Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PENGHIANATAN DARAH
BAB 20: PENGHIANATAN DARAH
Langkah Arga terasa berat dan kaku, seperti robot yang dikendalikan oleh benang tak kasat mata. Kunci Tulang yang meresap di dadanya terus berdenyut, memompa instruksi gelap langsung ke otaknya.
Antarkan nyawa itu. Selesaikan kontraknya.
"Tidak... tidak akan!" Arga menggeram, mencoba menahan kakinya yang terus melangkah menuju kamar mandi tempat ibunya bersembunyi.
Setiap kali Arga mencoba melawan, Kunci Tulang itu memutar di dalam dadanya, menimbulkan rasa sakit yang membuat pandangannya memerah. Di depannya, kurir nomor 28 masih berdiri memperhatikan dengan tatapan kosong.
"Kau tidak bisa melawan kodrat, Arga," ucap kurir 28. "Jabatan Kepala Gudang bukan pilihan, itu adalah warisan darah. Ayahmu memberikan kunci itu agar kau hidup, meski harganya adalah jiwamu."
Arga sampai di depan pintu kamar mandi. Tangannya terangkat, siap mendobrak pintu itu. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh kayu pintu, Arga melihat pantulan dirinya di cermin retak yang tergantung di lorong.
Melalui simbol Infinity (∞) di telapak tangannya, ia melihat sesuatu yang tidak dilihat kurir lain. Kunci Tulang di dadanya memiliki lubang kunci kecil yang hanya bisa dilihat melalui pantulan koin emas.
"Jika ini kunci... maka harus ada penawarnya," bisik Arga.
Arga tidak mendobrak pintu. Ia justru membalikkan tangannya dan menusukkan jari-jarinya yang kini berkuku tajam ke arah simbol di dadanya sendiri. Ia mencoba mencungkil Kunci Tulang itu keluar.
"Apa yang kau lakukan?! Kau akan mati!" teriak kurir 28 yang mulai panik.
"Lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai iblis pengantar nyawa!" Arga berteriak histeris.
Darah hitam muncrat dari dadanya. Saat ujung Kunci Tulang itu berhasil ia sentuh, sebuah ledakan energi negatif menghantam seisi rumah. Kamar mandi terbuka perlahan. Ibunya keluar, namun wajahnya tidak lagi takut. Ibunya membawa sebuah botol kecil berisi air mata ayah Arga yang disimpan di dalam kalung selama bertahun-tahun.
"Siramkan ini, Arga!" ibunya melempar botol itu.
Begitu air mata itu menyentuh Kunci Tulang, asap putih mengepul. Kunci itu melunak dan berubah menjadi emas murni. Rasa sakit di dada Arga menghilang, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.
Simbol ∞ di tangannya bersinar terang, namun kali ini cahayanya bersih. Ia tidak lagi menjadi Kepala Gudang, melainkan sesuatu yang disebut dalam legenda kurir sebagai "Sang Pemutus Mata Rantai".
Arga menoleh ke arah kurir 28. Dengan sekali lambaian tangan, kurir itu hancur menjadi debu, diikuti oleh lenyapnya seluruh jaring laser di sekitar rumah.
Namun, di langit malam Jakarta yang seharusnya gelap, muncul sebuah bayangan raksasa. Gudang Sektor Pusat kini menampakkan wujud aslinya di atas awan, terlihat seperti mesin raksasa yang terbuat dari peti mati dan rongsokan nyawa.
Suara dentuman lonceng besar terdengar dari langit.
"Arga," suara ayahnya kembali terdengar, kali ini lebih jernih. "Kau telah mematahkan kuncinya, tapi kau telah memicu Protokol Pembersihan. Mereka akan menghapus seluruh kota ini untuk menghilangkan jejakmu."
Arga melihat ke arah jam. Di layar ponselnya yang merah, hitungan mundur 10 menit tadi berubah menjadi: 00:05:00 menuju Pemusnahan.
Arga menatap ibunya, lalu menatap langit. "Ibu, tetap di sini. Aku akan mengakhiri ini langsung di jantungnya."
Dengan kemampuan barunya, Arga tidak lagi memerlukan motor. Ia menghentakkan kakinya, dan bayangan di bawahnya meluncur ke atas, membentuk tangga menuju Gudang di langit.
Apakah Arga sanggup menghancurkan Gudang Sektor Pusat sebelum kota ini diratakan dengan tanah? Dan siapa sebenarnya "Pemilik" tertinggi yang menunggu di puncak Gudang tersebut?