Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayaran
"Tuan, aku sudah siap untuk membayar baju dan juga barang barangku."Ujar Bintang, terasa menggema di ruangan yang nyaris hening.
Mendengar itu, Damian yang semula menutup mata langsung membukanya. Kepalanya mendongak, kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Ha?"Tanyanya terdengar bodoh, pria itu diam matanya seolah tak menyangka ketika melihat apa yang saat ini terpampang di depan matanya.
Pikiran yang semula kalut hilang entah kemana, menjadi gadis itu sebagai obat atas lingerie terkutuk yang tengah melekat di tubuhnya.
"Aku sudah siap."Bintang mengulangi kata katanya. Dia masih berdiri kaku di ambang pintu, matanya jatuh pada kedua kaki yang nampak jauh lebih menarik dari pada iblis berwajah tampan yang sedang mengamatinya.
"Apa aku di bawah sana?"Tanyannya Dingin seolah mengatakan kepada gadis itu agar dia mengangkat kepalanya.
Pelan pelan namun pasti, gadis itu mendongak matanya bertatapan langsung pada bola mata hitam legam yang nampak teduh namun memabukkan itu.
"Kemari."Titahnya.
Menurut Bintang pun mendekat. Awalnya terasa ragu, tapi lama lama keberanian itu datang dan menghampirinya.
"Kenapa kau mengenakkannya jika kau malu?"Tanya Damian menyelidiki.
"Apakah kau sengaja menggodaku?"Imbuhnya masih terdengar dingin.
Bintang terdiam, tubuhnya kaku sementara jantungnya terasa jatuh hingga ke kaki.
"Bu- bukan tuan, tapi anda meminta bayaran untuk apa yang sudah anda belikan tadi. Jadi, saya hanya menurutinya."Balasnya takut takut, matanya masih jatuh pada kedua tangan yang saling bertaut.
"Aku hanya bercanda, aku membelikanmu baju karna memang itu adalah tugasku."Balasnya dingin, dia tak tega saat melihat wajah lugu itu menegang.
"Lalu?" Semburat merah pertanda malu perlahan muncul di pipi Bintang. Rasanya, sangat malu hingga dia ingin langit segera menelannya saat ini juga.
"Lalu?"Ulang Damian, tidak mengerti kemana arah pertanyaan Bintang saat itu.
"Apa saya harus mengganti baju saya dan berpura pura seolah tak pernah terjadi apapun tentang gaun ini?"Tanya Bintang, tangannya memegang erat ujung gaun tidurnya sementara otaknya terus meminta gadis itu untuk segera menutupi bagian dada dan juga pangkal pahanya yang terbuka.
"Bersikap seolah olah tak terjadi apa pun? Lancang sekali lagi, kamu sudah membuat gairah ku bangkit dan sekarang kamu harus bertanggung jawab!"Ujar Damian, dia menarik Bintang dengan sedikit kuat hingga membuat gadis itu jatuh ke dalam pangkuannya.
"Kamu ingin memegangnya?"Tanya Damian dengan hati hati.
"A- apa tuan?"Bintang membalas pertanyaan Damian dengan pertanyaan lainnya.
"Ini."Ujar pria itu. Dia menarik perlahan tangan Bintang dan mengarahkannya kepada pangkal pahanya sendiri, menuju pada sebuah benda keramat yang sudah mengeras dengan sempurna hanya karna membayangkan bagaimana indahnya lekuk tubuh mempelai penggantinya itu.
Bintang tertegun, untuk pertama kali di dalam hidupnya dia memegang benda itu. Terasa agak keras, tapi tidak sepenuhnya mengeras seperti besi dan rasanya sangat aneh.
"Naik turun."Damian memberikan pengarahan, Bintang mengangguk kemudian tangannya yang tak begitu halus itu mulai terarah naik turun dengan arahan Damian.
"Ahh."Pria itu memejamkan matanya, menikmati gerakan kaku yang di buat oleh Bintang.
"Benar begini, tuan?"Tanya Bintang memastikan. Melihat Damian sedikit mengernyit, dia pikir pria itu kesakitan.
"Benar, lakukan lebih lama."Balas pria itu dengan mata yang terpejam.
