NovelToon NovelToon
DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lorenzo Leonhart

✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨


Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.

Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.

Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.

dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diplomasi Abu dan Raungan Hybrid

Hari ke-3 Pasca Peluncuran Regulus.

Lokasi: Dataran Tinggi "Whispering Rocks", Kaki Pegunungan Windcutter.

Langit pagi itu tidak cerah. Awan kelabu yang berat menggantung rendah di atas puncak-puncak tajam Pegunungan Windcutter, seolah alam sendiri menahan napasnya, tahu bahwa penguasa baru sedang datang untuk menagih janji. Angin yang biasanya bernyanyi di sela-sela bebatuan kini terdengar seperti desisan peringatan.

Di dataran berbatu yang menghadap langsung ke tebing curam sarang Harpy (Aerie), Ren Akasa duduk di atas singgasana portabel yang terbuat dari tulang monster dan dilapisi beludru hitam. Ia tidak membawa pasukan ribuan mayat hidup yang biasa ia bangkitkan.

Kali ini, ia membawa rombongan kecil yang jauh lebih menakutkan karena efisiensinya: Behemoth sebagai garda depan, Mika sebagai mata-mata, satu peleton penembak jitu Skeleton dengan senapan laras panjang, dan sebuah mesin aneh yang ditarik oleh dua ekor Swamp Drake.

Mesin itu adalah artileri jarak menengah versi miniature dari Railgun Regulus yang diberi nama sayang oleh para Dwarf: "Little Gorn".

"Tuan," Mika berbisik sambil menggigit buah persik yang entah didapatnya dari mana, kakinya berayun santai dari atas batu besar. "Laporan terakhir dari bayanganku: Ratu Syra tidak akan turun. Mereka sedang memindahkan telur-telur ke gua bagian atas, di zona yang mereka pikir tidak terjangkau oleh panah biasa. Mereka berniat bertahan total."

Ren menyesap teh herbal yang disajikan oleh pelayan Dark Elfnya. Uap teh itu beraroma mint dan miasma tipis. "Bertahan adalah pilihan orang bodoh ketika musuhmu bisa memanipulasi balistik dan ledakan, Mika. Aku memberi mereka waktu satu jam untuk menyerah sejak matahari terbit. Waktu itu sudah habis tiga menit yang lalu."

Ren meletakkan cangkirnya dengan bunyi tik yang pelan namun tegas. Ia memberi isyarat tangan yang santai.

Di belakangnya, Thrumm Ironfoot menyeringai lebar, memamerkan gigi emasnya yang berkilau di bawah cahaya suram. Ia menepuk laras "Little Gorn" yang masih dingin. "Akhirnya! Peluru Flak Type Zero siap uji coba! Hei, Gorn! Pasang sudut elevasi 45 derajat! Koreksi angin timur laut, kecepatan 15 knot. Jangan sampai meleset ke sarang telur, Tuan Leon butuh generasi penerus mereka untuk pasukan udara!"

"Berisik, Kerdil!" bentak Gorn, namun tangannya dengan cekatan memutar roda gigi artileri tersebut. Suara klik-klik-klik logam beradu terdengar ritmis. "Kunci koordinat ketinggian 800 meter. Pelepasan sekring mana... aktif! Ini bukan meriam mainan, ini adalah seni!"

Di puncak tebing, ribuan Harpy Sayap Perak mulai terbang keluar dari gua-gua mereka. Mereka memekik tajam, suara yang menyakitkan telinga. Mereka membentuk formasi badai, berputar-putar menciptakan pusaran angin tajam (Wind Blade Vortex) yang siap mencabik siapa pun yang berani mendaki tebing vertikal itu.

Ratu Syra terlihat di tengah formasi, mengenakan zirah perak mengkilap yang memantulkan sedikit cahaya matahari yang tersisa. Ia memegang tombak petir, berteriak memberikan komando perang dengan wajah penuh tekad putus asa.

"PERTAHANKAN LANGIT KITA! JANGAN BIARKAN IBLIS VARGOS MENYENTUH BATU INI!" teriak Syra, suaranya diperkuat sihir angin. "Mereka tidak bisa terbang! Di sini, kitalah dewanya!"

Ren berdiri perlahan, jubah merahnya berkibar pelan. "Tembak. Tapi ingat instruksiku: Jangan bunuh Ratunya. Patahkan saja sayap kebanggaannya. Aku butuh dia hidup untuk berkontrak denganku."

"Siap laksanakan!" seru Thrumm. Ia menekan tombol pemicu di panel kontrol kasar buatan Gorn.

DUMMM!

Tanah bergetar sedikit. "Little Gorn" memuntahkan peluru. Tidak seperti Railgun utama yang menembakkan laser ungu lurus dan instan, meriam ini menembakkan selongsong besi hitam besar yang melesat melengkung ke udara dengan suara wuuung yang berat.

