SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTANA LELUHUR
Tian Xue mengangkat kakinya perlahan.
Tatapannya tetap lurus ke depan, menembus gerbang Istana Leluhur yang berdiri megah di puncak seribu anak tangga. Di sampingnya, Lu Shi menarik napas panjang sebelum ikut melangkah.
Begitu telapak kaki mereka menginjak anak tangga terakhir...
Wuuussshhh...!
Cahaya keemasan tiba-tiba memancar dari bawah kaki mereka, menyelimuti tubuh keduanya tanpa menyisakan sedikit pun celah.
Tian Xue spontan menghentikan langkahnya. Rasa hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mengalir ke seluruh tubuhnya, menyusuri setiap pembuluh darah hingga ke ujung jarinya.
Luka-luka yang memenuhi tubuhnya perlahan mulai menutup. Goresan akibat hujan batu es menghilang. Memar karena tekanan gravitasi lenyap tanpa bekas. Bahkan rasa lelah yang telah menumpuk selama sebelas hari seakan disapu bersih oleh cahaya itu.
Ia mengepalkan tangannya perlahan. Energi spiritual di dalam tubuhnya kembali berputar dengan sempurna. Seolah seluruh pertarungan yang telah mereka lalui tidak pernah terjadi.
Di sampingnya, Lu Shi memandangi kedua telapak tangannya dengan mata membelalak.
"Lukaku..."
Ia meraba pipinya yang sebelumnya dipenuhi goresan. Kulitnya kembali halus. Bahkan rambutnya yang kusut akibat badai kini kembali lembut tertiup angin.
"Wooooowww...!"
Lu Shi berputar beberapa kali dengan wajah berbinar.
"Semua lukaku hilang!"
Belum sempat rasa takjub mereka mereda, cahaya keemasan itu kembali bergerak. Namun kali ini bukan tubuh mereka yang berubah. Melainkan pakaian yang mereka kenakan.
Jubah Tian Xue yang robek perlahan berubah menjadi serpihan cahaya sebelum menghilang seluruhnya. Sebagai gantinya...
Muncul jubah hitam panjang yang dihiasi benang emas membentuk ukiran naga kuno di sepanjang bagian dada dan lengan. Pelindung bahu berwarna hitam legam perlahan terbentuk, menyerupai sisik naga yang tersusun rapi.
Pelindung lengan di tangan kanannya memancarkan kilau logam gelap dengan bentuk cakar naga yang kokoh. Di pinggangnya, sebuah ikat pinggang emas bertuliskan simbol kuno muncul dengan sendirinya.
Aura yang terpancar dari penampilannya berubah total. Jika sebelumnya Tian Xue tampak seperti pemuda yang baru melewati pertarungan panjang...
Kini ia terlihat seperti seorang tuan muda dari klan kuno yang memiliki kedudukan sangat tinggi.
Di sisi lain...
Pakaian Lu Shi juga berubah. Gaun tempurnya perlahan diselimuti cahaya merah keemasan.
Sesaat kemudian, cahaya itu menghilang, memperlihatkan jubah merah putih yang anggun dengan hiasan benang emas membentuk sembilan ekor rubah yang melingkar di bagian belakang.
Pelindung bahunya tampak ringan namun elegan. Lengan bajunya dihiasi motif awan dan api berwarna keemasan, sementara sabuk giok merah di pinggangnya memancarkan aura lembut.
Rambut panjangnya terikat rapi oleh pita merah keemasan yang membuat penampilannya jauh lebih anggun tanpa menghilangkan kesan liar yang menjadi ciri khasnya.
Lu Shi menundukkan kepala, memperhatikan pakaiannya dari atas hingga bawah. Matanya semakin berbinar.
"Bagus sekali!"
Ia mengangkat kedua ujung jubahnya sambil berputar kecil.
"Keren! Jauh lebih cantik daripada pakaian lamaku!"
Beberapa saat kemudian, tatapannya beralih kepada Tian Xue. Gadis itu berjalan mengelilinginya sambil mengangguk-angguk.
"Hmm..."
