Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sembilanbelas
Dia mengangguk singkat.
“Aku tahu, kamu istrinya Kim Taehyun ‘kan? Aku sering mendengarnya.” jawab lelaki itu acuh, dan Aku hanya mampu mengerjap.
Dia pikir Aku hanya bercanda?
“Bukan Taehyun, tapi Taehyung. Pake G. Kalau nggak pake G beda lagi orangnya. Taehyun itu adeknya dari—”
“Ya terserah apa pun itu,” dia menyela, tapi lebih ke muak mendengar penjelasanku, “Kamu nggak perlu khawatir, Aku dokter dan kamu pasienku. Kita di sini hanya sebatas profesional, mengerti?” dia melanjutkan.
Aku mengangguk ragu.
“Kalau begitu jangan persulit doktermu mengganti plester lukamu,” katanya tegas.
“I-iya tapi jangan terlalu dekat, kita hanya berdua di ruangan ini. Dan ingat, A-aku pasien bersuami.” Aku mengingatkan lagi, meski malu.
Dia tidak menanggapi lagi, dan mulai mengobati lukaku. Sedangkan Aku memilih menutup mata seperti semalam. Aku tidak mau melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini, takut berpaling dari Kim Taehyung asli.
“Kenapa bisa belingnya sampai ke wajahmu?” tanyanya seraya mengoleskan salep.
Aku memilih tidak menjawab, karena juga tidak tahu kenapa belingnya harus nyasar di pipi mulusku.
Aku semakin merapatkan mataku saat dia kembali meniup salep yang ia oleskan di lukaku. “Kenapa harus di tiup sih?” Aku memprotes.
“Biar cepat kering.” jawabnya cepat, dan meniupnya lagi.
Aku menghela, dan tetap menutup mataku. Hingga suara adzan lah yang membuatku tersentak dan membuka mata.
Aku—tertidur? Bahkan Aku sedang berbaring sekarang dan memeluk guling bahkan memakai selimut! Bukankah tadi posisiku duduk dan sedang mengganti plester luka?
Aku melihat jam di tanganku—spontan mataku melotot. Sudah jam setengah empat sore!
Allahu Akbar...
Tapi—Aku di mana?
Namun Aku yakin, Aku masih di wilayah rumah sakit sebab bau obat-obatan cukup menyengat. Aku turun dari ranjang yang bukan ranjang khas rumah sakit. Dan langsung membuka pintu tapi sedikit dulu—karena Aku mau mengintip dari celah pintu, khawatir ada orang lain di ruangan tempatku tertidur. Siapa tahu Aku di culik atau jadi korban penjualan organ.
Sepi. Tidak ada orang.
Aku menatap ruangan di luar kamar tempatku tidur, seperti pernah melihatnya—Aku berpikir untuk mengingat...
Ruangan mas dokter!
Jadi kamar ini ada di ruangan kerjanya mas dokter Kim Taehyung kw. Semacam kamar rahasia.
Wah Aku baru tahu.
Bisa-bisanya Aku tertidur saat jam kerja, Kim Dinda... Apa yang sudah kamu lakukan?
Ketika membuka pintu ruangan mas dokter Aku kembali menimbang, harus melaksanakan shalat ashar terlebih dahulu atau langsung kembali ke ruanganku? Jika Aku shalat, berarti Aku semakin lama tidak kembali, dan itu bisa membuat seniorku murka. Tapi kalau Aku langsung kembali ke ruanganku, tanggung sekali ‘kan?
Dah lah.
“Shalat dulu deh, sekalian berdoa biar nggak kena marah.” Aku bergumam.
Aku memutuskan untuk ke mushola, karena Aku lebih takut sama Allah dari pada kepala bagian. Jika dia ingin memarahiku, silahkan! Tapi sebaiknya jangan sih. Aku nggak bisa kena marah soalnya, apalagi di bentak.
Setelah shalat Aku berjalan dengan terburu menuju ruang administrasi, jantungku sedang tidak aman. Aku merapalkan doa selama perjalanan. Ku hembuskan napas pelan untuk menenangkan diri sebelum membuka pintu.
