Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kata-kata Jihan menggantung di udara yang panas dan berdebu, terasa dingin dan final. Nadanya tidak memberi ruang untuk mengelak; ia menuntut jawaban, sekarang juga. Keheningan yang menyusul terasa begitu pekat, seolah menjadi kaca tipis yang siap retak kapan saja. Satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian itu adalah deru napas mereka berdua… napas Jihan yang panjang, tenang, dan terkendali, beradu dengan napas Gading yang pendek, tersengal, dan memburu karena takut.
Bagi Jihan, pertanyaan itu bukanlah gertakan kosong. Itu adalah jangkar yang ia lemparkan ke lautan keputusasaan. Sejak Gading menyebut ‘Seleksi Perguruan Pedang Awan’, nama itu langsung tertancap di benaknya, menyalakan sebuah harapan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menatap Gading yang bersimpuh di hadapannya, melihat peluh dingin membasahi pelipis pemuda itu, dan pikirannya melayang pada percakapan dengan Kepala Desa pagi tadi.
‘Penyakit spiritual seperti itu berada di luar jangkauan kita. Hanya para pendekar abadi dan perguruan besar yang tahu bagaimana cara menyembuhkannya.’
Harapan itu terasa nyata karena ia sudah pernah menyaksikan keajaiban serupa. Ia teringat jelas bagaimana Pil Penguat Roh dari Kakek Danu tidak hanya telah menyelamatkannya dari ambang kematian, tetapi juga membuat fisiknya berkali-kali lipat lebih kuat. Logika sederhana itu memberinya kekuatan: jika ada pil ajaib untuk memberi kekuatan, maka di luar sana pasti ada pula pil dewa untuk menyembuhkan kehidupan.
Sebuah sumpah terpatri di dalam hatinya yang kini membara: ia akan mendapatkan obat penyembuh itu, apa pun caranya, apa pun risikonya. Dan jalan untuk meraih semua itu, dimulai dari informasi yang terkunci di dalam mulut pemuda sombong yang gemetar di hadapannya ini.
Pikiran Jihan kembali fokus sepenuhnya pada masa kini. Dunianya menyempit, hanya ada dirinya dan Gading. Ia berjongkok perlahan, sebuah gerakan yang disengaja untuk menyamakan tinggi wajah mereka. Darah yang mulai mengering di pelipisnya terasa kaku, menciptakan bayangan mengerikan saat cahaya matahari siang menimpanya, membuat wajahnya terlihat seperti topeng tanpa emosi.
Ancaman dari kekuatan Jihan yang baru saja ia saksikan memang membuat lidah Gading kelu. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia takut Jihan bisa mendengarnya. Setiap sel di tubuhnya berteriak untuk memberitahu semua yang ia tahu. Akan tetapi, di sisi lain, gengsi dan harga dirinya yang setinggi langit… satu-satunya hal yang tersisa darinya, menahannya untuk tidak terlihat lemah dan langsung patuh.
Setelah hening yang terasa seperti selamanya, Gading menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongannya terasa sekering tanah yang ia duduki. Ia akhirnya memaksakan sebuah jawaban, sebuah kebohongan terakhir untuk menyelamatkan sisa harga dirinya.
“Tentang itu…”
“Aku tidak tahu.”
Jawaban bohong itu menggantung di udara, sebuah perlawanan yang menyedihkan.
Jihan tidak langsung merespons. Ia hanya menatap Gading, sorot matanya yang dingin seolah mampu menembus kebohongan itu dan melihat langsung ke dalam jiwa Gading yang pengecut. Perlahan, tepat di hadapan wajah Gading yang pucat, Jihan mengangkat tangan kirinya.
KRAK!
Bunyi gemeretak tulang yang tajam dan kering terdengar brutal di tengah keheningan. Jihan mengepalkan tangannya dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah hendak meremukkan batu. Ancaman dalam gerakan tanpa suara itu terasa jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Gading tersentak hebat, tubuhnya menegang seolah baru saja disambar petir.
“Gading…”
Panggilan sederhana itu terdengar lebih mengancam daripada bentakan. Dingin, penuh tekanan, seolah ada amarah yang sedang ditahan dengan seutas benang tipis agar tidak meledak dari dalam dirinya.
Gabungan dari tatapan dingin, bunyi kepalan tangan, dan panggilan yang menekan itu akhirnya menghancurkan sisa-sisa keberanian Gading. Tanpa sadar, ia merasakan hawa hangat yang memalukan menjalar dan mengalir di antara kedua kakinya.
“Tunggu... baiklah!”
