NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Di Bawah Langit Maldives

Langkah-langkah pelan menyusuri jembatan kayu privat terasa bagaikan perjalanan menuju sebuah mimpi indah yang selama ini hanya berani dibayangkan Aura. Setiap pijakan kaki mereka di atas dermaga kayu diiringi suara ombak Maldives yang bergerak tenang, sesekali menyentuh tiang-tiang penyangga villa dengan suara berirama lembut.

Langit malam terbentang luas tanpa awan. Jutaan bintang bertaburan seperti permata, sementara cahaya bulan memantul di permukaan laut yang tenang.

Usai pengakuan cinta yang begitu tulus di bawah cahaya lilin tadi, Reno tak sekalipun melepaskan tangan istrinya.

Jemari mereka tetap bertaut erat.

Sesekali ibu jari Reno mengusap punggung tangan Aura, seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa semua yang baru saja terjadi bukanlah mimpi.

Aura berjalan di sampingnya dengan wajah yang masih menyimpan rona merah.

"M-Mass..."

"Hm?"

Aura melirik suaminya.

"Terima kasih."

Reno menghentikan langkah.

"Untuk apa?"

"Untuk malam ini."

Reno tersenyum.

"Seharusnya saya yang berterima kasih."

Aura menggeleng kecil.

"Kamu sudah melakukan terlalu banyak untukku."

Reno menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

"Kalau untuk kamu, saya tidak pernah merasa melakukan terlalu banyak."

Kalimat sederhana itu kembali membuat hati Aura berdebar.

Reno lalu melanjutkan langkahnya.

Dengan langkah perlahan, ia membimbing Aura kembali menuju Overwater Villa. Cahaya lampu temaram bernuansa keemasan menyambut mereka dari balik pintu kaca, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan dinginnya angin malam.

Begitu pintu tertutup, suara dunia luar seakan menghilang.

Tidak ada lagi hiruk-pikuk Jakarta.

Tidak ada lagi bayang-bayang fitnah Clara.

Tidak ada lagi sorotan publik.

Malam itu hanya ada Reno dan Aura.

Reno melepaskan tangan Aura sejenak untuk mengunci pintu, lalu kembali menghampirinya.

Aura berdiri beberapa langkah dari ranjang. Pipinya masih menyimpan rona merah setelah pengakuan cinta Reno di dermaga tadi.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Reno yang menyadari kegugupan itu tidak langsung mendekat.

Ia justru memberi Aura waktu.

"Aura."

Suara baritonnya terdengar lembut di tengah keheningan kamar.

"I-iya, Mas?"

Reno tersenyum tipis.

Tangannya terulur, bukan untuk menarik Aura, melainkan sekadar menawarkan genggaman.

Aura memandang tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.

Reno menggenggam jemarinya.

"Jangan gugup."

Aura tersenyum malu.

"Aku tidak gugup."

Reno mengangkat satu alis.

"Benarkah?"

Aura tertawa kecil.

"Sedikit."

Reno ikut tersenyum.

"Saya tidak ingin kamu merasa harus melakukan apa pun hanya karena malam ini berbeda."

Tatapannya menjadi lebih serius.

"Saya ingin kamu merasa aman bersama saya. Selalu."

Aura menatapnya lama.

"Aku tahu."

"Kalau kamu merasa tidak nyaman, katakan."

Aura mengangguk.

"Dan kalau aku ingin tetap di sini?"

Senyum Reno perlahan mengembang.

"Berarti saya akan tetap di sini."

Tatapan mereka bertemu.

"Aku tidak takut, Mas," bisik Aura. "Aku hanya... masih tidak percaya semuanya bisa berubah sejauh ini."

Reno mengusap lembut pipinya.

"Ini bukan mimpi."

Ia menatap Aura dalam-dalam.

"Saya di sini. Kamu di sini. Dan mulai malam ini, kita tidak perlu lagi mempertanyakan perasaan kita."

Mata Aura berkaca-kaca.

"Aku bahagia, Mas."

"Kalau begitu, tersenyumlah."

Aura terkekeh kecil di sela air matanya.

"Kamu selalu punya cara membuatku tenang."

"Karena saya suamimu."

Kalimat sederhana itu membuat hati Aura kembali berdesir.

Reno kemudian mengangkat tangannya perlahan dan menyentuh ujung hijab Aura.

"Kalau kamu mengizinkan..."

Aura memahami maksudnya.

Ia mengangguk kecil.

Dengan gerakan hati-hati, Reno membantu melepas jarum hijab yang terpasang. Tidak terburu-buru, tidak memaksa.

Setelah hijab itu terlepas, rambut hitam Aura jatuh lembut membingkai wajahnya.

Reno terdiam sesaat.

Tatapannya berubah penuh kekaguman.

Aura yang menyadari tatapan itu langsung menundukkan wajah.

"Kenapa diam?"

Reno tersenyum.

"Saya sedang mencari kata-kata."

"Untuk apa?"

"Untuk menggambarkan betapa cantiknya kamu."

Aura semakin malu.

"Jangan lihat aku begitu."

"Kenapa?"

"Aku jadi malu."

Reno tertawa kecil.

"Saya hanya sedang menikmati kesempatan untuk mengagumi istri saya sendiri."

Aura akhirnya berani mengangkat wajahnya.

Reno mengusap lembut rambut yang jatuh di sisi wajah Aura.

"Kamu cantik sekali."

Aura tersenyum.

"Benarkah?"

"Lebih dari yang bisa saya katakan."

Reno kemudian mengecup keningnya cukup lama.

Kecupan itu sederhana, tetapi justru membuat dada Aura dipenuhi kehangatan.

