Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 9
Seorang pria terbaring lemah dengan kondisi yang sangat mencemaskan, ia menatap Kenan yang berdiri dihadapannya.
Pria itu seolah ingin berbicara lalu Kenan mendekat pada pria itu tapi sebelum pria itu berbicara Kenan lebih dulu berkata.
"Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku walaupun jujur aku benar-benar tidak sengaja menabrak mu," ungkap Kenan yang sangat menyesal.
"Kau tidak perlu khawatir soal biaya rumah sakit aku yang akan menanggung biaya operasi mu, bertahanlah," lanjut Kenan.
Natan pria itu sudah tidak bisa bertahan lagi hingga Kenan semakin merasa bersalah,"Tidak perlu, aku sudah tidak kuat bolehkah aku meminta sesuatu padamu sebagai penebus dosamu padaku," tanya Kenan.
"Apapun itu akan aku penuhi, katakan saja," jawab Kenan.
Dengan napas yang berat Natan berusaha mengatakan keinginannya,"Tolong jaga istriku, dia sudah tidak punya siapapun hanya aku di hidupnya," lirih Natan.
"Aku yakin kau orang baik aku baru bisa tenang jika kau yang berada di hidupnya,"
Setelah mengatakan itu Natan perlahan menutup matanya. Kenan sempat panik tapi ia melihat di layar monitor jantung Natan masih berdetak normal.
Tombol nurse di tekan untuk memanggil dokter dan tidak lama dokter pun datang untuk memeriksa Natan.
Setelah itu dokter mengatakan jika Natan koma dan entah sampai kapan tapi yang lebih mengejutkan saat dokter juga berkata jika sangat tipis harapan untuk Natan bisa selamat.
Saat koma itulah Arumi berusaha mencari pinjaman uang untuk biaya operasi hingga ia dengan berani menemui Kenan meminta bantuan berharap Natan bisa segera operasi.
Kenan yang sedang bersandar di sofa akhirnya membuka kedua matanya setelah mengingat pesan terakhir Natan padanya. Tidak disangka istri yang Natan titipkan adalah cinta pertama nya.
"Tenanglah di sana Natan aku akan menjaganya, membahagiakan nya walaupun saat ini terasa tidak mungkin tapi aku yakin suatu saat Arumi bisa mencintaiku,"
"Satu hal Natan aku melakukan ini bukan semata karena permintaan mu untuk menebus kesalahanku yang amat ku sesali tapi memang aku sangat mencintai istrimu, Arumi ... yang kini sudah menjadi istriku. Tenang lah aku pasti akan membahagiakan dan meratukan nya," ujar Kenan berbicara pada dirinya sendiri.
"Kakak, apa kau sakit?" tanya Riana yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Tidak, ada apa? Jika mengajak ku makan aku belum lapar," Ujar Kenan yang berdiri ingin melangkah pergi.
Saat melewati Riana langkahnya terhenti,"Di bawah ada papa nya Kak Helen," cetus Riana.
Kenan berbalik,"Mau apa dia kesini?" tanya Kenan yang berbalik kembali melanjutkan langkahnya keluar diikuti Riana.
Sedangkan di halaman belakang Arumi sedang duduk di dampingi dua bodyguard dan juga Nina, sungguh pemandangan yang menyakitkan mata bagi Arumi. Karena ia sangat tidak suka di saat ia terbiasa sendiri saat ini malah banyak orang asing mengelilingi dirinya.
Arumi menarik napas dalam mengeluarkan nya pelan karena saat ini ia benar-benar tidak ada tenaga untuk mengamuk seperti kemarin.
"Bisa tidak kalian pergi tinggalkan aku sendiri, aku ingin tenang," pinta Arumi dengan nada pelan.
Mereka pun saling menatap membuat Arumi tambah malas saja melihat mereka,"Ayolah, jangan seperti orang bingung. Pergilah aku mohon," pintanya sekali lagi.
"No ... Nona, bukan kami tidak ingin menurut tapi jika Tuan tau maka ..."
"CK, sudahlah ya aku tau itu, terserah kalian saja," ketus Arumi.
Nina akhirnya pun merasa tenang dan lega,"Hmm ... Nona Arumi makan ya aku sudah masakin sosis bakar pakai saus yang sangat pedas banyak loh," Nina mendekat lalu berkata,"Itu kan makan kesukaan Nona bukan?" bisik Nina membuat kedua mata Arumi terbelalak.
"Kau tau darimana?" tanya Arumi dengan nada pelan.
"Aku tau karena stok sosis buat Nina selalu berkurang di mansion ini tidak ada yang makan apalagi Tuan dia alergi sosis Nona," terang Nina masih dengan bisik bisiknya.
"Bagaimana? Mau kan?" bujuk Nina dengan menaiki turun kan kedua alisnya.
"Ya, baiklah kau itu banyak nyuruh nya," seru Arumi.
