"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pengakuan ...
Seperti yang diucapkan ustadz Firman, orang yang telah membantu Padmi akan terungkap beberapa hari kemudian.
Tepat tiga hari setelah kematian Padmi, Oji ditemukan dalam kondisi membusuk di kamarnya.
Awalnya para tetangga mencium aroma tak sedap saat melintas di jalan kecil yang ada tepat di samping rumah Oji. Apalagi Oji tak terlihat beberapa hari ini.
Karena curiga telah terjadi sesuatu pada Oji, warga dan pengurus lingkungan sepakat mendatangi rumah Oji. Tapi karena tak memberi respon meski pintu sudah diketuk dan namanya dipanggil berkali-kali, akhirnya warga memutuskan mendobrak pintu rumah Oji.
Aroma tak sedap menguar makin pekat saat pintu berhasil didobrak.Sesuai dugaan, Oji ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa di kamarnya. Tubuhnya berbaring dengan mata membelalak dan kedua kaki terentang. Genangan darah di sekitar tubuhnya telah membusuk dan dihinggapi belatung.
Keterkejutan warga pun bertambah saat menemukan alat kelam*n Oji teronggok di ujung kakinya. Pemandangan yang mengerikan sekaligus membingungkan itu membuat warga bertanya-tanya siapa yang telah membuat Oji berakhir mengenaskan seperti itu.
Sastro yang mendengar berita itu segera menghubungi ustad Firman.
"Inikah jawaban yang Ustadz janjikan. Apa bener Oji pelakunya Ustadz?" tanya Sastro tak sabar.
"Iya Pak Sastro," sahut ustadz Firman dari seberang telepon.
"Jadi Oji yang udah mengotori makam istri saya. Kenapa Ustadz ga jujur aja dari awal?. Saya kan ... " Sastro sengaja menggantung ucapannya.
"Kenapa, apa Pak Sastro menyesal telah melepaskan dia?" tanya ustadz Firman.
"Bukan begitu Ustadz. Setidaknya saya bisa menghajarnya dulu sampe puas sebelum dia mati," sahut Sastro kesal.
"Tak perlu mengotori tangan untuk menghukumnya Pak Sastro. Oji sudah menerima hukumannya. Biar Pak Sastro puas, saya bakal kasih tau bagaimana kondisi Oji saat ditemukan warga," kata ustadz Firman.
"Emang gimana kondisinya?" tanya Sastro kemudian.
Ustadz Firman pun menceritakan bagaimana akhirnya warga bisa menemukan jasad Oji yang telah membusuk itu.
"Kalo polisi menduga Oji meninggal tiga hari yang lalu, itu artinya Padmi dan Oji meninggal di hari yang sama. Bukan begitu Ustadz?" tanya Sastro.
"Betul Pak Sastro. Tapi satu yang bikin saya kaget karena ternyata meninggalnya Oji membawa efek positif untuk warga lho," kata ustadz Firman.
"Maksudnya efek positif gimana Ustadz?" tanya Sastro tak mengerti.
"Ternyata di balik kondisi jasad Padmi dan Oji yang mengenaskan itu, warga memetik hikmah tersendiri. Warga sadar, menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang lain hanya membawa kebahagiaan yang semu. Selain itu, ilmu hitam ibarat lingkaran yang tak pernah putus. Sekali terjebak kita tak akan bisa keluar. Menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang lain justru bisa mengancam keselamatan diri sendiri," sahut ustadz Firman.
Sastro nampak menghela nafas panjang mendengar jawaban ustadz Firman.
"Iya, kalo itu saya setuju Ustadz. Ilmu hitam apa pun jenisnya adalah bentuk penghambaan manusia pada makhluk ciptaan Allah. Kita tau, Allah paling benci dipersamakan dengan makhluk ciptaanNya. Makanya ga heran kalo pelakunya pasti ga tenang menjalani hidup," sahut Sastro.
"Satu lagi yang bikin saya ga habis pikir adalah beberapa orang mendatangi saya untuk membuat sebuah pengakuan Pak Sastro," kata ustadz Firman.
"Pengakuan?" ulang Sastro tak mengerti.
"Betul. Saya ga bisa jelasin sekarang karena saya masih ada urusan. In syaa Allah lain waktu kita bicara lagi Pak Sastro," sahut ustadz Firman di akhir percakapan.
\=\=\=\=\=
Kematian Oji yang janggal itu terus menjadi bahan perbincangan. Kondisinya yang mengenaskan juga mengingatkan warga pada pengakuan Padmi sebelum tewas.
Tanpa bisa dicegah, kasak-kusuk warga tentang hubungan terlarang Oji dan Padmi pun merebak memenuhi desa itu. Setiap hari topik tentang mereka selalu bergema di udara.
"Kerja sama mereka kok serem ya. Bisa-bisanya kepikiran buat ngotorin makam orang. Apa mereka ga mikir tentang karma yang bakal mereka tanggung setelahnya," kata salah seorang warga.
"Begitu lah kalo kebencian udah terlanjur mengakar dan ngalahin akal sehat," sahut warga lainnya.
"Sayangnya apa yang mereka lakukan juga sia-sia. Bukannya seneng, eh malah berujung maut. Apes banget," kata salah seorang warga sambil menggelengkan kepala.