Ia memperhatikan Tian Xue dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ekspresinya perlahan berubah menjadi kagum.
"Ternyata..."
Lu Shi berhenti tepat di depan Tian Xue.
"...kau lumayan tampan juga."
Tian Xue hanya melirik sekilas. Tatapannya tetap setenang biasanya.
Lu Shi kembali mengangguk.
"Kalau berpakaian begini, kau benar-benar seperti tuan muda dari keluarga besar."
Tian Xue tidak memberikan tanggapan. Ia justru sibuk memperhatikan pelindung lengan di tangan kanannya. Entah mengapa, artefak itu memberikan perasaan yang sangat akrab. Seolah benda itu memang ditakdirkan menjadi miliknya.
Melihat Tian Xue mengabaikannya, Lu Shi langsung menyeringai lebar.
"Tapi..." Ia menunjuk wajah Tian Xue. "...wajah bodohmu tetap saja tidak berubah."
"Hahaha!"
Tawanya menggema memenuhi pelataran Istana Leluhur. Tian Xue hanya menghela napas panjang.
"Kalau kau sudah selesai mengejekku..."
"Belum."
Lu Shi langsung memotong.
"Aku masih ingin melihat ekspresi wajahmu."
Tian Xue menggeleng pelan. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis. Setelah melewati sebelas hari penuh penderitaan, candaan Lu Shi sedikit banyak menghilangkan ketegangan yang selama ini menyelimuti mereka.
Tak lama kemudian...
Tatapan Tian Xue kembali tertuju ke arah istana yang berdiri megah di depan mereka. Kini, dari jarak yang begitu dekat, kemegahannya jauh melampaui bayangannya.
Pilar-pilar raksasa menjulang tinggi hingga seolah menopang langit. Setiap pilar dipenuhi ukiran naga purba yang begitu hidup, seakan dapat terbang kapan saja.
Gerbang hitam keemasan yang menjulang puluhan meter berdiri kokoh di hadapan mereka. Aura kuno yang dipancarkannya membuat udara di sekitar terasa begitu sunyi.
Tiba-tiba...
Krrrreeeeeeekkk...
Suara berat bergema ke seluruh penjuru. Gerbang raksasa itu perlahan terbuka. Semburat cahaya putih keemasan memancar dari dalam, menerangi seluruh pelataran hingga kabut di sekitar perlahan tersibak.
Lu Shi spontan menghentikan tawanya. Tian Xue juga tanpa sadar menyipitkan mata. Keduanya menatap lurus ke arah pintu yang perlahan terbuka itu.
Mereka dapat merasakan...
Seseorang sedang berjalan keluar dari dalam Istana Leluhur.
Suara langkah kaki itu terdengar pelan. Namun...
Setiap langkahnya seolah mengguncang ruang di sekitar mereka.
Tap...
Tap...
Tap...
Sosok itu perlahan muncul dari balik cahaya. Seorang lelaki tua dengan rambut putih panjang yang terurai hingga melewati pinggang berjalan santai menuju pelataran.
Janggutnya yang putih bersih menjuntai hingga dada, sementara wajahnya dipenuhi jejak usia yang seakan telah menyaksikan pergantian ribuan musim. Ia mengenakan jubah putih polos tanpa satu pun hiasan mewah.
Meski begitu...
Semakin dekat lelaki tua itu melangkah, semakin berat udara di sekitar Tian Xue dan Lu Shi. Bukan karena tekanan yang sengaja dilepaskan. Melainkan aura alami yang dimiliki sosok tersebut.
Seolah mereka sedang berdiri di hadapan lautan yang tak bertepi. Dalam. Tenang. Namun mustahil untuk dilawan.
Tian Xue tanpa sadar menahan napas. Instingnya berteriak bahwa lelaki tua di hadapannya jauh melampaui siapa pun yang pernah ia temui. Bahkan para tetua Klan Tian tidak pantas dibandingkan dengannya.
Di sampingnya, senyum Lu Shi perlahan menghilang. Tatapannya yang biasanya ceria berubah serius. Untuk pertama kalinya sejak memasuki warisan ini, ia merasakan ketegangan yang benar-benar berasal dari seseorang.
