Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menang yang Terlarang
Senin pagi, suasana di SMA Tunas Bangsa. Topik campur aduk, yang paling seru adalah kemenangan Mauren di semifinal turnamen karate, disusul pertandingan tinju Tony vs. Axel yang dramatis, serta yang ketiga adalah pengakuan Axel tentang Tony menyusul kekalahannya dalam pertandingan tinju kemarin, dan yang terakhir tindakan apa yang akan diambil oleh Pak Sajit terhadap Axel.
Ketika Lauren datang ke sekolah, tiba-tiba Rommy memberi hadiah kejutan berupa 1 bar cokelat SilverQueen yang dibelinya di minimarket dekat rumah kemarin.
“Untuk pahlawan SMA Tunas Bangsa,” ujar Rommy menyerahkan cokelat SilverQueen tersebut kepada Mauren. Mauren terkejut, tapi menerimanya dengan malu-malu. Sebenarnya pemberian cokelat itu memang untuk Mauren atas nama sekolah, tapi diam-diam itu juga pemberian pribadi Rommy untuk Mauren. “Semoga sukses di final Sabtu besok.”
Beberapa anak juga masih membahas sparing tinju Tony vs. Axel dan tindakan terpuji Rommy yang menahan tangan Axel agar tidak meneruskan memukul Tony. Dan di grup WhatsApp sekolah juga masih ada yang membahas permintaan maaf Axel yang singkat dan dingin.
Pak Sajit dengan memanggil Axel, Tony, dan Rommy. Mereka masuk ke ruangan Pak Sajit.
“Selamat pagi, Pak, Bu,” kata mereka bersamaan.
“Selamat pagi juga,” jawab Pak Sajit. Wajahnya tampak serius pagi ini. “Silakan duduk.”
Guru yang mendampingi Pak Sajit kali ini hanya Bu Catarina. Dia sudah duduk terlebih dahulu. “Selamat pagi juga.”
“Axel,” kata Pak Sajit berwibawa, matanya lurus ke depan menatap Axel yang menunduk. “Setelah mengadakan rapat dengan para guru minggu lalu, saya telah menimbang-nimbang dan berpikir keras untuk memutuskan hukuman untukmu.”
Axel semakin menundukkan wajah.
“Kamu telah berbohong, memanipulasi fakta, dan menyebabkan Tony terkena hukuman skorsing selama tiga bulan yang seharusnya tidak dia terima,” lanjut Pak Sajit. “Ini bukan perkara melanggar aturan sekolah, tapi soal integritas.”
Axel diam saja tak mampu berbicara. Tony dan Rommy juga hanya bisa terdiam mendengarkan keputusan apa yang akan diambil Pak Sajit.
“Hukumanmu adalah skorsing tiga bulan,” lanjut Pak Sajit dengan nada tegas. “Seharusnya bisa lebih berat dari itu, tapi karena saya berharap kamu bisa menjadi lebih baik, saya putuskan tiga bulan skorsing saja.”
Axel menjawab, “Mengerti, Pak.”
“Jika kamu tidak bisa berubah menjadi lebih baik setelah 3 bulan, terpaksa saya harus mengeluarkanmu dari sekolah ini,” kata Pak Sajit dengan pelan namun tegas.
“Pak…,” kata Axel.
Tony dan Rommy saling berpandangan. Mereka memang musuh besar Axel, tapi jika Axel tidak bisa berubah setelah 3 bulan, mereka juga tidak mau Axel dikeluarkan. Kalau menuruti emosi, Tony lega karena dendamnya sudah terbayar. Namun dia juga tidak mau jika Axel lebih terpuruk lagi.
“Axel,” Rommy berkata pelan. “Kami akan membantumu menjadi lebih baik.”
Pak Sajit kemudian beralih ke Tony. “Tony, maafkan kesalahan Bapak. Tiga bulan lalu saya telah mengambil keputusan keliru tanpa bukti-bukti yang cukup. Kamu berhak untuk mendapatkan kompensasi, misalnya beasiswa.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Tony pelan. “Saya sudah berpikir masalah ini sudah selesai.”
Axel akhirnya mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan Tony. Tony segera mengalihkan pandangannya, tapi Rommy bisa merasakan ada kebencian di dalam pandangannya.
“Baiklah, Pak. Saya mengerti,” ujar Axel akhirnya.
Rapat telah selesai, dan ketiganya kembali ke kelas masing-masing. Axel berjalan sendirian, meninggalkan Rommy dan Tony yang berjalan bersama di belakangnya. “Gue masih bisa merasa aura permusuhan dalam diri dia, Ton,” bisik Rommy.
“Biarin aja, Rom,” jawab Tony. “Yang penting keadilan sudah ditegakkan, dan aku pribadi menganggap masalah ini sudah selesai.”
