NovelToon NovelToon
Terjebak Perjodohan

Terjebak Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Felicia Mau tak mau harus menerima perjodohan dari Papanya. Meskipun sempat kabur dari rumah, pada akhirnya dia menyetujuinya. Awalnya dia mengira pria yang akan menjadi suaminya itu seorang pria tua dengan perut buncit. Namun Ketika dia mengetahui jika suaminya adalah pria yang sempat ia kagumi, Felicia pun mencoba untuk membuat Arion menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Felicia mendapatkan pesan dari nomor tak di kenal. Felicia tak tahu apa maksud dari pesan itu.

'seberapa besar Dia mencintaimu, itu tidaklah besar dari rasa cintanya padaku. Kau akan lihat nanti, siapa yang lebih dia perdulikan.'

Felicia melihat profil dari pemilik chat tersebut, dan itu adalah foto Cintia. Felicia tersenyum miring membacanya kembali.

"Aku yakin Suamiku tidak akan ingkar janji padaku," ucap Felicia. Dia tidak ingin membalas pesan tersebut karena hanya akan membuang-buang waktu.

Gadis itu memilih untuk pergi ke cafe tempat dirinya, Aluna dan Aluna ketemuan. Ya, Aluna mengajak Felicia bertemu untuk menceritakan bagaimana Felicia bisa mengenal Fero.

Felicia mengirimkan pesan pada Arion untuk bertemu dengan Aluna. Arion pun mengizinkannya.

---

Felicia sampai di cafe tempat Aluna menunggunya. Melihat lambaian tangan Aluna yang duduk di meja, Felicia segera menghampirinya.

"Hai, Aluna dan juga calon keponakan," sapa Felicia sembari mengusap perut Aluna. Gadis itu lantas langsung duduk di samping bumil itu.

"Sekarang ceritakan bagaimana Kau bisa mengenal aktor Fero, Felicia?" tanya Aluna to the point.

Felicia menatap wanita itu sembari mengusap tengkuknya. "Aku haus, mau pesa minum dulu," ucap Felicia yang langsung membuat Aluna menggeleng cepat.

"Aku sudah pesankan. Kau jawab dulu pertanyaanku, Felicia!" Aluna sudah tidak sabar.

Felicia menghela napas sejenak. "Oke-oke, baiklah. Kak Fero adalah sepupuku," jawab Felicia akhirnya.

Wanita itu menatap layar ponselnya yang ada gambar Fero dengan pandangan berbinar. Kemudian tatapannya kembali terarah pada Felicia.

"Keren...! Kenalkan aku padanya. Aku adalah fans beratnya Fero Raymond, Felicia!" titah Aluna yang begitu antusias.

"Sayangnya Aku tidak di perbolehkan suamiku untuk bertemu dengan Kak Fero lagi." Felicia berucap dengan lesu.

"Apa karena berita kemarin? Tapi ku lihat berita itu sudah tidak ada lagi," ucap Aluna yang mengingat akan berita tentang aktor idolanya dan Felicia. Apalagi Arion sempat menelponnya karena masalah itu.

"Ya, Kau benar, Aluna. Dan apa kau tahu? Aku bersyukur karena berita itu membuat Arion mengutarakan cinta padaku." Felicia berkata dengan senyum sumringah di wajahnya. Dia kembali terbayang perlakuan Arion pagi ini.

"Apa? Arion sudah mengutarakan perasaannya padamu?" Aluna terkejut,

"Jadi Arion cemburu pada Fero, ya?" Aluna tertawa kecil. Dia berpikir, mungkin Arion juga terpancing dengan ucapannya kemarin.

Felicia mengangguk. Dia langsung menceritakan semuanya pada Aluna.

"Wah, selamat, Felicia. Aku yakin sebentar lagi Kau pasti akan menyusul kehamilanku," sindir Aluna menaik turunkan kedua alisnya.

Felicia tersipu malu mendengarnya. Keduanya pun melanjutkan percakapan panjang yang jika di bahas tidak akan ada habisnya.

---

Sore harinya, Arion menjemput Felicia di rumah Aluna.

Felicia terus saja tersipu dengan sindiran-sindiran Aluna mengenai hubungannya dengan Arion.

Setelah berpamitan pulang, Felicia memasuki mobil lebih dulu saking malunya.

"Kenapa tidak menungguku?" tanya Arion yang kini memasuki mobil. Pria itu terkekeh menyadari wajah merah sang istri.

"Aku malu. Sejak siang tadi, Aluna dan Aluna terus saja menggodaku," ucap Felicia memberitahu.

"Kenapa harus malu, Sayang?" ucap Arion dengan suara menggoda. Dia mulai mendekatkan wajahnya pada Felicia.

Cup!

Satu kecupan berhasil Arion berikan di bibir Felicia. Dia sangat gemas melihat ekspresi wajah Felicia saat ini.

