Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7:Pertemuan kembali
Malam itu, Desa Bambu berubah menjadi lautan cahaya. Ratusan lampion kertas digantung di sepanjang jalan, memancarkan cahaya jingga yang hangat. Festival Musim Semi telah tiba—momen di mana seluruh penduduk desa keluar untuk merayakan hasil panen dan memanjatkan doa.
Jian Wuyou berjalan perlahan di tengah keramaian, mengenakan jubah sutra hitam sederhana namun elegan. Di belakangnya, Jiwu tampak mengawasi dengan waspada, sementara Mei Lian membawa Jian Han yang kegirangan melihat kerlip lampu. Meskipun Jian Wuyou kini memiliki kekuatan Ranah Penyatuan Roh Level 10, ia menyembunyikan auranya rapat-rapat hingga tampak seperti pemuda bangsawan biasa yang sedang berkelana.
"Kak, kau terlihat sangat kaku. Santailah sedikit." bisik Jiwu sambil terkekeh.
Jian Wuyou tidak menjawab. Matanya terus menyapu kerumunan hingga akhirnya tertuju pada sebuah kedai kecil yang menjual kue beras dan bunga kering. Di sana, Li Hua sedang sibuk melayani pembeli dengan senyum yang selalu menghangatkan hatinya.
Li Hua tampak terburu-buru. Tuan tanah tempatnya bekerja memesan banyak stok bunga untuk dekorasi panggung utama, dan ia harus membawanya segera. Ia mengangkat sebuah keranjang besar penuh kelopak bunga mawar dan melangkah cepat keluar dari kedainya.
"Permisi! Tolong beri jalan!" serunya lembut sambil menembus kerumunan.
Namun, di sebuah tikungan sempit, seorang anak kecil berlari melintas secara mendadak. Li Hua tersentak, mencoba menghindar agar tidak menabrak anak itu, namun keseimbangannya goyah. Kakinya tersangkut akar pohon, dan tubuhnya limbung ke depan.
Srett!
Li Hua memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya tanah. Namun, yang ia rasakan justru sepasang lengan yang kuat dan kokoh menangkap pinggangnya. Aroma kayu cendana dan embun pagi yang menenangkan menyeruak ke indra penciumannya.
Kelopak bunga mawar dari keranjangnya terbang ke udara, turun perlahan seperti hujan merah di antara mereka berdua.
Li Hua perlahan membuka matanya dan mendongak. Ia terpaku melihat seorang pemuda dengan wajah setajam pahatan dewa dan mata hitam yang menatapnya dengan kedalaman yang tak terlukiskan.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Jian Wuyou. Suaranya rendah, bergetar dengan emosi yang ia tahan mati-matian.
Li Hua tersipu, wajahnya memerah lebih terang dari kelopak mawar di sekeliling mereka. Ia segera berdiri tegak dan merapikan pakaiannya dengan gugup. "A-ah, iya! Maafkan saya, Tuan! Saya sangat ceroboh hingga menabrak Anda. Saya benar-benar minta maaf!"
Jian Wuyou tersenyum tipis—sebuah senyum yang membuat Li Hua terpana sejenak. "Tidak perlu minta maaf. Kau sedang bekerja keras, bukan?"
Jian Wuyou membungkuk, memunguti keranjang bunga yang jatuh dan beberapa kelopak yang berserakan di tanah. Gerakannya begitu santun, jauh dari kesan angkuh pria-pria kaya yang biasa Li Hua temui.
"Terima kasih, Tuan..." Li Hua menerima keranjangnya kembali, jemarinya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan Jian Wuyou. Ada sensasi hangat yang aneh, seolah-olah ia sudah mengenal pria ini sejak lama. "Saya belum pernah melihat Anda di desa ini sebelumnya. Apakah Anda baru pindah ke kediaman besar di ujung jalan itu?"
Jian Wuyou mengangguk pelan. "Namaku Wuyou. Aku baru menetap di sini beberapa bulan yang lalu bersama saudaraku."
"Wuyou... Nama yang indah," gumam Li Hua pelan. "Nama saya Li Hua. Sekali lagi, terima kasih telah menolong saya, Tuan Wuyou."
"Hanya Wuyou saja sudah cukup." sahut Jian Wuyou dengan tatapan lembut.
Li Hua mengangguk dengan senyum malu-malu. "Kalau begitu, sebagai tanda terima kasih... maukah anda mampir ke kedai kecil saya nanti? Aku akan membuatkan kue beras terbaik untuk anda tuan."
Jian Wuyou merasakan hatinya yang dulu beku kini mencair sepenuhnya. "Tentu. Aku akan datang."
Saat Li Hua berjalan pergi dengan langkah riang, Jian Wuyou tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga hilang di telan keramaian.
Jiwu mendekat, menyandarkan lengannya di pundak saudaranya. "Pertemuan yang cukup dramatis, Kak. Sepertinya rencana untuk 'mengawasi dari jauh' sudah gagal total di hari pertama."
Jian Wuyou tidak marah. Ia menarik napas dalam, merasakan sisa aroma Li Hua yang tertinggal di jubahnya. "Ini adalah awal yang baru, Jiwu. Tapi jangan lengah. Kekuatanku baru di Ranah Penyatuan Roh. Jika aku ingin melindunginya dari apa yang akan datang, aku harus menjadi jauh lebih kuat dari ini."
Di balik kemeriahan festival, Jian Wuyou tahu bahwa ketenangan ini adalah sesuatu yang harus ia perjuangkan dengan darah dan keringat. Namun untuk malam ini, ia hanya ingin menjadi Wuyou, pemuda yang sedang jatuh cinta pada gadis penjual bunga.