NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:317
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. hancur dan pergi

Sedangkan Ibu mertuanya, wanita itu menatap Alyssa tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Tangannya justru menggenggam erat tangan wanita asing di hadapannya seolah itulah menantu yang selama ini ia banggakan.

“Dia sudah menikah lagi,” ucap Rani dingin.

“Dan wanita itu bernama Rosa.”

Kata-kata itu seperti pisau. Menancap perlahan, tapi pasti, tepat di jantung Alyssa.

Dadanya sesak. Napasnya terengah, air mata jatuh tanpa mampu ia tahan.

Pandangannya mengabur, namun satu hal terlihat jelas bahwa Arya, suaminya, hanya menunduk diam. Tidak membela. Tidak menyangkal. Tidak melakukan apa pun.

“Kamu tahu semuanya…” suara Alyssa gemetar hebat.

“Ibu tahu semuanya, kan?”

Ia melangkah maju, menatap Rani dengan mata merah dan basah.

“Kenapa ibu diam saja? Kenapa ibu tidak menghentikannya? Bukankah ibu juga seorang wanita? Apa ibu tidak tahu rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai?”

Suara Alyssa pecah di akhir kalimatnya.

“Alyssa, ini salahku,” Arya akhirnya bicara, mencoba meraih tangannya.

Namun Alyssa menepis dengan kasar, seolah sentuhan itu membakar kulitnya.

“Jangan sentuh aku,” ucapnya lirih namun penuh jijik.

“Sudah, Arya,” Rani menyela tajam.

“Kamu tidak perlu membela istri yang tidak tahu diri. Sejak awal ibu sudah bilang, dia tidak pernah pantas untukmu.”

Kata tidak pantas membuat Alyssa tersenyum pahit.

“Aku tidak pantas…” gumamnya, lalu tertawa lirih bercampur tangis.

“Iya, Bu. Aku memang tidak pantas. Tidak pantas diperlakukan seburuk ini.”

“Kamu kurang ajar!” bentak Rani.

“ Cukup, Bu!” Alyssa meninggikan suara.

“Cukup! Selama ini aku diam saat ibu menghina aku, mencaci aku, merendahkan aku. Aku diam karena aku pikir—kalau aku bersabar, ibu akan melihat ketulusanku.”

Ia menggeleng, air matanya semakin deras.

“Tapi ternyata aku salah. Sejak awal ibu memang tidak pernah menganggap ku apa-apa.”

Rani terdiam, matanya menyala penuh amarah.

“Kamu mau tahu kenapa aku terlihat kumal?” lanjut Alyssa dengan suara bergetar. “Karena hidupku habis untuk keluarga ini. Untuk anak ibu. Untuk ibu sendiri.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Aku ingin bekerja, tapi dilarang. Katanya kasihan ibu kalau harus mengurus rumah sendirian. Jadi aku mengalah. Aku bangun paling pagi, tidur paling malam. Tanganku tidak pernah berhenti bekerja, tapi mulut ibu tidak pernah berhenti menyakitiku.”

Napas Alyssa memburu.

“Aku memasak, mencuci, membersihkan rumah. Aku tidak pernah meminta ibu membantu, karena aku tidak ingin ibu lelah. Tapi apa balasan yang aku terima? Ibu mempermalukan ku di depan tetangga. Mengolok-olok ku karena aku belum punya anak.”

Suara Alyssa pecah sepenuhnya.

“Padahal aku tidak punya anak karena aku kelelahan… dan karena ibu sendiri yang melarang! Dengan alasan keuangan belum stabil!”

Arya menatap Alyssa dengan mata membelalak.

“Bu… apa itu benar?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

Rani terdiam sesaat, lalu bersuara cepat.

“Ibu melakukan itu demi kebaikan kalian!”

“Demi kebaikan?” Alyssa tertawa pahit. “Kalau demi kebaikan, kenapa ibu memaksaku menyerah pada pengkhianatan?”

“Lalu kenapa ibu memaksaku menikahi Rosa setelah tahu dia mengandung anakku?” ucap Arya tiba-tiba, suaranya penuh kekecewaan.

Waktu seakan berhenti.

“Hamil…?” Alyssa bergumam, tubuhnya melemah.

“Dia… sudah mengandung?”

Kakinya tak lagi sanggup menopang. Ia terduduk lemas di lantai yang dingin.

“Sejak kapan kalian berhubungan?” suaranya hampir tak terdengar.

“Sejak kapan aku hanya jadi istri yang dibohongi?”

Tidak ada jawaban.

“Kenapa kamu diam saja!” Alyssa menjerit, menatap Arya dengan mata penuh luka.

“Mbak, tolong tenang… ini tidak seperti yang mbak pikirkan,” Rosa akhirnya bersuara, wajahnya pucat.

“Diam!” teriak Alyssa histeris.

“Aku tidak sudi mendengar suara wanita yang merebut suamiku!”

“Berhenti berteriak!” Rani mendekat, wajahnya sinis.

“Kamu mau tahu kenapa aku lebih memilih Rosa daripada kamu?”

Ia membungkuk, berbisik tepat di telinga Alyssa.

“Karena kamu miskin. Kamu tidak punya apa-apa. Kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami.”

Tubuh Alyssa bergetar hebat.

“Rosa punya segalanya. Dia pantas. Jadi sadar diri dan pergi dari hidup anakku.”

Air mata Alyssa jatuh tanpa henti. Ia memejamkan mata, menggenggam tangannya erat menahan rasa sakit yang hampir membuatnya hancur sepenuhnya.

Tanpa sepatah kata pun, ia berdiri dan melangkah pergi.

Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan.

“Alyssa!” teriak Arya, mencoba mengejarnya.

Namun Rosa lebih dulu menahan lengannya.

Dan Alyssa pun pergi…

meninggalkan cinta, luka, dan rumah yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!