Para Harpy tertawa melihat peluru itu melambung.

"Meleset! Mereka membidik terlalu tinggi!" ejek salah satu prajurit Harpy. "Dasar makhluk tanah bodoh!"

Namun, tawa mereka terhenti seketika. Tepat ketika peluru itu berada di tengah-tengah formasi udara mereka—l, jauh sebelum menyentuh tebing Thrumm menekan tombol kedua di remot kontrolnya.

CETAR!! BLARRRR!!!!

Selongsong peluru itu tidak meledak dengan api. Ia pecah di udara (Airburst Detonation), menyebarkan ribuan serpihan kristal Miasma ungu dan bola-bola besi kecil (shrapnel) dalam radius seratus meter. Langit seketika berubah menjadi neraka ungu yang berkilauan.

Pecahan kristal itu tidak hanya melukai fisik, tapi juga memiliki efek khusus: Mana Disruption. Saat serpihan itu menembus kulit atau bulu Harpy, aliran mana yang mereka gunakan untuk memanipulasi angin menjadi kacau balau.

"AAARGHHH!"

"Sayapku! Sayapku berat sekali!"

"Kenapa anginnya tidak mau menurut?!"

Seperti lalat yang disemprot racun, ratusan Harpy jatuh dari langit. Formasi Wind Blade mereka hancur berantakan menjadi kekacauan total. Ratu Syra, yang berada di pusat ledakan, mencoba melindungi dirinya dengan perisai angin tingkat tinggi. Namun, serpihan Miasma menembus pertahanannya seperti jarum menembus kertas, merobek selaput sayap kirinya dan menghantam bahunya.

"Tidak... ini tidak mungkin..." Ratu Syra kehilangan kendali atas daya angkatnya. Ia jatuh berputar-putar, gravitasi menariknya tanpa ampun menuju tanah berbatu tempat Ren menunggu.

BRAKK!

Syra menghantam tanah dengan keras, berguling beberapa kali hingga berhenti tepat di depan kaki Behemoth yang berlapis baja. Debu mengepul di sekitarnya. Iblis badak berkepala naga itu hanya menunduk, menatap makhluk kecil di bawahnya dengan rasa kasihan yang merendahkan.

"Lemah," geram Behemoth, uap panas keluar dari hidungnya. "Bahkan tidak perlu dipukul. Kau jatuh oleh gravitasimu sendiri."

Ren berjalan mendekati Ratu Harpy yang terbatuk darah. Ia tidak mencabut pedang, tidak juga mengeluarkan aura membunuh. Ia hanya berjongkok, menatap mata Syra yang penuh ketakutan dan penghinaan.

"Arthemis menjanjikanmu surga, Syra," ucap Ren lembut, namun setiap katanya menusuk lebih tajam dari tombak. "Tapi mereka tidak memberitahumu bahwa untuk mencapai surga, kau harus mati dulu sebagai martir. Aku? Aku menawarkanmu bumi. Tempat di mana kau bisa tetap hidup, makan kenyang, dan terbang di bawah benderaku."

Ren mengulurkan tangannya. Di telapak tangannya, terdapat sebuah Contract Scroll berwarna hitam dengan tinta emas yang menyala.

"Pilihanmu sederhana. Menjadi angkatan udara Vargos dan dapatkan kembali kehormatanmu, serta wilayah hutan baru yang lebih kaya... atau menjadi pupuk bagi Gloom Flower yang baru kutanam di sepanjang perbatasan. Bunga-bungaku butuh kalsium dari tulang burung."

Syra menatap sayapnya yang rusak, lalu menatap ke atas, melihat pasukannya yang berguguran dan kini dikepung oleh Skeleton Sniper yang membidik kepala mereka satu per satu. Ia kembali menatap mata Ren, mata yang tidak memiliki keraguan sedikit pun. Mata seorang Raja yang absolut.

Dengan tangan gemetar dan air mata frustrasi, Ratu Harpy itu menyentuh gulungan hitam tersebut.

"Kami... kami menyerah pada Sovereign."

[Sistem: Subjugasi Berhasil.]

[Sistem: Ras 'Silver-Wing Harpy' telah bergabung dengan Vargos.]

[Sistem: Unit Baru Terbuka — 'Sky Raider'.]

[Sistem: Reputasi Ren Akasa meningkat 'Penakluk Langit Tanpa Sayap'.]

Ren tersenyum puas, lalu berdiri. "Selamat datang di keluarga, Ratu. Mika, bawa tabib Dark Elf. Pastikan sayapnya sembuh sebelum besok pagi. Kita punya jadwal patroli, dan aku tidak suka melihat pasukanku terbang miring."

Sementara itu, di Hutan Blackwood (Perbatasan Arthemis).

