NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minta Dirga Saja Yang Urus

...****************...

Lukman, Laras, dan Dirga yang tengah menunggu di dalam ruang VIP perlahan menoleh ketika pintu ruangan terbuka. Tama melangkah masuk lebih dulu dengan senyum lebar di wajahnya, di ikuti oleh Wina dan Kanaya yang berjalan tenang beberapa langkah di belakang kedua orang tuanya.

"Selamat malam, Mas Lukman," sapa Tama hangat seraya mengulurkan tangannya.

"Malam, Tama. Selamat datang," balas Lukman sambil menjabat tangan Tama dengan erat. Senyum di wajahnya tak dapat disembunyikan. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kedua keluarga itu kembali di pertemukan dalam suasana yang berbeda.

"Terima kasih, Mas."

Sementara Tama berbincang singkat dengan Lukman, Wina sudah lebih dulu menghampiri Laras. Kedua wanita itu saling bertukar senyum sebelum berpelukan singkat.

"Apa kabar, Mbak Laras?" tanya Wina.

"Baik. Kamu sendiri bagaimana?"

"Baik juga, Wina."

Kanaya yang sedari tadi berdiri dengan kedua tangan bertaut di depan tubuhnya kemudian melangkah mendekat. Dengan sopan, ia sedikit menundukkan kepalanya ke arah kedua orang yang jauh lebih tua darinya itu.

"Selamat malam...Om, Tante."

"Malam, Nak," jawab Lukman dan Laras hampir bersamaan sambil mengangguk pelan dan menatap Kanaya dengan sorot mata yang hangat.

"Sudah, jangan berdiri terus." Lukman mengulurkan tangannya ke arah meja bundar besar yang berada di tengah ruangan. "Mari kita duduk dulu."

Semua orang pun mengambil tempat masing-masing. Lukman duduk di samping Laras dengan Dirga di sebelahnya, sementara Tama dan Wina duduk berhadapan dengan mereka. Kanaya sendiri memilih duduk di antara kedua orang tuanya.

"Apa kabar, Dirga?" tanya Tama setelah suasana mulai terasa lebih santai.

Dirga yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya mengalihkan pandangannya dari gelas air di hadapannya. "Baik, Om."

"Wah..." Tama terkekeh pelan sambil menoleh ke arah Lukman. "Lihat putramu, Mas. Dia benar-benar tumbuh menjadi pria yang tampan dan sukses. Dulu terakhir aku melihatnya waktu kamu akan mengirimnya sekolah keluar negeri, kan?"

Lukman tersenyum bangga mendengar pujian tersebut. "Ya, benar. Itu terakhir kali kamu melihatnya. Sekarang...syukurlah, dia sudah menjadi kebanggaan keluarga."

Dirga hanya mengembuskan napas pelan. Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat semacam itu, tetapi malam ini entah mengapa semuanya terasa berbeda.

Tak lama kemudian, perhatian Lukman beralih kepada Kanaya yang sedari tadi lebih banyak mendengarkan percakapan orang-orang disekitarnya.

"Sebentar..." ujarnya sambil sedikit memiringkan kepala. "...dia putrimu yang dulu selalu mengajakku bermain dokter-dokteran setiap kali aku datang ke rumahmu kan?"

Tama sontak tertawa kecil. "Hahaha, iya. Ini putriku, Kanaya."

"Astaga..." Lukman menggeleng pelan sambil tersenyum. "Dulu kamu selalu bilang mau jadi dokter dan memaksaku jadi pasienmu."

Kanaya ikut tertawa kecil mendengarnya. "Apa saya selalu begitu, Om?"

"Ya...selalu," sahut Lukman yang langsung disambut tawa kecil dari semua orang di meja.

"Apa kabar, Nak? Kamu pasti sudah lupa denganku, ya?"

Kanaya menganggukkan kepalanya pelan. "Baik, Om. Dan maaf, saya memang benar-benar lupa. Sepertinya dulu saya masih sangat kecil."

"Ya, waktu itu usiamu masih sekitar empat tahun," jawab Lukman. "Jadi wajar kalau kamu tidak ingat. Dan sekarang aku bertemu denganmu lagi sebagai calon menantuku."

"Ah... begitu rupanya."

