Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Raden Ayu Kusumawati
Saat Arjo melangkah keluar dari pavilion, langit sudah terang sepenuhnya.
Matahari pagi menerobos di antara celah-celah kanopi pepohonan tua, berkas cahaya keemasan menimpa warna hijau daun, menciptakan keindahan yang memukau.
Kabut tipis menggantung. Embun bertengger di ujung-ujung dedaunan, berkilauan seperti permata kecil. Burung-burung berkicau dari dahan-dahan tinggi—kutilang, perkutut, sesekali kokok ayam menyahut dari kejauhan.
Udara pagi membawa aroma yang familiar: tanah basah, dedaunan yang membusuk, dan asap dapur yang mulai mengepul dari arah dapur padepokan.
Di halaman utama, aktivitas sudah ramai meski hari masih muda.
Sekelompok anak-anak berusia belasan tahun berlatih di tengah lapangan tanah yang dipadatkan. Tubuh-tubuh kecil bergerak serentak; kuda-kuda rendah, tangan meninju udara, kaki menendang.
Suara "HAH!" mengudara bersamaan, memecah keheningan pagi.
Di sisi lapangan, orang-orangan jerami berdiri berjajar—sasaran latihan yang sudah compang-camping ditusuk dan dipukul ratusan kali.
Beberapa sudah kehilangan kepala, beberapa lagi hanya tersisa batang tubuh yang miring. Selusin murid remaja sedang melempar pisau ke salah satu sasaran, menancap tepat di dada jerami.
Pelatih bertelanjang dada berjalan di antara barisan anak-anak, otot kencangnya yang basah oleh keringat berkilau tertimpa cahaya matahari pagi, celana hitam sebetis sudah penuh dengan debu, sesekali dia membetulkan posisi kuda-kuda yang kurang tepat dengan tongkat bambunya.
Arjo melangkah keluar dari pavilion dengan gaya seorang bupati; dagu terangkat sedikit, bahu tegap, tangan terlipat di punggung. Langkahnya perlahan tapi penuh wibawa, seperti yang telah ia latih bertahun-tahun.
Saat ia memasuki area lapangan, satu per satu, kepala menoleh.
Pelatih yang sedang membetulkan kuda-kuda muridnya berhenti, matanya melebar sesaat, dan langsung berjongkok dengan tangan membentuk sembah.
"Sugeng enjing, Ndoro Gusti Bupati."
Anak-anak yang sedang berlatih mengikuti, barisan mereka buyar, juga murid remaja, semua berjongkok mengikuti guru mereka.
Bahkan beberapa orang dewasa yang kebetulan lewat—pembawa air, tukang masak yang sedang mengantar sarapan—semuanya berhenti, berjongkok, tidak berani mengangkat wajah.
Arjo menahan senyum yang nyaris muncul di bibirnya.
‘Jangan tersenyum. Gusti Bupati tidak tersenyum sembarangan.’
Di belakangnya, Kang Guru Harjo menepuk bahunya pelan.
"Kau berhasil," bisiknya. "Lihat. Saudara-saudaramu sendiri saja tertipu. Apalagi orang lain."
Arjo menarik napas dalam-dalam, menjaga ekspresi wajahnya tetap datar dan berwibawa.
"Lanjutkan latihan." Suaranya keluar lebih dalam dari biasanya, meniru nada bicara Soedarsono yang tenang tapi penuh wewenang.
Para murid dan pelatih mengangguk, masih menunduk, lalu perlahan bangkit dan kembali ke aktivitas mereka. Tapi Arjo bisa merasakan lirikan-lirikan penasaran yang diam-diam dilemparkan ke arahnya.
Ia terus berjalan ke arah kandang kuda, tangan tetap terlipat di punggung, dada membusung.
‘Jangan sampai terlihat gugup. Seorang bupati tidak gugup.’ Dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Satu hal yang harus kau ingat." Kang Guru Harjo berbicara pelan sambil berjalan di samping Arjo. "Di kadipaten nanti, semua kepala akan tertunduk seperti ini. Tidak ada yang berani menatapmu langsung."
Arjo mengangguk samar.
"Kecuali satu orang."
Langkah Arjo sontak terhenti, kepala menoleh was-was. "Siapa, Guru?"
"Raden Ayu Kusumawati. Ibu Ndoro Gusti Bupati."
Jantung Arjo berdegup lebih kencang, kaki kembali melangkah mengikuti sang guru.
"Sebisa mungkin, hindari perempuan itu." Kang Guru Harjo melanjutkan, suaranya serius. "Dia ibu kandung Gusti Bupati. Dia yang paling tahu detail-detail kecil tentang putranya. Cara berjalan, cara bicara, kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin tidak kau sadari."