Waktu: Senja yang berdarah.

Kontras dengan kemenangan Ren yang bersih, taktis, dan penuh perhitungan, hutan di perbatasan wilayah manusia sedang mengalami mimpi buruk yang kacau balau. Hutan Blackwood, yang biasanya tenang dan menjadi tempat berburu rusa bagi para bangsawan, kini berbau amis darah dan ozon yang terbakar.

Satu regu Paladin Cahaya dari Arthemis sedang menyisir hutan tersebut. Mereka adalah unit elit 'Dawn Seekers', ditugaskan khusus oleh Kardinal untuk mencari "Jenderal Kenji Sato" yang hilang kontak setelah insiden Railgun.

"Kapten, jejak mana di sini sangat kacau," lapor seorang paladin muda bernama Elian, pedangnya berpendar dengan cahaya suci redup. Ia berlutut memeriksa tanah yang menghitam. "Rasanya seperti ada campuran sihir iblis dan... sesuatu yang busuk. Rumput ini layu bukan karena api, tapi karena energinya diserap habis."

Kapten regu, seorang pria kekar bernama Darius dengan bekas luka di pipi, mengerutkan kening. Ia memegang perisai besar berlambang matahari. "Tetap waspada. Mungkin sisa-sisa monster Vargos yang tersesat atau efek samping senjata gila itu. Prioritas kita adalah menemukan Pahlawan Kenji. Paus Richard sangat khawatir aset berharga gereja jatuh ke tangan musuh."

Krosak.

Suara semak bergoyang di sebelah kiri mereka, di balik pohon oak tua yang besar.

"Siapa di sana?! Tunjukkan dirimu!" Darius mengarahkan pedangnya, aura sucinya memancar menerangi area gelap itu.

Dari balik kegelapan hutan yang pekat, sesosok tubuh berjalan keluar dengan langkah terseret. Pria itu mengenakan sisa-sisa zirah futuristik yang hancur lebur dan hangus, memperlihatkan kulit yang kini berwarna abu-abu pucat, penuh dengan urat hitam yang berdenyut menjijikkan seperti cacing di bawah kulit.

"Kenji? Tuan Kenji?!" seru Elian, mengenali wajah sang pahlawan meskipun kondisinya mengerikan. Separuh wajah Kenji tertutup oleh semacam kerak hitam yang bergerak-gerak. "Kapten! Kami menemukannya! Dia terluka parah!"

Para paladin segera menurunkan senjata mereka, insting mereka untuk melindungi "Pahlawan Suci" mengambil alih kewaspadaan mereka. "Tuan Kenji, bertahanlah! Kami akan membawa Anda kembali ke Katedral. Penyembuh terbaik sedang menu..."

SRET!

Kata-kata Elian terhenti. Matanya membelalak, pupilnya mengecil. Darius terbelalak ngeri melihat pemandangan di depannya, otaknya gagal memproses kecepatan serangan itu.

Tangan Kenji atau apa yang dulunya tangan telah berubah menjadi cakar panjang yang terbuat dari tulang dan daging yang memelintir, memanjang hingga dua meter dalam sekejap. Cakar itu kini menembus dada Elian, merobek zirah besi suci itu seolah terbuat dari kertas basah.

"Penyembuh...?" suara Kenji terdengar parau, seperti dua suara yang bertumpuk, satu suara manusianya, satu lagi suara monster yang menggeram dari dalam tenggorokannya. "Aku tidak butuh penyembuh... Aku butuh... makan."

Kenji menarik tangannya, dan Elian jatuh tak bernyawa dengan lubang menganga di dada. Tapi yang lebih mengerikan, darah dan mana yang keluar dari tubuh mayat itu tidak jatuh ke tanah—melainkan terhisap masuk ke dalam pori-pori kulit Kenji, membuat urat-urat hitam di tubuhnya bersinar merah.

"S-Serang! Itu bukan manusia! Itu monster! Formasi Delta!" teriak Darius, menyalakan aura sucinya hingga maksimal.

Lima paladin tersisa menyerang serentak. Tebasan pedang cahaya mereka mengenai tubuh Kenji dari berbagai arah.

ZRAK!

Daging Kenji terbelah di bahu dan paha. Asap hitam keluar dari lukanya saat bersentuhan dengan elemen cahaya.

Namun, Kenji tidak berteriak kesakitan. Ia tertawa.

Tawanya melengking, tidak waras, dan penuh kegembiraan yang sakit. "Sakit... tapi nikmat. Lebih! Beri aku lebih banyak Cahaya kalian! Jantung ini lapar!"

Kenji melompat. Bukan lompatan manusia, tapi lompatan binatang buas yang merangkak. Punggungnya meledak keluar, menumbuhkan dua lengan tambahan yang terbuat dari bayangan padat, efek dari Chimera Heart yang mulai mengambil alih.

