Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Siapa Pandji Sebenarnya?
Harry menoleh, begitu pula Pandji, menemukan presisi Melita berdiri di ambang pintu antara ruang keluarga dan ruang makan, aura ketegangan terpancar dari wajahnya.
"Tentunya tentang kamu, Mel," sahut Pandji tenang, seolah sudah mengantisipasi reaksi adik sepupunya itu.
Baginya wajar bila adik sepupunya itu merasa kaget dan bersikap demikian, karena ini memang pertama kalinya dirinya akan datang ke sekolahnya.
"Tentang a-aku, Mas...." Melitha bertambah was-was. Dugaannya semakin kuat, bila kakak sepupunya itu sudah tahu bahwa dirinyalah pelaku dari peretasan itu.
Pandji tertawa pelan, diikuti Harry yang juga tersenyum.
"Iya tentu saja tentang kamu, Melitha... masa tentang Naomi, itukan sekolah kamu?" Harry menimpali, merasa situasinya semakin lucu.
"Bukan kapasitas sebagai wali, tapi calon suami kamu," Pandji menambahkan, membuat Harry tersedak mendadak dan Melitha terpaku di tempatnya.
Wajah Melitha merona, perasaan was-wasnya berubah jadi kebingungan dan sedikit malu. Sekalipun sudah tahu Pandji akan menjadi calon suaminya, tetap saja status mereka sebagai saudara sepupu membuatnya merasa kurang pantas terlebih lagi setelah mengetahui siapa Pandji sebenarnya lewat peretasannya tadi siang.
"Badjingan! Keluar kamu!"
Teriakan mengagetkan itu sontak menarik atensi ketiganya.
"Ayo keluar kamu, badjingan! Akan ku sate kamu!" suara teriakan cempreng itu kembali menggema, membuat Naomi muncul sambil menangis disertai Adri yang menyusul di belakangnya
"Bibi! Bibi! No-mi takut!"
Melitha segera mendekap dua bocah yang ketakutan itu dalam pelukannya. "Tenang, Sayang... Jangan takut... Ada Bibi," lembutnya.
"Keluar kamu, Celo! Cepat!" suara itu kembali menggema.
"Ciapa olang yang malah-malah itu, Bibi?" Naomi mendongak, menatap wajah Melitha.
"Bibi, juga tidak tahu, Sayang..." Melitha mengusap bening airmata yang masih tersisa di sudut mata dan pipi keponakannya itu.
Pandji dan Harry bergegas keluar meninggalkan Melitha yang masih menenangkan Naomi dan Adri.
Di luar, bu Harun berusaha menenangkan si pria berbaju loreng yang beringas. "Ada apa, Pak?" tanya bu Harun gemetar karena kaget.
Jantungnya memacu cepat terlebih melihat para tetangga sudah berbondong-bondong datang untuk mengetahui apa yang terjadi tidak terkecuali pak RT setempat.
"Mana anak Ibu yang namanya Celo! Suruh keluar!" bentak pria itu, matanya berkilat penuh amarah.
Bu Harun tetap berusaha tenang, "Celo belum pulang, Pak. Maaf... bisakah kita bicara baik-baik di dalam?"
Pria itu menatap pak RT sengit, lalu beralih pada bu Harun, "Selama ini kami sudah memberi waktu, menunggu itikad baik Celo dan keluarganya datang ke rumah, tapi tidak ada tanggapan! Saya fikir, ini jalan terbaiknya!"
Sebagai kepala RT, pak Musri ikut berucap, "Iya, Pak... Bu Harun benar. Tolong dibicarakan dengan baik-baik, Pak."
Pria itu menatap lagi pada bu Harun."Sekarang, suruh anak Ibu keluar, jangan sembunyikan dia di dalam, atau saya seret paksa dia keluar!" ancamnya lantang.
Bu Harun menekan dadanya yang sakit. Dirinya yakin, Celo pasti melakukan sesuatu yang fatal sehingga pria itu semarah itu.
"Ibu saya tidak menyembunyikan Celo di dalam, adik saya itu memang belum pulang, pak Andika Kriswanto!"
Pria berbaju loreng itu cepat berbalik mendengar suara familiar itu, sikap beringasnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat begitu tatapan berkilatnya bertemu pandang dengan sang atasan.
"Pak... Pak Pandji..." suara pria itu melemah, punggung tegapnya perlahan mengkerut. "Celo... Adiknya pak Pandji?"
Pandji menatap datar pria itu, "Iya, Celo adik saya, pak Kris. Kita mengobrol di dalam saja," pandangan beralih pada kerumunan tetangga yang mengarah padanya, membuat mereka mulai membubarkan diri.
"Bapak, Ibu... Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini!" Pandji bersuara lantang, membungkukan tubuhnya tiga kali sebagai permintaan maafnya.
Begitu kembali mengangkat wajahnya, pandji kembali berucap pada tamunya. "Silahkan masuk pak Kris, kita bahas masalah ini di dalam," Pandangannya beralih pada Musri dan Harry. "Pak RT dan mas Harry juga."
