NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. JERITAN

..."Ketika tulang patah kembali ke tempatnya, harapan yang hampir mati ikut pulih bersama nyawa yang diselamatkan."...

...---•---...

"SEKARANG!"

Doni menarik kaki Mbok Supi dengan tenaga penuh, mendorong lutut untuk meluruskan tulang.

KRAKK!

Suara tulang bergeser membuat semua orang meringis, wajah memucat.

Mbok Supi tersentak bangun. Jeritannya memilukan, suara yang akan menghantui mimpi buruk. Matanya terbuka lebar seperti binatang terjebak perangkap. Tubuhnya berontak, mencoba melepaskan diri dengan kekuatan putus asa.

"Tahan dia! TAHAN!" Doni berteriak sambil terus menyesuaikan posisi tulang. Ia bisa merasakan fragmen tulang bergeser di bawah kulit dan otot, sensasi mengerikan yang membuat perut mual.

Sedikit lagi. Hampir sejajar. Hampir...

Pak Warjo memeluk istrinya erat, air mata berderai. "Maafkan aku, maafkan aku," ia bergumam berulang seperti mantra.

Keringat membanjiri wajah Doni, membasahi mata sehingga pandangan kabur. Tangannya gemetar, otot lengan berteriak protes.

Jangan lepas. Jangan lepas sekarang. Sedikit lagi.

Tapi ia tak bisa berhenti. Harus sempurna. Satu kesalahan bisa membuat perempuan ini cacat selamanya atau mati karena emboli lemak.

Setelah tiga menit yang terasa seperti abad yang menyiksa, Doni merasakan tulang kembali sejajar. Tak sempurna, tidak akan pernah sempurna tanpa rontgen untuk memandu, tapi cukup baik.

Cukup baik harus cukup. Ini semua yang bisa kulakukan.

"Bidainya!" suaranya serak.

Pak Karso langsung menyerahkan dua batang kayu lurus dengan tangan bergetar. Doni meletakkan kayu-kayu itu di kedua sisi paha, lalu mengikatnya dengan strip kain yang tersisa, memastikan tulang tidak bergerak. Imobilisasi. Tulang harus diam total agar bisa menyambung.

Mbok Supi pingsan lagi, tubuhnya lemas seperti boneka kain. Doni meraba nadi dengan jari yang masih gemetar. Masih ada, meski lemah seperti denyut jauh di kedalaman. Napas dangkal tapi teratur.

Dia masih hidup. Ya Tuhan, dia masih hidup.

Lega yang dahsyat memenuhi dadanya, hampir membuatnya ingin menangis. Tapi ia menahan diri. Belum selesai. Bahaya sebenarnya baru datang.

"Sekarang kita bawa dia pulang. Cepat. Dia butuh istirahat dan perawatan." Doni melepaskan ikatan penahan darah pelan-pelan, memantau apakah perdarahan dimulai lagi. Ada sedikit rembesan merah, tapi tak separah tadi. Getah dan daun sirih tampaknya membantu pembekuan darah.

Bagus. Ini bagus. Tapi bahaya sebenarnya: infeksi. Dalam beberapa hari ke depan, itu musuh terbesar.

"Bagaimana cara bawa dia?" Pak Warjo bertanya panik, mata merah dan bengkak. "Kalau digendong biasa, kakinya bisa goyang dan rusak lagi."

Doni melihat sekeliling. Bambu. Ada beberapa batang bambu di dekat tumpukan kayu. Dan kain dari sarung Pak Warjo yang sudah robek-robek.

"Buat tandu. Dua batang bambu, ikat kain di antaranya. Dia harus dibawa terlentang, kaki tetap lurus."

Mereka bekerja cepat seperti semut membangun sarang. Jiman dan Karyo memotong bambu dengan parang, bilah tajam berkilat di sinar sore. Pak Karso dan Pak Warjo mengikat kain dengan simpul kuat. Sepuluh menit kemudian, tandu sudah siap.

Dengan sangat hati-hati, seperti mengangkat bayi baru lahir, mereka menaikkan Mbok Supi ke atas tandu. Doni memastikan kaki terluka tetap lurus dan tidak tertekan. Ia mengambil kain bersih dan membungkus luka lebih rapi, mencegah kotoran masuk dan lalat hinggap.

"Pak Warjo dan Pak Karso di depan. Jiman dan Karyo di belakang. Angkat pelan, jalan pelan. Kalau perlu berhenti, bilang."

Mereka mengangkat tandu dan mulai berjalan keluar dari hutan. Doni berjalan di samping, matanya tak lepas dari pasiennya seperti elang mengawasi mangsa. Ia memantau pernapasan, warna kulit, tanda perdarahan baru.

Setiap langkah seperti berjalan di atas tali. Satu kesalahan bisa fatal.

Matahari mulai tenggelam, menciptakan cahaya oranye keemasan. Udara mulai dingin, membawa bau tanah dan embun.

