NovelToon NovelToon
Terjerat Pernikahan

Terjerat Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Menikah dengan Musuhku / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ismi Sima Simi

Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?

Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.

Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keras Kepala

Nara menjauhkan diri dari pelukan Gema. Gadis dengan wajah yang sudah sangat sembab itu menatap Gema sambil menautkan kedua alisnya.

"Buka pintunya," perintahnya dengan nada datar.

Gema menuruti perintah Nara dengan membuka kunci pintu mobilnya. Nara keluar dengan segera setelah berhasil membuka pintu dan menutupnya kembali dengan kencang hingga menimbulkan suara yang cukup keras, sampai-sampai Gema menutup mata saat pintu itu tertutup.

"Dia sangat keras kepala. Tante aku sudah berusaha menolong dan melindungi anak-anakmu, tapi dia sendiri yang tidak mau. Jadi tolong jangan menghantui aku lagi," gumam Gema sambil mengusap kasar wajahnya.

Gema menatap Nara yang sudah masuk ke dalam rumah sakit. Dengan segera pria berpostur tubuh atletis itu menyusulnya. Melihat Nara yang berjalan dengan cepat sambil sesekali mengusap pipinya, membuat Gema tahu dengan pasti bahwa gadis itu masih tidak bisa menghentikan air matanya.

Aku tau semua ini pasti sudah melukai perasaan dan harga dirimu, tapi tidak ada cara lain untuk menghadapi kekeraskepalaanmu dan ayahku. Apalagi wanita tua itu, dia bisa melakukan apapun demi nama baik keluarga.

Gema mengikuti Nara yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya tersebut. Gadis itu terus saja berjalan dengan menundukkan kepalanya, sepertinya berjalan sambil menunduk sudah menjadi kebiasaan baginya. Hal tersebut jelas sekali menunjukkan bahwa banyak beban yang sedang dia pikul. Langkah Nara terhenti saat sampai di depan pintu ruang perawatan Kiyana. Dia melihat Paman Sam yang sedang duduk di samping ranjang adiknya, sambil menatap sayu gadis kecil yang sudah tertidur lelap tersebut.

Dengan perlahan Nara masuk ke dalam dan berjalan menghampiri Paman Sam yang sudah menyadari kedatangan Kinara.

"Terima kasih sudah menjaga adik saya, anda bisa pergi sekarang," ucap Nara tanpa menatap Paman Sam dan hanya menatap lurus ke wajah Kiyana.

"Baik, Nona." Paman Sam beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Dalam diam, Gema masih terus memperhatikan Nara dari balik kaca pintu berukuran 80x200cm tersebut. Pandangan pria berjas hitam itu teralihkan saat pintu terbuka. Paman Sam keluar dari ruangan dan memberikan salam pada tuan mudanya itu.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Gema kembali menatap ke arah kakak beradik itu.

Paman Sam terlihat sedikit mengangkat alisnya dengan pertanyaan Gema. Baru kali ini orang tua itu melihat tuan mudanya begitu peduli dengan orang lain. Dia tidak seperti biasanya, seorang pria dingin yang tidak pernah mau tau urusan orang lain. Namun kali ini Gema menunjukkan sisi lain dari dirinya. Sorot mata pria tampan itu sangat jelas menunjukkan kekhawatiran.

"Tadi saya sempat berbicara dengan dokter yang menangani gadis kecil itu, kondisinya sudah mengkhawatirkan. Ginjal gadis kecil itu hampir tidak berfungsi, dia harus mendapatkan donor secepatnya," jelas Paman Sam yang ikut melayangkan pandangan pada Kiyana.

Gema membeliakkan matanya menatap Paman Sam. Apa yang harus aku lakukan? Dia tidak bisa kehilangan lagi, apa yang akan terjadi padanya jika gadis kecil itu juga pergi meninggalkannya. Dan ibu itu ... dia juga pasti akan marah jika aku tidak menolong putrinya. Gema mengepalkan kedua tangannya erat, jantungnya serasa hampir berhenti berdetak memikirkan hal tersebut.

"Ayo pergi." Gema melenggang pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang terlihat frustasi.

Paman Sam mengekor di belakangnya tanpa berkata apapun. Suasana lorong rumah sakit itu sangat sepi, bahkan suara ketukan sepatu mereka bisa terdengar jelas menggema. Gema menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang tidak asing baginya berjalan dari arah berlawanan.

Bukankah dia pria tadi? Mau apa dia ke sini malam-malam begini? batin Gema mengernyitkan dahinya.

Farel berjalan dengan gagah menuju ruang perawatan Kiyana. Dia yang sama sekali tidak tahu Gema hanya melewatinya begitu saja tanpa dia sadari tatapan tajam yang pria itu tunjukkan padanya.

Haiish! Apa urusanku, dia siapanya gadis itupun aku juga tidak akan peduli. Gema melanjutkan kembali langkahnya.

Nara duduk termangu di samping Kiyana. Sesekali gadis dengan bermata sebab itu memijit-mijit kepalanya yang terasa berat. Ingatan tentang tawaran Gema seakan terus berulang-ulang muncul di kepalanya. Dia merasa Gema mungkin tidak seburuk yang dia pikirkan selama ini, perlakuan dan perkataan pria itu begitu manis hari ini, seolah di benar-benar ingin mempertanggungjawabkan semuanya.

Namun, tiba-tiba jantung gadis cantik itu berdegup dengan cepat saat ingatan tentang momen di dalam mobil tadi terlintas. Pelukan Gema terasa begitu hangat dan nyaman baginya, seumur hidup Nara baru kali ini dia merasakan pelukan seorang pria. Gadis itu memejamkan mata, mencoba membayangkan dan merasakan kembali dekapan hangat pria yang sangat asing baginya. Nara tidak memungkiri bahwa hal itu membuat dirinya merasa lebih tenang.