Bismillah, ceklek!
Semua orang menatapku, dan Aku menahan napas menunggu reaksi mereka.
“Dinda? Kenapa kemari?” tanya kepala administrasi.
Hah? Apa Aku dipecat?
“Sudah sembuh?” tanyanya lagi.
Aku menghembuskan napas lega, dan mendekat, “I-iya mbak, sudah mendingan.”
“Ya sudah kamu bisa kembali bekerja, tadi jam kerja kamu di gantikan sama yang lain. Jadi kamu menggantikan jam kerjanya, berarti kamu harus pulang lebih malam sebagai gantinya.”
Aku mengangguk cepat, “Terima kasih, mbak.”
Huh aman! Lebih baik seperti itu.
\*
Ponselku tidak berhenti bergetar, Aku yakin itu pasti ayah dan ibuku yang menelpon. Aku bukan tidak sempat menghubungi mereka, namun lebih ke tidak enak untuk membuka ponsel disaat jam kerja meskipun hanya sebentar. Sebenarnya saat malam pekerjaan tidak sebanyak seperti siang. Terlebih saat ini Aku sedang bertugas di ruang informasi.
Berkali-kali Aku melihat jam di pergelangan tanganku, satu jam setengah lagi jam kerjaku habis. Rumah sakit pun masih ramai, bahkan baru saja ada korban kecelakaan beruntun dan membuat petugas rumah sakit bekerja ekstra.
Ting!
Aku melihat sekitarku sejenak, karena ingin melihat pesan yang kesekian kali masuk. Merasa orang-orang sedang sibuk, Aku melihat sekilas ponselku yang layarnya masih menyala, pesan dari ibu.
|Din, kenapa belum pulang?|
|Kamu nggak berniat kabur dari rumah ‘kan?|
Netraku melebar membaca pesan terakhir. Aku memperhatikan lagi petugas-petugas rumah sakit yang berlalu lalang. Sepertinya memungkinkan, Aku cepat membalas pesan ibu.
“Dinda lembur, Bu.” balasku tanpa melihat layar ponsel.
Ting! Balasnya lagi.
|Oh ya udah, hati-hati nanti di jalan. Pulang nanti jangan mampir ke mana-mana lagi.|
Aku hanya membalas dengan emot jempol.
Dari kejauhan Aku melihat Kak Jonie berjalan dengan cepat ke arahku, Aku pun menjadi khawatir karenanya.
“Dinda, kata dokter Aydan kamu jangan pulang duluan, tunggu sampai dia selesai. Tapi memang sedikit agak lama, karena dia harus ikut membantu mengurus korban-korban kecelakaan.” ucapnya menggebu, napasnya sedikit terengah.
Aku tertegun, bahkan manusia itu masih di rumah sakit saja Aku tidak tahu. Aku kira dia sudah pulang dari tadi.
“Sudah ya, Kakak cuma mau bilang itu aja.” lalu dia pergi lagi dengan sedikit berlari.
Aku mengangguk.
Jadi seperti ini keadaan rumah sakit jika sedang ada kecelakaan?
Aku memilih menyibukkan diri dengan merapikan semua yang ada dalam ruangan, sesekali melayani keluarga pasien yang sedang bertanya. Tidak terasa jam kerjaku selesai, Aku yang sudah bersiap sedari tadi segera menyambar tasku. Untuk menunggu Kim Taehyung kw, Aku tidak mau, ngapain Aku nungguin dia? Nggak penting! Lagipula Aku bawa kendaraan sendiri.
“Din, kamu mau pulang?” tanya salah satu staf.
“Iya, mbak.”
“Kamu naik apa? Motor atau diantar?”
“Motor, mbak.”
“Sendiri?”
Aku mengangguk.
Dia terlihat seperti ada yang ingin disampaikan.
“Ya udah hati-hati di jalan ya. Ini sudah malam soalnya.”
Aku mengangguk lagi, dan tersenyum tipis. “Terima kasih ya, mbak. Dinda pulang dulu.”
