Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARA BERTANYA MENGAPA AYAHNYA TIDAK ADA
Empat minggu setelah keputusan untuk berpisah sementara, musim gugur mulai tiba di kota.
Daun-daun pohon di halaman rumah ibu Arini mulai berganti warna menjadi jingga dan merah, memberikan pemandangan yang indah namun juga sedikit menyedihkan.
Tara sedang duduk di teras depan, menggambar dengan pensil warna di atas buku gambarnya sambil sering melihat ke arah jalan depan seolah-olah sedang menunggu seseorang.
"Mama," ujarnya tiba-tiba tanpa mengangkat mata dari gambarannya, "kenapa Papa tidak tinggal sama kita lagi ya? Kapan Papa bisa tinggal di sini atau kita tinggal sama Papa lagi di rumah lama?"
Arini yang sedang mengemas pesanan kue untuk pelanggan segera berhenti pekerjaannya.
Dia mendekat dan duduk bersebelahan dengan anak perempuannya, melihat gambar yang sedang dilukis Tara – keluarga mereka tiga orang yang sedang berjalan di taman, tangan saling berpegangan dengan wajah yang ceria.
Arini mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. Dia tahu bahwa pertanyaan ini akan datang suatu hari nanti, namun dia masih merasa sedikit terkejut dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak kecil yang baru berusia tujuh tahun.
"Kita sedang menjalani masa yang sedikit sulit sekarang nak," ujarnya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Papa dan Mama memiliki beberapa masalah yang harus kita selesaikan bersama, jadi kita membutuhkan waktu untuk tinggal terpisah sebentar agar bisa menemukan cara terbaik untuk menyelesaikannya."
Tara menatap ibunya dengan mata yang penuh dengan kebingungan dan sedikit kesedihan. "Apakah karena saya tidak baik-baik saja? Apakah Papa dan Mama tidak suka saya lagi?"
Arini segera menarik anaknya ke dalam pelukan dengan erat. "Tidak pernah, nak! Itu sama sekali bukan kesalahanmu. Papa dan Mama mencintaimu lebih dari segalanya di dunia ini. Tidak ada yang bisa mengubahnya."
"Kalau begitu kenapa Papa tidak bisa tinggal sama kita?" tanya Tara lagi, air mata mulai mengumpul di sudut matanya.
"Saya sering melihat teman-teman sekelas saya pulang bersama Papa dan Mama mereka. Saya juga ingin begitu. Saya ingin kita bisa makan malam bersama setiap hari dan Papa bisa membacakan buku cerita untuk saya sebelum tidur seperti dulu."
Arini merasa hatinya hancur mendengar kata-kata anaknya. Dia meneteskan air mata dan mencium kepala Tara dengan lembut.
"Saya juga ingin itu banget nak. Kita akan bisa melakukan semua itu lagi nanti, saya janji. Tapi sekarang, kita perlu sabar ya. Papa dan Mama sedang berusaha keras untuk membuat keluarga kita lebih bahagia lagi."
Pada sore hari yang sama, Rizky sedang bekerja di taman belakang rumah lama.
Dia baru saja menyelesaikan pemasangan ayunan baru untuk Tara dan sedang merencanakan untuk menanam kebun sayuran kecil di sudut taman agar mereka bisa memiliki sayuran segar saat hidup bersama kembali.
Ketika dia sedang membersihkan alat pertaniannya, ponselnya berbunyi – pesan dari Arini yang memberitahukan tentang pembicaraan dia dengan Tara.
Baca pesan itu membuat Rizky merasa sangat bersalah dan sedih. Dia segera mengambil jasnya dan pergi langsung ke rumah ibu Arini.
Ketika dia tiba, Tara langsung berlari ke arahnya dan memeluk kakinya dengan erat.
"Papa! Saya sudah menunggu kamu sejak pagi!" teriak Tara dengan suara yang penuh kegembiraan, meskipun matanya masih sedikit merah karena menangis tadi pagi.
Rizky mengangkat anaknya dan memeluknya dengan sangat erat. "Maafkan Papa ya nak. Papa sudah berusaha untuk datang sebisa mungkin. Papa juga sangat merindukanmu setiap hari."
Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk bersama di ruang tamu. Arini sudah menyediakan teh hangat dan kue kering yang dibuatnya sendiri.
Tara duduk di pangkuan Rizky, bermain dengan jari-jari ayahnya sambil masih bertanya-tanya tentang kapan mereka bisa hidup bersama kembali.
"Papa sudah memperbaiki ayunan baru untukmu di taman belakang rumah lama lho nak," ujar Rizky dengan senyum untuk mencoba membuat anaknya lebih bahagia. "Kita bisa bermain di sana besok jika kamu mau. Papa juga akan membuatkan ayunan ayah-anak yang bisa kita gunakan bersama."
Tara mengangguk dengan senyum, namun ekspresinya masih menunjukkan bahwa dia masih khawatir tentang masa depan keluarga mereka.
