Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.
Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Di sisi lain gedung, Dion melangkah keluar menuju lantai empat puluh lima.
Koridor eksklusif itu sunyi, hanya gema langkah kakinya yang memantul lembut di lantai marmer. Cahaya lampu temaram memantul di dinding kaca, memberi kesan dingin dan berjarak.
“Halo, tuan Draga.” sapa Dion ketika melihat sosok tinggi berambut perak berdiri tegak di dekat area pengamanan.
Pria tua itu menoleh. Wajahnya berkerut usia, namun posturnya tetap kokoh, bahunya lebar, punggungnya lurus, sebuah tubuh yang jelas tidak dibentuk oleh usia, melainkan oleh disiplin panjang.
Tatapannya tenang, tajam, seperti pisau yang sudah lama disarungkan.
“Tumben sekali Anda menyapa saya, Tuan Dion,” jawab Draga dengan suara berat namun terkendali. “Ada apa?”
Dion menatapnya sejenak. 'Orang tua ini… aku bahkan tidak tahu berapa usianya,' gumam Dion dalam hati. 'Tapi satu hal pasti, dia sangat kuat. Bahkan aku tidak bisa menebak sejauh apa batasnya.'
“Tuan Draga,” ujar Dion akhirnya, nada suaranya serius, “tolong bantu saya, antarkan saya ke rumah sakit ini.”
Ia mengangkat ponselnya, menampilkan lokasi rumah sakit di layar. Draga melirik sekilas, lalu mengangguk tanpa banyak tanya.
“Tentu,” katanya singkat. “Ayo.”
Tanpa basa-basi, Draga berbalik dan mulai melangkah. Dion mengikuti di belakang, namun pikirannya belum sepenuhnya tenang. Ada rasa penasaran yang mengganjal, seperti duri kecil di benaknya.
'Sistem, ukur kekuatan Tuan Draga.' perintah Dion dalam hati.
Ia menunggu, detik-detik terasa melambat.
Ding.
[Tidak bisa melihat Atribut, karena tidak memiliki hubungan apa pun.]
Alis Dion berkerut. 'Sial… apa-apaan ini?' gerutunya dalam hati. 'Bagaimana bisa tidak ada hubungan? Kami cukup sering bertemu, walaupun hanya sebatas saling sapa. Apa hubungan sebatas pekerjaan tidak dihitung?'
Untuk pertama kalinya, Dion merasakan celah dalam sistemnya, sebuah batas yang tidak bisa ia tembus hanya dengan kekuatan atau uang. Rasa kesal menyelinap, tipis namun nyata.
Namun langkah Draga sudah menjauh beberapa meter ke depan.
Dion mendengus pelan, mematikan pikirannya yang berputar, lalu mempercepat langkah. Mereka menyusuri lorong menuju parkiran bawah tanah, udara berubah lebih dingin, bau mesin dan logam menyambut.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke dalam mobil. Mesin menyala halus.
Tanpa berkata apa-apa lagi, kendaraan itu meluncur keluar dari Grand Star Tower, melaju menembus malam kota menuju rumah sakit yang tertera di layar ponsel Dion, menuju sesuatu yang jelas tidak sederhana, dan mungkin jauh lebih berbahaya dari yang terlihat.
.....
Di sisi lain.
Bangunan itu berdiri sunyi, rangka beton tiga lantai yang belum selesai, menjulang seperti kerangka raksasa yang ditinggalkan. Dinding-dindingnya masih kasar, lantainya berdebu, dan angin malam bebas keluar-masuk lewat celah jendela tanpa kaca.
Byuuur!
Air dingin dari ember menghantam wajah Mordain.
“Uhh…” desahnya tertahan, tubuhnya refleks menegang.
Tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya ke kursi besi membuatnya tak bisa bergerak. Air menetes dari rambut dan ujung kacamatanya yang miring, membasahi kemeja yang sudah kusut.
Kelopak matanya berkedip. Saat penglihatannya kembali fokus, jantungnya langsung terasa jatuh ke perut.
Di hadapannya berdiri empat orang yang sangat ia kenal. Andri, dengan wajah penuh amarah. Bima dan Kevin, berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin, dan satu orang lagi.
Pria itulah yang membuat napas Mordain tercekat, orang yang menyeretnya keluar dari rumah sakit tanpa memberi kesempatan melawan.
“Apa yang kalian mau… sampai membawaku ke tempat seperti ini?” suara Mordain terdengar ragu, tenggorokannya kering.
Belum sempat ada jawaban, Andri sudah melangkah maju.
Plaaak!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Mordain. Kepalanya terpelanting ke samping, rasa panas menyebar di wajahnya.
“Apa kau pura-pura bodoh, apa kau sengaja memancing amarah di sini?!” bentak Andri murka. Urat-urat di dahinya menonjol, napasnya berat.
