NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Di Tepi Jurang Keputusan"

Ketika mobil mulai melaju dari depan rumah nenek, Dewi masih melambai-lambai sampai sosok nenek dan Rafi hilang di kejauhan. Ibundanya duduk di kursi pengemudi, fokus mengemudi sambil kadang menyapanya dengan lemah. “Tenang ya, sayang. Kita akan kembali lagi nanti,” ujar ibunya.

Dewi mengangguk, tapi hatinya masih penuh dengan campuran perasaan. Dia menutup mata, mencoba untuk merenungkan semua kenangan di desa. Tapi tiba-tiba, mobil ibunya tiba-tiba bergerak miring. “Aduh, apa ini?” ujar ibunya dengan suara yang cemas. Dia mencoba mengendalikan mobil, tapi roda depan terasa licin. “Sayang, jaga diri mu!”

Sebelum Dewi sempat bereaksi, mobil tiba-tiba meluncur ke tepi jalan yang menurun ke lereng. Ibunya menekan rem sekuat tenaga, tapi jalan yang basah karena hujan semalam membuat mobil terus meluncur. “Tuhan, tolong!” seru ibunya, mata penuh ketakutan.

Dewi merasa darahnya beku. Dia melihat lereng yang curam di depan, dengan pepohonan yang lebat. Tiba-tiba, mobil berhenti dengan keras—roda depannya terjepit di antara dua batang pohon yang besar. Kedua mereka terdiam sebentar, menangkap napas dengan terengah-engah, terkejut dan lega karena tidak ada yang terluka.

“Ibu, kamu baik-baik saja?” tanya Dewi dengan suara yang gemetar.

Ibundanya mengangguk, keringat membasahi dahinya. “Baik saja, sayang. Kamu? Sudah tidak takut ya?”

Dewi mengangguk, tapi hatinya masih berdebar-debar. Mobil terlihat tidak bisa digunakan lagi—roda depan bengkok, dan bingkai mobil sedikit retak. “Sekarang apa yang kita lakukan, Bu? Kita di tempat yang terpencil, tidak ada orang lain.”

Ibundanya mengambil ponsel, coba menghubungi ayah atau bantuan. Tapi layar ponsel menunjukkan sinyal tidak ada. “Sayang, sinyalnya hilang. Kita harus keluar dan mencari bantuan ke desa terdekat.”

Mereka keluar dari mobil, menginjak di tanah yang basah. Lereng itu curam, dan jalan pulang ke jalan utama terasa sulit. Dewi membantu ibunya berjalan, karena kakinya terasa lemah setelah kejadian tadi. Mereka berjalan selama sekitar setengah jam, sampai akhirnya melihat sebuah desa kecil yang tersembunyi di lereng.

Desa itu sangat kecil, hanya ada beberapa rumah sederhana. Mereka mendekati rumah pertama yang menyala cahaya, dan menekan bel. Seorang pria tua dengan janggut putih membuka pintu, melihat mereka dengan wajah yang heran. “Ada apa ya, nak? Kamu berdua terlihat kesusahan.”

Ibundanya menjelaskan kejadian yang terjadi, dan meminta bantuan untuk memanggil penarik mobil atau bantuan darurat. Pria tua itu mengangguk dengan ramah. “Baiklah, datanglah masuk duluan. Aku akan menelepon bantuan. Ini malam, kamu berdua bisa tidur di sini.”

Mereka memasuki rumah yang sederhana, penuh dengan bau kayu dan rempah. Istri pria tua itu, seorang wanita tua yang ramah, menyajikan teh hangat dan makanan ringan. “Tenang ya, nak. Bantuan akan datang besok pagi. Malam ini kamu berdua istirahat di sini.”

Malam itu, Dewi tidak bisa tidur. Dia duduk di teras rumah, memandang langit malam yang penuh bintang. Kejadian yang mendebarkan tadi membuat dia merenungkan banyak hal. Dia berpikir tentang neneknya, tentang Rafi, tentang ayah yang menunggu di rumah. Dan terutama, tentang keputusan yang dia harus ambil tentang Arif.

Dia membayangkan Arif yang berdiri di teras rumahnya, menunggu dia pulang. Dia berpikir tentang semua kesedihan yang dia alami bersama Arif, tapi juga tentang rasa sayang yang masih ada di hatinya. Dia berpikir tentang kebahagiaan yang dia temukan di desa neneknya, tentang Rafi yang membuatnya merasa hidup lagi.

“Kamu tidak bisa tidur ya, nak?”

