NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 : Perawatan di mobil ambulance

Alexander menatap Victoria dengan sorot mata yang tajam, seolah ingin menusuk ke dalam hatinya. Jemarinya yang besar dan kuat menggenggam tangan gadis itu semakin erat, membuat Victoria sulit menghindar.

“Sudah selesai dengan omong kosongmu?” suaranya berat, dalam, dan penuh tekanan, seakan tak memberi ruang untuk bantahan.

Victoria tetap tak goyah, matanya basah oleh keyakinan yang sulit ia jelaskan. Ia mengangkat wajahnya, memandang Alexander dengan keberanian yang terbungkus dalam kelembutan.

“Tapi aku serius… anak itu tidak mati di tempat itu. Dia mati di sini… lalu diseret ke sana.”

Suaranya bergetar, namun sarat dengan kejujuran. Ia bahkan meraih lengan Alexander, mencoba memastikan pria itu tidak mengabaikan perkataannya.

“Kumohon… percayalah.”

Permintaan itu membuat Alexander terdiam sesaat. Tatapannya melirik ke arah belakang, ke sekumpulan polisi yang masih berdiri tanpa suara, menunggu komando. Udara terasa berat, hening sesaat, hingga akhirnya suara Alexander terdengar lagi datar, dingin, tapi penuh otoritas.

“Periksa mayat anak itu. Cari apakah ada luka gesekan aspal di tubuhnya. Jika tidak ada…” Ia menghentikan kalimatnya, menoleh kembali pada Victoria, kini dengan tatapan yang menekan bagai beban berat di dada. “…kaulah yang akan kucap sebagai pembunuh.”

Kata-kata itu mengguncang semua orang. Polisi saling berpandangan, tak berani bersuara. Asisten Alexander membeku, tak percaya pria itu begitu cepat melontarkan tuduhan.

Victoria terdiam, namun yang muncul di wajahnya bukan keterkejutan. Justru senyuman tipis yang pelan-pelan terlukis, menggantikan ketakutan yang sempat mendominasi rautnya. Matanya melembut, kemudian bersinar dengan semacam kilau usil.

“Baiklah… aku setuju. Tapi jika aku benar, kau…” Ia menatap Alexander dengan tatapan penuh tantangan, nakal, dan nyaris menggoda. “…traktir semua anak residence beli es krim. Dan jangan lupa… bagikan nomor kontakmu pada kami.”

Ucapan itu seperti petir yang menyambar keheningan. Taruhan konyol di tengah suasana menegangkan membuat Alexander terdiam. Rahangnya mengeras, menolak memberi celah pada permainan gadis itu. Tanpa kata tambahan, ia hanya mengangguk singkat, lalu menggenggam lengan Victoria lebih erat, menyeretnya menjauh dari lokasi. Polisi mulai bergerak, mengikuti instruksi yang telah diberikan.

Victoria hanya menunduk, membiarkan langkah panjang Alexander membawanya. Perhatiannya tertuju pada genggaman kuat yang menekan luka di lengannya, seolah pria itu sengaja menahan agar darah tak mengalir lebih banyak.

“Kita… mau ke mana?” tanyanya lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah desir angin. Rambut panjangnya berkibar, menampar pipi tipisnya, sementara langit perlahan gelap. Daun-daun kering berputar terbawa angin, tanda hujan akan segera turun.

Alexander tak menoleh, tatapannya lurus ke depan, langkahnya mantap. “Simpan suaramu. Aku tidak mau dengar,” ujarnya dengan tegas, dingin, dan tanpa kompromi.

Udara semakin berat, seakan menahan napas bersama mereka. Alexander terus menyeret Victoria menuju ambulans yang terparkir di dekat lokasi, membiarkan bayangan awan hitam menelan cahaya sore terakhir.

Sesampainya di belakang pintu ambulan, Alexander menundukkan kepalanya sedikit, memastikan pijakan kakinya mantap ketika ia melangkah masuk ke dalam ambulans. Udara di dalamnya tercium tajam oleh bau obat-obatan, dingin dan menyesakkan, bercampur samar dengan aroma logam dari darah yang masih menempel di beberapa peralatan.

Ia lalu mengulurkan tangan, menatap Victoria yang masih berdiri di luar, matanya tak lepas menunggu.

“Ayo naik,” suaranya datar, tegas, namun dalam genggaman tangannya terselip nada yang tak bisa ditolak.

Victoria menatap tangan besar itu sesaat, seolah sedang mempertimbangkan, sebelum akhirnya jemarinya yang halus menyentuh telapak Alexander. Ia merasakan dinginnya kulit pria itu, namun juga kekuatan yang membuatnya merasa aman. Perlahan, ia melangkah masuk, dan kini mereka duduk saling berhadapan di kursi sempit ambulans itu.

Bagi Alexander, momen ini terasa begitu familiar. Bayangan di rumah sakit dulu menyeruak dalam ingatannya, saat gadis itu yang sibuk membalut luka di tangannya. Sekarang segalanya terbalik. Dialah yang harus menjaga, dialah yang harus melindungi.