Lelaki tua itu akhirnya berhenti sekitar lima langkah di depan mereka. Tatapannya yang tajam namun tenang bergantian mengamati Tian Xue dan Lu Shi. Tidak ada sedikit pun rasa arogan dalam sorot matanya. Yang ada hanyalah ketenangan seseorang yang telah hidup terlalu lama.
Tian Xue segera menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Salam, Senior."
Lu Shi ikut membungkukkan badan.
"Salam, Senior."
Lelaki tua itu tersenyum tipis. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
"Tidak perlu terlalu formal."
"Santai saja."
"Aku hanyalah seorang lelaki tua yang telah menunggu sangat lama."
Suaranya lembut. Namun setiap kata terdengar jelas, seolah langsung menggema di dalam jiwa. Tatapannya kembali menyapu keduanya. Senyum tipis di wajahnya perlahan berubah menjadi senyum puas.
"Sudah sangat lama..."
"...tidak ada seorang pun yang berhasil mencapai tempat ini."
Ia menoleh ke arah Seribu Tangga Cobaan yang membentang jauh hingga menghilang di balik awan.
"Sejak Istana Leluhur ini ditinggalkan..."
"...kalian adalah orang pertama yang berhasil menaklukkan Seribu Tangga Cobaan."
Mata Lu Shi langsung membesar.
"Orang pertama?"
Lelaki tua itu mengangguk pelan.
"Benar."
"Selama ribuan tahun, tidak ada satu pun pewaris yang mampu melangkah sampai ke sini."
"Tidak peduli seberapa berbakat mereka."
"Tidak peduli setinggi apa kultivasi mereka."
"Mereka semua gagal."
Tatapan lelaki tua itu kembali jatuh kepada Tian Xue dan Lu Shi.
"Tetapi kalian..."
"...berhasil."
Keheningan menyelimuti pelataran istana. Baik Tian Xue maupun Lu Shi sama-sama tidak menyangka bahwa mereka adalah orang pertama yang berhasil mencapai puncak warisan kuno itu.
Lelaki tua tersebut mengangguk kecil, lalu berkata dengan nada penuh makna,
"Tak heran..."
"Bukan hanya tekad dan kemauan kalian yang luar biasa."
"Di dalam tubuh kalian..."
"...mengalir garis darah kuno yang bahkan sangat sulit ditemukan pada zaman ini."
Mendengar itu, Tian Xue dan Lu Shi saling berpandangan. Mereka tidak memahami sepenuhnya maksud ucapan tersebut. Namun sebelum salah satu dari mereka sempat bertanya...
Lelaki tua itu perlahan melangkah mendekati Tian Xue. Ia berhenti tepat di hadapan Tian Xue. Jarak di antara mereka kini hanya tinggal satu langkah.
Tatapannya yang tenang menelusuri wajah pemuda itu tanpa berkedip sedikit pun. Sesaat kemudian, senyum tipis kembali muncul di wajah tuanya.
"Anak muda..."
"Tekadmu sangat kuat."
Tanpa menunggu jawaban, ia perlahan mengangkat tangan kanannya. Gerakannya lambat. Tidak mengandung sedikit pun niat menyerang.
Tian Xue tidak merasakan bahaya dari tindakan itu. Karena itulah ia tetap berdiri di tempat.
Tap.
Telapak tangan lelaki tua itu mendarat ringan di bahu Tian Xue.
"Hm..."
Ia berniat sekadar merasakan fondasi kultivasi sang pemuda. Namun...
Saat seberkas indra spiritualnya tanpa sengaja menyentuh setetes darah yang mengalir di dalam tubuh Tian Xue...
BOOM!
Seakan petir menyambar kesadarannya. Di dalam lautan kesadarannya, ia melihat seekor naga hitam raksasa membuka kedua matanya. Sepasang mata emas yang agung menatap lurus ke arahnya.
Aura kuno yang berasal dari awal zaman meledak memenuhi ruang spiritualnya. Raungan naga mengguncang langit dan bumi.
ROAAARRR!!
