"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Kosmetik & Saksi Mata
Pukul dua pagi. Waktu penyihir. Waktu pencuri. Waktu balas dendam.
Lorong Vane Manor gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Karpet tebal meredam langkah kakiku yang tanpa alas. Aku bergerak seperti hantu, napasku teratur, jantungku berdetak dengan ketenangan yang menakutkan.
Aku bukan lagi Elara si gadis miskin yang ketakutan. Malam ini, aku adalah predator.
Aku berhenti di depan pintu kamar Isabella. Pintunya dicat putih gading dengan ukiran mawar emas. Cantik. Rapuh.
Aku memutar gagang pintu perlahan. Terkunci? Tentu saja tidak. Isabella terlalu arogan untuk mengunci pintunya. Dia pikir dia aman di dalam istana ayahnya. Dia pikir tidak ada yang berani menyentuhnya.
Klik. Pintu terbuka tanpa suara.
Aroma mawar dan vanila langsung menyambutku. Kamar Isabella adalah ledakan warna merah muda dan putih. Di tengah ruangan, di atas tempat tidur berkelambu sutra, putri tidur itu berbaring damai. Dadanya naik turun dengan teratur. Dia terlihat seperti malaikat saat tidur, yang membuatnya semakin menjijikkan karena aku tahu iblis apa yang bersembunyi di baliknya saat dia bangun.
Aku tidak membuang waktu memandanginya. Tujuanku ada di meja rias di sudut ruangan.
Aku berjalan berjinjit mendekati meja itu. Di sana, berjejer puluhan botol kosmetik mahal. Serum, pelembap, parfum, essence. Semuanya merek-merek ternama yang satu botolnya bisa membiayai makan siangku selama setahun.
Mataku tertuju pada sebuah botol kaca ramping berisi cairan bening. Toner wajah. Aku tahu ini favoritnya. Tadi sore, dia membual kepada teman-temannya bahwa toner ini mengandung serbuk berlian dan air dari mata air suci di pegunungan Alpen.
Aku mengambil botol itu. Berat. Dingin.
Aku membawanya ke kamar mandi en-suite Isabella. Aku membuka tutupnya, lalu menuangkan isinya ke wastafel. Glug, glug, glug. Setengah botol cairan "ajaib" itu lenyap ke saluran pembuangan.
Sekarang, bagian terbaiknya.
Dari saku piyamaku, aku mengeluarkan botol kecil yang tadi kucuri dari lemari petugas kebersihan di lorong bawah. Cairan pembersih lantai konsentrat. Baunya tajam, kimiawi, dan membakar.
Tapi aku tidak menuangkannya begitu saja. Itu terlalu bodoh. Baunya akan ketahuan.
Aku mengambil sedikit air keran, mencampurnya dengan setetes, hanya setetes kecil, cairan pembersih lantai itu di telapak tanganku, lalu mengendusnya. Baunya tersamar oleh aroma asli toner yang kuat. Tapi efek kimianya? Itu tidak akan hilang.
Dengan hati-hati, aku menuangkan campuran air dan sedikit bahan kimia iritatif itu ke dalam botol toner Isabella sampai volumenya kembali seperti semula.
Aku mengocoknya pelan. Cairan itu berputar, bening dan polos. Tidak ada perubahan warna. Tidak ada bau yang mencurigakan.
Tapi begitu dia menepuk-nepuk cairan ini ke wajahnya yang berharga besok pagi... kulitnya akan terbakar pelan-pelan. Merah. Gatal. Mungkin sedikit melepuh. Tidak permanen, tentu saja. Aku tidak ingin masuk penjara karena menyiram air keras. Aku hanya ingin menghancurkan hal yang paling dia banggakan: wajah cantiknya.
"Selamat menikmati kulit barumu, Bella," bisikku pada botol itu sebelum meletakkannya kembali ke posisi semula, tepat di milimeter yang sama.
Aku belum selesai.
Mataku beralih ke kursi velvet di dekat jendela. Di sana, tersampir sebuah gaun. Gaun pesta koktail berwarna merah marun yang kulihat dia pamerkan pada teman-temannya tadi. "Aku akan memakainya di pesta ulang tahun Oliver minggu depan," katanya tadi.
Aku mendekat.
Dari saku piyamaku yang lain, aku mengeluarkan gunting kuku kecil.
Aku tidak menggunting kainnya. Itu terlalu barbar. Itu jejak yang terlalu jelas.
Sebaliknya, aku membalik gaun itu. Aku mencari jahitan di bagian ketiak dan bagian belakang yang menutupi bokong. Jahitan-jahitan struktural yang menahan beban kain saat dipakai bergerak.
Dengan ujung gunting yang tajam, aku memotong benang jahitannya. Snip. Snip.
Aku tidak memotong semuanya. Aku hanya memotong benang penguncinya di beberapa titik strategis. Gaun itu masih terlihat utuh. Masih bisa digantung. Masih bisa dipakai.