Nina tidak pernah mengambil hati atas sikap Arumi karena ia sudah tau cerita yang sebenarnya dari Kenan. Mungkin jika ia tidak tau penderitaan Arumi ia juga akan kesal dengan sikap Ketus Arumi padanya.
Tidak lama makanan pun datang Arumi sangat senang langsung saja ia mengambil satu dan langsung memakannya dengan lahap, dari kejauhan Riana yang baru saja lewat bersama Kenan melihat Arumi yang akhirnya mau makan.
"Hebat sekali ya Nina bisa bujuk kak Arumi," ucap Riana.
"Itulah mengapa aku pertahanin dia untuk bekerja dan percayakan merawat Arumi kalau tidak mungkin aku sudah memecatnya karena dia sangat centil terkadang Bulu kuduk ku merinding jika sedang bicara dengannya," seru Kenan.
***
Bruugh
Seorang pria paru baya sedang berlutut dihadapan pria memohon agar menuruti keinginannya.
"Om mohon datanglah ke rumah sakit, temui putri om, Kenan,hiks," mohon Danu.
"Bangun om jangan seperti ini, aku benar-benar tidak bisa jika aku kesana itu hanya memberi harapan palsu saja dan membuat Helen makin terluka," Kenan membantu Danu berdiri biar bagaimana Danu adalah orang tua tidak pantas rasanya jika berlutut seperti itu padanya.
"Sekalipun itu harapan palsu setidaknya Helen bisa semangat menjalani hidup lagi. Sudah dua hari semenjak kau menolaknya ia mengurung diri di kamar bahkan ia tidak mau makan, Kenan," terang Danu.
Riana dan Kenan saling menatap ia tidak menyangka pengaruh nya besar atas penolakannya dua hari lalu, tetapi memang itu kenyataannya karena hati tidak bisa dipaksa. Padahal Kenan juga memaksa Arumi yang saat ini masih belum bisa menerima nya apalagi mencintai nya.
Danu memegangi telapak tangan Kenan dengan wajah sedihnya ia sekali lagi memohon agar Kenan mau menemui Helen.
"Om sudah kehilangan putra dari pernikahan pertama entah di mana keberadaannya dan sekarang yang om punya hanya seorang putri jika terjadi apa-apa pada Helen om tidak bisa memaafkan diriku sendiri," lanjut Danu.
"Baiklah, aku akan kesana hanya demi om," jawab Kenan tidak tega melihat Danu yang menangis di hadapannya.
Danu bisa bernapas lega ia menyeka air matanya yang sempat menetes dan berterimakasih pada Kenan. Danu memutuskan kembali karena Kenan harus mengurus Arumi dulu untuk mengganti perban di tangannya.
Kenan harus turun tangan karena Arumi tidak mau dokter mana pun menyentuh nya walaupun dirinya sangat membenci Kenan hanya dia yang ia kenal walaupun pertemuan mereka dahulu hanya sebagai atasan dan karyawan saja.
"Sudah, sekarang minum obatnya," Arumi menurut bukan karena sudah menerima Kenan tapi entah mengapa tubuh nya terasa lemah wajah pucat nya pun masih terlihat jelas.
Bagaimana tidak kedua telapak tangan nya tergores hingga ada sebagian pecahan yang menusuk ke dalam hingga darahnya terus mengalir dan ia hampir kehilangan banyak darah.
"Aku izin menemui teman ku di rumah sakit, ia wanita tapi kau tidak perlu khawatir ia hanya teman kecil ku dulu," terang Kenan ia berusaha jujur karena ingat kini ia sudah menjadi suami dan apapun itu ia akan mengatakannya.
"Pergilah, ada hubungan atau tidak bukan urusan ku dan aku juga tidak perduli," jawab Arumi.
Kenan memeluk Arumi dengan sangat erat,"Jika aku sedang tidak berada di sini aku mohon jangan melakukan hal seperti kemarin aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Kenan sedikit lirih menahan tangis Kenan mencium pucuk rambut Arumi.
Tidak ada respon pada wanita itu, tetapi ia dapat merasakan detak jantung Kenan yang seperti tidak beraturan sedikit sesak lalu Kenan melepaskan pelukannya menatap sendu pada wanita yang kali ini menatap polos padanya bukan lagi tatapan kebencian.
"Aku pergi dulu," pamit Kenan.
Arumi merebahkan tubuhnya perlahan ia sama sekali tidak melihat kepergian Kenan yang mana pria itu berbalik menatap Arumi yang sudah memejamkan matanya lalu ia pun perlahan menutup pintu dan menghilang dari hadapan Arumi.
"Hidup macam apa ini? Mengapa aku dipertemukan olehnya dan kau mengambil suamiku Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang yang jelas aku sangat merindukan Natan,hiks," batin Arumi menangis dalam diam hingga akhirnya ia menutup matanya bersamaan air mata yang menetes menemani tidurnya malam itu.
*
*
Bersambung.