Selain perbincangan warga tentang Oji dan Padmi, fenomena unik lain pun terjadi. Beberapa hari setelah kematian Padmi dan Oji, terkuak sebuah fakta yang mencengangkan.
Satu per satu orang yang membenci Ginah pun muncul dan membuat pengakuan di hadapan ustadz Firman. Jika ditotal, jumlah mereka mencapai belasan orang dan itu membuat ustadz Firman prihatin.
"Aneh. Kalian menyembah Tuhan, tapi masih bersekutu dengan iblis dan meminta bantuan mereka. Kenapa ga minta bantuan sama Tuhan untuk menyelesaikan masalah kalian?" tanya ustadz Firman gusar.
Semua orang yang diberi pertanyaan serupa selalu bungkam. Nampaknya mereka bingung bagaimana menjelaskan mengapa mereka memilih jalan itu.
"Terus sekarang kamu mau apa bikin pengakuan kaya gini di depan saya?" tanya ustadz Firman untuk ke sekian kalinya.
"Tolong bantu saya lepas dari kejaran pocong Ginah Ustadz. Saya ga mau mati konyol kaya Padmi dan Oji,"
Begitu lah jawaban yang terlontar dari mulut orang-orang yang mengaku telah 'mengerjai' Ginah dengan teluh.
Rupanya orang-orang itu sudah dihantui oleh pocong Ginah. Selain lelah terus menerus didatangi pocong Ginah, mereka juga takut akan mengalami kejadian mengerikan seperti yang terjadi pada Padmi dan Oji.
"Udah ada kejadian begini kalian baru takut. Kenapa waktu mulai mengirimi teluh ke Bu Ginah kalian ga takut?" tanya ustadz Firman.
Lagi-lagi mereka terdiam.
Kemudian semua orang yang membuat pengakuan di hadapan ustadz Firman itu akhirnya membuat kesepakatan. Mereka berharap, kesepakatan itu akan membantu mereka lepas dari kejaran dosa dan pocong Ginah.
Kesepakatan yang dimaksud ustadz Firman adalah mempertemukan mereka dengan suami Ginah. Tujuannya satu yaitu untuk meminta maaf. Dan untuk menjaga kerahasian, ustadz Firman mengatur pertemuan para pelaku dengan Sastro di waktu yang berbeda.
Awalnya Sastro terkejut mengetahui betapa banyak orang yang membenci almarhum istrinya. Tapi mengingat sepak terjang Ginah semasa hidup, Sastro pun maklum.
"Jadi kesimpulannya, istri saya meninggal karena diteluh bukan hanya oleh satu orang tapi oleh beberapa orang sekaligus. Itu sebabnya dia ga bisa bertahan. Begitu maksudnya Ustadz?" tanya Sastro.
"Betul Pak Sastro," sahut ustadz Firman.
"Astaghfirullah aladziim. Tapi kenapa harus jalan itu yang mereka pilih. Kenapa mereka ga coba nemuin saya dan cerita sama saya apa yang istri saya lakukan?. Mungkin dengan begitu saya bisa membantu menegur istri saya biar aga ada korban lain?" tanya Sastro gusar.
"Saya juga tanya begitu dan salah seorang justru bilang percuma melapor sama Pak Sastro. Mereka menganggap Pak Sastro takut sama istri dan pasti melindungi Bu Ginah nanti," sahut ustadz Firman.
Sastro nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tak menyangka sikap sabar dan selalu mengalahnya itu dianggap sebagai bentuk persetujuan pada semua yang dilakukannya istrinya.
Saat berhadapan dengan orang-orang yang telah dikecewakan oleh Ginah, Sastro tampak takjub. Para pelaku rata-rata adalah orang yang di permukaan terlihat tenang, tak berambisi dan cenderung pasrah. Tapi di balik diam mereka itu justru tersimpan bara api yang siap meletup dan membakar semuanya kapan pun.
Bahkan dari belasan pelaku, dua diantaranya mengaku telah mengguna-gunai Laras sebagai bentuk balas dendam mereka kepada Ginah. Bisa ditebak apa akibatnya. Laras sulit menemukan jodohnya dan terus melajang hingga hari ini.
Untuk yang satu ini Sastro tak bisa terima. Dia marah dan memukul pelaku. Sastro menganggap Laras tak ada sangkut pautnya dalam perselisihan mereka dengan istrinya.
"Kenapa kalian libatkan anakku. Padahal dia ga tau menau soal perselisihan diantara kalian?!" tanya Sastro lantang.
"Saya cuma mau bikin Bu Ginah sadar bahwa hidupnya ga sempurna seperti yang dia bilang. Ternyata harta yang dia banggakan itu bahkan ga bisa membeli pria untuk dijadikan menantu. Karena sampe detik ini ga ada seorang pria pun yang bersedia menikahi Laras," sahut pelaku sambil menundukkan kepala.
Sastro siap melayangkan pukulan lagi tapi dicegah oleh ustadz Firman. Meski kesal, tapi Sastro berusaha menahan diri.
"Tolong maafin saya Pak Sastro. Saya khilaf dan saya menyesal. Saya mohon tolong lakukan sesuatu supaya bu Ginah berhenti menghantui saya," pinta pelaku penuh harap.
Sastro nampak menghela nafas panjang mendengar permintaan para pelaku. Dengan berat hati dia memaafkan para pelaku dan bersedia membantu mereka agar lepas dari kejaran pocong Ginah.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya