Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan misterius
Getaran ponsel Max di atas meja jati itu terdengar seperti ledakan di tengah keheningan intim yang baru saja mereka ciptakan. Suaranya pendek, namun cukup untuk memecah sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Max melepaskan tautan bibirnya dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. Tatapan matanya—yang beberapa detik lalu gelap oleh gairah—berubah seketika. Tajam. Siaga. Berbahaya.
Layar ponsel menyala.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Max meraih perangkat itu dengan gerakan cepat, nyaris refleks. Namun begitu ibu jarinya menyentuh layar dan foto itu terbuka, seluruh tubuhnya membeku. Waktu seakan melambat, suara pendingin ruangan menghilang, dan dunia menyempit menjadi satu bingkai digital.
Foto beresolusi tinggi.
Dirinya dan Sophie.
Posisinya identik dengan beberapa detik lalu—Sophie duduk di atas meja rapat, jas Max terbuka, tangan Max mencengkeram pinggang wanita itu. Sudut pengambilan gambar terlalu sempurna, terlalu presisi. Bukan foto ponsel sembarangan. Ini diambil dari atas, sedikit miring, seolah kamera itu bersembunyi di sela ventilasi udara atau balik panel lampu.
Seseorang telah mengawasi mereka.
Wajah Max berubah. Pucat sesaat, lalu perlahan mengeras. Rahangnya mengatup, urat di lehernya menegang. Amarah merambat naik, panas dan mematikan, namun tertahan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa waspada murni.
Dalam satu gerakan cepat, Max berdiri. Tangannya mencengkeram pinggang Sophie, menariknya turun dari meja dan memposisikannya di belakang tubuhnya, seolah ancaman itu bisa muncul dalam bentuk fisik kapan saja—peluru, gas, atau sesuatu yang lebih halus dan mematikan.
“Ada apa, Max?” Sophie bertanya cepat, suaranya rendah namun tegang. Ia meraih ponsel Max, nalurinya menuntut jawaban. “Siapa yang mengirim pesan itu?”
Max langsung menjauhkan ponsel tersebut, menyelipkannya ke saku jas dalam satu gerakan terlatih.
“Bukan apa-apa,” katanya pendek. Terlalu pendek. “Masalah saham.”
Namun nada suaranya mengkhianatinya.
Ada getaran tipis di balik kendali besi itu. Matanya bergerak cepat, memindai langit-langit ruang rapat, sudut-sudut gelap, panel pendingin, kamera keamanan. Tatapan seorang predator yang sadar bahwa wilayahnya telah ditembus.
Sophie menangkap semuanya.
Ia melihat perubahan itu—kilat ketakutan yang disamarkan oleh kemarahan, ketegangan yang tidak berasal dari politik perusahaan. Ini berbeda. Ini personal. Dan berbahaya.
Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Max, menghalangi jalannya saat pria itu hendak menuju pintu.
“Jangan berbohong padaku, Maximilian,” desis Sophie, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan marah. “Aku tahu ada sesuatu yang terjadi.”
Max berhenti.
“Jika kau tidak memberitahuku sekarang,” lanjut Sophie, menatapnya lurus tanpa gentar, “aku sendiri yang akan mencari tahu. Kau ingin aku aman?” Ia menekan dada Max dengan telunjuknya. “Maka buatlah aku tahu apa yang sedang kita hadapi.”
Nama lengkapnya diucapkan dengan nada yang jarang ia gunakan—bukan kekasih, bukan asisten, melainkan partner yang menuntut kejujuran.
Max menatapnya lama.
Untuk sesaat, pertahanan di wajahnya retak. Frustrasi, amarah, dan ketakutan beradu dalam satu tarikan napas berat. Ia tahu Sophie tidak menggertak. Jika ia menutup informasi sekarang, Sophie akan membongkar semuanya sendiri—dan itu jauh lebih berbahaya.
Namun ia juga tahu satu hal lain.
Dinding-dinding ini memiliki telinga.
Gedung Hoffmann Motors bukan sekadar kantor. Richard telah menanam teknologi di mana-mana—kamera tersembunyi, jalur komunikasi tertutup, sistem yang bisa diakses dari luar. Dan meski Richard kini berada di balik jeruji, jaringan itu tidak serta-merta mati.
Ada pihak lain.
Blackwood.
Nama itu bergaung di kepala Max seperti alarm senyap.
Max tidak menjawab.
Sebaliknya, ia meraih tangan Sophie—kasar, cepat, namun jelas protektif—dan menariknya keluar dari ruang rapat. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi berat yang memutuskan mereka dari ruangan itu.
Mereka melangkah cepat menyusuri lorong eksekutif. Dinding kaca buram di kiri kanan memantulkan bayangan mereka yang memanjang, langkah mereka bergema cepat dan tegang. Beberapa staf menoleh, namun Max tidak memperlambat langkah. Auranya cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum bertanya.
Sophie harus mempercepat langkah untuk mengimbanginya.
Max berhenti mendadak di depan pintu ruang kerja pribadinya. Ia menempelkan kartu akses, lalu memasukkan kode tambahan—lapisan keamanan yang jarang ia gunakan. Pintu terbuka perlahan.
Sesampainya di dalam ruang kerja pribadinya, Max langsung menutup pintu tanpa suara, lalu mengangkat telunjuk ke bibirnya. Isyarat itu mutlak—tidak ada kompromi, tidak ada pertanyaan. Sophie mengangguk refleks, menahan napas, jantungnya berdetak terlalu keras di telinganya sendiri.
