Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Gelagapan
Julia sibuk di meja kerjanya. Kemudian Sara, sang sekretaris yang paling dipercayainya, datang mendekat dengan gestur yang sopan khas seorang sekretaris profesional.
"Maaf, Bu. Barusan walikelas Theo menelepon, katanya Theo tidak masuk sekolah hari ini." Sara mengabarkan.
Julia yang tengah memeriksa laporan mendadak menatap ke arah Sara. "Theo bolos? Udah kamu cari tahu dia ke mana?"
Sara mengangguk. "Sudah, Bu. Saya melacak dashcam mobil Theo dan ia pergi ke beberapa tempat. Terpantau ia pergi bersama seorang gadis."
Julia menghela nafasnya dan menghembuskannya kasar. Kabar ini membuatnya kesal. Bukan kesal karena Theo membolos, tapi karena Theo membolos bersama seorang gadis yang Julia yakin adalah Bianca.
Julia pun kembali melakukan pekerjaannya, seakan apa yang didengarnya bukan sesuatu yang harus ia persoalkan lebih jauh. "Lalu, walikelasnya bilang apa lagi?"
"Beliau hanya menanyakan alasan ketidakhadiran Theo di sekolah," sahut Sara.
"Okay. Kembali bekerja," titah Julia tanpa menatap ke arah Sara.
"Baik, Bu." Sara pun pergi ke mejanya yang berada di sebelah pintu ruangan Julia.
Julia jadi tak bisa berkonsentrasi. Ia meraih ponselnya dan menelepon Theo. "Sial!" umpatnya setelah nomor Theo tak bisa dihubungi.
Malam harinya Julia duduk di ruang keluarga. Ia menyesap wine favoritnya sambil menunggu Theo pulang. Ia melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 12 malam. Julia sudah gusar. Tak pernah Theo pulang lebih dari pukul 7 malam jika Julia sedang ada di rumah. Theo pasti akan menyempatkan untuk makan malam bersama Julia.
Kemudian terdengar suara mobil Theo datang. Deru mobil itu mencerahkan hati Julia yang muram. Segera ia melonjak girang dari duduknya, persis seperti orang yang sedang jatuh cinta. Namun kemudian Julia menghapus senyumnya mengingat Theo baru saja seharian bersama Bian.
Tak lama terdengar pintu utama rumah itu terbuka dan kemudian tertutup. Derap langkah kaki terdengar mendekat. Muncullah sosok yang Julia tunggu-tunggu di ambang pintu ruang keluarga. Theo menangkap sosok Julia saat dirinya akan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Dari mana kamu?" tanya Julia dengan suara yang datar.
Theo pun urung melangkah dan malah menunduk.
"Aku tanya kamu dari mana? HP juga gak aktif. Kenapa kamu baru pulang jam segini? Kamu tahu gak, tadi walikelas kamu nelpon aku, katanya kamu bolos. Kamu pergi sama Bian?" seloroh Julia sambil mendekat pada Theo yang malah diam mematung tak menjawab. "Kamu kok diem aja? Jawab dong!"
"Iya. Tadi aku bolos. Aku main sama Bian seharian tadi. Terus aku nongkrong di rumah Luis kayak biasa. Maaf, gak akan aku ulangi." Theo pun mengangguk sedikit dan mulai melangkahkan kakinya lagi menuju tangga.
"Mau ke mana? Aku belum selesai ngomong." Julia menahan tangan Theo, namun segera Theo menangkis tangan Julia.
"Kamu..." Julia tercengang dengan Theo yang menangkis tangannya.
"Ini, Mah. Sikap Mama ini yang bikin aku gak lagi nyaman ada di rumah," sentak Theo kesal. "Ditambah Mama paksa aku buat selalu ikut ke Singapura pas weekend. Padahal weekend itu waktunya aku ketemu sama Bian. Selain sikap Mama yang berubah, sekarang Mama juga mau pisahin aku sama Bian?!"
"Wajar aku pengen selalu bareng kamu, 'kan? Bian cuma cinta main-mainnya kamu. Pada akhirnya yang akan ada di sisi kamu selamanya adalah aku, Theo. Cepet atau lambat kamu akan pisah sama Bian."
"Stop, Mah! Stop!" teriak Theo jengah. "Tolong jadi Mama yang aku kenal lagi. Jangan kayak gini. Dan perlu Mama tahu ya, Bian itu bukan cuma cinta sesaat. Perasaan aku gak main-main sama dia! Aku cinta sama Bian. Selamanya akan selalu dia!"
Theo sedang sangat emosi. Setelah bertemu Bian, ia semakin merasa berdosa pada kekasihnya itu. Ia juga marah pada dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa.
Julia menatap iba pada Theo. Ia meraup kedua pipi Theo. "Ya udah, aku minta maaf. Fine, aku gak apa-apa kamu lanjutin sama Bian. Kamu punya Senin sampai Kamis untuk ketemu pacar kamu. Tapi akhir pekan, waktunya kamu bareng aku. Dan Sayang," Julia meletakkan kedua tangannya di dada Theo, "aku udah bilang sama kamu, aku udah bilang, tentang perasaan aku ini, gak ada yang bisa aku lakukan. Aku bukan lagi ibu kamu, aku pengen dianggap sebagai wanita sama kamu. Aku tahu kamu juga bisa ngubah pandangan kamu terhadap aku. Udah aku bilang, kamu bisa panggil aku dengan Julia, di saat kita ada di rumah kayak gini. Lama-lama kamu juga akan terbiasa."
Theo mengusak rambutnya kasar. "Gak bisa, Mah! Mama adalah Mama aku. Selamanya akan selalu kayak gitu. Aku gak bisa ngubah Mama dari seorang ibu bagi aku, jadi seorang..." Theo bahkan tak bisa menyebut sebutan yang tepat untuk Julia yang sekarang.
"Kamu bisa, kamu pasti bisa, Sayang." Julia meraup kembali pipi Theo. "Kamu hanya masih terlalu muda. Suatu hari kamu akan sadar, cuma aku yang kamu butuhkan dalam hidup kamu," ucap Julia meyakinkan.
"Gak. Aku gak bisa. Selamanya..."
"Ssshh..." potong Julia. "Udah, Sayang. Udah. Aku tahu untuk saat ini masih sulit buat kamu buat ngubah cara pandang kamu terhadap aku. Aku akan sabar nunggu sampai saat itu terjadi. Okay?"
Theo tak menjawab. Jelas sekali raut wajahnya mengatakan bahwa ia sangat tidak setuju. Sama sekali ia tak bisa memandang Julia sebagai wanita biasa. Selamanya Julia adalah ibu, meskipun hanya ibu sambung.
"Tapi..." Wajah Julia berubah sedih. "Kamu gak bisa terlalu lama bersikap kayak gini sama aku. Aku ingin secepatnya bisa ngerasain kamu membalas perasaan aku. Aku ingin kamu bisa cium dan peluk aku tanpa kamu merasa terpaksa. Aku ingin kamu dianggap spesial sama kamu. Karena waktuku udah gak lama lagi..."
Theo mengerutkan kening tak paham. Waktu Julia tidak lama lagi? Maksudnya?
"Emmmh..." Julia gelagapan. Ia menjauh dari Theo dan menghindari bertemu tatap dengan Theo. "Ya udah, sekarang kita tidur aja ya. Udah malem."
Julia pun menaiki tangga lebih dulu. Theo malah diam terpaku sekarang mencerna kata-kata Julia.