Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN
"Mau kamu apa?" tanya papa dengan wajah seram dan menatap tajam pada Lovy yang baru saja sampai di rumah. Baru kali ini Lovy melihat papa menyeramkan begini, terlahir princess selalu dipenuhi segala macam kebutuhan dan keinginannya, tak pernah sekalipun dibentak, membuat Lovy keder seketika. "Papa sudah bilang saat kamu ingin menikah, papa sudah mewanti-wanti kamu untuk stop party. Kamu janji iya, tapi nyatanya video itu muncul dan lelakinya bukan suami kamu. Kamu tahu, Lovy. Hidup kamu itu diamati oleh netizen Indonesia, dan kamu harus jaga sikap. Apalagi di negara ini menjunjung kesetiaan. Bagi siapa pun yang selingkuh bakal dirujak habis oleh mereka, dan sekarang kamu mengalaminya."
"Gampang lah, Pa. Bungkam saja pakai uang papa!"
"Bodoh kamu! Ya kalau ini satu akun doang yang share, ada beberapa dan tim manajemen kamu sudah membelinya hanya salah satu. Apalagi sekarang pasti sudah banyak share-share video kamu via chat. Papa bisa saja menyuruh anak buah papa buat hentikan semua, tapi bagaimana yang sudah disimpan."
"Jalur hukum lah!"
"Seenteng ini solusi kamu, sedangkan kamu tidak bisa antisipasi sama sekali, selalu saja papa yang turun tangan. Ingat, kalau Bagas minta cerai, papa tidak akan ikut campur, karena kesalahan kamu memang fatal. Papa tidak pernah mengajarkan kamu jadi wanita murahan yang sana sini bisa ditiduri oleh banyak laki."
"Papa!" sentak mama dan Lovy kompak, tak terima kalau dibilang murahan begini.
"Papa sudah sangat bangga sekali, memiliki menantu yang baik dan reputasinya baik seperti Bagas. Bahkan papa siap meluncurkan produk kesehatan yang akan dibintangi Bagas, tapi kamu sudah merusak semua."
"Papa kenapa sih memojokkan aku terus. Padahal kesalahannya juga berawal dari Bagas. Dia masih menghubungi mantannya, dia masih cinta sama mantannya, aku gak dianggap istrinya!" Lovy tak terima disalahkan oleh sang papa, bahkan ia berteriak dengan lantang membuka permasalahan dalam rumah tangganya.
"Meski Bagas berusaha menghubungi dan cinta dengan mantannya, apa dia pernah selingkuh sampai bertemu di belakang kamu. Orangnya papa selalu mengawasi Bagas, dan dia hidupnya lempeng saja. Hanya latihan dan apartemen saja, kalau pun nongkrong dengan teman klubnya saja. Paham kamu!"
"Tapi Pa, gimana rasanya tidak dicintai suami sendiri. Nyesek Pa!"
"Kamu ini benar-benar bodoh! Kalian dekat saja cuma seminggu, langsung nikah! Mana ada bisa jatuh cinta secepat itu, ditambah kamu sudah tidak gadis lagi. Pikir pakai otak kamu. Sebelum Bagas bisa mencintai kamu, dia sudah kecewa dengan kamu!"
"Pa, tetap saja Bagas yang salah, Pa! Bukan Lovy!" kali ini mama yang membujuk papa untuk sabar menghadapi Lovy.
"Bela terus anak kamu, bela. Dia sudah tidak gadis, masih ada lelaki baik yang mau menerima, dia malah cari sensasi lain."
Lovy menunduk saja, papa sudah sangat marah. Kalau dia terus melawan bisa-bisa diusir dari rumah. Papa Lovy sudah berkali-kali mengingatkan pergaulan Lovy terutama free se* yang sering dilakukan, tapi tak mempan, dan sepertinya hukum sosial yang bisa membuat Lovy jerah.
Papa langsung terbang menuju Bagas. Ia sudah mengirim pesan untuk bertemu dengan menantunya. Meski beliau memarahi Lovy tapi saat bertemu dengan Bagas beliau juga menghajar menantunya. Bisa-bisanya masih menghubungi sang mantan.