Aku melakukannya. Aku benar-benar melakukannya. Operasi lapangan tanpa anestesi, tanpa ruang steril, tanpa tim medis. Dan dia masih hidup.

Namun, rasa bangga itu langsung disusul kecemasan. Ini baru permulaan. Infeksi bisa muncul tiba-tiba. Jaringan bisa mati membusuk, atau infeksi menyebar ke darah. Masih begitu banyak hal yang bisa berujung buruk dalam beberapa hari ke depan.

Ketika mereka keluar dari hutan, beberapa petani yang baru pulang bekerja melihat mereka. Mereka langsung berlari mendekat.

"Ada apa? Kecelakaan?"

"Itu Mbok Supi! Ya ampun, kakinya!"

"Cepat panggil yang lain! Siapkan tempat!"

Berita menyebar cepat. Ketika mereka tiba di kampung, sudah ada kerumunan menunggu. Pak Wiryo ada di tengah mereka.

"Bawa ke rumahku," katanya tegas. "Sudah disiapkan tempat."

...---•---...

Mereka membawa tandu ke rumah Pak Wiryo yang lebih besar dan bersih. Di salah satu ruangan, tikar tebal sudah digelar, ditutupi kain bersih yang masih berbau sabun.

Mereka menurunkan Mbok Supi dengan hati-hati, memposisikannya dengan kaki terluka sedikit lebih tinggi dari tubuh untuk mengurangi pembengkakan.

Istri Pak Wiryo datang membawa air hangat dan kain bersih yang masih mengepulkan uap. "Ini untuk bersihkan luka."

"Terima kasih, Bu." Doni menerima dengan penuh syukur.

Ia membersihkan luka sekali lagi dengan gerakan lembut dan teliti, mengganti perban dengan yang lebih bersih. Luka masih terlihat mengerikan, tapi belum ada tanda infeksi. Belum. Bahaya akan datang dalam beberapa hari ke depan ketika bakteri mulai berkembang biak.

"Dia butuh istirahat total," Doni menjelaskan pada Pak Warjo yang duduk di samping istrinya, menggenggam tangan dingin itu seperti mencengkeram kehidupan. "Kaki ini tak boleh digerakkan sama sekali minimal dua minggu. Kalau bergerak, tulangnya bisa bergeser lagi dan tak akan menyambung baik."

"Aku akan jaga dia siang malam," Pak Warjo berjanji dengan suara parau.

"Dan dia butuh minum sebanyak mungkin. Air kaldu kalau ada. Tubuhnya kehilangan banyak darah, perlu cairan untuk menggantikan." Doni menambahkan dengan nada serius. "Aku akan datang setiap hari untuk periksa luka dan ganti perban. Kalau ada demam, bengkak berlebihan, atau bau busuk dari luka, panggil aku segera. Itu tanda infeksi dan sangat berbahaya."

Jaringan mati membusuk. Keracunan darah. Dia bisa meninggal dalam beberapa hari jika infeksi menyebar. Dan aku tidak punya antibiotik. Semua yang bisa aku lakukan hanyalah mencegah dan berharap daya tahan tubuhnya cukup kuat.

Semua orang di ruangan mengangguk serius, menyerap setiap kata seperti spons menyerap air.

Pak Wiryo menepuk bahu Doni dengan tangan besar dan hangat. "Kau sudah lakukan pekerjaan yang luar biasa. Tanpa kau, Mbok Supi pasti sudah mati di hutan."

Doni menggeleng, rambut basah keringat bergoyang. "Dia belum selamat. Beberapa hari ke depan adalah yang paling kritis. Kalau infeksi menyebar, aku tak bisa berbuat banyak."

Aku bukan dewa. Hanya manusia dengan pengetahuan terbatas dan alat yang lebih terbatas lagi.

Kejujuran itu membuat ruangan hening. Tapi justru itulah yang membuat orang menghormatinya. Tak ada janji palsu. Tak ada klaim mukjizat. Hanya melakukan yang terbaik dengan apa yang ada.

"Tetap saja," Pak Warjo berkata dengan suara bergetar, mata berkaca-kaca. "Kau sudah beri kami harapan. Itu lebih dari yang bisa orang lain lakukan."

...---•---...

Istri Pak Wiryo masuk membawa nampan berisi nasi, sayur, dan lauk sederhana. Bau nasi hangat dan sayur lodeh memenuhi ruangan.

"Kalian pasti lapar. Makan dulu sebelum pulang."

Doni baru sadar betapa laparnya. Perut berbunyi keras, mengingatkan bahwa ia tak makan sejak siang.

Mereka makan di teras rumah, duduk bersila mengelilingi nampan besar. Nasi putih, sayur lodeh yang masih panas, tempe goreng renyah, ikan asin. Makanan sederhana tapi mengenyangkan. Doni makan lahap, tubuh membutuhkan energi setelah kerja keras tadi.

"Besok kau ke balai kampung kan?" Pak Wiryo bertanya di sela makan.