Sore harinya, Mauren tampak hadir di dojo SMA Tunas Bangsa. Sensei Nakamura sudah bersiap melatih. “Mauren, harap tetap fokus ke pertandingan Sabtu nanti, jangan terpengaruh suasana di luar.”
“Siap, Sensei,” jawab Mauren.
Hari Sabtu tak terasa tiba dengan cepat. Penonton semakin banyak yang datang dibanding minggu lalu, karena hari ini adalah final dari turnamen SMA itu. Para suporter Mauren tampak gaduh dan hingar-bingar dengan yel-yel Mauren kerennya. Rommy setia datang ke stadion dengan kameranya, duduk bersama para anggota geng Kelelawar Hitam dan Tony. Di dekat mereka para anggota geng The Executioners, tapi tak tampak Axel yang sedang mengalami masa skorsing.
Papa, Mama, dan Kakak Mauren tampak duduk di dekat mereka bersama murid lain. Di tribun seberang tampak Pak Sajit, Bu Catarina, dan beberapa guru lain, berbaur dengan para guru dari sekolah lain.
Partai final pertama Mauren vs. Shinta, juara bertahan turnamen ini tahun lalu. Shinta tampak tinggi sekali, dan Mauren tampak mungil. Suporter kedua karateka terdengar beradu yel-yel mendukung jagonya masing-masing. Tampak Pak Sajit tertawa sambil bersalaman dengan kepala sekolah SMA Mentari International, sekolah asal Shinta.
Wasit memerintahkan kedua karateka ke tengah lapangan dan saling berjabat tangan, lalu memberi instruksi, “Hajime,” tanda pertandingan dimulai.
Mauren bergerak lincah. Dia berhasil menghindari serangan pertama Shinta dan langsung melepaskan pukulan counter yang tepat mendarat di dada Shinta. 1-0 untuk Mauren. Suporter Mauren langsung bergemuruh.
Pertandingan dilanjutkan. Shinta masih menyerang dengan agresif, namun kuda-kuda kuat Mauren tidak menghasilkan skor buat Shinta. Sebaliknya, Mauren berhasil menambah skor dari ura-ken, yakni pukulan dengan buku-buku jari. 2-0 untuk Mauren, dan suporter Mauren kembali riuh. Tampaknya kemenangan mudah akan diperoleh Mauren dalam final ini.
Pertandingan dilanjutkan. Shinta yang sadar ketinggalan skor langsung menekan Mauren, yang memaksa Mauren mundur sejenak. Dia merasakan tekanan begitu besar dari Shinta, yang membuat Mauren mengambil napas untuk menenangkan diri sejenak.
Shinta kembali menyerang, namun kaki Mauren melesat dengan cepat mengenai wajah Shinta. Sebuah tendangan mawashi geri yang indah dan sempurna oleh Mauren.
“Plak!” suara kaki mengenai wajah terdengar di seluruh stadion yang sepi karena suasana pertandingan begitu menegangkan.
Shinta langsung jatuh terduduk, dan wasit segera memerintahkan keduanya menghentikan pertandingan, lalu berdiskusi dengan para wasit.
Mauren segera mengangkat tangannya tanda kemenangan dan para suporternya berteriak dengan kegirangan, siap menyambut sang juara baru. Tapi ternyata wasit memberikan isyarat tangan menyilang. Hansoku. Diskualifikasi. Gelar juara yang sudah di depan mata itu sirna. Shinta segera bangkit dan merayakan kemenangan itu dengan suka cita yang disambut gemuruh suporternya.
Mauren kemudian menjatuhkan dirinya ke tatami dan menangis. Mauren didiskualifikasi karena tendangan mawashi geri yang dilancarkannya itu dianggap oleh para juri terlalu keras dan membahayakan lawan. Mauren lupa bahwa dalam karate, kekuatan tanpa kontrol adalah kekalahan.
Sensei Nakamura lalu menuntun Mauren ke luar matras.
“Kamu adalah pemenangnya,” hiburnya kepada Mauren yang menangis.
Suporter Mauren hanya terdiam seolah tak percaya dengan kekalahan Mauren yang dramatis itu. Mama Mauren tak mampu menahan tangis dan didekap oleh Papa Mauren yang tampak lebih tabah.
“Mauren adalah pemenangnya,” kata Papa Mauren menghibur istrinya yang tampak syok itu.
Di ruang ganti, Mauren tak henti-henti menangisi kekalahannya yang demikian tragis itu.
Rommy hanya bisa memandang ke depan dengan nanar, seolah masih belum bisa menerima kekalahan Mauren. Dia mengisi kesedihannya itu dengan menjepret ke arah tribun penonton untuk menangkap berbagai ekspresi para penonton. Tapi tunggu, dia ingat sesuatu. Ke mana Opa Lardo? Kok tumben dia tidak tampak di malam final ini?