"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Topeng yang Mulai Retak
Nyonya Aristi palsu masih berdiri mematung. Ia tak percaya harus kalah telak oleh anak kemarin sore.
Wajah cantiknya yang biasanya tenang, kini nampak menahan amarah yang meledak di dalam dada.
Tepat di depannya, Alana masih berdiri tegak tanpa gentar. Ia menantang langsung sepasang mata yang penuh kepalsuan itu.
Prinsip Alana jelas: selama ia benar, ia tidak takut apa pun, walaupun risikonya adalah nyawa.
Raden yang tadinya ingin membela Alana dengan mulut pedasnya, justru malah tertegun takjub.
Gila... tunanganku kalau sudah dalam mode singa betina ternyata sesangar ini! batin Raden bangga.
Ia berdehem cukup keras, menutupi senyum tipis saat melihat Suster Mia berdiri di pojokan dengan nyali menciut.
"Kenapa diam, Nyonya? Hmm?" Alana memecah ketegangan dengan suara yang sangat tenang.
"Apa perkataan saya tadi terlalu tajam ya, Nyonya... hingga menancap tepat ke... rahasia Anda?"
Mia, yang merasa Alana sudah keterlaluan, mencoba mencari muka untuk membantu majikannya.
"Alana! Jaga bicara kamu! Yang sopan dong! Apa kamu sudah gila?" teriak Mia mencoba membela.
Raden langsung menoleh dengan tatapan sedingin salju. "Suster Mia, apa omongan Anda itu tidak bisa dijaga?"
"Atau perlu saya memanggil satpam untuk menyeret kamu ke bagian gudang?" ancam Raden dengan nada rendah.
"Ta-tapi Dok, saya cuma mau—" Ucapan Mia langsung terpotong oleh suara Raden yang menggelegar.
"KELUAR!" bentak Raden kuat.
Mia hampir terjungkal ke belakang. Tanpa menoleh lagi, ia langsung berlari terbirit-birit keluar ruangan.
Pintu tertutup dengan dentuman keras. Kini hanya tersisa Raden, Alana, dan wanita pencuri identitas itu.
Nyonya Aristi palsu itu tertawa kecil. Suara tawa yang terdengar dipaksakan seperti nyanyian sumbang.
"Raden sayang, lihatlah. Gara-gara wanita ini, kamu sampai berani menatap Mama dengan tajam."
"Alana, sepertinya kamu terlalu sering menonton drama gadis miskin menikah dengan CEO kaya," sindirnya sinis.
Alana tidak takut, ia justru tersenyum tipis yang membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
Alana melangkah maju hingga bisa mencium aroma parfum mahal yang digunakan wanita di depannya.
"Nyonya, obsesi saya bukan pada harta keluarga ini," bisik Alana pelan tepat di telinga wanita itu.
"Justru saya terobsesi mengungkap kenapa seseorang tega membuang lagu nina bobo demi takhta curian."
"Pupil mata Anda melebar. Itu tanda ketakutan yang nggak bisa disembunyikan oleh botox semahal apa pun."
"Sial! Kurang ajar kamu, Alana!" teriak Nyonya Aristi dengan tangan terangkat siap menampar.
Alana refleks memejamkan mata. Namun, tamparan itu tak pernah sampai.
Sebuah tangan besar dan kuat menahan pergelangan tangan Nyonya Aristi di udara. Itu Raden.
"Cukup, Ma! Jangan. Pernah. Mama. Sentuh. Alana!" desis Raden dengan suara mengancam.
"Bahkan sekalipun Mama yang melakukannya, aku tidak akan segan bertindak kasar. Camkan itu!"
Raden menarik Alana ke balik punggungnya. "Mama sebaiknya pulang. Kehadiran Mama memperburuk keadaan."
"Raden! Kamu mengusir Mama sendiri demi suster ini?! Mama akan adukan kamu ke Papa!"
Alana muncul sedikit dari balik punggung Raden, memberikan serangan terakhir yang mematikan mental.
"Oh ya Nyonya, titip salam untuk orang-orang di klinik tua pinggiran kota, ya?" ucap Alana lembut.
"Saya dengar ada dua wanita disekap di sana. Salah satunya mirip Anda, dan satunya punya luka bakar di tangan."
Wajah Nyonya Aristi palsu mendadak putih pucat. Ia hampir kehilangan keseimbangan karena syok.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru.
Setelah wanita itu pergi, Raden langsung memeluk Alana dari belakang dengan napas berat.
"Lan... Sayang, dari mana kamu tahu tentang klinik tua itu?" bisik Raden lirih di telinga Alana.
"Tadi saat kamu mengamati foto itu, aku melihat tulisan pudar di belakangnya: Klinik Tua, Blok A."
"Melihat reaksi Mama palsu kamu barusan, dugaanku benar. Tempat itu memang nyata," jelas Alana.
Raden tertegun. Ia tak menyangka Alana bisa sejeli itu dalam keadaan yang sangat genting.
Tiba-tiba, ponsel Alana di saku bergetar hebat. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
"Berhenti mencari tahu, Alana. Atau kamu akan melihat dokter kesayanganmu itu pulang dalam peti mati."
Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ia meremas ponselnya kuat, mencoba menyalurkan emosi.
Ternyata perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan ia harus siap menghadapinya.
*****
Catatan Penulis:
Puas banget nggak lihat Alana pasang badan dan bikin Mama Palsu kena mental tadi? 🔥
Tapi jangan lupakan juga aksi Raden yang super heroik pas nahan tangan Mama Palsu! Cowok pelindung banget ya! 😍
Tapi jujur, pesan ancaman di akhir tadi bikin merinding... Menurut kalian, Alana harus gimana sekarang? 😱
Yuk, jangan lupa kasih dukungan dengan klik LIKE, KOMENTAR, dan wajib banget kasih BINTANG 5 ya! ⭐🚀🔥