NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 20.

Benturan para Pendekar Ahli di tengah padang savana itu berlangsung dengan sangat sengit, brutal, dan tanpa sedikit pun ruang untuk ampun. Udara di sekitar medan tempur seolah-olah mendidih akibat gesekan tenaga dalam yang dilepaskan secara masif, menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi siapa pun yang berada di dekatnya.

Tang Ruo bergerak dengan kelincahan yang luar biasa, seolah-olah kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah. Kedua pedang pendek di tangannya berputar dengan kecepatan tinggi, membentuk pola serangan yang menyerupai sepasang naga perak yang sedang mengamuk.

Setiap ayunannya tampak ringan dan anggun, namun sesungguhnya mengandung pola serangan yang sangat rumit dan saling mengunci satu sama lain. Lawannya, seorang pria bermata satu yang juga seorang Pendekar Ahli, berkali-kali terpaksa mundur setengah langkah dengan napas memburu. Ia berusaha keras membaca ritme serangan Tang Ruo yang tidak pernah sama; terkadang serangan itu datang secepat kilat berupa tusukan langsung, namun di detik berikutnya berubah menjadi tekanan lambat yang berat, seolah sengaja menjebaknya dalam jaring maut yang tak terlihat. Percikan api dan dentingan logam yang memekakkan telinga terdengar setiap kali bilah pedang mereka beradu, meninggalkan bekas goresan yang dalam di tanah savana yang malang.

Tidak jauh dari sana, Meng Xin mengibaskan cambuk hitam panjangnya dengan kekuatan penuh. Cambukan itu bukan sekadar cambukan biasa, melainkan telah dilapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi yang sangat pekat, menciptakan suara ledakan kecil yang memecah udara setiap kali ujungnya menghantam tanah atau benda padat lainnya. Rumput savana yang tinggi terpotong rapi seperti terkena sabetan pedang tertajam, tanah terbelah membentuk parit kecil, bahkan batu-batu kecil hancur menjadi serpihan debu dalam sekejap. Lawannya menghindar dengan susah payah, wajahnya tampak sangat tegang dan berkeringat dingin. Pedangnya terus bergerak menangkis setiap cambukan yang datang dari sudut-sudut tak terduga, karena ia tahu betul bahwa satu kesalahan kecil dalam koordinasi saja sudah cukup untuk membuat tubuhnya terbelah menjadi dua oleh cambuk maut tersebut.

Qing Fei tampak sebagai yang paling tenang di antara ketiga pendekar wanita kerajaan tersebut. Tangannya terlihat kosong tanpa senjata panjang, namun setiap gerakannya jauh lebih mematikan daripada yang terlihat. Dari balik lengan bajunya yang lebar dan lipatan gaunnya yang rumit, jarum-jarum tipis berwarna gelap melesat keluar dengan kecepatan yang nyaris tak tertangkap oleh mata telanjang. Setiap jarum tersebut telah direndam dalam racun mematikan yang ia ramu sendiri, cukup untuk membunuh seorang Pendekar Terlatih hanya dalam hitungan napas jika sampai tergores sedikit saja. Lawannya terpaksa memusatkan seluruh sisa perhatian dan tenaganya; pedangnya bergerak dengan kecepatan maksimal untuk menangkis hujan jarum tersebut, sambil sesekali harus menahan hantaman pukulan telapak tangan Qing Fei yang dilapisi tenaga dalam yang sangat padat. Di sini, sedikit saja lengah atau kehilangan fokus, maka kematian dengan rasa sakit yang luar biasa sudah menunggu di depan mata.

Di garis paling depan, pertarungan antara Letnan Bai Wang dan pemimpin barisan penyerbu tak kalah brutalnya. Pedang Bai Wang diayunkan dengan kekuatan penuh dari bahunya, setiap sabetannya meninggalkan parit panjang di tanah akibat aliran tenaga dalamnya yang dilepaskan secara spontan. Lawannya, seorang pria kekar dengan otot yang menonjol seperti akar pohon, membawa palu bulat besar yang tampak sangat berat. Ia menahan setiap serangan Bai Wang dengan kekuatan kasar yang seimbang. Setiap kali pedang dan palu itu bertemu, tercipta gelombang tekanan udara yang sangat kuat, membuat para prajurit biasa yang berada di sekitar mereka terpaksa mundur beberapa langkah karena dada mereka terasa sesak.

Sementara itu, di dalam kereta ketiga yang dijaga ketat, Raja Yan Liao berusaha menenangkan Permaisuri Bai Ling Yin yang duduk di sampingnya dengan wajah pucat.

“Tenanglah, Istriku,” kata Yan Liao dengan suara rendah namun mantap, memberikan rasa aman yang kuat. “Mereka tidak akan pernah mampu menembus barisan pasukan elit kita secepat itu. Kita masih memiliki banyak prajurit terbaik, dan jangan lupa... adik Cao Yi juga ada di sini bersama kita.”

Bai Ling Yin menggenggam erat ujung bajunya hingga jarinya memutih, ia mengangguk pelan meskipun sinar matanya masih menyiratkan kekhawatiran yang mendalam terhadap keselamatan suaminya dan rombongan mereka.

Di luar, Pendekar Pedang dari pihak perampok yang sebelumnya terkena serangan misterius dari kipas hitam berdiri dengan wajah muram dan penuh dendam. Robekan di pakaiannya yang diakibatkan oleh benda itu terasa seperti sebuah ejekan yang sangat menghina harga dirinya sebagai seorang pendekar. Ia menatap kereta keempat dengan penuh kebencian yang meluap-luap.

