Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Deklarasi dan sinyal Bahaya
Setelah badai Clarissa mereda, popularitas Arazka dan Maura mencapai puncaknya. Tidak ada lagi yang berani menyebut hubungan mereka settingan. Namun, di balik tawa kemenangan itu, ada sebuah janji yang harus ditunaikan: Kepastian.
📢 Pengumuman di Tengah Lapangan
Pagi itu, di tengah apel rutin, Arazka maju ke depan mik. Seluruh siswa mengira ia akan membicarakan laporan keuangan pasca-acara amal. Namun, Arazka memiliki agenda lain.
"Gue mau menyampaikan satu hal yang di luar agenda organisasi," suara berat Arazka menggema. Ia menatap ke barisan The Queens, tepat ke mata Maura yang tampak bingung.
"Mulai hari ini, kontrak kerja sama antara ALVEGAR dan OSIS tetap berlanjut secara profesional. Tapi, kontrak pribadi antara gue dan Maura... resmi gue hapus."
Seluruh lapangan mendadak riuh. Maura menahan napas. Apa dia mau mutusin gue di depan umum?
"Karena mulai detik ini," lanjut Arazka dengan seringai tipis yang mematikan, "Maura bukan lagi partner kontrak gue. Dia adalah pacar gue yang sebenarnya. Dan siapapun yang keberatan, silakan hadapi gue di ruang ALVEGAR."
Maura terpaku. Riuh sorak-sorai meledak. Miko berteriak paling kencang sampai ditegur guru, sementara Fanila memeluk Maura dengan haru. Tapi, di barisan anggota inti ALVEGAR, ada dua reaksi yang sangat berbeda.
Rangga hanya menatap datar, mencatat dalam hati betapa Arazka semakin impulsif. Sementara Danis... dia tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. Ada remasan kuat di tangannya yang memegang bola basket.
🎾 Sisi Lain Danis
Siang harinya, Maura sedang sendirian di pinggir lapangan tenis, mencoba menenangkan jantungnya. Tiba-tiba, sebuah botol minuman dingin menempel di pipinya.
"Selamat ya, Maur. Akhirnya si Kulkas resmi jadi milik loe," ujar Danis.
Maura mendongak dan tersenyum tulus. Selama ini, Danis adalah anggota ALVEGAR yang paling hangat padanya. "Makasih, Dan. Gue juga nggak nyangka dia bakal se-nekat itu."
"Arazka memang gitu. Selalu mau menang," Danis duduk di samping Maura, jaraknya sedikit lebih dekat dari biasanya. "Tapi, kalau suatu saat dia bikin loe nangis karena egonya... inget ya, gue selalu ada buat dengerin cerita loe."
Danis menatap Maura dengan tatapan yang terlalu dalam untuk sekadar "teman". Maura merasa sedikit canggung, tapi ia menepis pikiran itu. Danis kan baik sama semua orang, pikirnya.
Tanpa mereka sadari, dari jendela lantai dua markas ALVEGAR, Arazka berdiri memperhatikan mereka. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
🌸 Pembalasan Maura: Cemburu Kinara
Sore harinya, Maura masuk ke markas untuk mengambil buku. Ia melihat Arazka sedang duduk di sofa, tapi dia tidak sendiri. Kinara sedang duduk di dekatnya, tampak sedang dibantu Arazka mengerjakan sesuatu di laptop.
"Oh, gitu ya Kak Arazka? Wah, Kakak ternyata pinter banget jelasin materi ini," puji Kinara dengan wajah polosnya yang menggemaskan.
Arazka tidak menjauh. Malah, dia sengaja sedikit mendekat ke arah Kinara saat menyadari Maura masuk. "Iya, Kinara. Kalau loe butuh bantuan lagi, tanya gue aja. Gak usah tanya Danis, dia lagi sibuk main tenis."
Maura merasakan dadanya sesak. Panas. Kenapa dia harus sedekat itu sama Kinara? Kinara kan pacar Danis!
"Buku gue mana?" suara Maura ketus, memecah suasana.
Arazka menoleh dengan wajah tanpa dosa. "Di meja Rangga. Kenapa, Maur? Muka loe kok merah gitu? Kepanasan?"
"Gak perlu tahu!" Maura menyambar bukunya dan keluar dengan langkah menghentak.
Arazka menyeringai kecil. Satu sama, Maura. Loe deket sama Danis, gue deket sama Kinara.
🌑 Bisikan di Sudut Ruangan
Setelah Maura dan Kinara pergi, Rangga menghampiri Arazka.
"Loe lagi main api, Zka," ujar Rangga dingin. "Danis nggak bakal suka loe deketin Kinara cuma buat mancing Maura. Dan Maura nggak bakal suka loe jadiin Kinara alat."
"Gue cuma mau dia tahu siapa yang punya dia, Rangga," jawab Arazka santai.
"Ego loe bakal ngebunuh ALVEGAR pelan-pelan," gumam Rangga sambil berjalan pergi. "Dan kalau itu terjadi, jangan salahin gue kalau gue harus ngambil tindakan tegas."
Rangga mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat kepada seseorang yang selama ini mengawasi ALVEGAR dari jauh.
"Subjek mulai tidak stabil. Rencana B bisa segera dimulai."
TO BE CONTINUED