“Iya.” jawabnya.
Sesampainya di parkiran Aku mencari motorku, biasanya Aku tidak pernah lupa di mana memarkirkan motor, tapi kenapa tidak ada di tempat terakhir kali Aku meninggalkannya? Apa ada yang memindahkannya? Mau bertanya tapi tidak tahu mau bertanya dengan siapa, karena saat malam tempat ini sangat sepi juga gelap.
“Dinda.”
Aku terkejut.
“Dinda, sayangku.” ulangnya, Aku mengenal suara itu. Tapi kali ini terdengar begitu mengerikan. Aku tidak berani berbalik.
Glek.
Bruk! Dia memelukku dari belakang.
“Aaa... ”
Sekuat tenaga Aku memberontak melepaskan pelukannya. Tapi semakin Aku berusaha melepaskan, dia semakin erat merengkuhku.
“Bagas jangan, lepas Gas. Mbak mohon.”
“Menikah denganku, Dinda.” bisiknya, bau aneh menusuk hidungku ketika dia berbicara. Apa mungkin itu bau alkohol?
Tapi sejak kapan anak kecil ini meminum minuman haram itu?
“Hmpp—” dia semakin mengeratkan pelukannya membuat dadaku semakin tertekan. “Gas, kamu mabuk. Sadar Gas, kamu bisa melukai mbak.”
“Aku nggak akan melepaskan sampai kamu bilang mau menikah denganku, Dinda Dahayu.” jawabnya dengan berbisik.
Klak! Aku menginjak kuat kakinya dengan ujung heels-ku yang tidak seberapa.
Dia kesakitan dan lengah.
Aku langsung berlari cepat untuk melarikan diri. Dengan berjalan sedikit pincang, Bagas mengejarku.
Ya Allah tolong Aku...
Bagas terus mengejarku, wajahnya terlihat begitu mengerikan. Setan apa yang sudah merasukinya?
Kenapa tidak orang satu pun? Dimensi mana Aku berada saat ini?
Aku sudah tidak kuat lagi untuk berlari, apalagi saat ini Aku memakai sepatu pantofel.
Bugh!
Aku berhenti, suara tinju itu semakin banyak. Di sana—mas dokter duduk di atas perut Bagas yang tergeletak dan melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah anak kecil itu.
Netraku seketika membulat.
Aku memejamkan mata sekilas dan mendekati keduanya untuk meleraikan, “Kakanda berhenti!” Aku menarik baju belakang mas dokter.
Di tengah-tengah melerai Aku merutuki diri sendiri, bisa-bisanya yang keluar dari mulutku adalah Kakanda.
“Mas dokter hentikan, dia bisa mati.”
Aku tahu Bagas tidak sehebat itu untuk membalas.
“Nanti Aku yang akan menguburkannya.” jawabnya enteng.
Ya Allah...
Aku peluk lelaki itu dari belakang, tubuhnya seketika menegang dan dia pun baru berhenti. Kemudian Aku menarik lengannya sampai berdiri agar menjauh dari Bagas.
“Dinda... Sayangku... ” ucap Bagas lirih.
Bugh!
Mas dokter menginjak perutnya.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan. “Bagas?”
Dan Anak kecil itu tidak bergerak lagi.
‘Apa dia mati?’
“Kenapa sulit sekali untuk menungguku.” ucap Kim Taehyung kw. Napasnya masih terengah.
Glek!
“A-aku bawa motor—”
“Motormu di bengkel.” potong lelaki itu membuatku terperangah.
Aku mencari kunci motorku dalam tas, ternyata tidak ada. Kenapa Aku baru menyadarinya?
“Kenapa?” tanyaku sinis.
“Oli-nya kering, lampu sein mati, kampas rem tipis, karburator kotor, aki soak—”
Aku menutup mulut lelaki itu dengan tangan, Aku yakin dia berbohong. Bagaimana mungkin motorku begitu bermasalah.
“Aku yakin motormu bisa berjalan karena mengandalkan doa orangtuamu.” sambungnya saat Aku melepas tanganku.
Dasar!
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