Dalam sekejap, indra spiritual lelaki tua itu terpental keluar.
"Ugh!"
Tubuhnya bergetar hebat. Pupil matanya mengecil. Wajahnya yang semula tenang berubah dipenuhi keterkejutan.
"Tidak mungkin..." gumamnya lirih.
Tangannya yang masih berada di bahu Tian Xue perlahan bergetar. Tatapannya menatap Tian Xue seolah sedang melihat sesuatu yang mustahil muncul di era ini.
"Itu... garis darah itu..."
Suara lelaki tua tersebut nyaris tidak terdengar. Napasnya menjadi tidak beraturan. Tubuhnya gemetar semakin hebat.
Baik Tian Xue maupun Lu Shi hanya bisa memandang dengan bingung.
"Senior?" panggil Tian Xue pelan.
Namun lelaki tua itu seolah tidak mendengarnya. Di dalam benaknya hanya ada satu nama yang terus bergema.
Klan Xue...
Garis Darah Naga Purba...
Garis darah kerajaan yang telah lenyap ribuan tahun silam.
Matanya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Tidak..."
"Ini bukan sekadar keturunan biasa..."
"Ini adalah..."
Sebelum kalimat itu selesai...
Lelaki tua tersebut tiba-tiba menarik tangannya. Lalu...
Dengan gerakan yang bahkan tidak sempat diantisipasi Tian Xue dan Lu Shi...
Bruk!
Ia berlutut di hadapan Tian Xue. Kepalanya menunduk dalam. Kedua tangannya dirangkapkan dengan penuh hormat.
"Maafkan kelancangan hamba..."
"...Yang Mulia Tuan Muda."
Suasana mendadak membeku. Mata Tian Xue membelalak. Lu Shi bahkan sampai membuka mulutnya lebar-lebar.
"Hah?!"
Tian Xue buru-buru melangkah maju.
"Senior, apa yang Anda lakukan?"
"Tolong bangun."
Ia segera meraih kedua lengan lelaki tua itu dan berusaha membantunya berdiri.
"Saya hanyalah kultivator biasa."
"Saya sama sekali tidak pantas menerima penghormatan sebesar ini."
Lelaki tua itu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan mata Tian Xue. Tidak terlihat sedikit pun kepura-puraan. Hanya kebingungan yang tulus.
Melihat ekspresi itu...
Lelaki tua tersebut langsung memahami sesuatu.
"Jadi... dia belum mengetahui identitasnya sendiri."
"Tidak ada yang pernah memberitahunya tentang garis darah yang mengalir di dalam tubuhnya."
"Kalau begitu... waktunya memang belum tiba."
Dalam hitungan napas, ia menenangkan gejolak di dalam hatinya. Ekspresi terkejut di wajahnya perlahan menghilang. Digantikan kembali oleh senyum hangat seorang kakek tua.
Ia bangkit berdiri sambil tertawa kecil.
"Hahaha..."
"Maafkan lelaki tua ini."
"Semakin bertambah usia, pikiranku juga semakin aneh."
Ia menepuk pelan jubahnya yang sedikit berdebu.
"Barusan... aku tiba-tiba teringat cucuku."
"Tubuhmu sangat mirip dengannya."
"Itulah sebabnya aku tanpa sadar melakukan hal yang memalukan."
Tian Xue menghela napas lega.
"Begitu rupanya."
Ia sama sekali tidak menaruh curiga. Lu Shi menggaruk pipinya.
"Lelaki tua yang aneh."
"Berlutut kepada orang yang baru pertama kali ditemuinya. Apa memang semua penjaga warisan seperti ini?"
"Lu Shi."
Suara Tian Xue terdengar pelan, tetapi cukup membuat gadis itu langsung menoleh.
"Jaga ucapanmu."
Lu Shi menjulurkan lidahnya sedikit.
"Iya... iya..."
"Aku hanya bercanda."
Lelaki tua itu justru tertawa pelan.
"Tidak apa."
"Sudah sangat lama aku tidak mendengar tempat ini seramai sekarang."
