NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Jeritan itu akhirnya mereda.

Anak kecil itu selamat.

Yun Ma menekan titik nadinya dengan jarum perak, menahan racun pemanggil agar tidak menyebar lebih jauh. Ramuan pahit disuapkan perlahan, sementara Ayin menjaga kerumunan agar tidak terlalu dekat.

Xuan berdiri sedikit menjauh.

Ia tidak ikut campur.

Namun tatapannya tidak pernah lepas dari simbol samar yang muncul lalu memudar di kulit anak itu jejak panggilan yang tidak sempurna.

“Bawa ke dalam,” kata Yun Ma akhirnya. “Aku akan menyiapkan penawar penuh.”

Kerumunan bubar perlahan, masih berbisik-bisik.

Kota Qinghe kembali tenang… di permukaan.

Namun di bawahnya, arus sudah berubah.

Saat Yun Ma menutup pintu toko dan memeriksa anak itu untuk terakhir kalinya, kesadarannya bergetar pelan.

Bukan ancaman.

Bukan peringatan.

Panggilan.

Ia menarik napas perlahan dan menutup mata.

“Ayin,” katanya lembut, “jaga di sini. Jangan izinkan siapa pun masuk.”

“Baik, Nona.”

Xuan menoleh. “Kau akan...”

“Sebentar saja,” jawab Yun Ma.

Ia masuk ke kamar dan duduk bersila.

Begitu napasnya stabil, ruang di sekitarnya runtuh dalam senyap.

Langit perak terbuka.

Ruang dimensi menyambutnya dengan sunyi yang dalam.

Tanah hitam berkilau lembut, seolah memantulkan cahaya dari sumber yang tidak terlihat. Angin tidak berhembus, namun udara terasa hidup.

Hui dan Ye sudah ada di sana.

Tidak di dekatnya.

Mereka berdiri agak jauh, di tepi wilayah yang jarang tersentuh.

Tempat yang… bahkan Yun Ma sendiri jarang datangi.

Danau Abadi.

Airnya tenang seperti cermin gelap, memantulkan langit perak tanpa riak. Tidak ada kabut, tidak ada cahaya menyilaukan hanya kedalaman yang membuat siapa pun enggan mendekat.

Danau itu tidak berbahaya.

Namun ia juga tidak ramah.

Ia adalah akumulasi.

Jejak kekuatan Yun Ma sendiri yang perlahan tumbuh selama bertahun-tahun meditasi, kesadaran, dan penerimaan.

Biasanya, danau itu hanya terlihat ketika Yun Ma masuk ke kondisi meditasi terdalam.

Hari ini… ia muncul lebih jelas.

“Kenapa kalian di sana?” tanya Yun Ma.

Hui mengibaskan ekornya, terlihat gelisah.

“Krr… krr…”

Ye berdiri lebih dekat ke tepi air, matanya menyala redup.

Bayangannya beriak, seolah danau itu memanggilnya.

Shen Yu muncul tidak jauh dari Yun Ma, alisnya langsung berkerut.

“Hui. Ye. Mundur.”

Terlambat.

Tanah di bawah kaki Hui tiba-tiba melunak.

“KR—?!”

Rubah kecil itu terpeleset.

Ye melompat refleks untuk menangkapnya.

Namun momentum menarik keduanya sekaligus.....

PLUNG.

Air danau terbelah tanpa suara tidak ada percikan, tidak ada gelombang besar.

Hui dan Ye tenggelam seolah ditelan bayangan.

“Hui..... Ye...!” seru Yun Ma, berdiri.

Shen Yu bergerak cepat, namun berhenti mendadak wajahnya berubah.

“Jangan masuk,” katanya cepat. “Danau itu....”

Danau abadi berdenyut airnya berkilau lalu… bergerak dari permukaan yang tenang, cahaya samar naik seperti benang tipis. Bukan putih, bukan hitam warna yang tidak bisa diberi nama.

Waktu terasa melambat.

Yun Ma merasakan kepalanya berdengung.

Bukan sakit.

Penuh.

Seperti ada sesuatu yang terlalu banyak masuk sekaligus.

Danau beriak.

Dua sosok muncul ke permukaan.

Hui muncul lebih dulu, terbatuk-batuk, bulunya basah namun tidak meneteskan air. Matanya membulat besar.

Ye menyusul, mendarat dengan tenang, air di tubuhnya menguap menjadi bayangan hitam tipis.

Keduanya berdiri.

Diam.

Terlalu diam.

