NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21.Pengamat.

Minggu demi minggu berlalu, dan perlahan namun pasti, keluhan Raisa yang tadinya terdengar setiap menit mulai berkurang. Bukan karena ia tak lagi lelah, melainkan karena tubuhnya yang dulu terbiasa hanya duduk diam dan belajar di dalam ruangan kini mulai terbiasa dengan keringat, napas yang teratur, dan otot yang semakin kuat.

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti area mata air pegunungan tempat mereka biasa berlatih. Suara air yang mengalir jatuh ke kolam batu terdengar jernih memecah keheningan. Arya duduk bersila tak jauh dari Raisa, matanya terpejam namun kesadarannya menjangkau setiap jengkal hutan di sekitar mereka. Sementara Raisa mencoba menenangkan napasnya, membiarkan uap air dingin menyentuh kulitnya tanpa lagi menggigil ketakutan.

"Napasmu lebih teratur hari ini," ucap Arya tiba-tiba, tanpa membuka mata.

Raisa tersenyum tipis, tak mengalihkan posisinya. "Benarkah? Padahal rasanya jantungku masih berdegup kencang."

"Itu bukan karena lelah. Itu karena kau mulai terhubung dengan apa yang ada di sekitarmu. Dulu kau hanya mendengar suara air. Sekarang... kau mulai merasakan getarannya."

Raisa terdiam sejenak, mencoba memusatkan perhatiannya. Ia mengangguk pelan. "Benar. Rasanya seperti ada aliran hangat yang mengalir dari tanah ke telapak kakiku, lalu naik perlahan ke dada. Aneh... tapi nyaman."

"Itulah awal mula menyatu dengan alam. Jika kau bisa merasakannya, kau tak perlu lagi memaksakan diri saat hendak memanggil kekuatan Inti Sakti. Ia akan mengalir dengan sendirinya," jelas Arya pelan.

"Kalau begitu... nanti aku tak akan pingsan lagi kan?" tanyanya dengan nada sedikit bercanda, meski ada harapan yang terselip di sana.

Arya akhirnya membuka mata, menoleh menatapnya dengan tatapan yang kini jauh lebih lembut meski masih menyimpan sisa kewibawaan Ba nas pati. "Kau mungkin tetap lelah. Tapi kau tak akan lagi kehilangan kesadaran seketika. Tubuhmu akan belajar menakar seberapa banyak yang sanggup kau berikan."

"Syukurlah. Aku takut kalau tertidur lagi, kau malah akan melatihku lebih keras lagi saat aku bangun," goda Raisa sambil tertawa pelan.

Kali ini Arya ikut tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali terlihat namun selalu mampu membuat hati Raisa berdeup tak karuan. "Siapa tahu. Mungkin kau memang butuh disiplin yang lebih banyak lagi."

"Dasar penyiksa,jika aku terus berlatih seperti ini apa mungkin kamu sedang mendidik ku menjadi paranormal" cibir Raisa namun tak berniat melawan.

Arya lalu memukul pundak Raisa dengan lembut, "Sudah!, jangan bercanda lagi. Cepat selesaikan latihan hari ini. "

Dengan memasang wajah cemberut, Raisa menjawabnya dengan melanjutkan latihannya lagi.

"Iya... "

Arya memperhatikan itu menahan senyum diwajahnya, Arya merasa sikap Raisa saat ngambek terlihat lucu.

Setelah sesi meditasi selesai, mereka beralih ke latihan fisik ringan di tepi sungai. Raisa mencoba melempar batu ke arah sasaran pohon mati, kali ini dengan keseimbangan yang jauh lebih baik dibandingkan minggu lalu.

"Sudah lebih lurus," puji Arya singkat saat batu yang dilempar Raisa tepat mengenai batang pohon yang dituju.

"Wah, kau memujiku? Apa tidak sakit gigi?" ejek Raisa sambil tertawa riang.

Arya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Aku tidak memuji sembarangan. Hasil latihanmu yang membaik."

"Tapi kalau dibandingkan denganmu... masih jauh sekali ya," ucap Raisa tiba-tiba, suaranya sedikit melunak. "Kau bisa mengendalikan api sebesar itu dengan mudah. Sedangkan aku baru bisa melempar batu tanpa jatuh terguling."

