Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih ringan. Elang muncul tanpa setelan jas hitamnya, hanya mengenakan kaus polo santai dan celana katun.
“Ra, kemasi pakaianmu dan Kanara untuk dua hari ke depan,” ucap Elang sambil menuangkan susu ke gelas Kanara. “Kita butuh udara segar. Aku sudah menyewa sebuah villa di pinggir pantai yang tenang. Kita berangkat setelah makan siang.”
Nura sempat terpaku, jemarinya yang sedang memegang sendok membeku. “Mas… tapi masalah di kantor?”
Elang menatap Nura dalam, seolah bisa membaca keraguan yang sempat Nura curahkan pada Zoya semalam. “Dunia tidak akan runtuh kalau aku menghilang selama empat puluh delapan jam, Ra. Justru kalau aku tetap di sini, aku yang akan runtuh. Siap-siap kita pergi.”
Kanara yang mendengar kata ‘pergi’ langsung bersorak kegirangan, melupakan rotinya dan mulai melompat-lompat kecil. Melihat binar bahagia di mata bocah itu. Nura tidak punya alasan untuk menolak.
**********
Siang itu, suasana Jakarta ditinggalkan jauh di belakang. Elang membawa mereka ke sebuah villa pribadi di pinggir pantai yang tersembunyi, tempat di mana suara bising klakson berganti menjadi deru ombak yang ritmis dan menenangkan.
Elang sengaja tidak membawa sopir. Ia ingin benar-benar momen ini milik mereka bertiga. Sepanjang perjalan, Nura menyimpan rapat-rapat kegelisahannya. Ia tersenyum tipis setiap kali Kanara menunjuk pemandangan dari jendela mobil.
Sore harinya, pasir putih yang hangat menyapa kaki mereka. Kanara berlari kecil di bibir pantai, mengejar ombak yang datang dan pergi. Tawanya pecah setiap kali air laut yang dingin membasahi jemari kakinya.
Elang berjalan di samping Nura, celana panjangnya digulung hingga lutut. Ia tampak jauh lebih rileks, garis tegas di keningnya yang biasa muncul kini menghilang.
“Kamu suka pantainya, Ra?” tanya Elang tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada Kanara yang sedang memungut kerang.
“Suka, Mas… udaranya beda dengan Jakarta. Rasanya seperti… semua beban terangkat dan menghilang,” jawab Nura menatap Elang dari samping.
Elang berhenti melangkah, membuat Nura ikut berhenti. Pria itu menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai berubah jingga.
“Kadang aku berpikir, kenapa tidak dari dulu membawa Kanara ke sini. Aku terlalu sibuk membangun tembok untuk melindunginya. Aku lupa kalau Kanara juga butuh ruang untuk bernapas.”
Elang kemudian menoleh pada Nura, menarik pinggangnya mendekat, tersenyum tipis. “Terima kasih untuk mengingatkanku cara untuk bernapas lagi, Nura.”
“Ayah! Kak Nura! Sini!” teriak Kanara sambil melambaikan tangan, memecah momen magis antara mereka berdua.
Elang tertawa, sebuah tawa lepas yang jarang sekali terdengar. Ia menanggalkan kacamata hitamnya dan menyampirkannya di kerah baju. “Ayo, Ra, Kanara sudah manggil. Jangan bilang kamu takut basah?”
Nura tersenyum menantang. “Siapa takut?!”
Tanpa aba-aba, Elang menarik tangan Nura, membawa wanita itu berlari kecil menuju arah Kanara. Begitu sampai di dekat putrinya, Elang dengan jahil menendang air ke arah mereka berdua.
Splash!
Nura memekik kaget saat air laut yang sejuk membasahi gaun katun tipisnya. “Mas Elang! Itu curang!” balas Nura. Ia membungkuk, menyiduk air dengan kedua tangannya, dan membalas serangan Elang.
Tawa Kanara pecah melihat Elang dan Nura saling menyerang dengan air. Bocah itu ikut-ikutan membantu Nura, menyiramkan air ke kaki ayahnya dengan tangan kecilnya. “Serang Ayah, Kak Nura! Serang!” seru Kanara siang.
Elang akhirnya menyerah, mengangkat tangannya ke udara sambil tertawa terbahak-bahak. “Oke, oke! Ayah kalah! Dua lawan satu tidak adil!”