"Hari ini kita akan makan di luar," bisik Arion. Felicia hanya bisa mengangguk kecil.

Sepanjang perjalanan, Arion terus saja mengulas senyumnya. Sesekali ia melirik sang istri yang masih tersipu di sampingnya.

Mobil pun sampai di sebuah restoran. Arion membukakan pintu untuk Felicia. Menggandeng tangannya dengan hangat ketika memasuki restoran tersebut.

Perlakuan manis Arion membuat Felicia begitu bahagia. Dia merasa menjadi wanita paling bahagia saat ini.

"Kau mau makan apa, Sayang?" tanya Arion.

"Samakan saja dengan apa yang Kau pesan, Arion." Arion mengangguk mengerti. Arion segera memesan makan malam mereka.

Ponsel Arion bergetar. Pria itu mengambil ponselnya dan melihat notifikasi pesan di ponselnya. Rupanya itu dari Cintia.

Arion melihat pesan itu, namun dia tak membalasnya dan segera meletakkan kembali ponselnya.

Namun, ada yang berbeda dari raut wajah Arion setelah membaca pesan itu. Dan perubahan itu di sadari oleh Felicia.

"Ada apa, Arion?" tanya Felicia.

Arion menggeleng dan tersenyum. Menyembunyikan kegelisahan dalam hatinya. "Tidak ada. Sebaiknya kita segera memakan makanan kita," jawab Arion. Kebetulan pelayan datang dan menghidangkan pesanan mereka.

Felicia hanya mengangguk saja dan segera menyantap makanannya. Sesekali dia melihat Arion yang terlihat tak selera memakan makanan itu. Pria itu hanya makan sedikit. Selebihnya makanan itu hanya di aduk-aduk saja.

Felicia yakin jika ada yang Arion sembunyikan darinya.

Seusai makan malam, dalam perjalanan pulang Arion hanya diam saja. Hal itu semakin membuat Felicia semakin penasaran. Suaminya itu menjadi diam setelah melihat sebuah pesan di ponselnya tadi.

"Arion," panggil Felicia. Arion hanya menoleh sekilas, kemudian kembali memperhatikan jalan.

"Ada apa, Felicia?" jawab Arion.

"Kenapa Kau jadi aneh setelah melihat ponselmu tadi? Apa ada sesuatu?" Felicia mengutarakan apa yang ia rasakan.

Arion menghela napas panjang. Pria itu seolah berat untuk berkata.

"Cintia sakit," ucap Arion akhirnya.

Felicia mengerutkan keningnya. Ada rasa tak rela tentang pembahasan kali ini. "Lalu?"

"Bolehkah Aku mengantarkannya sebentar saja ke rumah sakit? Aku janji hanya sebentar," ucap Arion memohon.

Felicia terdiam mencerna perkataan Arion. Dia lalu teringat dengan pesan yang Cintia kirim tadi pagi. Inikah yang Cintia maksud?

"Tapi Kau sudah berjanji untuk tidak menemuinya lagi, Arion." Felicia mencoba mengingatkan. Dia sangat tidak rela jika Arion menemui Cintia, karena Felicia tahu jika ini hanyalah rencana Cintia saja.

"Sayang, saat ini Cintia hanya tinggal sendirian. Dia memiliki sakit asam lambung. Pernah satu kali dia hampir sekarat karena penyakit itu. Aku hanya ingin mengantarnya, setelah itu Aku akan pulang. Hanya sebentar saja, Sayang." Arion berucap lembut.

Namun ucapan itu malah membuat Felicia begitu sakit. Suaminya masihlah sangat peduli dengan Cintia. Mungkinkah yang Cintia katakan dalam pesannya tadi memang benar adanya? Felicia menjadi ragu dengan ungkapan cinta dari Arion.

"Aku tidak mengizinkannya, Arion," ucap Felicia menahan sesak.

"Sayang...." Arion menatap dengan tatapan memohon, membuat dada Felicia semakin sesak.

"Jika Aku berkata kalau ini hanya akal-akalan Cintia untuk merebutmu dariku, apa Kau akan percaya, Arion?"

Arion tak percaya dengan ucapan sang istri. Setakut itukah Felicia sehingga menuduh Cintia seperti itu?

"Apa yang Kau katakan, Felicia?! Kenapa Kau jadi seperti ini? Kenapa Kau menuduh Cintia seperti itu? Aku hanya akan mengantarnya sebentar ke rumah sakit, setelah itu Aku akan pulang dan tidak akan lagi menemuinya. Apa Kau tidak percaya padaku?"

Mendengar ucapan Arion membuat Felicia semakin hancur. "Jadi Kau tak percaya dengan ucapanku, Arion?"

"Felicia, Sayang. Ku mohon jangan seperti ini. Aku mencintaimu. Percayalah padaku, Aku hanya sebentar saja." Arion masih tetap memohon.