Drrt ... drrt ...

Getaran ponsel dari dalam sakunya menyadarkan gadis itu dari lamunan indahnya. Kinara menyalakan layar ponsel berwarna hitam itu, alisnya sedikit terangkat saat melihat nomor asing yang meneleponnya.

"Hallo," sapa Kinara.

Hei, kau gadis bod*h! Aku dengar kau menolak tawaran dari suamiku, berani sekali kau, ya. Harusnya orang miskin sepertimu itu bersyukur bisa mendapatkan sebanyak itu, jangan munafik! Apa kau ingin menjual diri untuk pengobatan adikmu? Apapun yang kau lakukan, kau tidak akan bisa menjatuhkan putraku, ingat itu! jawab Ibu Laras dari seberang telepon.

Nara mengepalkan tangannya erat. Jika saja lawan bicaranya itu berada di hadapannya, ingin sekali dia menjambak dan mencabik-cabik mulut wanita tua yang sudah menghinanya itu. Amarah Nara sudah sangat membuncah, mukanya memerah karena menahan emosi yang begitu besar.

"Nyonya Laras Mahardika yang terhormat, Anda tenang saja, tidak perlu khawatir. Saya akan pastikan kasus ini cepat ataupun lambat akan tercium oleh publik dan akan saya bawa ke meja hijau. Semoga Anda menikmati pertunjukannya," pungkas Nara dan langsung menutup sambungan teleponnya begitu saja.

Kembali air mata lolos dari kedua netranya. Hati Nara terasa sangat pedih. Dengan sangat tiba-tiba begitu banyak luka yang harus dia terima.

Rasanya ingin sekali aku menyerah dengan semua keadaan ini. Aku ingin menyusul kalian saja Bu, Yah. Tapi aku tau itu tidak mungkin bisa aku lakukan. Aku tidak pernah bisa melakukan apapun seperti yang aku inginkan.

Nara menundukkan kepala dalam dan menenggelamkannya di antara kedua siku. Bahunya terguncang akibat tangisan yang coba Kinara tahan.

"Ra, kau kenapa?" Farel yang baru saja masuk menghampiri sahabatnya itu.

"Ada apa? Kenapa kau seperti ini? Katakan padaku," ucap Farel dengan nada khawatir.

Pria dengan tinggi badan 175cm itu berjongkok di samping kursi Kinara. Dia berusaha melihat wajah sahabatnya yang masih berusaha di sembunyikan dengan membuang muka darinya. Tangan Nara berusaha menyapu air mata dari kedua pipi mulus itu.

"Apa kau teringat orang tuamu?" tanya Farel penasaran.

Kinara hanya mengangguk perlahan. Dia tidak sanggup membuka mulut, karena setiap kali mulut itu terbuka hanya tangisan yang keluar.

Farel memilih diam, dia ingin memberikan waktu pada Kinara untuk menenangkan diri. Ya, dia paham bagaimana perasaan Kinara saat ini. Seorang gadis tiba-tiba ditinggal orang tuanya dan harus merawat seorang adik yang sedang sakit keras. Pasti sangat sulit baginya melewati semua ini. Farel meraih tangan Nara dan menggenggamnya, dia mencoba memberikan semangat untuk gadis itu.

Bersambung ....

**************************************

Haii, terima kasih sudah setia membaca novel Simi. Mohon dukungannya untuk karya Simi ini dengan cara :

- Klik tombol like di bawah sampai gambar jempolnya berubah merah.

- Klik gambar hati juga di samping like

- Kasih komentar juga tentang novel ini

- Jangan lupa juga kasih Vote yaa, seikhlasnya

- Terakhir, kalau kalian suka sama novel Simi kasih rating bintang 5 juga yaa di gambar bintang.

Terima kasih banyak semua, salam sayang dari Simi ....

1
Shifa Burhan
berani novelis wanita buat cerita kayak gini tapi dibalik istri yang berantem dengan sahabat wanita suaminya dan suami tidak membela siapapun

berani tidak author buat scen kayak gini
raqeela cantiq
sebel nsnsk lampir
raqeela cantiq
bagus bgt ceritanya
raqeela cantiq
cerita nya bagus thor
Siti qomariah
karya yang nagus
Siti qomariah: karya yang bagus
total 1 replies
shadowone
sangat rekomended, ceritanya bagus, cerita kekeluargaan tanpa pelakor. Jadi bagi lima bintang.
shadowone
aku panasaran kisah cintanya tahta. lepas ini akan survey tahta.
shadowone
🤣🤣🤣🤣
shadowone
jangan2 farel kecelakaan juga.
shadowone
terpaksa komentar jadi takut sama parang ibu ibu itu hahahahah.
shadowone
160 itu suda tinggi apalagi kalu badan kurus. yg munggil itu 150-155
ririe
tdk bertele²
Dwi Budianti
gak kuat 😭😭😭😭
Deo FR
bagus
Maya Ratnasari
tembakan hanya mengenai jantung, itu bukan "hanya" Thor, itu mah langsung menyebabkan kematian. mungkin maksudnya, nyaris mengenai jantung.
Maya Ratnasari
aku.
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.

Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.
Maya Ratnasari
GPS
Maya Ratnasari
oh. ukuran pintu segitu ya Thor, aku ngga pernah tau ukuran standar untuk pintu.
Maya Ratnasari
itu yg ngancem pake panci, visual nya kak simi?
Maya Ratnasari
tadi dua puluh dua tahun, sekarang dua puluh tahun. yang bener yang mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!