"Kau tidak perlu menjadi sepertiku," jawab Arya tenang, mendekat dan berdiri di sampingnya. "Kau adalah Wadah. Tugasmu bukan menguasai kekuatan itu sepenuhnya sendirian, melainkan menjadi jembatan agar kekuatan itu bisa digunakan dengan tepat. Setiap orang punya perannya masing-masing,jika tidak ada dirimu aku bisa kehilangan sifat manusia ku."

"Jadi menurutmu aku penting untuk mu?" tanyanya pelan, menatap lekat mata pria itu.

Arya menatapnya balik, dalam dan tulus. "Tentu saja, aku melatihmu agar ragamu kuat menerima kekuatan inti sakti tersebut. "

Raisa menatap Arya dengan penuh perasaan yang sulit dijelaskan, tanpa sadar dirinya mengucapkan pujian di tunjukkan padanya.

"Kau tampan. "

Seketika itu juga Arya menatap Raisa dengan ekspresi yang juga sulit untuk dijelaskan.

"Apa? " Tanya Arya yang berpura-pura tidak mendengarnya dengan jelas.

Raisa lalu melanjutkan meditasinya sambil berkata dengan pelan, "Tidak ada. "

Arya masih menatap Raisa yang wajahnya bersinar terkena sinar pantulan cahaya matahari yang menyentuh air terjun.

Hening sejenak, hanya suara air dan angin yang menyapa. Kata-kata itu sederhana, namun bagi Arya itu adalah pujian yang menggoda dari manusia untuk dirinya.

Namun di tengah kehangatan itu, sesekali perasaan tak nyaman menyelinap di benak Raisa. Saat ia sedang duduk bermeditasi sendirian atau berjalan mengambil air di pinggir sungai, ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari balik rimbunnya pepohonan. Rasa itu samar, sekilas, dan setiap kali ia menoleh ke arah yang dicurigai, tak ada apa-apa di sana selain bayangan pohon dan kabut yang bergerak ditiup angin.

Mungkin hanya perasaanku saja karena terlalu lelah berlatih, pikirnya mencoba menepis keraguan itu. Mungkin itu hanya hewan hutan yang penasaran. Karena tak ingin membuat Arya khawatir atau menganggapnya terlalu berlebihan, Raisa memilih diam dan tak menceritakannya pada siapa pun.

Sosok itu menghilang seperti ninja, tanpa jejak dan suara meninggalkan Raisa sendirian.

Jauh di tempat yang berbeda, di ruangan remang yang bau anyir dan lembap, pemimpin organisasi berjubah hitam kembali duduk di atas singgasana batu yang dingin. Wajahnya kini tampak lebih segar, namun matanya menyiratkan ambisi yang tak pernah padam.

"Kekuatan mereka semakin terlihat," ucapnya serak namun tegas. "Ba nas pati mulai melatih Wadah itu. Jika mereka semakin kuat, rencana kita akan semakin sulit terlaksana."

Di hadapannya berdiri seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, bertubuh tegap namun dengan wajah yang masih menyimpan sisa kepolosan meski matanya tajam dan waspada. Namanya Alif. Ia adalah anggota termuda yang memiliki kemampuan penyamaran dan pengamatan terbaik.

"Alif," panggil sang pemimpin.

"Siap, Guru," jawab Alif tegas sambil menundukkan kepala.

"Pergilah ke sana. Temukan keberadaan mereka. Amati apa yang mereka lakukan, seberapa jauh kemampuan gadis itu berkembang. Tapi ingat satu hal... jangan pernah menyerang, jangan pernah menampakkan diri. Kau hanya mata dan telinga kami. Jika kau tertangkap, kau akan merusak segalanya. Mengerti?"

"Saya mengerti, Guru. Saya hanya akan mengamati dan melapor," jawab Alif mantap.

"Pergilah. Dan jangan sampai kau tergoda oleh kekuatan Inti Sakti itu. Itu bukan milikmu, dan bukan juga milik mereka untuk dijaga. Itu milik kami."

Tanpa banyak bicara lagi, Alif pun bergerak menghilang ke dalam kegelapan.

Hari-hari berikutnya, keberadaan Alif semakin terasa bagi Raisa meski tak pernah terlihat. Kadang ia mencium bau sabun mandi yang samar namun asing terbawa angin. Kadang terdengar suara ranting yang patah pelan dari kejauhan saat seharusnya tak ada hewan besar yang lewat. Dan setiap kali ia memejamkan mata saat bermeditasi, ia merasakan getaran kehadiran manusia yang tak asing namun juga tak dikenal.

Namun setiap kali ia membuka mata, suasana kembali sunyi senyap.

"Kau sering melamun belakangan ini," tegur Arya saat mereka sedang beristirahat duduk di atas batu besar sambil menikmati bekal yang dibawa Sekar. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Raisa tertegun sejenak, lalu tersenyum menggeleng pelan. "Tidak... hanya kadang merasa ada yang melihat saja. Tapi mungkin hanya imajinasiku karena sering duduk diam terlalu lama."

Arya menatapnya lekat, mencoba membaca kebenaran di balik tatapan itu. Namun melihat gadis itu tampak meyakinkan, ia pun mengangguk pelan. "Jika kau merasa ada yang aneh, katakan padaku. Jangan pernah menyimpannya sendiri."

"Iya, siap Tuan Guru!" seru Raisa sambil memberi hormat lucu, berusaha mencairkan suasana agar Arya tak terus bertanya lebih jauh.

Arya tertawa kecil melihat tingkahnya. "Dasar bocah."

"Jangan panggil aku bocah, aku paling tidak suka dipanggil seperti itu," Ucapnya yang ngambek kepada Arya.

"Baik aku tidak akan menyebutmu seperti itu. " Ucap Arya sambil tersenyum.

 Arya pun menghibur Raisa yang masih kesal pada dirinya,lalu Arya menatap ke arah yang ditunjuk, matanya menyipit tajam mencoba menyisir setiap jengkal pepohonan. Namun tak ada jejak energi jahat yang mencolok. Hanya angin dan suara alam yang biasa.

Raisa pun melanjutkan latihannya, dan Arya turun untuk menemuu Jatmika yang berada di bawah sedang mengawasi.

"Jatmika, awasi sekeliling air terjun disini. Sepertinya ada yang sedang mengawasi kami. "

Dengan hormat Jatmika menjawabnya, "Baik tuan. "

Segera Jatmika berjalan pergi dalam semak hutan agar tidak terlihat dari pandangan Raisa kalau dirinya berubah bentuk menjadi ular, Jatmika mengeliat menyusuri pohon disekitar air terjun tersebut.

Sementara itu, tak jauh dari sana di balik rimbunnya dedaunan, Alif bersembunyi diam tak bergerak sedikit pun. Napasnya ia tahan sebaik mungkin, membiarkan tubuhnya menyatu dengan bayangan. Ia mengamati setiap gerak-gerik mereka, mendengarkan setiap percakapan, dan mencatat dalam benaknya setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan oleh Raisa.

Lalu berusaha menyembunyikan keberadaan nya setelah Jatmika masuk kedalam semak sekitar air terjun, dia menyamar sebagai pohon dan menyatuh dengan pohon didekat air terjun.

Dalam persembunyian nya Alif wajah pemuda itu tampak bimbang. Apa yang dilihatnya bertentangan dengan apa yang selama ini diajarkan kepadanya. Ba nas pati yang dikatakan sebagai makhluk mengerikan ternyata begitu sabar dan perhatian pada gadis itu. Dan gadis yang disebut sebagai wadah kekuatan jahat ternyata tampak begitu tulus, baik hati, dan bekerja keras demi sesuatu yang ia yakini benar.

Namun ia hanyalah pengikut yang harus patuh. Tugasnya hanya mengamati dan melapor. Keputusan akhir bukan haknya untuk mengambil.

Perlahan, saat bayangan mulai bergerak, Alif mundur perlahan tanpa menimbulkan suara, meninggalkan tempat itu namun tetap menjaga jarak aman. Ancaman yang sesungguhnya kini bukan lagi sekadar monster yang bisa dilawan dengan api, melainkan mata-mata yang tak terlihat, yang perlahan namun pasti sedang merangkak mendekat ke arah mereka berdua.​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!