Di tengah keriuhan itu, ombak yang sedikit lebih besar menerjang. Nura, yang tidak siap dengan pijakannya di pasir, sedikit limbung. Dengan sigap, tangan kokoh Elang melingkar di pinggang Nura, menariknya erat ke dalam pelukan agar tidak terjatuh.
Waktu seolah melambat.
Nura mendongkak, napasnya sedikit terengah karena tawa, dan ia mendapati wajah Elang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Tetesan air laut menempel di bulu mata dan rahang Elang, membuatnya terlihat nyata.
Tangan Nura secara naluriah bertumpu pada dada Elang, merasakan detak jantung pria itu yang kuat dan berirama cepat.
“Dapat,” bisik Elang pelan, suaranya parau namun lembut. Genggamannya di pinggang Nura tidak mengendur, justru semakin protektif.
Nura tidak memalingkan wajahnya. Untuk sesaat, ia melupakan kegelisahan dan ketakutannya. Saat ini, Nura merasa diinginkan.
Elang perlahan mengangkat tangannya yang bebas, menyelipkan anak rambut Nura yang basah ke belakang telinga. Jemarinya yang hangat menyentuh pipi Nura, membuat wanita itu memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan yang penuh kasih sayang itu.
“Ra… tetaplah seperti ini,” ucap Elang rendah hampir tertelan deru ombak. “Jangan menjaga jarak lagi. Di luar sana mungkin akan banyak ombak, jadikan aku sebagai pelabuhanmu.”
Nura membuka matanya, menatap binar ketulusan di mata Elang. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Elang, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria itu.
Kanara, yang melihat pemandangan itu, tidak merasa asing. Ia justru mendekat, memeluk kaki Elang dan Nura sekaligus, menyatukan mereka menjadi satu lingkaran yang utuh.
Di bibir pantai yang sunyi itu, Elang mencium kening Nura dalam dan lama. Sebuah janji tanpa suara bahwa mulai hari ini, Nura menjadi bagian dari jantung keluarga kecil ini.
**********
Malam jatuh dengan cepat. Kanara sudah tertidur lelap di dalam kamar, kelelahan setelah bermain air. Nura duduk di kursi teras, menatap laut yang kini berwarna hitam pekat, hanya diterangi cahaya bulan.
Elang datang membawa dua jus buah dingin, duduk di kursi sebelah Nura. “Kanara sudah benar-benar pulas. Dia bahkan tidak terbangun waktu aku ganti bajunya.”
“Dia butuh ini, Mas,” sahut Nura pelan.
“Kita semua butuh ini,” koreksi Elang. Ia meletakkan gelasnya, lalu menyandarkan punggungnya, menatap langit. “Tahu tidak, Ra? Untuk pertama kalinya lebih dari setahun ini, aku tidak memikirkan hari esok dengan rasa cemas. Aku merasa… aman.”
Elang meraih tangan Nura yang berada di sandaran kursi, menggenggamnya dengan jemarinya yang kokoh. “Aku berdoa momen ini terus bertahan.”
Nura merasakan dadanya perih. Ia terdiam, tidak mampu membalas genggaman itu dengan kekuatan yang sama. Ia hanya membiarkan tangannya di sana, lemah.
“Mas…,” Nura memulai, suaranya hampir hilang terbawa angin laut. “Kalau suatu saat nanti kondisi Kanara sudah benar-benar stabil… Mas harus janji untuk tetap kuat, ya? Mas harus jadi sandaran buat dia, bukan orang lain.”
Elang mengerutkan kening, menoleh menatap Nura dengan binar bingung. “Kenapa bicara begitu? Kanara sudah punya aku, dia juga punya kamu. Bukankah itu tujuan kita?”
Nura memaksakan diri tertawa kecil, meski air mata sudah menggenang di sudut matanya. “Maksudku… hidup ini tidak ada yang tahu. Aku hanya ini Mas Elang mandiri dalam memahami Kanara.”
Elang tidak melepaskan genggamannya, justru mengeratkan remasannya, seolah indra keenamnya menangkap ada getaran perpisahan dalam nada bicara Nura. “Aku tidak mau mandiri kalau itu artinya tanpa kamu, Nura. Jangan bicara seolah-olah kamu akan pergi.”
Nura hanya terdiam, memilih untuk menatap ombak daripada menatap mata Elang yang penuh harap. Malam itu, di bawah deburan ombak, Nura menyadari bahwa pergi akan jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Khan... aku juga jadi ikutan.. ba...s...ah... 😌
eh ortu Elang, aku karungin aja deh, brisik bgt dah😩