Mordain mengerang pelan, tapi ia memaksa dirinya menegakkan kepala. Ketakutan ada, tapi gengsinya belum sepenuhnya runtuh.
“Bukan memancing amarah,” katanya lirih namun jelas. “Kau saja yang temperamental.”
Ucapan itu seperti menyiram bensin ke api.
Andri menggertakkan gigi, kepalan tangannya terangkat, siap menghajar Mordain tanpa sisa. Namun sebelum pukulan kedua melayang.
“Berhenti.”
Satu suara terdengar, rendah dan tenang, namun mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar terasa lebih berat.
“Jangan sampai dia pingsan lagi.”
Sekejap, suasana berubah. Andri membeku di tempat, Bima dan Kevin ikut menegang.
Mordain menelan ludah, pandangannya perlahan beralih ke sosok yang berdiri sedikit terpisah dari yang lain.
Pria itu melangkah maju setengah langkah.
Tinggi, sekitar seratus sembilan puluh sentimeter. Tubuhnya proporsional, berotot namun tidak berlebihan. Rambut cokelatnya ditata rapi dengan gaya shadow perm, jatuh lembut di dahi. Wajahnya tampan, namun kantung hitam di bawah matanya memberi kesan lelah dan berbahaya, seperti seseorang yang jarang tidur bukan karena kerja, melainkan karena pikiran gelap.
Dialah Sebastian Pratama, penguasa sebenarnya SMA Cahaya Senja.
“Mordain,” ucap Sebastian pelan. “Kenapa kau mengkhianatiku?”
Nada suaranya datar, tapi setiap kata terasa seperti beban yang menekan dada Mordain. Aura tak kasat mata menyelimuti ruangan setengah jadi itu, membuat napas terasa berat.
Mordain menarik napas panjang. Dadanya naik turun.
'Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya,' pikirnya getir. 'Aku tidak bisa memberitahunya, bahwa ada seseorang yang lebih kuat darinya, dan jauh lebih kaya daripada kalian semua.'
“Aku tidak bisa mengikuti orang sepertimu, Sebastian,” ucap Mordain akhirnya. “Melakukan hal-hal, tercela seperti itu.”
Nama itu menggema di ruangan kosong.
Sebastian menyipitkan mata.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Andri melangkah setengah maju, wajahnya penuh amarah yang tertahan.
“Kau bohong!” teriak Andri. “Katakan yang sebenarnya! Kau mengikuti orang bernama Dion, bukan?!”
Kevin dan Bima mengangguk pelan, tatapan mereka tajam dan penuh kecurigaan.
Sebastian terdiam sesaat. Lalu, sudut bibirnya terangkat.
“Dion…” ulangnya pelan, seperti sedang mengecap rasa yang asing.
“Menarik, jadi karena orang itu… kau berani mengkhianatiku?”
“Glek..."
Mordain menelan ludah. Tekanan dari Sebastian membuat telapak tangannya dingin, punggungnya basah oleh keringat.
Ia tahu siapa Sebastian sebenarnya, kejam, dingin, dan terobsesi pada kekuatan. Orang seperti itu tidak membenci pengkhianatan karena moral, tapi karena harga diri.
Namun entah dari mana, keberanian itu muncul.
“Benar,” kata Mordain akhirnya, suaranya bergetar namun tegas. “Aku mengkhianatimu. Karena aku ingin berubah… dan mengikuti pemimpin yang jauh lebih kuat darimu.”
Keheningan sesaat.
Lalu.
“Hahahaha!”
Tawa Sebastian menggema di bangunan kosong itu, memantul di dinding beton, terdengar tidak wajar.
“Berubah, menjadi lebih baik?” katanya sambil tertawa. “Apakah, kau lupa perbuatanmu sendiri selama ini?”
“Aku tahu,” jawab Mordain lirih, menundukkan kepala. “Aku tahu aku telah melakukan hal-hal jahat yang tak bisa dimaafkan, dan justru karena itu… aku terus merasa bersalah.”
Bayangan masa lalu melintas di kepalanya, perbuatan-perbuatan yang bisa menyeretnya ke penjara remaja, bahkan lebih buruk.
Sebastian terdiam, menatap Mordain lama. Tatapannya bukan marah, melainkan penasaran.
“Ha…” desahnya. “Ini benar-benar menarik.”
Ia melangkah lebih dekat, lalu berkata dengan nada dingin yang menusuk.
“Telepon orang bernama Dion itu. Katakan padanya, jika dia tidak datang kesini… aku akan mematahkan tulang-tulangmu satu per satu.”
Jantung Mordain serasa berhenti berdetak.
Tubuhnya gemetar hebat. Tanpa berani membantah, ia mengangguk cepat, lalu dengan tangan yang terikat dan jari gemetar, ia berusaha meraih ponsel di saku celananya, melakukan perintah itu, karena ketakutan sudah sepenuhnya menguasai dirinya.