Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Monster's Fever
Suasana di dalam mobil terasa sangat kontras dengan kemesraan Axel beberapa menit lalu di parkiran. Sejak mesin dinyalakan, Axel tidak membuka suara. Tangannya mencengkram kemudi dengan sangat kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Lelaki itu memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang membuat Sesilia harus berpegangan pada sabuk pengamannya.
Sesilia berkali-kali melirik ke arah tunangannya. Terlihat wajah lelaki itu kembali ke setelan pabriknya, dingin, keras dan tak tersentuh.
"X," panggilnya pelan, memecah keheningan.
Axel tidak menoleh, tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Are you okey?"
“I'm fine, baby girl.” Jawab lelaki itu dengan senyum dipaksakan.
“A-…” Sesilia membuka mulut, berniat bertanya lebih lanjut, tetapi urung di teruskan. Wajah monster tampannya terlihat sangat menyeramkan. Nyali gadis itu ciut seketika.
Untuk pertama kalinya, dalam berapa bulan kebersamaan mereka, suasana mobil yang dikendarai dua orang itu penuh kesunyian. Biasanya Sesilia akan sibuk bercerita banyak hal. Tentang kesehariannya di kampus atau hal random lainnya. Sedangkan Axel hanya akan diam mendengarkan, lalu menimpali dengan kata sederhana seperti, iya atau tidak. Atau Axel akan memberikan sentuhan lembut pada lengan atau kepala gadis itu, menenangkan. Atau bahkan berciuman mesra di dalam mobil.
Ini adalah pertama kalinya, dua orang itu terlihat seperti orang asing.
…..
Setelah tiba di penthouse, Axel turun lebih dulu. Lelaki itu memutari mobil dan membukakan pintu untuk gadisnya. Wajahnya sudah tidak semenyeramkan tadi.
“Thanks, X” Sesilia bersuara pelan kala memberikan tangannya pada Axel untuk digandeng. Suasana diantara mereka berangsur-angsur membaik, meski belum ada percakapan secara langsung.
….
Tepat pada tengah malam, saat Sesilia sudah terlelap tidur. Ia dikejutkan dengan sentuhan panas pada pipinya.
Awalnya ia mengira itu Axel seperti biasa, namun saat matanya terbuka sepenuhnya, gadis itu menemukan bahwa Axel sedang berjuang melawan rasa sakit. Tubuh atletis tanpa atasan itu basah oleh keringat dingin, namun kulitnya terasa membara bak bara api.
"Peluk aku, mine..." rintih Axel parau. Suaranya bukan lagi suara penguasa Jakarta yang arogan, melainkan suara seorang pria yang sedang disiksa dari dalam. Sesilia memberikan pelukan paling tenang yang ia punya, membiarkan jantungnya yang berdetak kencang bersentuhan dengan dada Axel yang membara.
Dalam pelukan hangat itu, Sesilia sulit bernapas, bahkan sulit untuk menelan ludahnya sendiri. Dikarenakan lelaki itu hanya mengenakan boxer pendek dan tipis tanpa atasan. Otot-ototnya yang keras terasa sangat menggiurkan, ditambah ada tetesan keringat diatas roti sobek itu.
“X….” Panggilnya pelan.
“Panas….shhhh…” Axel bersuara parau.
Sesilia tidak tahan mendengar suara tersiksa itu. Ia berniat melepaskan pelukan mereka dan pergi mengambil air dan kompresan.
Saat hendak menarik diri, ia merasakan tangan panas Axel menahan tangannya. Lelaki itu mencegahnya pergi kamanapun.
“No, sayang… Don't leave me,”
“Just second, X. I'll be right back.” Timpal Sesilia keras kepala.
“You go…I'm dead by now, baby. Please….. please…” Axel memohon keras, hampir menangis. Sesilia terenyuh, ini seperti bukan sosok Axel yang ia kenal.
Gadis itu kemudian kembali ke posisinya semula. Memberi kekasihnya itu pelukan paling menenangkan yang ia punya.
Tubuh Axel benar-benar panas, seperti bara api. Jantungnya pun berdetak sangat kencang.
Mereka berdua tetap dalam posisi intim itu hingga hampir dua jam. Keduanya tertidur pulas.
Pukul 03.00 dini hari, Axel terbangun. Tubuhnya sudah kembali normal. Tidak ada lagi rasa panas membakar yang ia rasakan. Di sampingnya, gadis kecil kesayangannya masih terlelap. Napasnya teratur. Dalam diam, lelaki itu memberikan satu kecupan lembut, tepat diatas bibir gadis itu.
“Thanks, baby girl.” Setelahnya ia kembali berbaring. Kali ini, tubuh mungil kesayangannya itu yang ia tenggelamkan dalam pelukan hangat penuh cinta miliknya. Dua sejoli itu kembali tidur hingga pagi menjelang.
Axel tahu, darah Steel yang mengalir di tubuhnya bukan hanya membawa kekayaan dan kekuasaan, tapi juga kutukan yang menuntut kesetiaan mutlak atau kehancuran total. Kehadiran Lily, teman masa kecilnya, seolah menjadi pemicu yang membangkitkan kembali sisi gelap dari sejarah keluarganya.