"Bagaimana kalau beliau tiba-tiba muncul?"
"Kau tidak perlu terlalu khawatir. Gusti Ayu biasanya sangat sibuk. Undangan pesta dari para ningrat tinggi. Jamuan dengan istri para pejabat Belanda, mengatur rumah tangga kadipaten yang besar. Di jam kerja, beliau tidak akan mengganggu putranya, kecuali sesuatu yang sangat penting."
Arjo mengangguk, tapi debaran di dadanya tidak berkurang.
Ia sudah mendengar banyak cerita tentang Raden Ayu Kusumawati dari teman-teman seperguruannya yang menjadi pengawal di kadipaten. Perempuan yang angkuh. Mudah marah. Semua hal salah di matanya.
Dan Arjo sendiri pernah melihatnya—lima tahun lalu, saat masih menjadi tukang kuda di kandang belakang kadipaten.
Ia ingat hari itu dengan jelas. Gusti Ayu sedang berkeliling memastikan setiap sudut kadipaten sesuai dengan standarnya. Suaranya yang tinggi dan tajam terdengar sampai ke kandang kuda, memarahi pelayan yang meletakkan pot bunga di posisi yang salah, membentak tukang kebun yang memangkas tanaman tidak sesuai keinginannya.
Arjo yang waktu itu sedang menyikat kuda bisa mendengar para kusir berbisik-bisik dengan wajah pucat.
"Awas kalau Gusti Ayu lewat sini. Pasti ada yang kena marah."
Arjo bergidik mengingat itu semua.
‘Semoga hari ini perempuan itu sibuk dengan urusannya sendiri.’
Di depan kandang kuda, dua sosok berpakaian seragam pengawal resmi kadipaten sudah menunggu.
Tikno dan Dirno.
Keduanya berdiri tegap dengan tombak di tangan, wajah serius. Seragam hitam dengan bordiran emas lambang kadipaten di dada.
Saat melihat Arjo mendekat, keduanya langsung membungkuk hormat.
"Sugeng enjing, Ndoro Gusti—"
Tikno tidak melanjutkan kalimatnya saat mendengar tawa geli Arjo. Kepalanya terangkat. Matanya menyipit, memandang Arjo dari atas ke bawah.
"Jo?!"
Arjo terkekeh semakin geli.
Dirno di sampingnya sama terkejutnya.
Cara tertawa Arjo yang khas langsung menghancurkan ilusi bupati yang tadi ia bangun dengan serius.
“Kowe to, Jo?” Dirno sampai melangkah lebih dekat.
"Yo aku, Cah. Sopo maneh?" (Ya aku, Teman. Siapa lagi?)
"Tapi—" Tikno melangkah lebih dekat, matanya masih menyisir wajah Arjo dengan tidak percaya.
“Heh … ini aku. Habis dirias Nyi Seger. Jadi kelihatan tambah mirip. Tempo hari tidak dirias sedetail ini. Karena tidak bertemu siapa-siapa.”
Tikno menepuk bahu Arjo. “Jo, kalau kamu tidak tertawa, aku pasti mengira kamu Gusti Bupati sungguhan. Gusti Bupati kan tidak pernah tertawa seperti tadi."
"Mirip sekali," Dirno menambahkan dengan menatap kagum. "Garis-garis di dahi itu... alis yang lebih tipis... bahkan warna kulitmu lebih gelap. Ini kerja Nyi Seger?"
"Siapa lagi yang bisa membuat orang tua jadi muda dan muda jadi tua?" Arjo mengedikkan bahu. "Sudah, jangan melongo terus. Mana Tedjo?"
Tikno menunjuk ke arah kandang dengan dagunya. "Di dalam. Tapi... kau tahu sendiri kuda itu bagaimana. Dari tadi sudah kubujuk untuk keluar, tapi tidak mau. Kau saja yang ambil sendiri, dia kan masih agak menurut denganmu."
Arjo menghela napas, melangkah masuk sambil mengedarkan pandangan.
Kandang kuda padepokan adalah bangunan panjang beratap jerami dengan sekat-sekat kayu yang memisahkan setiap kuda jantan. Bau rumput segar, kencing kuda, dan kotoran berbaur menjadi aroma khas yang sudah sangat familiar di hidung Arjo.
Ia berjalan menyusuri lorong kandang, mencari kudanya. Tedjo tidak ada di sekatnya dan dia tahu harus mencarinya ke mana.
Ia berjalan lebih jauh ke bagian belakang kandang, bagian yang dikhususkan untuk kuda-kuda betina.
Dan di sanalah ia menemukan kudanya.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo