seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
di ruangan rapat tertutup, di sana sudah ada Ashan, Yamin dan Sait yang merupakan pemimpin tentara bawah.
"Kamu tau kenapa saya memanggilmu kemari Tentara Sait"tanya Ashan di hadapan Sait. saat itu duduk dengan mengangkat satu kakinya dan menatap tajam ke arah Sait.
sorot mata Ashan yang tajam membuat Sait menunjukan wajah serius dengan posisi siap di hadapan Ashan. "menjawab Pangeran. Yamin sudah memberitahu saya bahwa ada segerombolan pemberontak yang ingin menyerang kerajaan Al-Khansa, dan ia meminta saya pergi bersama dengan Pangeran untuk melihat langsung tempat para pemberontak tersebut, dan semua yang Pangeran butuhkan sudah saya siapkan dengan baik, Pangeran"tutur Sait dengan lantang.
"bagus, kita akan berangkat besok pagi, persiapkan semua tentara, buat diri kalian mirip dengan mereka, karena kita akan mendekati mereka secara langsung"pungkas Ashan langsung berdiri dari singgasananya.
"ah iya? Yamin apa kamu sudah menyiapkan kamar saya dan Tiffany di bagian timur?, dia sudah pasti kelelahan"tanya Ashan kepada Yamin.
"ya! Sudah saya siapkan, tapi Pangeran, kenapa kamu meminta saya untuk memindahkan tempat tidur kalian di bagian timur sementara di kamar utama masih sangat terlihat baik"tanya Yamin penasaran, apalagi ia tau bahwa malam ini Ashan akan bermalam bersama Tiffany di dalam satu kamar.
"Sang Ratu, dia semakin kelewatan mengurusi hidup saya"ucap Ashan memandang kosong ke sebuah tempat. "yah! Beritahukan kepada Ratu, berhenti mengurusi hidup saya jika ingin hidupnya tetap seperti sekarang!"perintah Ashan kepada Yamin, dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Sait yang penasaran lantas menanyakan pembicaraan Ashan dan Yamin tadi, namun Yamin langsung membuang pandangan malas dan meninggalkannya dengan kesal. itu langsung membuat Sait menatapnya dengan ekspresi bingung juga marah.
"saya tidak percaya anak kecil seperti dia, bisa menjadi tangan kanan Pangeran"gumam Sait yang juga meninggalkan ruangan rapat tertutup tersebut. untuk mempersiapkan apa yang di minta oleh Ashan tadinya.
Singkatnya malam pun tiba, Saat itu Tiffany sudah di bawa oleh Ashan menuju kamar bagian timur. Yang jaraknya cukup jauh dari kamar Tiffany yang sebelumnya.
"kamu ingin membawaku kemana Ashan malam-malam ini?"tanya Tiffany sedikit merasa takut karena pencahayaan di lorong menuju kamar tersebut cukup gelap
*Yamin! Anak ini! kenapa ia menggelapkan seluruh lorong kamar!*teriak Ashan kesal akan persiapan Yamin di dalam hatinya.
"tenanglah sayang, berpegangan di tangan saya, kita hampir sampai"ucap Ashan mencoba menenangkan Tiffany dan melangkah perlahan menuju kamar mereka.
Memakan waktu beberapa menit agar Ashan bisa menemukan kamar yang di maksud itu, dan saat ia membuka pintu kamar tersebut. Lorong saat mereka menuju kamar tersebut langsung terlihat jelas karena cahaya di dalam kamar yang begitu terang.
itu juga membuat Tiffany terpukau dengan aksen kamar yang memikat matanya. "waaaah... sebuah kamar? Apa ini kamar ku yang baru?"seru Tiffany sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan Ashan dan berjalan mendahului Ashan.
"hm? Benar sayang, ini kamar kita"jawab Ashan menatap puas ruangan kamar yang di atur oleh Yamin.
"wah! Eh_"ucapan Tiffany terhenti saat ia kembali mengingat ucapan Ashan "tunggu dulu! Tadi kamu bilang kamar kita?"tanya Tiffany menatap mata Ashan dengan kaget.
"yaah? Ini kamar kita? ada apa sayang? Bukankah lebih baik kita tinggal sekamar agar tidak akan ada lagi orang ketiga yang berani masuk dan mengganggumu"ucap Ashan dengan santainya.
