NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Ancaman datang

Brakk!

Suara dentuman keras memecah keheningan ruangan pribadi seorang dokter. Tumpukan berkas tebal terhempas ke meja hingga berhamburan ke lantai, sebagian meluncur jatuh berserakan di sekitar kaki seorang pria berjas putih. Nafasnya memburu, dadanya naik turun cepat, sementara jemarinya mencengkeram ujung meja dengan kuat menahan amarah yang hampir meledak.

“Ahgggrrr! Perempuan sialan!” suaranya bergema keras, memenuhi seluruh ruangan yang dingin dan kaku.

Ia menendang sisi meja dengan sepatu hitam mengilapnya, membuat gelas kaca di atas meja terjatuh dan pecah berantakan. Cairan transparan yang semula tenang kini mengalir membasahi lantai, bercampur dengan lembaran laporan yang basah dan kusut.

Tubuhnya bergetar karena marah, matanya menatap liar ke arah jendela besar yang memantulkan bayangannya sendiri. Wajah itu dengan rambut berantakan dan keringat yang menetes di pelipis menunjukkan bagaimana kesabarannya telah benar-benar habis.

“Victoria…” suaranya memanggil nama itu pelan, namun setiap huruf terdengar berat dan penuh kebencian.

“Kau... akan menjadi sumber kehancuranku!”

Ia menghantam meja dengan tinjunya, keras, sampai bunyi dentumannya memantul di dinding ruangan. Tangannya gemetar menahan emosi yang tak lagi bisa disembunyikan. Napasnya berat, sesak oleh rasa panik yang mulai menyeruak di sela amarahnya.

Namun di tengah kekacauan itu, dering ponselnya mendadak berbunyi. Nada dering yang biasanya biasa saja kini terdengar menegangkan, seperti isyarat buruk yang datang di saat yang tidak tepat. Ia terdiam sesaat, matanya beralih ke arah saku jasnya.

Tangannya yang masih gemetar merogoh ke dalam saku, mengeluarkan ponsel dengan layar yang bergetar. Di sana tertera satu nama yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat —

“Manager Henry.”

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menekan tombol hijau. “Hallo, Manager…” suaranya berubah datar, berusaha terdengar tenang walau nada gugupnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.

“Tak perlu basa-basi,” suara berat di seberang terdengar tajam dan berwibawa. “Berapa banyak pasien yang kau dapat bulan ini?”

Dokter itu menelan ludah, matanya melirik berkas yang berserakan di lantai. “Sekitar lima orang, Manager… tapi yang berhasil saya bawa ke laboratorium hanya tiga. Dua lainnya… keluarga mereka menolak, karena biaya yang terlalu besar.”

“Dua orang terlepas?” nada suara Henry menurun pelan, diiringi suara ketukan lembut kuku di atas meja, ritme yang membuat pria di seberang panggilan itu semakin tegang. “Lalu… bagaimana dengan tiga pasien lainnya? Apa eksperimennya berhasil?”

Suasana hening sesaat. Hanya suara dengungan listrik di ruangan yang terdengar. Dokter itu mengusap wajahnya dengan kasar, menatap jari-jarinya yang gemetar. “Berhasil, Manager…” ucapnya, tapi suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang memaksa dirinya percaya pada kebohongan yang ia ciptakan.

“Berhasil?” tanya Henry curiga. “Lalu kenapa terdengar seperti kau menyembunyikan sesuatu?”

Napas dokter itu tersendat. Ia menunduk, menggigit bibirnya sendiri, pikirannya kacau antara ingin jujur atau menutupi masalah dengan gadis yang membuatnya kalang kabut itu.

“Berhasil, tuan… jangan khawatir.” ujarnya lagi, kali ini lebih pelan.

Dari seberang, terdengar tawa kecil. Tawa dingin yang entah kenapa terasa lebih mengancam daripada marah. “Jika ada yang gagal, dia akan mati perlahan, dokter” ucap Henry ringan. “Atau… mungkin memutuskan untuk bunuh diri. Tak masalah. Bunuh diri bukanlah kesalahan seorang dokter.”

Tubuh sang dokter menegang. Kedua matanya menatap kosong ke lantai, membayangkan wajah Victoria yang tajam dan menakutkan. Ucapan itu berputar-putar di kepalanya —

_bunuh diri bukan kesalahan seorang dokter_.

Ia mencoba bicara, suaranya gemetar, “B-bukan itu masalahnya, Manager…”

“Lalu apa?” potong Henry dengan nada malas. “Kau takut uang konsultasi mereka diminta kembali? Tenang saja. Tak seorang pun bisa menuntut kita, semua sudah tertulis dalam perjanjian, bukan?”

“Benar, Manager…” ucapnya, hampir berbisik.

Tangannya kini mencengkeram kuat ujung jas putihnya, seperti berusaha menahan rasa takut yang menyusup dari balik dadanya.

“Kalau begitu berhentilah khawatir,” ujar Henry tenang, disertai suara kursinya berdecit lembut. “Nikmati uangmu. Senang berbicara denganmu, dokter.”

Suara klik di ponsel terdengar, tanda panggilan hampir ditutup. Namun sebelum sambungan berakhir, dokter itu bersuara lagi, cepat, dengan nada penuh kegelisahan.

“Seseorang… mengetahui rahasia kita, Manager.”

Keheningan mendadak menggantung di antara mereka. Tak ada tawa lagi, tak ada suara ketukan kuku di meja. Yang tersisa hanya desiran napas pelan dari seberang panggilan berat, dalam, dan berbahaya.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!