“Kau bodoh, ya? Untuk apa menggores tanganmu sendiri!” suaranya meninggi, namun nada di balik ucapannya penuh kekhawatiran yang tak ia sadari. Ia meraih kapas, menyekanya dengan hati-hati, meski sikapnya tetap keras.

Victoria terdiam, matanya menatap luka di lengannya, nyaris tak bergerak ketika jari-jari Alexander yang kasar menyentuh kulitnya.

Setiap tarikan kapas membuat darah berhenti sedikit demi sedikit, dan keheningan di antara mereka hanya diisi suara gesekan lembut itu. Saat kapas terakhir dibuang ke meja, Alexander mengambil botol obat, mengocoknya sebentar, lalu menekan isinya ke luka itu dengan ketelitian seorang pria yang seolah terbiasa menghadapi darah.

Namun, ketika ia menunduk, Alexander menyadari sesuatu. Gadis itu melamun. Matanya kosong, bukan karena rasa sakit, melainkan karena pikirannya melayang entah ke mana. Dengan sudut pandang tajamnya, Alexander menggeser matanya, menatap gadis itu tanpa benar-benar mengangkat kepalanya.

“Kenapa lagi dia…” gumamnya lirih, seakan malas berurusan dengan segala misteri yang selalu menyelubungi Victoria.

Suara tipis akhirnya pecah dari bibir gadis itu. “Tuan Reed…” ia menyebut nama itu dengan kelembutan yang memaksa Alexander kembali fokus. Kini sorot matanya bertemu, tak lagi kosong.

“Kau percaya padaku?” tanyanya, lirih, namun penuh tekanan emosional.

Alexander membeku sesaat. Ia ingin menepis pertanyaan itu, namun lidahnya terasa berat. “Tidak,” jawabnya tegas. “Sampai ada bukti dari pihak kepolisian tentang mayat itu.”

Helaan napas pelan terdengar dari Victoria, namun lebih menyerupai kepasrahan yang ditahan. Alexander memandanginya sekilas; wajah gadis itu tampak letih, bahkan seolah menanggung sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar luka di lengannya.

“Bagaimana kau bisa melakukan analisis begitu realistis? Apa kau kenal dengan korban?” tanyanya pelan, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.

Victoria tersenyum miring, getir, nyaris mengejek. “Bahkan anak kecil saja tahu kalau mayat itu tak mati di sana…” kalimat itu membuat udara di dalam ambulans kembali terasa berat.

Alexander menggeleng perlahan, sorot matanya menajam. “Anak kecil macam apa yang tahu pola pembunuhan? Kau pikir aku bodoh?”

Pertanyaan itu terhenti saat Victoria menatapnya dengan keseriusan yang mengejutkan. “Apa kau akan menangkap pelakunya?”

Sekali lagi Alexander tak segera menjawab. Pertanyaan itu menelusup, membuatnya curiga bahwa gadis ini punya hubungan dengan korban lebih dari sekadar orang asing. Ia menunduk, membalut lengan Victoria dengan kain kasa. Gerakannya teratur, mantap, namun di balik setiap lilitan kain ada pikiran yang tak henti mencari jawaban.

“Akan kuusahakan,” jawabnya akhirnya.

Suara tegas yang terdengar lebih seperti janji pada dirinya sendiri. “Setelah ini, aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit. Kau lebih aman di sana. Jangan ikut campur lagi di lokasi kejadian.”

“Bukankah itu tugas dokter?” tanya Victoria, bingung, keningnya berkerut.

“Dasar bodoh…” gumam Alexander, hampir seperti sedang menegur dirinya sendiri karena tak bisa menjauhkan gadis itu dari bahaya. “Tidak ada dokter yang turun langsung ke lokasi kejadian, apalagi sampai melakukan analisis.”

“Aku hanya membantu,” balas Victoria pelan, matanya menunduk, namun nada suaranya tetap mengandung keyakinan.

Alexander menuntaskan ikatan terakhir perban, simpulnya rapi, kuat, nyaris sempurna. Ia merapikan semua peralatan ke tempatnya, lalu bangkit berdiri.

“Tidak perlu. Kami tidak butuh bantuanmu.” Suaranya dingin, namun jemarinya masih meninggalkan jejak kehangatan di lengan Victoria. Ia melangkah keluar, lalu berhenti tepat di pintu ambulans.

“Ayo pergi, aku antar dengan mobilku.”

Victoria menuruni tangga ambulans perlahan, langkahnya tertahan. “Tapi… bisa antar aku beli pita dulu?” tanyanya, suara ringan namun penuh kesungguhan.

Alexander menoleh cepat, menatapnya lekat.

“Pita?”

pikirannya langsung melayang ke rumah sakit, kebiasaannya memberikan pita kecil sebagai hadiah untuk pasien yang tak lagi bernyawa. Ada sesuatu di balik permintaan sederhana itu yang menusuk dalam hati Alexander.

“Kau akan memberikannya pada anak kecil itu?” tanyanya, kini nada suaranya lebih lembut. Tangannya terulur, meraih tangan Victoria agar langkahnya tak goyah menuruni tangga.

Victoria menggeleng, senyum samar menghiasi wajahnya. “Bukan,” jawabnya lirih.

Matanya menatap jauh ke depan, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat oleh Alexander.

“Dia… bukan milikku.”

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!