Yun Ma melangkah cepat. “Kalian—”

“Nona.” Suara itu jelas bukan dengusan, bukan geraman tapi sebuah suara kecil, jernih, bernada tinggi.

Yun Ma membeku.

Hui menatapnya dengan mulut kecil rubah itu bergerak. “Nona… dingin. Danau ini dingin… tapi hangat.”

Hening runtuh.

Shen Yu menatap Hui seperti melihat akhir dunia.

Ye menoleh pelan. “Danau ini… adalah inti,” katanya.

Suaranya rendah.

Dalam.

Tenang.

Menusuk.

Yun Ma mundur setengah langkah.

Lalu… tertawa.

Bukan tawa kecil.

Bukan tawa tertahan.

Ia tertawa sampai bahunya bergetar dan matanya berkaca-kaca.

“Kalian… bisa bicara?” katanya, napasnya tersengal.

Hui langsung mendekat, melompat ke pangkuannya.

“Iya! Iya! Aku bisa! Aku bisa bicara! Nona dengar aku! Aku selalu mau bilang banyak hal! Banyak sekali! Tapi sebelumnya cuma bisa ‘krr’! Itu sangat menyiksa!”

“Kepalaku…” gumam Yun Ma sambil tertawa dan memegangi pelipisnya. “Ini terlalu banyak…”

Ye berdiri di sampingnya. “Kekuatan kami meningkat,” katanya datar. “Ikatan kami denganmu… menguat. Danau ini membuka segel yang bukan milik kami melainkan milikmu.”

Shen Yu mundur satu langkah.

Lalu dua.

“Tidak,” gumamnya. “Ini di luar perhitungan.”

Hui menoleh padanya. “Oh! Api Sunyi! Kau kelihatan pucat! Kau sakit?”

Shen Yu menutup wajahnya dengan lengan jubah.“Aku… perlu jarak.”

Ia benar-benar berbalik.

Menghilang.

Yun Ma tertawa lagi, lalu mengerang. “Aduh… kepalaku benar-benar pusing.”

Hui langsung panik. “Pusing?! Aku terlalu berisik ya?! Aku bisa pelan! Aku bisa sangat pelan! Nona mau aku diam? Tapi aku punya banyak cerita...”

“Diam sebentar,” kata Yun Ma sambil tersenyum lemah.

Hui menutup mulutnya dengan kedua kaki depannya.

Ye menatap Yun Ma.

“Kau bahagia,” katanya.

“Iya,” jawab Yun Ma jujur. “Sangat.”

Kesadaran Yun Ma kembali ke tubuhnya dengan lembut.

Ia membuka mata.

Ayin berdiri tepat di depannya.

Wajahnya pucat.

“Nona,” katanya terbata, “Hui… Ye…”

Hui berdiri di lantai toko.

Menatap Ayin.“Halo, Ayin.”

Ayin menjerit.

Xuan bergerak refleks, berdiri di depan Ayin.

Namun ia berhenti.

Karena Ye melangkah maju.

“Tenang,” kata Ye. “Kami tidak berubah menjadi ancaman.”

Ayin menatap mereka bergantian.

Lalu menatap Yun Ma.

“Nona…” suaranya bergetar. “Aku… aku tidak bermimpi, kan?”

Yun Ma tersenyum, masih sedikit pusing. “Tidak.”

Hui langsung mendekat ke Ayin.

“Ayin! Kau selalu bangun lebih pagi! Kau juga sering khawatir! Padahal nona baik-baik saja! Oh! Dan kau menyembunyikan permen di laci kedua! Aku tahu!”

Ayin terduduk.“Ini… ini terlalu banyak…”

Xuan berdiri diam.

Tatapan matanya tajam.

Bukan pada Hui.

Bukan pada Ye.

Melainkan pada perubahan di udara.

Pada aliran tak kasatmata yang kini jelas berputar di sekitar Yun Ma.

Dalam benaknya, satu kesimpulan mengeras.

Dunia mulai bergerak.

Dan mereka yang menginginkan kepalanya…

akan mencium ini.

Ia menutup mata sejenak.

Pasukan lama yang tertidur…

sudah bangkit.

Dan mereka akan menemukannya.

Segera.

Dan di kejauhan seseorang di balik topeng tertawa pelan.

“Ah… akhirnya.”

Bersambung.

1
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
Shai'er
waduh😱😱😱
Shai'er
pengecut 🙄🙄🙄
Shai'er
/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Shai'er
Ayin🤧💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!