Ruangan itu luas dan elegan, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap panorama Frankfurt. Biasanya, tempat ini memancarkan kekuasaan dan kendali. Kini, rasanya seperti medan perang tak kasatmata.
Max bergerak.
Gerakannya senyap, efisien, dan terlalu terlatih untuk sekadar seorang CEO. Ia menyisir rak buku satu per satu, jari-jarinya menekan punggung buku tebal, menariknya sedikit, lalu mengintip celah di belakangnya. Ia berlutut, memeriksa bagian bawah meja jati besar yang selama ini menjadi pusat keputusan perusahaan. Tidak berhenti di sana—Max memanjat kursi, menjangkau kap lampu kristal di langit-langit, memutar baut kecil dengan ujung pisau lipat yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.
Sophie berdiri kaku di dekat pintu.
Ia tidak berani bergerak, bahkan untuk menarik napas lebih dalam. Setiap gerakan Max membuatnya sadar akan satu hal yang mengerikan: pria ini pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.
Klik.
Sebuah benda kecil jatuh ke telapak tangan Max.
Klik.
Benda kedua.
Klik.
Satu per satu, ia mencabut alat penyadap bulat berwarna hitam metalik, masing-masing tak lebih besar dari koin, namun jelas canggih—permukaannya nyaris tanpa sambungan, dirancang untuk menyatu dengan lingkungan apa pun.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Max telah mengumpulkan lima buah.
Lima.
Sophie menganga. Ruangan yang ia anggap sebagai tempat teraman Max ternyata telah disulap menjadi sarang mata-mata. Setiap sudut terasa mendadak asing, berbahaya.
Tanpa berkata apa pun, Max membuka sebuah kotak kecil dari laci tersembunyi. Ia memasukkan semua alat penyadap itu ke dalamnya, menekan sebuah tombol di sisi kotak tersebut. Lampu merah berkedip, lalu mati.
Signal jammer. Aktif.
Max mengunci kotak itu, lalu untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, mengembuskan napas berat—seolah baru saja menahan napas terlalu lama.
“Sekarang kita bisa bicara,” ucapnya pelan. Suaranya terdengar lelah, rendah, dan penuh kewaspadaan.
Sophie akhirnya berani bersuara. “Max… bagaimana bisa?” Suaranya bergetar, bukan karena panik, melainkan karena realitas yang menghantamnya terlalu keras. “Ruangan ini dibersihkan setiap pagi oleh tim keamanan. Bagaimana mungkin ada begitu banyak penyadap di sini?”
“Artinya ada dua kemungkinan,” jawab Max tajam. Ia melangkah mendekat dan mencengkeram kedua bahu Sophie, genggamannya erat namun menenangkan. “Tim keamanan kita sudah disusupi… atau seseorang memiliki akses yang lebih tinggi dariku.”
Kalimat itu menggantung seperti vonis mati.
“Dengarkan aku,” lanjut Max, menatap Sophie tanpa berkedip. “Mulai detik ini, segalanya berubah. Kau tidak boleh berada jauh dariku. Jika aku harus masuk rapat tertutup atau menangani urusan mendesak, kau wajib berada di bawah pengawasan Gaston. Jangan pernah—dan aku serius—jangan pernah pergi ke toilet, ke kantin, atau ke mana pun sendirian. Mengerti?”
Sophie mengangguk perlahan, meski pikirannya berputar liar. “Tapi siapa mereka?” desaknya. “Siapa yang bisa melakukan ini di dalam gedung Hoffmann Motors?”
Max melepaskan genggamannya dan berjalan menuju jendela besar. Ia menatap ke bawah, ke arah kerumunan wartawan yang masih berjejal seperti titik-titik kecil di kejauhan. Dari atas sini, dunia tampak mudah dikendalikan—padahal nyatanya tidak.
“Itu yang selama ini menghantui pikiranku,” katanya pelan. “Blackwood Holdings.”
Sophie mengernyit. Nama itu terasa asing, namun cara Max mengucapkannya membuat tengkuknya meremang. “Blackwood Holdings? Jadi itu yang selama ini mengganggu pikiranmu?”
Max mengangguk lemah. “Aku sudah mencoba semuanya. Meretas database global, menelusuri aliran dana rahasia, bahkan menggunakan koneksi pribadiku di intelijen.” Ia mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. “Tapi Blackwood seperti hantu. Mereka ada di mana-mana—di balik saham kita, di balik teknologi keamanan kita…”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, “Bahkan mungkin di balik kehancuran keluargamu sepuluh tahun lalu.”
Sophie menahan napas.
“Mereka tidak meninggalkan jejak digital,” lanjut Max. “Tidak ada tanda tangan. Tidak ada struktur yang bisa ditelusuri. Mereka bukan sekadar perusahaan, Sophie. Mereka adalah entitas. Jaringan bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik kegelapan.”
Max akhirnya berbalik. Tatapannya gelap, penuh kewaspadaan dan kemarahan terpendam.
“Foto di ruang rapat tadi,” ucapnya, “bukan ancaman kosong. Itu peringatan.”
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Sophie.
“Mereka ingin kita tahu,” katanya lirih namun tegas, “bahwa tidak ada tempat bagi kita untuk bersembunyi.”