Tapi begitu dia bergerak sedikit berlebihan, saat dia berdansa, atau saat dia mengangkat tangan untuk melambai, jahitan itu akan lepas. Gaun itu akan robek. Di depan umum. Di tengah pesta.
Bayangan wajah malunya saat kain itu sobek di tengah keramaian membuat sudut bibirku berkedut. Itu akan menjadi pembalasan yang setimpal untuk tumpahan teh di gaun putihnya.
Aku menyimpan kembali gunting kuku itu. Aku merapikan letak gaun tersebut seolah tidak pernah disentuh.
Aku berdiri di tengah kamar, memandang sekeliling untuk terakhir kalinya. Tidak ada jejak. Tidak ada bukti.
Wajahku di cermin kamar Isabella tetap datar. Tidak ada senyum jahat. Tidak ada kepuasan yang meledak-ledak. Hanya ketenangan dari sebuah pekerjaan yang diselesaikan dengan rapi.
Inilah perbedaannya, Isabella. Kau merusak orang lain untuk tontonan. Aku merusakmu untuk bertahan hidup.
Aku berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu kamar itu sepelan hembusan napas. Hingga tertutup rapat. Klik.
Hening.
Aku memutar tubuh, bersiap untuk mengendap-endap kembali ke kamarku di seberang lorong.
Dan saat itulah jantungku berhenti berdetak.
Di sana. Di tengah lorong yang remang-remang.
Sosok tinggi berdiri menjulang, menghalangi jalanku.
Ciarán Vane.
Dia baru saja pulang. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya, lengannya digulung asal-asalan, dasinya sudah hilang, dan kancing teratasnya terbuka. Wajahnya terlihat lelah, ada bayangan samar janggut di rahangnya. Di tangannya, dia menenteng jas dan tas kerjanya.
Dia berdiri diam, menatapku.
Aku membeku di depan pintu kamar adiknya. Tanganku masih di gagang pintu.
Tidak ada alasan bagiku untuk berada di sini jam dua pagi. Tidak ada alasan bagiku untuk keluar dari kamar Isabella. Aku tertangkap basah. Tertangkap di tempat kejadian perkara.
Darahku menjadi es. Otakku berputar panik mencari alasan. Aku tersesat? Aku mencari air? Aku mendengar suara aneh?
Tidak ada yang masuk akal.
Ciarán melihat tanganku di gagang pintu. Dia tahu.
Dia akan melaporkanku pada Julian. Aku akan diusir. Aku akan kembali ke jalanan besok pagi. Dan kali ini, tanpa sisa harga diri sedikit pun.
Tapi kemudian, aku memutuskan untuk tidak lari.
Aku tidak melepaskan tanganku dari gagang pintu. Aku tidak menunduk. Aku menegakkan punggungku, mengangkat daguku, dan menatap lurus ke dalam matanya yang gelap.
Aku menantangnya.
Ya, aku baru saja menyabotase adikmu, kataku lewat tatapan mataku. Ya, aku baru saja melakukan sesuatu yang jahat. Apa yang akan kau lakukan? Menghukumku?
Kami saling bertatapan selama lima detik yang terasa seperti lima abad.
Angin malam berhembus dari jendela yang terbuka, menggerakkan gorden sutra di belakangnya.
Ciarán berkedip sekali. Lambat.
Dia tidak berteriak. Dia tidak bertanya, "Apa yang kau lakukan di sana?"
Sebaliknya, dia mulai berjalan lagi. Melangkah ke arahku.
Langkahnya berat dan lelah. Dia berjalan mendekat, semakin dekat, hingga aku bisa mencium aroma sandalwood dan scotch yang menempel di bajunya.
Aku menahan napas, tubuhku menegang, bersiap jika dia mencengkeram lenganku.
Tapi dia tidak berhenti.
Dia berjalan melewatinya begitu saja.
Tepat saat bahunya sejajar dengan bahuku, dia memiringkan kepalanya sedikit ke arahku. Tanpa menghentikan langkahnya, tanpa menolehkan wajahnya, dia membisikkan satu kalimat dengan suara serak yang membuat bulu kudukku merinding.
"Jangan tinggalkan jejak sidik jari."
Lalu dia terus berjalan, menuju kamarnya di ujung lorong, seolah-olah percakapan itu tidak pernah terjadi.
Aku berdiri mematung di kegelapan.
Kakiku terasa lemas. Aku harus bersandar pada pintu kamar Isabella agar tidak jatuh.
Dia tahu. Dia tahu persis apa yang kulakukan. Dia tahu aku baru saja merencanakan kehancuran adiknya.
Dan dia tidak melarangku.
Dia tidak marah. Dia tidak jijik.
Dia memberiku saran.
Sebuah senyum kecil, gemetar, dan sedikit gila terukir di bibirku.
Di rumah yang penuh dengan musuh ini, di mana semua orang ingin menginjakku... Ciarán Vane baru saja memberiku izin untuk menggigit balik.
Dia mengizinkanku menjadi monster.