karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Pembalasan
Malam di apartemen rahasia itu seolah berhenti berdetak. Ruangan itu hanya diterangi cahaya remang dari lampu kota yang menembus celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang sunyi. Di atas ranjang, Annelise tertidur dengan napas yang halus, namun raut wajahnya menunjukkan sedikit kegelisahan dan kerinduan.
Tepat pukul 00:45, pintu apartemen terbuka dengan suara desisan magnetik yang halus. Reynard masuk, sosoknya tampak seperti bayangan hitam yang gagah. Jas mahalnya tersampir di lengan, dan kemeja putihnya sudah tidak serapi saat ia berangkat ke Singapura. Baginya, perjalanan ke Singapura bukan sekadar urusan bisnis, melainkan sebuah permainan catur nyawa untuk memancing predator keluar dari sarangnya.
Reynard melangkah mendekati ranjang, setiap pijakannya di lantai marmer seolah tanpa suara. Ia berdiri di sana cukup lama, menatap Annelise yang terlelap. Dadanya terasa sesak oleh rasa syukur yang perih. Di kehidupan pertama, ia membiarkan wanita ini mati dalam pelukannya dengan darah yang membasahi tangannya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan seujung kuku pun menyakiti Annelise.
Ia berlutut di sisi ranjang, tangannya yang gemetar karena emosi perlahan mengusap pipi Annelise yang lembut. Reynard kemudian membungkuk, menempelkan bibirnya di kening istrinya sangat lama, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya ke sana.
Setelah membersihkan diri dengan guyuran air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang panas oleh amarah, Reynard merangkak ke atas ranjang. Begitu ia merebahkan diri, Annelise secara naluriah berbalik, mencari sumber kehangatan. Ia menyusup ke dalam pelukan Reynard, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Reynard mengunci tubuh Annelise dalam pelukan posesif, menciumi puncak kepalanya berkali-kali.
"Tidurlah, Annelise-ku," bisiknya dengan suara serak yang penuh cinta. "Saat kau bangun besok, dunia sudah tidak lagi memiliki tempat bagi mereka yang menyakitimu."
Sementara itu, di pusat kota...
Klub malam itu berdentum dengan bass yang menggetarkan dada. Seraphina berdiri di atas meja VIP, tertawa histeris dengan gelas sampanye di tangannya. Di sampingnya, Victor merangkul pinggangnya, merasa telah memenangkan seluruh aset Aethelred.
"Minumlah, Victor! Besok kita akan menjadi penguasa kota ini! teriak Seraphina sombong.
Tiba-tiba, suara musik mati total. Keheningan yang mendadak itu jauh lebih menakutkan daripada kebisingan tadi. Lampu putih dari arah pintu masuk menyambar ruangan, membutakan mata semua orang.
BRAKK!
Pasukan taktis kepolisian berseragam lengkap dengan helm dan rompi antipeluru merangsek masuk melalui setiap pintu keluar-masuk. Leonard melangkah maju dari balik barisan polisi, wajahnya dingin tak tersentuh, seperti malaikat maut bagi kedua pengkhianat itu.
"Seraphina Valerius, Victor Deville. Sandiwara kalian sudah diketahui oleh Tuan Reynard," suara Leonard menggema, penuh otoritas.
Victor, yang panik pun menarik pistol dari pinggangnya. "Mundur kalian semua! Atau aku tembak perempuan ini!" Ia menarik rambut Seraphina dan menodongkan pistol ke pelipis wanita itu.
Seraphina menjerit ketakutan, air matanya merusak riasan wajahnya yang mahal. "Victor! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!"
"Diam kau! Ini semua karena idemu yang bodoh!" Victor membentak, matanya liar mencari jalan keluar. Ia melepaskan satu tembakan ke arah lampu kristal raksasa di atas ruang VIP.
DOR!
Lampu kristal itu pecah berkeping-keping, menghujani ruangan dengan ribuan pecahan kaca tajam. Dalam kekacauan itu, Victor mencoba menyeret Seraphina menuju lorong dapur. Namun, tim penembak jitu sudah berada di posisi.
DOR!
Satu peluru mengenai kaki Victor. Pria itu tersungkur, mengerang kesakitan di atas lantai yang penuh pecahan kaca. Seraphina mencoba berlari dalam kegelapan, namun ia menabrak sosok tinggi yang berdiri kokoh di lorong belakang. Leonard.
"Mau ke mana, Seraphina?" tanya Leonard dingin.
Seraphina jatuh terduduk, tangannya berdarah karena terkena serpihan kaca. Ia melihat ke arah tablet yang dipegang Leonard, menampilkan rekaman CCTV saat ia dan Victor mencuri dokumen di mansion, bahkan rekaman suara mereka saat merencanakan mengambil dokumen penting yang ada di mansion.
"Tidak mungkin... Reynard bilang dia mencintaiku! Dia bodoh! Dia tidak mungkin setega ini!" jerit Seraphina gila.
"Dia mencintai istrinya, Seraphina. Dan kau hanyalah tikus yang ia beri makan sebelum ia jebak dalam perangkap besi," balas Leonard.
Petugas kepolisian segera menekan tubuh Seraphina ke lantai yang dingin dan kotor. Tangannya ditarik kasar ke belakang, dan bunyi klik dari borgol besi yang dingin menandai berakhirnya ambisinya. Seraphina menjerit, meludah, dan meronta saat diseret keluar melewati kerumunan orang yang kini merekam kehancurannya dengan ponsel.
Malam itu, di bawah sorotan lampu biru-merah mobil polisi, Seraphina Valerius bukan lagi calon nyonya Aethelred. Ia hanyalah seorang pesakitan yang akan membusuk di sel jeruji, sementara di tempat yang jauh, Reynard sedang mendekap erat cintanya dalam kedamaian yang tak terjamah.
orang kaya mereka harus membusuk