Suara itu membuat Dewi terkejut. Dia melihat pria tua yang telah membantu mereka berdiri di belakangnya. “Ya, Pak. Aku terlalu terkejut dengan kejadian tadi. Dan juga ada banyak hal yang harus aku pikirkan.”

Pria tua itu duduk berdampingan dengan dia, menyeduh teh. “Aku tahu rasanya, nak. Kadang kejadian yang mendebarkan membuat kita merenungkan apa yang penting di hidup kita. Apa yang membuatmu bingung?”

Dewi mendekati pria tua itu, merasa ingin menceritakan semua masalahnya. Dia menceritakan tentang Arif, tentang perjalanan ke desa neneknya, tentang Rafi, dan tentang keputusan yang dia harus ambil.

Pria tua itu mendengarkan dengan cermat, matanya penuh pemahaman. Setelah Dewi selesai bercerita, dia menghela nafas panjang dan melihat ke arah langit malam yang penuh bintang. “Nak, keputusan itu selalu sulit—seperti berdiri di tepi jurang, tidak tahu mau melangkah kemana,” ujarnya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Tapi yang paling penting, jangan biarkan rasa sayang pada masa lalu menghalangimu menemukan kebahagiaan di masa depan. Jangan paksakan diri untuk memilih apa yang orang lain inginkan—kebahagiaan itu milikmu sendiri, dan hanya kamu yang tahu apa yang terbaik untuk hatimu.”

Kata-kata si kakek tua itu seperti cahaya di kegelapan, membuat Dewi merasa tenang. Dia menyadari bahwa dia sudah punya bayangan apa yang harus dia lakukan, tapi rasa takut masih membelenggu hatinya. “Terima kasih, Kakek,” bisik dia, mata berkaca-kaca. “Aku rasa aku tahu apa yang harus aku lakukan, tapi aku takut—takut salah, takut menyakitkan orang, takut kehilangan apa yang sudah ada.”

Si kakek tua memegang tangannya dengan lemah. “Takut itu wajar, nak. Tapi hidup itu tak akan berjalan lancar tanpa mengambil risiko. Besok pagi, ketika kamu pulang, ingatlah: kebahagiaan itu ada di depanmu, bukan di belakang.”

Esok pagi, bantuan tiba. Penarik mobil mengangkat mobil mereka yang rusak, dan seorang pengemudi disiapkan untuk membawanya pulang ke kota. Sebelum pergi, si kakek tua melambai-lambai dengan senyum. “Semoga keputusanmu benar, nak. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari.”

Perjalanan pulang terasa lebih lambat daripada biasanya. Dewi duduk di kursi belakang, memikirkan nasihat si kakek tua. Setiap kata itu terngiang-ngiang di hatinya, membuat dia semakin yakin tapi juga semakin takut.

Ketika mobil memasuki kota dan mendekati rumahnya, Dewi melihat Arif yang berdiri di teras. Dia memakai baju yang rapi, wajahnya terlihat kurus dan lesu, tapi mata dia penuh harapan. Dia segera mendekati ketika mobil berhenti, langkahnya cepat. “Dewi, kamu pulang!” serunya dengan suara yang bergetar. “Aku sudah menunggu setiap hari, menunggu kamu memberi kesempatan terakhir padaku. Aku sudah berubah, Dewi—benar-benar berubah.”

Dewi turun dari mobil, langkahnya sedikit goyah. Dia melihat Arif, melihat wajah yang dia kenal selama ini, wajah yang pernah membuatnya senang dan juga menyakitkan. Pikirannya terbang ke desa neneknya, ke Rafi yang selalu ada untuknya, ke kebahagiaan yang dia temukan di sana.

Dia ingat nasihat si kakek tua: “Jangan biarkan rasa sayang pada masa lalu menghalangi mu.” Tapi di sisi lain, dia melihat harapan di mata Arif—harapan yang sulit untuk diabaikan.

Hati Dewi terasa terbelah dua. Dia tahu bahwa saat ini adalah saatnya untuk membuat keputusan final. Tapi apakah dia akan memilih untuk memberi kesempatan terakhir pada Arif, berharap dia benar-benar berubah? Atau apakah dia akan memilih untuk berpisah, melangkah ke masa depan yang penuh ketidakpastian tapi juga harapan?

Dia berdiri di tengah halaman, mata memandang Arif. Kata-kata yang harus dia ucapkan terjebak di tenggorokan. Semua yang dia bisa lakukan adalah berdiri dan memandang, penuh keraguan yang besar.

Keputusan apa yang akan dia ambil?

 

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!