NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

"Rio, jamming semua sinyal komunikasi di area ini sekarang. Jangan biarkan mereka memanggil sisa pasukan kembali ke sini," perintah Raisa melalui earpiece. Tangannya bergerak lincah menyiapkan alat medis darurat.

"Sudah dilakukan. Sektor ini gelap secara digital," balas Rio sambil terus menatap layar tabletnya. Ia kemudian menekan satu protokol khusus. "Menghubungi Markas Pusat... Najam, lo masuk?"

Suara berat dan dingin Najam terdengar di frekuensi mereka. "Gue pantau. Naura dan Arkan keluar dari radar di tepi tebing. Gue sudah kirim unit transportasi udara siluman ke koordinat kalian. Waktu kalian cuma sepuluh menit sebelum protokol pembersihan Black Ledger aktif."

"Diterima, Jam. Kita mulai evakuasi," sahut Bimo.

Mereka bertiga merangsek masuk ke ruang sel. Namun, dugaan bahwa tempat itu kosong ternyata salah. Tiga penjaga elit yang ditugaskan menjaga aset eksperimen muncul dari balik ruang kontrol.

"Penyusup! Habisi mereka!" teriak salah satu penjaga sambil mengokang senapan mesin.

"Bimo, kanan! Gue kiri!" teriak Raisa.

Bimo menerjang seperti banteng. Ia tidak menggunakan senjata api, melainkan tongkat taktis elektrik. Dengan satu gerakan memutar, ia mematahkan pertahanan penjaga pertama, memberikan sengatan listrik yang langsung melumpuhkan saraf lawan.

Sementara itu, Raisa bergerak dengan presisi seorang dokter bedah. Ia menghindari tembakan dengan berguling di bawah meja, lalu melemparkan pisau lempar kecil yang hanya mengenai bahu penjaga kedua untuk melumpuhkannya tanpa membunuh. Rio, dari posisi belakang, melepaskan tembakan peluru bius yang tepat mengenai leher penjaga ketiga.

"Area bersih! Bimo, buka selnya!" seru Raisa.

Bimo menggunakan alat pemotong hidrolik portabel untuk menghancurkan kunci jeruji besi. Begitu pintu terbuka, belasan anak kecil itu meringkuk ketakutan di sudut ruangan.

"Hei, lihat gue," suara Bimo yang biasanya jenaka kini berubah menjadi sangat lembut. Ia melepas helm taktisnya agar anak-anak itu bisa melihat wajahnya. "Kita di sini buat bawa kalian pulang ke tempat yang aman. Ada yang mau naik pesawat keren?"

Seorang anak laki-laki kecil dengan kabel sensor yang masih menempel di pelipisnya menatap Bimo dengan mata berkaca-kaca. "kami..... selamat?"

Raisa mendekat, dengan cepat namun hati-hati melepaskan sensor-sensor itu. " teman teman kaka, sedang mengurus orang-orang jahat itu. Sekarang, ayo ikut kami."

Rio memberikan instruksi melalui radio. "Najam, unit transportasi sudah di posisi? Kami punya 14 subjek. Kondisi fisik lemah, butuh penanganan trauma segera."

"Unit Valkyrie sudah mendarat di titik ekstraksi 200 meter dari pintu keluar selatan. Cepat bergerak, tim darat Black Ledger mulai menyadari ada yang salah di markas mereka," laras Najam terdengar tegang. "Dan Rio... cari tahu posisi Naura. Sinyal pelacaknya hilang setelah jatuh."

Rio terdiam sejenak, menatap layar radarnya yang hanya menunjukkan titik statis di dasar jurang. "Gue akan cari mereka segera setelah anak-anak ini aman, Jam. Janji."

Mereka membimbing anak-anak tersebut melewati lorong rahasia, menjauh dari fasilitas terkutuk itu, sementara di kejauhan terdengar suara ledakan dari arah tebing.

......................

Lampu sorot dari helikopter Black Ledger menyapu dasar jurang dengan intensitas yang membutakan, mengubah gelapnya malam menjadi siang yang pucat di antara bebatuan tajam dan aliran sungai yang deras.

Puluhan tentara bayaran turun menggunakan tali rappel dari helikopter, sementara tim darat mulai menyisir pinggiran sungai dengan anjing pelacak. Suasana sangat tegang; kegagalan bukan pilihan bagi mereka yang bekerja di bawah bayang-bayang Black Ledger.