“Keluar dari sana, pengecut! Jangan hanya bersembunyi di balik tirai!” teriaknya dengan suara parau sambil melompat tinggi ke udara. Pedangnya berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari siang yang terik, siap untuk membelah kereta kayu itu menjadi dua bagian.

Namun, kejadian yang berada di luar nalar terjadi. Saat mata pedangnya hanya berjarak beberapa jengkal dari atap kereta, sesuatu yang tak terlihat namun sangat kuat menghantamnya dengan telak. Sebuah aura yang sangat dingin, kelam, dan penuh dengan hawa kematian tiba-tiba menyebar luas dari dalam kereta keempat, menekan tubuh, aliran tenaga dalam, bahkan jiwa pendekar itu sekaligus. Langkahnya terhenti secara mendadak di udara, gerakannya melambat seolah-olah seluruh tubuhnya baru saja terperangkap ke dalam kubangan lumpur tak kasat mata yang sangat kental. Kuda-kuda di sekitar rombongan mulai meringkik ketakutan, beberapa di antaranya bahkan berusaha kabur meski sedang diikat.

“Aura ini... aura kematian yang sangat kuat... siapa sebenarnya yang ada di dalam sana?” gumam pendekar itu dengan wajah yang berubah menjadi pucat pasi seputih kertas.

Untuk pertama kalinya dalam karier berdarahnya, rasa takut yang murni muncul di matanya. Ia menyadari bahwa ia baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia ganggu.

“Aku harus segera mundur! Sosok ini jauh lebih berbahaya daripada seluruh pasukan kerajaan ini gabungkan!” pikirnya dalam kepanikan yang luar biasa.

Ia berusaha keras untuk menarik kembali energinya dan melontarkan tubuhnya menjauh, namun pada saat itu juga, kipas hitam tertutup kembali melesat keluar dari celah tirai kereta. Kipas itu berputar dengan kecepatan yang luar biasa tinggi, membawa tekanan energi yang begitu masif hingga membuat jantung pendekar itu berdegup liar seolah ingin keluar dari dadanya. Dengan sisa-sisa tenaga dalamnya yang mulai kacau, ia berhasil melompat ke samping dan mendarat di tanah untuk menghindari tebasan kipas itu.

Namun, malapetaka sebenarnya baru saja dimulai. Begitu kakinya menyentuh permukaan tanah, sebuah kekuatan hisap yang sangat mengerikan dan tak masuk akal muncul secara tiba-tiba dari arah kereta. Tubuhnya ditarik secara paksa ke arah kereta keempat, seolah-olah ada sebuah jurang hitam tak terlihat di bawah kereta itu yang sedang menelan segalanya dengan rakus.

“Apa-apaan ini—! TIDAK!”

Teriakan mengerikannya terpotong secara mendadak saat tubuhnya terseret masuk menembus tirai kereta keempat dengan kecepatan yang tidak wajar.

Ketiga Pendekar Ahli lainnya yang sedang bertarung dengan Tang Ruo dan yang lainnya sontak terkejut setengah mati. Mereka yang memiliki kepekaan terhadap energi merasakan bahwa aura tenaga dalam rekan mereka tiba-tiba lenyap begitu saja, seperti nyala lilin kecil yang dipadamkan paksa oleh badai yang sangat besar.

“Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?” seru pendekar yang berhadapan dengan Qing Fei, wajahnya yang semula garang kini berubah menjadi sangat tegang.

Beberapa detik yang terasa seperti keabadian kemudian, sesuatu dilemparkan keluar dari dalam kereta keempat. Benda itu melayang sebentar sebelum jatuh menghantam tanah yang berdebu dengan suara "buk" yang berat dan garing.

Semua mata, baik dari pihak perampok maupun prajurit kerajaan, tertuju ke satu titik yang sama.

Benda itu adalah tubuh Pendekar Ahli yang baru saja terseret masuk tadi. Namun, tubuh itu sudah tidak lagi menyerupai sosok manusia yang mereka kenal. Kulitnya sudah mengering, menghitam, dan menempel sangat rapat pada tulang-tulangnya seolah-olah seluruh cairan tubuhnya telah menguap. Wajahnya terdistorsi secara mengerikan dalam ekspresi ketakutan abadi; mulut menganga lebar dan rongga mata yang tampak kosong. Ia telah berubah menjadi sebuah mayat kering yang rapuh dalam hitungan detik, seolah-olah seluruh esensi kehidupan dan tenaga dalam di dalam dirinya telah disedot habis tanpa sisa.

Pertempuran di seluruh lapangan savana itu terhenti seketika dalam keheningan yang mencekam. Baik para perampok yang liar maupun prajurit kerajaan yang disiplin membeku di tempat mereka masing-masing, menatap mayat kering itu dengan rasa ngeri yang sangat dalam. Bahkan para pendekar wanita veteran seperti Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kengerian mereka. Mereka tahu teknik terlarang banyak jenisnya, tapi sesuatu yang seefisien dan sekejam ini belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Keheningan yang sangat menekan kini menyelimuti seluruh padang savana Memping. Dari dalam kereta keempat yang masih tertutup rapat, aura kelam yang sangat pekat—gabungan antara Tenaga Dalam tingkat tinggi dan energi Qi yang asing bagi mereka—masih berdenyut perlahan namun pasti. Aura itu terasa sangat tenang namun mengandung janji akan kematian yang pasti, seolah-olah sedang memberikan sebuah peringatan sunyi kepada siapa pun di sana yang masih berani memiliki niat untuk mendekat satu langkah lagi.

Dewi Kematian telah menunjukkan sebagian kecil saja dari kekuatannya yang mengerikan, dan itu sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan nyali siapa pun.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!