"Baik, tuan."Balas Bintang, dia terus memainkan tangannya di sana. Semakin lama semakin intens bahkan sesekali dia mengenai bagian lain yang nampaknya tak kalah sensitif dari pedang tumpul itu yakni dua benda bulat yang masih menjadi satu kesatuan.
"Lama lama kau juga pandai menggodaku ya? Jadi bagaimana, untuk membayar semua barang itu seharusnya kamu melayani ku hingga pagi, benar kan?"Tanya Damian dengan nada memastikan, matanya yang semula tertutup pun langsung terbuka. Mengambil tangan Bintang yang nampak semakin nakal di bawah sana.
"Sesuai yang anda inginkan, tuan. Saya akan menyanggupinya."Balas Bintang.
Damian terkekeh, siapa sangka dia akan mendapatkan mempelai pengganti yang sangat penurut seperti ini? Rasanya sangat seru dan juga menggairahkan.
"Ck, jika begini terus kita hanya akan membutuhkan satu bulan untuk membuat bayi lucu itu."Balas Damian dengan nada pelan.
Bintang tak menjawab, dia masih menatap ke arah bawah tertuju pada celana Damian yang sudah terbuka hingga ke lututnya.
"Kau sudah terlihat sangat menginginkannya, bagaimana jika kita mulai?"Tanya Damian. Tidak, ini bukan pertanyaan karna pria itu sama sekali tidak menunggu Bintang menjawabnya terlebih dahulu.
Srekk!
Kain tipis yang menutupi bagian dada Bintang langsung sobek, membuat suara yang mau tak mau membuat Bintang langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
"Tuan, pakaian ini mahal."Balas Bintang, sebelum dia mengenakkannya dia sempat melihat harga baju yang mencapai seribu dolars ini.
"Apa peduliku? Baju seperti ini memang seharusnya hanya di pakai satu kali karna aku akan lebih senang menyobeknya."Ujar Damian, dia menarik lagi bagian lainnya hingga tubuh mulus Bintang terpampang sempurna tanpa ada sehelai benang pun yang menutupinya.
"Jika di lihat lihat ukuranmu pas sekepal tanganku, aku menyukai sesuatu yang tidak berlebih."Ujar Damian.
Bintang malu, untuk kali pertama Damian memuji tubuhnya dan hal itu membuat kupu kupu di bawah sana segera bergejolak ingin segera di keluarkan dari perutnya.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Bintang. Menjeritlah tanpa ampun karna malam ini aku tidak akan menahan diri lagi."Ujar Damian. Tadi malam, dia masih menahan dirinya karna Bintang masih pemula.
Tapi malam ini, suasananya berbeda. Meski sama sama Bintang yang menggodanya terlebih dahulu, tapi dia tidak akan menahan dirinya seperti tadi malam. Dia akan mengerahkan segala kekuatannya sampai Bintang akan sulit berjalan besok pagi.
"Terserah anda, tuan."Balas Bintang. Lagi dan lagi dia menyerahkan tubuhnya kepada pria yang akan memegang kendali atas dirinya malam ini.
Mendengar itu, Damian tak lagi menunda. Dia membalik tubuh Bintang dan mengukungnya di antara kedua tangan, memberikan kecupan singkat di mata, hidung, pipi dan berakhir di bibirnya yang semerah cheri.
Ini aneh, Damian tidak seharusnya menikmati permainan ranjang dengan Bintang, hanya saja dia menyadari satu hal jika gadis ini bagaikan dopamine baginya. Sangat memabukkan.
"Tuan."Ujar Bintang ketika tangan pria itu mulai bergerilya di atas tubuhnya, gadis itu menggeliat merasa geli dan nikmat di saat yang bersamaan.
"Mende*ahlah, Bintang. Malam ini akan ku maafkan atas segala kesalahan yang mungkin akan kau perbuat selama proses penyatuan ini."Ucap Damian, dia berbisik halus dan manja tepat di telinga Bintang.
Membuat tubuh gadis yang ada di dalam kukungan itu meremang.
Dan begitulah, akhirnya penyatuan kedua tidak lagi sesaki yang sebelumnya. Bintang bisa menikmati setiap gerakan dan juga hentakan Damian. Di iringi dengan racauan, desa*an, bahkan makian dari keduanya yang saling bersahutan.