Musri dan Harry saling pandang, laku Musri berucap," Maaf pak Pandji, sepertinya ini masalah keluarga, silahkan di selesaikan dengan baik-baik."
Harry menambahkan. "Iya, Pandji... Sebaiknya Mas juga tidak ikut. Kalian saja yang berurusan."
Pandji mengangguk singkat, tak memaksa." Baik, terima kasih," ujarnya lalu berlalu masuk diikuti Kriswanto.
"Ayo, bubar Bapak-Bapak!" ajak Musri pada warganya yang masih tersisa, raut mereka nampak masih penasaran pada permasalahan yang ada tapi sungkan bertahan di sana.
Di dalam rumah, suasana tegang dan kaku sangat dirasakan oleh Kriswanto. Bu Harun menyuguhkan teh panas, pembicaraan belum dimulai sampai dirinya duduk bergabung dan memulai percakapan.
"Silahkan diminum pak Kris," ucapnya ramah mempersilahkan.
"Terima kasih, Bu." Kriswanto meraih cangkir teh yang ditawarkan padanya, tangannya terlihat sedikit gemetar saat mendekatkan benda itu ke mulutnya.
"Saya minta maaf atas kejadian tadi, tidak sopan pada anda, Bu," ucapnya setelah meletakan kembali teh di atas meja dengan hati-hati.
'Tidak apa-apa, pak Kris,' sahut bu Harun tersenyum.
"Saya juga minta maaf, pak Pandji," pelan Kriswanto lagi hati-hati, menatap pada dada sang atasan, tidak berani bersitatap langsung.
"Di sini, anggap saya bukan siapa-siapa. Silahkan utarakan apa yang menjadi maksud kedatanganmu," ucap Pandji tanpa penekanan, menatap dengan sorot teduh pada bawahannya itu.
Kriswanto terdiam. Niat eksekusinya yang menggebu-gebu dari rumah kini telah menguap saat berhadapan dengan Pandji.
Melihat tamunya menunjukan sikap penuh pertimbangan, bu Harun kembali berucap. "Masalah apa yang dilakukan Celo, sampai pak Kris semarah tadi?" pelannya.
Bibir Kriswanto bergerak, tapi tidak kunjung berucap, membuat bu Harun dan Pandji saling pandang, lalu beralih lagi pada tamu mereka.
"Jangan sungkan pada Pandji putraku, pak Kris. Kami akan berusaha membantu, bahkan siap ganti rugi bila Celo melakukan hal yang merugikan anda, pak Kris," lembut bu Harun.
Tanpa aba-aba, Kriswanto bergerak turun secepat kedipan mata, bersujud di hadapan Pandji dan bu Harun dengan wajahnya mencium lantai.
"A-apa yang anda, lakukan... pak Kris?" kaget bu Harun begitu pula halnya dengan Pandji. Tubuh tua bu Harun bangkit siap membantu mengangkat tamunya.
"Mohon ampuni saya, saya sudah membuat laporan di kantor polisi pada adik pak Pandji," sesal pria itu, masih bersujud.
"A-apa?" Bu Harun nampak syok. "Ke-kenapa?" tanyanya terbata.
...***...
Melitha cepat menghampiri Harry yang baru kembali.
"Ada masalah apa, Mas?" tanyanya penasaran. Adri dan Naomi sedang memakan salad buah buatannya di meja makan.
"Mas juga tidak tahu pasti," Harry duduk di kursi tamu, Melitha juga ikut duduk disana, menanti kelanjutan ucapan kakaknya.
"Sepertinya, Celo telah membuat masalah besar sampai pria itu semarah itu," lanjut Harry, termenung sesaat. Begitu mengingat hal janggal yang terjadi tadi, ia menoleh, menatap lekat adiknya yang duduk di samping.
"Apa jabatan Pandji? Kemarahan prajurit itu langsung mengendor begitu tahu Celo adiknya Pandji..." batinnya penasaran, setahunya Pandji juga adalah seoang prajurit sesuai pengakuan adik sepupunya itu bila ada yang bertanya.
Melitha langsung teringat pada hasil retasannya siang tadi. Awalnya ia ingin menyembunyikan apa yang ia tahu, tapi pada kakaknya ia fikir perlu membukanya sebagai pertimbangan langkah yang harus dirinya ambil. "Mas Pandji, dia sebenarnya seorang Danrem, Mas?"
"Komandan Korem? Kamu, kamu nggak salah?" Harry masih menatap lekat adiknya.
"Hm... Itu benar, Mas." Melitha mengangguk pelan, tidak menyebutkan lagi tugas rahasia lainnya yang diemban oleh Pandji.
Mata Harry langsung melebar sempurna mendengarnya. Kantor Komando Resort Milter (Korem) yang setiap hari ia lewati saat berangkat maupun pulang berkerja, tak pernah ia sangka bila adik sepupunya yang menjadi komandannya disana.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.