Ia mencengkeram dua kepala paladin sekaligus dengan tangan bayangannya, dan membenturkan mereka hingga helm baja mereka penyok ke dalam.

CRACK!

"Tuan Kenji, sadarlah! Ini kami! Rekanmu!" Darius mencoba menusukkan pedangnya tepat ke jantung Kenji.

Kenji menangkap bilah pedang suci itu dengan tangan kosong. Telapak tangannya mendesis terbakar, tapi ia tidak melepaskannya. Ia menatap Darius dengan mata yang pupilnya kini vertikal berwarna kuning reptil.

"Rekan?" Kenji memiringkan kepalanya. "Kalian hanyalah baterai. XP gratis."

KRAK!

Kenji mematahkan pedang suci itu, lalu dengan gerakan memutar, ia menendang Darius hingga menabrak pohon. Sebelum Darius bisa bangkit, Kenji sudah berada di atasnya, rahangnya terbuka lebar secara tidak wajar, memperlihatkan barisan gigi yang runcing dan berlapis.

Dalam waktu kurang dari dua menit, regu elit Paladin itu telah habis. Potongan tubuh berserakan di sekitar Kenji. Pria itu berdiri di tengah genangan darah, napasnya memburu. Urat-urat di tubuhnya kini bersinar lebih terang, seolah-olah ia baru saja "mengisi daya" baterainya hingga penuh. Luka-luka akibat pedang suci tadi menutup dengan sendirinya, meninggalkan bekas jaringan parut yang keras seperti sisik.

Sebuah layar sistem yang retak dan glitchy muncul di pandangannya.

[Sistem Chaos: Asimilasi Paladin Selesai.]

[Level Up!]

[Race Change Complete: Chaos Hybrid (Human/Chimera).]

[Membuka Skill Unik: Holy Corruption (Dapat mengubah energi suci menjadi energi chaos untuk regenerasi).]

Kenji menyeka darah dari wajahnya dengan punggung tangan. Ia menatap ke arah selatan, ke arah menara ungu Vargos yang berpendar di kejauhan, menembus pepohonan hutan. Rasa lapar di perutnya sudah hilang, digantikan oleh rasa benci yang murni, dingin, dan sangat terfokus.

"Ren..." desis Kenji. "Kau bermain membangun kerajaan... sementara aku menjadi kiamat-nya. Kau pikir kau menang karena punya senjata besar? Mari kita lihat, apakah benteng besimu bisa menahan seseorang yang memakan dewamu?"

Kenji berbalik, berjalan lebih dalam ke hutan, menuju sebuah desa kecil milik Arthemis yang lampunya mulai menyala di kejauhan. Ia butuh lebih banyak "makanan" sebelum ronde kedua dimulai. Ia butuh pasukan sendiri. Bukan pasukan yang setia karena gaji atau kehormatan, tapi pasukan mayat hidup yang terinfeksi oleh Chaos miliknya.

Papan catur telah berubah total. Pion putih telah menjadi hitam karena korupsi, dan Raja Merah di Vargos kini memiliki sayap untuk menjangkau langit.

Pertempuran berikutnya bukan lagi tentang wilayah, tapi tentang siapa yang akan menjadi monster paling menakutkan di Aetheria.

Bersambung.

1
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya ✨❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan, biar aku makin semangat ✨
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Lorenzo Leonhart: siaap💪
total 1 replies
Frando Wijaya
jd begitu....alasan jd kejam gara2 mahkota itu ya? bner2 berbahaya
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩...sgt seru Thor
Frando Wijaya
itulh gw anggap mereka gagal
Frando Wijaya
sesuai dugaan saintess....bch tengkik ini penghancur
Frando Wijaya
di anggap NPC bneran wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣
Frando Wijaya
dh mirip seperti berserker
Frando Wijaya
yare2 🙄.... kemampuan terbang emng mutlak...tpi begitu lwn lo ada sniper.... hanya mslh wkt aja klian mendptkn keklhan mutlak
Frando Wijaya
huh?! bch tengkik ini punya system jg!?
Frando Wijaya
jantung chimera? jgn blg...ingin jd monster??
Frando Wijaya
HA! bner2 konyol
Lorenzo Leonhart
ya kurang lebih seperti itu ✨
Frando Wijaya
hmph 🙄... ternyata janji palsu...mah...itulh kebiasaan buruk manusia... kebiasaan selalu janji palsu
Frando Wijaya
jika berurusan ttg pengrajin senjata...mah....gw dh terbiasa lht bertengkar gara2 mslh kecil
Frando Wijaya
yg penting kekuatan? heh 😏😈❄️...gk ada bedany seperti binatang Dan iblis liar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!