat kesimpulan sendiri,“
“Maaf saya tidak bisa berlama-lama, karena masih ada urusan lain," Albi hendak beranjak.
“Tunggu, Albi. Maaf kami permisi pulang," Alba berpamitan kepada Fabio dan Prasasti.
Sepeninggal Albi dan Alba. Fabio pergi keluar dengan mengendarai mobil sendiri. Prasasti menatap kepergian papanya memilih duduk di teras depan rumah.
Kenangan masa lalunya kembali ketika pertemuan dengan Dave pertama kali mengajak menikah belum tersampai. Ia juga mempunyai alasan karena ingin berkarier dulu baru menikah.
Namun akhirnya justru Prasasti memutuskan hubungan karena Dave berhubungan dengan perempuan lain.
____________
Albi kesal dengan Alba pemannya. Sepanjang perjalanan Albi diam tidak bicara sepatah katapun. Alba merasa bersalah karena ulahnya sendiri.
Begitu sampai di rumah Albi turun dari mobil langsung masuk ke kamarnya dan mengabaikan panggilan mamanya.
Khasanah melihat anaknya pulang dengan wajah kesal merasa ada yang tidak beres. Ia berjalan ke kamar Albi dan mengetuk pintu.
“Ada apa, Ma?" tanya Albi ketika membuka pintu.
“Kamu yang ada apa, pulang kok pasang muka kesal," sahut Mamanya.
“Paman Alba tuh bilangin, kurang kerjaan mengajak aku ke rumah pak Fabio. Maksudnya apa coba," kata Albi kesal.
Albi keluar dari kamar berjalan menuju ruang makan dan mengambil lauk memasukkan ke dalam mulutnya sambil manggut-manggut menikmati makanan yang baru saja matang dan dihidangkan mamanya.
"Apa kata Pak Fabio waktu kalian kesana?" tanya Khasanah mamanya.
“Beliau tanya, aku menikahi anaknya karena terpaksa atau karena tanggung jawab," Albi menjelaskan.
"Terus kamu jawab apa?" tanya Khasanah ingin tahu jawaban anaknya.
"Ya aku bilang saja, kalau aku menikah tanpa ada paksaan dari siapapun, kalau disuruh tanggung jawab maka aku akan melakukannya dengan syarat ada bukti yang kuat," jawab Albi.
"Pintar jawaban anak Mama jadi, sekarang sudah berniat menikah tanpa paksaan dan bertanggung jawab," kata Khasanah menatap lekat Albi.
“Insya Allah, Ma. Tapi aku masih tidak terima karena aku tidak melakukan apapun," Albi masih kekeh dengan pendiriannya.
Khasanah tertawa kecil mendengar penjelasan Albi yang terlalu polos untuk pria dewasa. Benar-benar harus banyak belajar tentang pernikahan. Khasanah merencanakan sesuatu setelah Albi menikah.
Abdi pulang menjelang malam malam, ia bergegas masuk ke kamar dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai bergabung dengan keluarga di ruang makan.
“Sepertinya Papa sibuk banget akhir-akhir ini,“ kata Syahira.
“Benar sekali, besok ada meeting diluar kota pula,“ sahut Abdi.
“Kenapa Papa tidak bicara sama aku?" sahut Albi menoleh papanya yang sedang minum teh panas.
"Apakah harus?" balas Abdi santai.
Albi merasa tidak berguna hatinya kesal. Khasanah memperhatikan perdebatan mereka tersenyum. "Kamu yang gantiin Papa,“
Semua menoleh Khasanah seperti terhipnotis."Tidak bisa begitu," sahut Abdi menolak.
“Memangnya kenapa?" tanya Khasanah istrinya.
"Aku sudah bicara sama asisten Deni. Dia yang akan mengurus pekerjaanku," jawabnya tanpa merasa bersalah.
Albi beranjak meninggalkan ruang makan. Selera makannya hilang seketika, langkahnya lebar menunjukkan kamarnya. Beberapa menit kemudian keluar dan pergi keluar mengendarai motor.
Semua yang diruang makan melihat Albi keluar geleng-geleng kepala. "Kenapa Papa bicara seperti itu sama Albi. Lihat dia pergi tanpa berpamitan sama kita," ucap Khasanah.
“Besok pasti berubah dan merasa baik-baik saja," jawab Abdi.
Albi mengendarai motor dengan kecepatan penuh, hingga sampai dipinggir sebuah danau. Ia berteriak sangat kencang, suaranya menggema diangkasa.
“Seberat apa sih masalah mu?“ tanya seseorang berdiri dibelakang Albi.