Tawanya perlahan mereda. Tatapannya kembali bergantian mengamati Tian Xue dan Lu Shi. Kini sorot matanya kembali tenang, seolah kejadian beberapa saat lalu tidak pernah terjadi.
Namun, jauh di lubuk hatinya...
Gelombang keterkejutan itu belum juga mereda.
"Yang Mulia masih hidup..."
"Garis darah Klan Xue benar-benar belum punah..."
"Kalau berita ini sampai tersebar..."
"Seluruh Benua Canglan akan kembali dilanda badai."
Ia mengepalkan tangannya di balik lengan jubah.
"Tidak..."
"Rahasia ini tidak boleh diketahui siapa pun sebelum waktunya."
Dengan cepat ia menyingkirkan seluruh pikirannya. Ekspresinya kembali seperti seorang lelaki tua yang ramah.
Ia memandang kedua pemuda di hadapannya sambil mengangguk puas.
"Kalian telah melewati seluruh cobaan."
"Mulai dari ujian tekad..."
"...ujian pertarungan..."
"...hingga Seribu Tangga Cobaan."
"Artinya..."
"Kalian telah memperoleh hak untuk menerima warisan yang sesungguhnya."
Mendengar kata warisan, mata Lu Shi langsung berbinar.
"Jadi akhirnya kita sampai juga!"
"Aku penasaran sekali apa isi istana sebesar ini."
Tian Xue tetap tenang. Namun sorot matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang sama besarnya.
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
"Warisan di dalam istana ini bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh hanya dengan bakat."
"Ia akan memilih pemiliknya sendiri."
"Jika kalian berhasil mendapatkan pengakuannya..."
"...masa depan kalian akan jauh melampaui batas yang dapat dibayangkan para kultivator di luar sana."
Lu Shi menelan ludah. Bahkan Tian Xue sedikit mengernyit. Warisan yang mampu membuat seorang penjaga setingkat lelaki tua ini berbicara dengan nada seserius itu... Jelas bukan warisan biasa.
Lelaki tua itu kemudian melangkah ke samping, membuka jalan menuju gerbang istana yang kini terbuka lebar. Cahaya lembut mengalir keluar dari dalam, membawa aura kuno yang begitu murni hingga energi spiritual di sekitar mereka ikut bergetar.
Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar keduanya masuk.
"Sekarang..."
"Jawab satu pertanyaanku."
Tatapan tajamnya kembali tertuju kepada Tian Xue dan Lu Shi.
"Apakah kalian benar-benar telah siap menerima warisan ini?"
"Karena begitu melangkah ke dalam..."
"...tidak akan ada jalan untuk mundur."
Tian Xue dan Lu Shi saling berpandangan. Tidak ada keraguan di mata keduanya. Mereka telah melalui sebelas hari penuh penderitaan. Menghadapi badai es. Melawan gerombolan Serigala Darah tanpa akhir. Mendaki seribu anak tangga yang hampir merenggut nyawa mereka.
Mustahil mereka berhenti tepat di depan garis akhir.
Tian Xue melangkah maju lebih dulu. Tatapannya lurus menatap lelaki tua itu.
"Kami sudah siap."
Lu Shi ikut berdiri di sampingnya sambil tersenyum penuh semangat.
"Kalau sudah sejauh ini, mana mungkin aku mundur."
"Kami siap menerima warisan itu."
Senyum puas kembali menghiasi wajah lelaki tua tersebut.
"Bagus."
"Kalau begitu..."
Ia berbalik menghadap ke arah aula utama.
"Masuklah."
"Aku akan menunggu kalian di luar hingga proses pewarisan selesai."
Tanpa ragu, Tian Xue dan Lu Shi melangkah melewati gerbang Istana Leluhur. Saat kedua sosok muda itu menghilang di balik pintu raksasa...
Lelaki tua itu perlahan menoleh ke arah langit. Tatapannya dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.
"Yang Mulia..."
"Akhirnya..."
"...pewaris Klan Xue telah kembali."
Suara lirih itu menghilang bersama embusan angin kuno yang berhembus pelan di pelataran Istana Leluhur.