"wait!!! Ashan!? Bagaimana bisa kita tinggal sekamar, kita belum menikah Ashan! Kita hanya sedang_"ucapan Tiffany terhenti saat ia ingin mengatakan pengakuannya di hadapan Ashan *aduh! Masa ia aku harus mengatakan kita sedang berpacaran, berarti aku benar-benar mengakui dirinya sebagai kekasihku... Malu dong... Aaah Tiffany!!!*batin Tiffany sedikit merasa gundah dengan ucapannya selanjutnya.
"apa yang sedang kamu pikirkan sayang. Kemari ada yang ingin saya katakan kepadamu"lirih Ashan menarik tangan Tiffany, menuju kasur besar.
Saat itu Tiffany menolak tarikan tangan dari Ashan, namun Ashan hanya dengan tawanya yang kecil ia langsung mengangkat tubuh kecil Tiffany seperti anak kecil membuat Tiffany berteriak ketakutan.
"bukan saja keras kepala, tapi juga keras suaranya, haha"seru Ashan berjalan membawa Tiffany ke kasur besar yang kainnya berwarna putih bersih dan di jahit dari benang emas.
ia pun langsung menurunkan dan menduduki Tiffany tepat di samping kasur, sementara ia berlutut tepat di hadapan Tiffany sambil menggenggam tangannya.
itupun berhasil menghentikan teriakan Tiffany walau nafasnya masih teresak-esak karena kelelahan berteriak.
"jangan takut sayang, saya tidak akan menyentuhmu sampai kamu sendiri yang mengijinkannya, dan benar, ini kamar kita. Saya meminta Yamin untuk memindahkan kamar kita jauh dari kamar sebelumnya agar kamu tidak akan cemburu lagi_"
"_aku tidak cemburu"potong Tiffany.
"baiklah... sayang"ucap Ashan sambil tersenyum tipis.
"saya membawamu ke sini karena ada yang ingin saya sampaikan kepadamu sayang"sambung Ashan.
"hm? Apa itu?"tanya Tiffany mulai penasaran.
dengan wajah sedikit ragu, Ashan pun mulai memberitahukan tujuannya bermalam dengan Tiffany pada malam ini.
"Alasan saya ingin bermalam denganmu di kamar ini, karena besok saya harus pergi, ada beberapa masyarakat saya yang sedang melakukan pemberontakan besar-besaran.Hal itu membuat saya sendiri yang harus turun tangan memberantas mereka pada besok hari, saya tidak tau saya akan pulang dengan selamat atau tidak, itu mengapa saya memohon untuk biarkan saya bermalam dengan mu malam ini sekali saja, bisa saja jika saya masih hidup saya akan pulang dan kamar inilah yang akan pertama kali saya datangi karena ada kamu di dalamnya, jadi saya mohon tolong izinkan saya untuk tidur denganmu malam ini disini?"pinta Ashan setelah menjelaskan semuanya kepada Tiffany.
"omong kosong! kamu akan tetap hidup Ashan, kamu tidak boleh pergi, aku tidak akan mengizinkan hal tersebut terjadi"ucap Tiffany tegas dengan matanya yang memulai memerah karena menahan air mata.
"haha, baiklah... Saya tidak akan pergi, saya akan tetap hidup untukmu"lirih Ashan sambil menatap wajah Tiffany dengan penuh kasih sayang.
Bujukan Ashan akhirnya berhasil membuat Tiffany luluh, ia pun mengizinkan Ashan untuk bermalam di satu kamar bersamanya, mengetahui bahwa Tiffany mengizinkannya untuk bermalam dengannya, tentu membuat Ashan sangat bahagia, ia berharap malam itu akan menjadi malam yang panjang untuknya.
Mereka pun menghabiskan malam itu bersama di satu kasur, hanya berbaring tanpa menyentuh dan menceritakan banyak hal. Ashan menceritakan pekerjaannya dan rekan-rekan yang selalu membuatnya senang dan marah, dan Tiffany menceritakan kehidupannya di negaranya. Sampai Tiffany benar-benar mengantuk dan tertidur di samping Ashan.
Ashan yang pada saat itu belum tertidur, mulai menatap wajah kecil Tiffany dan tidak di ketahui Tiffany, Ashan melayangkan kecupan mesra di kening Ashan dan mengatakan "selamat malam sayang, sepertinya, besok kamu akan terbangun tanpa melihat saya, tapi walau begitu, saya berjanji akan kembali hidup-hidup"bisik Ashan sambil memejamkan kedua matanya dan tertidur menyamping menghadap Tiffany.
...----------------...
Malam yang tenang di istana Al-Khansa tentu tidak bagi beberapa orang, karena nyatanya pada saat mereka tertidur, ada beberapa pemberontak yang sudah berhasil masuk ke dalam istana pada malam itu.
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