"Lapor, Komandan. Titik jatuh sudah teridentifikasi," suara seorang agen terdengar melalui radio panggil. "Ditemukan serpihan kain jaket tersangkut di dahan pohon pada ketinggian sepuluh meter, tapi subjek tidak ditemukan di area pendaratan."

Sang Komandan, seorang pria dengan bekas luka di wajahnya, melangkah kasar di atas bebatuan sungai yang licin. Ia menendang sebuah batu dengan geram. "Mereka jatuh dari ketinggian ini! Tidak mungkin mereka bisa berjalan jauh. Cari di bawah aliran air! Mungkin mayatnya terseret arus!"

Para pengejar mulai menyisir sungai sejauh satu kilometer ke arah hilir. Mereka menggunakan pemindai panas tubuh thermal scanner untuk mendeteksi keberadaan Naura dan Arkan. Namun, layar digital mereka hanya menunjukkan warna biru dingin, tanda bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia di sekitar sana.

"Ini aneh," gumam salah satu teknisi Black Ledger. "Sinyal panas mereka hilang total. Seolah-olah mereka menguap di udara atau memiliki teknologi peredam suhu yang sangat canggih."

"Periksa gua-gua di balik air terjun!" perintah Komandan.

Selama berjam-jam, anggota Black Ledger menggeledah setiap celah bebatuan, merobek semak belukar, hingga menyelam ke bagian sungai yang paling dalam. Hasilnya nihil. Tidak ada jejak kaki, tidak ada tetesan darah, dan tidak ada tanda-tanda tubuh yang terhempas.

Menjelang fajar, kabut tebal mulai turun, menyulitkan jarak pandang dan membuat operasi pencarian semakin mustahil.

"Lapor... Area sektor bawah sudah bersih. Kami tidak menemukan apa-apa kecuali jejak hewan liar," lapor pimpinan tim darat dengan suara gemetar, tahu bahwa berita ini akan menyulut kemarahan atasan mereka.

Komandan tersebut menghantamkan tinjunya ke batang pohon pinus. "Dua remaja! Satu gadis manja dan satu murid kaku! Bagaimana mungkin mereka bisa menipu seluruh tim elit Black Ledger?!"

"Tarik semua pasukan," perintah Komandan itu akhirnya dengan nada rendah yang berbahaya. "Beritahu pusat bahwa subjek dianggap hilang dalam tugas. Tapi perketat penjagaan di seluruh akses keluar hutan. Jika mereka masih hidup, mereka pasti akan muncul untuk mencari bantuan."

......................

"Semuanya tenang! Tetap di lingkaran api unggun!" teriak salah satu panitia senior, mencoba mengendalikan massa.

Namun, instruksi itu tenggelam dalam kebisingan. Perkemahan yang tadinya tenang kini berubah menjadi kekacauan total. Di sudut dekat log logistik, Nadira duduk dengan napas tersengal, wajahnya merah padam karena perpaduan antara takut dan amarah yang meledak-ledak.

"Gue nggak percaya! Gue beneran nggak percaya!" seru Nadira sambil menghentakkan kakinya ke tanah. "Kak Gibran, ketua OSIS yang dibangga-banggain itu, lari duluan? Dia ninggalin gue sama Naura di tengah hutan pas ada suara horor kayak gitu?! I mean, seriously?!"

Mika, yang baru saja sampai bersama rombongan Bimo, ikut menimpali dengan suara gemetar, "Kak Gibran emang udah ada di sini, Nad. Dia tadi lari lewat jalur kita, mukanya pucat banget langsung masuk tenda panitia. Tapi... tunggu, Naura mana?"

Nadira tersentak. Ia menoleh ke arah kegelapan hutan di belakangnya. "Tadi... tadi ada Rio. Rio bilang dia mau jagain gue dan nyuruh Naura lari duluan ke depan. Tapi pas gue sampai di sini bareng Rio, Rio bilang mau ambil air atau apa gitu... terus dia nggak balik lagi!"

"Lima orang hilang sekaligus?!" teriak Clara histeris. "Jangan-jangan mereka dibawa sama... sama suara tangisan itu? Arkan! Gue harus cari Arkan!"

"Jangan ada yang bergerak!" potong salah satu panitia dengan tegas. "Kita tunggu instruksi Kak Gibran!"

Namun, di dalam tenda utama, Gibran justru terduduk lemas dengan keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia tidak mendengar panggilan teman-temannya. Pikirannya buntu.

Harga dirinya sebagai ketua runtuh, namun rasa takutnya terhadap suara itu jauh lebih besar daripada tanggung jawabnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!