"Urusan hati tidak bisa dipungkiri Tuan, apalagi saya mendapatkan putri Anda sudah tidak gadis lagi. Harga diri sebagai suami sah rasanya diinjak saja, saya yang sah tapi saya mendapat bekas orang lain."
"Tapi tidak seharusnya kamu mengkhianati pernikahan kalian!"
"Saya memang salah, saya memang berusaha menghubungi mantan, tapi nyatanya saya tidak ditanggapi. Mantan saya tidak mudah tergiur oleh rayuan laki-laki yang sudah menyakitinya."
"Terlalu membela dia, kamu lupa kamu sedang berhadapan dengan siapa?" Bagas tersenyum muak, sekali lagi diancam oleh mertuanya. Pernikahan macam apa ini, terlalu banyak ancaman yang dikeluarkan.
"Saya tahu resikonya, dan ya saya harus bersiap dengan konsekuensinya. Termasuk karir saya Anda hancurkan! Dan sepertinya tak perlu repot-repot karena sejak menikah performa saya sudah turun drastis, stamina saya sudah dikuras oleh putri Anda yang tak pernah mau mengerti kondisi saya ketika akan bertanding, club pun sudah mencoret nama saya dari tim utama, saya sudah beberapa kali duduk sebagai lapis dua. Silahkan kalau mau menghancurkan saya sekalian," ujar Bagas sudah pasrah, kalau dengan menumbalkan karirnya dia bisa terlepas dari keluarga ini, maka ia akan melepasnya dan memulai kembali karir yang sudah ia bangun.
Bagas sadar sekali, pernikahan yang tidak didasari alasan karena Allah, ya begini. Berefek pada keberkahan hidup, ah kalau sudah begini Bagas sangat ingat apa kata Kyara, gadis baik itu selalu mengajarkan Bagas untuk mengawali semuanya dengan bismillah. Kya, aku menyesal melepas kamu.
Papa Lovy pun mengambil tindakan, beliau benar-benar menutup akses karir Bagas. Tiba-tiba kontrak kerja klub dihentikan, meski kurang beberapa minggu lagi. Belum lagi ambasador sepatu olahraga juga memutus kontrak kerja dengan Bagas, dan beberapa endorsement yang secara sepihak memutus kerja sama dengan Bagas.
Bagas sudah terima dengan ikhlas, karena papa Lovy menyetujui perceraian yang diajukan oleh Bagas. Tak perlu lama putusan cerai pun sudah dikantongi Bagas. Ia benar-benar dirumahkan, dan tidak dipanggil oleh pelatnas atau dilirik oleh club lokal.
"Sabar ya!" ucap ibu Bagas sembari menepuk paha sang putra. Beliau tentu saja ikut merasakan kesedihan sang putra, berjuang dari 0 tapi bisa dihancurkan dalam waktu sekejap. Terlebih usia Bagas masih 21 tahun, terlalu muda untuk pensiun dari atlet.
"Gak pa-pa, Bu. Mungkin Bagas disuruh istirahat dulu, dan kumpul dengan keluarga!" ujar Bagas pasrah.
"Uang yang setiap bulan kamu beri ke ibu dan ayah, sudah ibu simpan dalam bentuk emas dan tanah perkebunan," ujar Ibu yang siap memberikan kembali aset yang pernah Bagas berikan.
Bagas tersenyum lembut. Mungkin ibu mengira uang Bagas langsung habis, nyatanya ia mendapat pesangon dari club dan upah menikah dari orang tua Lovy juga tak sedikit, setidaknya cukup untuk pegangan satu tahun. Belum lagi uang hasil endorse selama ini, disimpan Bagas di saham. Jadi finansial Bagas masih aman.
"Alhamdulillah, kalau ibu mengelola dengan baik. Pakai saja, Bu. Bagas masih aman kok." Apalagi Bagas juga tak punya hutang maupun kreditan, sungguh ia belajar dari Kyara. Gadis itu sangat bijak memberi nasehat soal investasi yang ditiru dari sang kakak, sehingga Bagas pun terselamatkan akan kondisi sekarang.
Kamu memang yang terbaik, Kya. Sayangnya aku menyia-nyiakan kamu. Sudah terlalu banyak kebiasaan baikmu yang aku tiru, tapi aku tega mengecewakan kamu. Maaf banget, sekarang aku merasakan patah hati ini.