"Ya. Sudah janji dengan orang-orang yang ingin diperiksa."

"Aku akan bantu atur. Pasti ramai." Pak Wiryo tersenyum, tapi ada kekhawatiran di matanya. "Berita tentang Tari sudah menyebar ke kampung tetangga. Bahkan ke kota kecamatan. Akan banyak orang datang."

Doni menghentikan kunyahan, nasi terasa kering di mulut. "Sebanyak apa?"

"Mungkin puluhan. Mungkin ratusan."

Ratusan.

Doni merasa pusing, kepala berputar. Bagaimana aku bisa tangani ratusan pasien sendirian? Tanpa peralatan, tanpa asisten terlatih, tanpa sistem rujukan?

Ini gila. Ini mustahil.

Tapi kemudian ia mengingat wajah Tari yang sudah bisa tersenyum hari ini. Mengingat Mbok Supi yang masih bernapas meski seharusnya sudah mati. Mengingat mata-mata penuh harapan orang-orang kampung.

Aku tak bisa menolak mereka. Aku tidak boleh.

"Kalau begitu kita perlu sistem yang baik," katanya akhirnya dengan suara lebih mantap. "Tak bisa semua orang datang sekaligus. Harus ada yang atur antrian, yang catat siapa saja yang datang, apa keluhannya. Dan kita perlu tempat terpisah untuk yang sakitnya ringan dan yang berat."

Pak Wiryo mengangguk setuju, mata berbinar dengan semangat. "Aku akan atur dengan kepala kampung. Kita bikin sistem yang rapi."

...---•---...

Setelah makan, Doni pamit pulang. Tubuhnya sudah mencapai batas, seperti kain yang ditarik terlalu kencang. Kelelahan merayap di setiap sendi, otot berteriak protes. Karyo menemaninya berjalan kembali ke gubuk Pak Karso.

Malam sudah gelap total. Bintang-bintang bertaburan di langit, lebih banyak dan lebih terang dari yang pernah terlihat. Tidak ada polusi cahaya. Hanya langit malam yang murni.

"Kau luar biasa," Karyo berkata tiba-tiba. "Aku tak percaya kau bisa lakukan semua itu. Menghentikan perdarahan, mengembalikan tulang. Seperti kau sudah melakukannya ribuan kali."

Karena aku memang sudah melakukannya ribuan kali. Di kehidupan yang lain. Di dunia yang lain.

"Mungkin dalam mimpi," Doni menjawab pelan. "Mungkin dalam mimpi itu, aku sudah melakukannya ribuan kali."

Karyo tertawa ringan. "Mimpi yang aneh. Tapi syukurlah kau punya mimpi itu. Tanpa mimpimu, Mbok Supi sudah mati."

Ya. Tanpa "mimpi" ini, banyak orang yang sudah mati.

Mereka berjalan dalam keheningan, hanya suara jangkrik dan katak yang mengisi malam. Doni merenungkan semua yang terjadi.

Dua hari lalu aku selamatkan seorang anak dari paru-paru basah yang parah dengan ramuan jahe. Hari ini aku harus membedah di tengah hutan, pakai penghenti pendarahan dari sobekan kain. Besok? Aku akan hadapi ratusan pasien tanpa alat apa-apa.

Ini gila. Tapi entah kenapa... aku merasa lebih hidup daripada bertahun-tahun di rumah sakit modern itu. Di sana, aku hanya ikuti protokol. Di sini, setiap keputusan adalah hidup atau mati. Setiap pasien adalah pertaruhan.

Dan mungkin, hanya mungkin, inilah yang selalu kuinginkan sebagai dokter. Bukan tentang teknologi atau gaji besar. Tapi tentang menyelamatkan nyawa dengan tangan kosong dan pengetahuan yang kupunya.

Mereka sampai di gubuk Pak Karso. Mbok Wulan sudah menyiapkan tikar dan selimut tipis di pojok. Ia tersenyum melihat Doni, wajah lelah tapi hangat.

"Istirahat yang baik. Besok akan lebih panjang lagi."

Hari yang lebih panjang. Ratusan orang menunggu. Ratusan harapan yang harus kupenuhi.

Doni berbaring di tikar, merasakan lantai tanah yang keras di bawahnya. Tubuhnya hancur, setiap otot berteriak, tapi ada rasa puas yang hangat di dadanya. Rasa yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.

Hari ini aku selamatkan satu nyawa. Besok, mungkin aku bisa selamatkan lebih banyak lagi.

Matanya perlahan tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di dunia ini, ia tidur tanpa mimpi buruk.

Hanya kegelapan yang damai, dan janji hari esok yang penuh tantangan.

...---•---...

...Bersambung...

1
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
Mentariz
Alamak~~ bakal syulit nih ngadepin aki-aki 😅
Greta Ela🦋🌺
Entah pun mungkin sampai puluhan nyawa yang kau selamatkan Don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!