Kutukan Sri tidak pernah tidur. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk mengambil apa yang paling dicintai oleh setiap pria Steel. Dan kali ini, Sesilia-lah yang berada tepat di garis depan incaran dendam tersebut.
….
Lima ratus tahun yang lalu, di bawah cahaya bulan yang bersinar terang. Seorang wanita cantik dengan pakaian lusuh berlari pelan. Tanpa alas kaki. Gadis itu terisak pelan, tangannya mencoba menepis setiap air mata yang turun dari kedua matanya.
Malam itu, sang wanita menemukan fakta paling menyakitkan di dunia. Bahwa suami tercintanya, cinta pertamanya dan ayah dari kelima anaknya adalah raja dari negara itu. Diam-diam, lelaki itu berpura-pura menjadi orang biasa dan menikah dengannya. Tanpa persetujuan siapapun.
Lelaki yang ia kira sebagai sosok suami dan ayah paling sempurna. Nyatanya hanyalah pembohong murahan, yang menjadikan wanita bodoh seperti dirinya sebagai target pemuas nafsu birahinya. Lelaki itu bahkan sudah memiliki dua orang istri di istananya yang megah.
Di malam yang sunyi itu, wanita bernama Sri berlari, memasuki kawasan hutan paling di takuti di desanya. Demi nyawanya, demi hidupnya yang terenggut paksa di tangan raja tiran yang kejam.
Wanita itu berlari dengan tubuh bergetar hebat. Setelah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Suaminya, membunuh kelima anak mereka, juga orang tuanya tanpa belas kasihan. Dengan satu senyum mengerikan di wajah lelaki itu, ia menghunuskan pedang bahkan pada darah dagingnya sendiri.
Dirinya adalah target berikutnya.
Dengan tekad membara, ia berlari menjauh dari lelaki yang ia kira rumah yang nyaman. Ternyata berakhir menjadi malaikat pencabut nyawanya sendiri.
Saat lelaki itu sedang sibuk dengan pedangnya, kaki kecil Sri membawa wanita itu menjauh. Menuju satu harapan kecil yang tersisa. Legenda kuno paling terkenal. Legenda tentang sebuah pohon harapan, di dalam hutan paling ditakuti. Semua orang tahu legenda itu, tapi tidak benar-benar bisa menemukan pohon itu.
Pohon pengabul harapan.
Sri dengan kaki kecilnya, berlari menembus rimbunnya hutan, hanya bermodalkan keberanian dan cahaya bulan. Memohon dengan segenap hatinya, berharap Tuhan mendengarkan doanya. Ia harus menemukan pohon itu. Ia harus membalaskan kematian anak-anaknya, juga orang tuanya dengan setimpal.
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, menerobos pepohonan rimbun. Sri mulai kelelahan. Kakinya yang tanpa alas terluka dan berdarah. Badannya sakit sana sini, karena tergores ranting kayu. Napasnya sudah tersengal-sengal.
Sri sudah hampir menyerah. Sudah berteriak marah pada dunia yang kejam pada dirinya. Hingga tanpa sadar, wanita itu sampai di depan pohon besar yang entah kenapa terlihat seperti menguarkan cahaya keemasan yang indah.
Sei menghentikan langkah. Berdiri takjub pada pemandangan indah itu.
“Inikah pohon legenda itu?” Tanyanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba angin lembut bertiup pelan. Seakan memberinya jawaban atas pertanyaan itu.
Wanita itu, kembali melangkah. Kian mendekati pohon legenda itu.
“Katanya, pohon itu akan mengabulkan apapun yang kita inginkan. Bahkan membalaskan dendam sekalipun. Tetapi ia membutuhkan bayaran yang besar.” Ayah Sri berkata pelan.
“Apa itu ayah?” Tanya Sri pada ayahnya.
“Nyawa kita sendiri nak.”
Sekilas, ingatan tentang percakapannya dengan sang ayah tentang pohon itu bergema di kepalanya. Dengan langkah pasti, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil. Pisau yang selalu ia bawa kemanapun pergi. Air matanya kembali jatuh. Dalam satu sayatan dalam dan menyakitkan, tepat di pergelangan tangannya, di nadinya berada. Ia menyerahkan nyawanya yang berharga pada pohon legenda itu.
Aku mengutuk raja tiran negeri ini. Suamiku yang telah berkhianat. Suami yang dengan kedua tangannya, telah membunuh kelima anaknya yang tidak berdosa. Juga kedua orang tuaku yang tidak bersalah. Tolong…..
Tolong balaskan dendamku … hingga ke seluruh anak keturunannya.
Setelahnya, Sri yang telah melukai dirinya sendiri. Menunggu ajal yang perlahan dan menyakitkan, sendiri di bawah pohon legenda itu dan dalam kesunyian tengah malam. Satu-satunya penghiburan atas segala sakitnya hanyalah cahaya bulan yang bersinar indah. Seakan tersenyum dan melambaikan tangan perpisahan padanya.
Selamat tinggal cintaku.
Ku harap, dikehidupan manapun kita tidak pernah disatukan lagi oleh takdir.
Berbahagialah diatas darah yang kau kucurkan. Karena dendam ini, akan mengikutimu, hingga ke pengakhiran zaman.
bau bau bucin😍😄