Setelah menjawab, Kanaya tanpa sadar mengangkat wajahnya. Namun, pandangannya justru bertemu dengan Dirga yang entah sejak kapan tengah memperhatikannya dari seberang meja. Tidak ada senyum ataupun sapaan dari pria itu. Hanya tatapan tenang yang sulit di artikan.

Kanaya sempat terdiam se persekian detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya lebih dulu, sementara percakapan di meja kembali berlanjut seolah tidak terjadi apa-apa.

Di sisi lain, Laras yang menyadari hal tersebut hanya tersenyum tipis dalam diam. Setidaknya, untuk malam ini, putranya tidak lagi memalingkan wajah atau menunjukkan penolakan secara terang-terangan seperti yang sempat ia khawatirkan sebelumnya.

Laras yang sejak tadi sesekali memperhatikan Kanaya akhirnya tersenyum kecil. Entah mengapa, semakin lama berbincang, semakin ia merasa bahwa perempuan yang berada di hadapannya itu memiliki pembawaan yang begitu menenangkan.

"Kanaya..."

Kanaya yang sedang merapikan ujung dressnya dibawah meja segera menoleh. "Iya, Tante?"

"Kalau boleh Tante tau, apa kesibukanmu sekarang?"

"Sekarang saya masih di sibukkan membantu beberapa pekerjaan Ayah dan beberapa bisnis yang Ibu jalankan," jawab Kanaya dengan suara lembut, membuat Laras mengangguk pelan.

"Hmm... begitu." Laras tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan, "Tapi setau Tante, kamu kuliah di jurusan Psikologi dan lulus sebagai lulusan terbaik, bukan?"

"Iya, Tante."

Mendengar hal itu, Wina yang sedari tadi hanya menjadi pendengar tak dapat menyembunyikan antusiasmenya.

"Kanaya ini sebenarnya sudah lama punya rencana membangun klinik psikologi bersama sahabatnya, Mbak Laras," ujar Wina sambil menoleh bangga ke arah putrinya.

"Oh ya?" Laras tampak semakin tertarik. "Lalu, apa rencana itu sudah terealisasikan?"

Kanaya menggeleng pelan. "Belum, Tante. Saya masih harus melanjutkan pendidikan S2, mungkin juga sampai S3."

"Bagus sekali." Laras menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Perempuan memang harus punya pendidikan yang tinggi."

"Terima kasih, Tante."

"Nanti kalau bangun kliniknya..." Laras tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah putranya yang sejak tadi lebih banyak diam sambil sesekali menyeruput air putih di hadapannya. "Minta Dirga saja yang mengurus semuanya. Ya, kan, Dirga?"

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, semua pasang mata di meja tersebut beralih ke arah Dirga.

Pria itu tampak menghentikan gerakan tangannya sejenak sebelum mengangkat pandangannya dari gelas yang berada di hadapannya. Selama beberapa detik, ia hanya menatap ibunya tanpa memberikan jawaban.

Namun, alih-alih membantah seperti yang biasa dilakukannya, Dirga hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis.

Reaksi sederhana itu justru membuat Laras sedikit terkejut.

Sementara Tama dan Wina tampak saling bertukar pandang, Kanaya sendiri memilih menundukkan wajahnya sambil menyembunyikan senyum kecil yang nyaris lolos dari bibirnya.

Di tengah suasana yang mulai terasa lebih hangat, ketukan pelan di pintu ruangan terdengar. Beberapa pelayan kemudian masuk satu persatu sambil mendorong troli berisi hidangan yang telah di pesan sebelumnya.

Aroma makanan yang memenuhi ruangan seketika membuat percakapan mereka terhenti sejenak.

"Kalau begitu, sepertinya kita bisa lanjut mengobrol sambil makan malam," ujar Lukman seraya mempersilakan semua orang untuk mulai menikmati hidangan yang telah tersaji di atas meja.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kedua keluarga itu duduk bersama dalam satu meja yang sama.

Dan entah mengapa, tanpa di sadari oleh siapa pun yang berada diruangan tersebut, sebuah kisah yang akan mengubah kehidupan Dirga Atmajaya dan Kanaya Pradipta perlahan mulai menemukan jalannya.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!