"Kalau kita bermain di sana, apakah kita bisa tinggal di sana juga Papa? Saya ingin tidur di kamar saya yang lama lagi dan bermain dengan mainan saya yang ada di sana."
Rizky melihat ke arah Arini dengan mata yang penuh dengan emosi. Arini memberikan dia nod perlahan sebagai tanda bahwa dia bisa menjelaskan pada anaknya dengan cara yang lebih baik.
"Tara nak," mulai Rizky dengan suara yang lembut, menjadikan anaknya menghadap langsung padanya.
"Papa telah melakukan kesalahan besar yang membuat Mama merasa sangat sakit hati. Papa sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukan dan sedang berusaha keras untuk menjadi orang yang lebih baik – baik sebagai ayah maupun sebagai suami Mama."
Dia menjelaskan pada Tara bahwa kadang orang dewasa juga membuat kesalahan dan bahwa terkadang mereka membutuhkan waktu untuk memperbaikinya.
Dia mengatakan bahwa meskipun mereka tidak tinggal bersama sekarang, cinta mereka satu sama lain tidak akan pernah berubah dan mereka akan selalu ada untuknya.
"Saya tahu ini sedikit sulit untuk dimengerti olehmu sekarang," lanjut Rizky dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi percayalah nak, Papa dan Mama sedang melakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Kita akan bisa hidup bersama kembali nanti, dan saat itu tiba, keluarga kita akan menjadi lebih kuat dan bahagia dari sebelumnya."
Tara mendengarkan dengan saksama, kemudian mengangguk perlahan. "Kalau begitu Papa harus berusaha ya agar bisa cepat jadi baik-baik lagi. Saya ingin keluarga kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu."
Setelah itu, Rizky mengajak Tara untuk bermain permainan catur yang pernah mereka sukai bersama.
Arini melihat mereka dari kejauhan, menangis pelan karena merasa bahagia melihat hubungan yang erat antara ayah dan anaknya meskipun mereka tidak tinggal bersama setiap hari.
Ketika malam mulai menjelang, Rizky harus kembali ke rumah lama. Sebelum dia pergi, Tara mengeluarkan gambarannya yang sudah selesai dilukis dan memberikannya pada ayahnya.
"Ini untuk Papa," ujarnya dengan suara yang lembut. "Saya lukis ini agar Papa tidak pernah lupa dengan saya dan Mama. Dan supaya Papa tahu bahwa saya selalu cinta Papa."
Rizky menerima gambar itu dengan tangan yang bergetar. Dia mencium dahi anaknya dengan erat dan kemudian melihat ke arah Arini.
"Saya akan selalu cinta kamu berdua, tidak peduli apa yang terjadi. Saya akan terus berusaha untuk menjadi orang yang layak untuk kalian berdua."
Setelah Rizky pergi, Arini dan Tara duduk bersama di ruang tamu menonton kartun kesukaan mereka. Tara tiba-tiba berbalik dan memeluk ibunya dengan erat.
"Mama, saya tahu Papa sedang berusaha untuk menjadi lebih baik kan?" tanya Tara dengan suara yang sudah lebih tenang. "Saya akan sabar menunggunya ya Mama. Karena saya cinta Papa dan Mama sangat banyak."
Arini memeluk anaknya dengan sangat erat, merasa sangat bersyukur memiliki anak yang begitu paham dan penuh kasih sayang. "Terima kasih ya nak. Mama juga sangat mencintaimu dan Papa. Kita akan melalui semua ini bersama ya."
Pada malam yang sama, Rizky duduk di taman belakang rumah lama sambil melihat gambar yang diberikan Tara padanya.
Dia menempatkannya di atas meja kerja kecil yang dia buat sendiri di taman dan mulai menulis surat untuk anaknya – sebuah janji bahwa dia akan selalu ada untuknya dan bahwa dia akan melakukan apa saja untuk membuat keluarga mereka bahagia kembali.
Dia juga mengirim pesan kepada Arini: "Terima kasih telah membantu saya menjelaskan pada Tara. Dia adalah anak yang luar biasa. Saya akan terus berusaha setiap hari untuk menunjukkan bahwa saya layak mendapatkan kesempatan untuk membangun kembali keluarga kita. Cinta kamu selalu, Rizky."
Arini melihat pesan itu sebelum tidur. Dia mengambil foto keluarga yang terpampang di sisi tempat tidurnya dan menciumnya dengan lembut.
Meskipun masih ada jalan panjang yang harus ditempuh, dia merasa bahwa dengan cinta dan kesabaran yang mereka miliki, mereka pasti akan bisa melewati semua rintangan dan membangun keluarga yang lebih kuat dan bahagia dari sebelumnya.
Di kamar sebelahnya, Tara sedang tidur nyenyak dengan boneka beruang besar yang diberikan Rizky padanya.
Di mejanya, sebuah catatan kecil yang ditulis dengan huruf yang masih goyah terletak di atas buku gambarnya: "Saya cinta Papa dan Mama. Semoga kita bisa segera hidup bersama lagi."