Pekik Gading, suaranya kini pecah dan bergetar hebat. Ia menunduk dalam-dalam, tak sanggup lagi menyembunyikan rasa malunya.
“Lusa pagi… akan ada seorang Pendekar Abadi dari Perguruan Pedang Awan di alun-alun desa. Mereka… mereka mengadakan seleksi murid baru. Siapa pun boleh ikut! Katanya mereka mencari bakat-bakat terpendam di seluruh Kerajaan!”
Jihan mendengarkan setiap kata itu dalam diam. Informasi dari Gading adalah kepingan puzzle terakhir yang ia butuhkan. Harapan yang tadinya hanya sebuah angan-angan kini memiliki jadwal dan lokasi. Sebuah jalan yang nyata akhirnya terbuka.
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Jihan bangkit berdiri. Ia tak lagi memedulikan Gading yang masih terduduk lumpuh, maupun kedua temannya yang tergeletak di tanah.
Pandangannya jatuh pada kantung kain berisi keping tembaga yang masih ia genggam erat. Uang ini terasa dingin dan tak berarti; pil obat yang ia cari sudah habis terjual, sebuah kegagalan yang sempat membuatnya putus asa.
Namun, kini ada harapan lain yang jauh lebih besar. Bukan lagi sekadar pil penunda takdir yang ia butuhkan, melainkan sebuah kesempatan untuk penyembuhan sejati.
Perguruan Pedang Awan… itulah satu-satunya harapan yang tersisa.
Dengan tekad baru yang membakar habis sisa keputusasaannya, Jihan berbalik dan berlari, meninggalkan lapangan desa yang berdebu itu, bergegas pulang menuju gubuk kecilnya di ujung desa.
Sementara itu, di lapangan yang ditinggalkan Jihan, Gading menatap punggung pemuda itu yang menjauh hingga menjadi titik kecil. Rasa sakit di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa panas yang membakar harga dirinya. Rahangnya bergemeletuk menahan amarah, dan ia bersumpah dalam hati. Kelak, ia akan membuat Jihan merangkak di tanah yang sama, memohon ampun untuk penghinaan hari ini.
“Sialan… hanya kaum rendahan sepertinya, berani bersikap begitu!”
Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Gading mencoba untuk berdiri. Kakinya gemetar hebat, terasa seperti jeli, membuatnya harus bertumpu pada lututnya sejenak sebelum berhasil tegak. Tak jauh darinya, Rama dan Indra menghampirinya dengan langkah tertatih. Rama memegangi ulu hatinya yang masih nyeri, sementara Indra berjalan pincang sambil sesekali meringis.
Saat mereka mendekat, tatapan keduanya secara alami tertuju pada wajah pemimpin mereka yang merah padam. Namun, pandangan mereka dengan cepat turun, berhenti pada satu titik yang ganjil: sebuah bercak basah yang gelap dan melebar di bagian depan celana Gading.
Indra tertegun, matanya sedikit melebar sebelum ia buru-buru membuang muka. Ia melirik Rama, yang juga menatapnya dengan ekspresi canggung yang sama. Keduanya tidak berani berkomentar, tetapi keheningan di antara mereka berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Gading, yang menyadari arah pandang mereka yang aneh, ikut melihat ke bawah. Wajahnya yang semula merah karena marah kini berubah pucat pasi karena malu.
"Ekhem!"
"Tadi aku jatuh di genangan air saat menghindar!" serunya, padahal tanah di sekitar mereka kering kerontang dan berdebu.
Mendengar alasan yang jelas dibuat-buat itu, Rama tak kuasa menahan suara kekehan yang tertahan di tenggorokannya. Suara itu kecil, tetapi di tengah keheningan yang canggung, terdengar seperti guntur di telinga Gading.
Merasa harga dirinya diinjak-injak untuk kesekian kalinya, Gading yang jengkel langsung menjitak kepala Rama. Namun, rasa nyeri yang menyengat langsung meletup dari buku-buku jarinya sendiri, membuat jitakannya lebih terasa menyedihkan daripada menyakitkan.
"Apa yang kau tertawakan, hah?!"
Gading tak menunggu jawaban. Dengan perasaan terhina yang membakarnya hidup-hidup, ia berjalan tertatih meninggalkan lapangan. Langkahnya berat, bukan hanya karena tubuhnya yang sakit, tetapi juga karena beban rasa malu. Rama dan Indra mengikutinya dari belakang dalam diam. Latihan mereka hari itu tidak hanya berakhir, tetapi juga menghancurkan harga diri.