'melihatmu memohon seperti ini, membuatku tidak yakin jika Kau benar-benar ingin melupakannya dan memilihku, Arion. Nyatanya mendengarnya sakit saja Kau masih begitu perduli padanya.' Felicia tersenyum kecut. Baru saja dia merasakan sebuah kebahagiaan. Kini sudah kembali hancur berantakan.

"Pergilah, Arion," ucap Felicia dengan hati yang sakit. Kali ini tidak ada kemenangan untuknya. Ternyata cintanya telah kalah.

"Aku berjanji padamu Aku hanya akan sebentar," ucap Arion.

Kini mobilnya telah sampai di rumahnya. Setelah Felicia turun, Arion kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Cintia.

Felicia hanya terdiam di tempatnya dengan air mata yang membasahi pipinya, menatap mobil Arion yang perlahan meninggalkan dirinya.

"Aku tidak percaya Aku telah kalah. Bukankah ini sudah saatnya untukku menyerah? Bahkan dia tak mempercayai ucapanku tentang rencana Cintia." Felicia mentertawakan dirinya sendiri.

"Aku melepaskanmu, Arion. Aku membiarkanmu pergi untuk kembali pada cinta masa lalumu," ucap Felicia dengan tetesan air mata yang tak bisa ia bendung.

Gadis itu tertunduk dalam sebuah kesedihan mendalam. Dia sangat kecewa pada Arion yang tak mempercayai ucapannya.

Beberapa kali ponselnya berdering, namun Felicia tak mengangkat panggilan itu karena kesedihan hatinya.

Hingga sebuah mobil memasuki halaman rumah itu. Mungkinkah itu Arion? Apakah Arion kembali untuknya? Felicia berusaha mendongak menatap mobil tersebut.

Harapannya pupus ketika menyadari jika itu bukan mobil Arion. Felicia kembali mentertawakan kebodohannya yang mengharapkan Arion akan kembali untuknya.

Felicia mengusap air matanya. Tepat di saat ini seseorang keluar dari mobil tersebut. Dia adalah Fero.

Pria langsung menghampiri Felicia. Tanpa aba-aba langsung memeluk Felicia. Felicia terkejut dan heran dengan apa yang Fero lakukan.

"Kak Fero...."

"Aku tahu Kau pasti sangat terpukul saat ini, Felicia. Ada Aku disini," ucap Fero yang membuat Felicia tak mengerti. Mungkinkah Fero mengetahui bagaimana hubungannya dengan Arion?

"Apa maksud Kak Fero?" tanya Felicia.

"Aku tahu Paman sangat menyayangimu, Felicia. Tapi Kau harus kuat dan tabah. Paman sudah di surga saat ini," ucap Fero. Felicia masih bingung dengan ucapan Fero. Namun jantungnya terpacu cepat menelaah arti ucapan Fero.

Felicia mencoba melepaskan pelukan Fero. Meraih ponselnya dan melihat notifikasi dari ponselnya.

Matanya membola tak percaya. Tangisnya seketika pecah kala mengetahui jika sang Papa telah berpulang saat ini.

Fero kembali memeluk Felicia untuk membuat gadis itu tenang. Hatinya hancur melihat Felicia yang begitu terpukul.

"Kita harus pulang saat ini juga, Felicia. Di mana suamimu? Kita harus mengambil penerbangan malam ini juga," ucap Fero.

Felicia berusaha menguatkan diri. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Arion. Namun saat ini panggilan sedang sibuk.

Felicia pun mengetikkan pesan pada Arion.

'pulanglah, Arion!'

Beberapa saat, Felicia mendapatkan pesan dari Arion.

'aku hanya sebentar, Felicia. Apa Kau tidak bisa menunggu sebentar saja?!' tulis Arion.

Felicia tak lagi membalas. Hatinya semakin hancur. Dia merasa semua telah meninggalkannya.

"Kita berangkat lebih dulu saja, Kak. Arion sedang sibuk dengan masa lalunya," ucap Felicia dengan rasa kecewanya. Tangisnya kembali pecah.

Fero yakin hubungan Felicia dan suaminya sedang tidak baik-baik saja. Namun, sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.

Pria itu menganggukkan kepalanya mengerti dan langsung membawa Felicia pulang ke kotanya.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
louis
dasar Arion laki2 tdk punya pendirian. bego jadi laki2.
Retno Harningsih
up
Noona Han
Eaaaa 🤣 semoga hbais ini cintia yg sadar sama perasaannya ke kenzo
Retno Harningsih
lanjut
Noona Han
keg nya masih idup, lagian lucu pamitannya🤣
Jelita S
Kenzo msih hidup kh
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Noona Han
nah yg ini baru kegnya lakinya mulai curiga
Noona Han
🤣🤣rada rada emg nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!