Aura perlahan memeluk pinggang Reno dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.

Detak jantung Reno terdengar jelas.

Tenang.

Teratur.

Menenangkan.

"Terima kasih sudah memilihku," bisik Aura. "Terima kasih sudah memperjuangkanku."

Reno membalas pelukan itu dengan erat.

"Sayalah yang seharusnya berterima kasih."

Tangannya mengusap punggung Aura perlahan.

"Kamu datang ke hidup saya ketika saya bahkan tidak tahu kalau saya membutuhkan seseorang."

Aura tersenyum kecil dalam pelukannya.

"Dan sekarang?"

Reno menundukkan wajahnya.

"Sekarang saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu."

Aura terdiam.

Air mata haru kembali menggenang di matanya.

Reno segera mengusap sudut matanya dengan ibu jari.

"Jangan menangis."

"Aku bahagia."

"Kalau begitu, biarkan saya melihat senyummu."

Aura tersenyum di balik air mata.

"Begini?"

"Begitu."

Reno mengecup keningnya sekali lagi.

Kemudian pipinya.

Lalu satu kecupan singkat di ujung hidungnya.

Aura spontan tertawa kecil.

"Mas!"

"Hm?"

"Apaan sih?"

"Saya sedang memastikan istri saya benar-benar bahagia."

Aura menggeleng sambil tersenyum.

"Jahil."

"Kalau kamu tersenyum begini, saya tidak keberatan disebut apa pun."

Aura kembali tertawa.

Untuk beberapa saat, suasana yang semula penuh kegugupan berubah menjadi hangat dan ringan.

Reno kemudian menggenggam tangannya dan membimbingnya menuju tepi ranjang.

Aura duduk perlahan, sementara Reno berdiri di hadapannya.

Beberapa saat mereka hanya saling menatap.

Tidak ada kata-kata.

Namun tatapan mereka sudah cukup menjelaskan semuanya.

Reno kemudian berlutut di hadapan Aura.

"Di tempat ini, di hadapan Tuhan dan lautan malam yang menjadi saksi perjalanan kita, saya ingin berjanji."

Aura menatapnya penuh haru.

"Saya akan berusaha menjadi suami yang selalu menyayangi kamu. Saya akan menjaga hatimu, melindungi keluargamu, dan memastikan kamu tidak pernah merasa sendirian selama saya masih berada di sampingmu."

Mata Aura berkaca-kaca.

"Aku juga berjanji, Mas," ucapnya perlahan. "Aku akan selalu mendampingi kamu, mendukungmu, dan menjadi tempat kamu pulang."

Reno tersenyum.

Ia berdiri kembali, kemudian menangkup kedua pipi Aura dengan lembut.

"Terima kasih sudah memilih saya."

"Terima kasih juga sudah memilihku."

Reno mendekatkan wajahnya.

Ia mengecup kening Aura terlebih dahulu.

Kemudian pipi kanannya.

Lalu pipi kirinya.

Aura tersenyum malu.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Reno berhenti sejenak.

Memberi Aura kesempatan untuk menentukan apakah ia ingin melanjutkan.

Aura tidak berkata apa-apa.

Ia hanya mengangkat kedua tangannya, menggenggam lembut kemeja Reno, lalu mendekatkan wajahnya.

Reno memahami jawaban itu.

Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman lembut.

Singkat.

Hangat.

Namun penuh makna.

Ketika ciuman itu terhenti, Aura masih memejamkan mata.

Reno tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah.

"Kenapa?"

Aura membuka mata perlahan.

"Aku malu."

"Padahal tadi kamu yang mendekat."

Aura semakin merah.

"Jangan diingat-ingat."

Reno terkekeh pelan.

"Saya akan mengingatnya seumur hidup."

Aura memukul ringan lengan Reno.

"Kamu ini..."

Reno menangkap tangan Aura sebelum kembali mengecup punggung tangannya.

"Terima kasih."

Aura menatapnya.

"Untuk apa lagi?"

"Karena sudah mempercayai saya."

Tatapan Aura melembut.

"Aku memang percaya padamu."

Reno kemudian mendekat sekali lagi.

Kali ini, ia hanya memberikan sebuah kecupan singkat di bibir Aura.

Satu kecupan.

Lalu satu lagi.

Tidak tergesa-gesa, tidak berlebihan.

Hanya ungkapan kasih sayang dari seorang suami kepada istrinya.

Aura tersenyum di sela keheningan.

"Mas..."

"Hm?"

"Kalau kamu terus begitu, aku tidak bisa berhenti tersenyum."

"Bagus."

"Kenapa?"

"Karena saya suka melihat kamu bahagia."

Aura menatapnya dengan mata berbinar.

Kemudian ia perlahan berdiri dan memeluk Reno.

Reno langsung membalas pelukan itu.

Aura menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, sementara tangan Reno mengusap rambutnya dengan lembut.

"Mass..."

"Iya?"

"Jangan pergi."

Reno mempererat pelukannya.

"Saya tidak akan pergi."

"Janji?"

"Janji."

Aura memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar aman.

Tidak ada lagi perasaan bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah perjanjian.

Tidak ada lagi keraguan mengenai posisi dirinya di hati Reno.

Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang harus mereka takuti.

Malam itu, mereka hanya menjadi Reno dan Aura.

Sepasang suami istri yang akhirnya memilih satu sama lain dengan kesadaran penuh.

Reno menunduk dan mengecup puncak kepala Aura.

Aura kemudian mengangkat wajahnya.

Reno tersenyum.

Mereka kembali bertukar satu kecupan lembut di bibir sebelum akhirnya saling memeluk dalam keheningan.

Di luar sana, ombak Maldives terus berbisik di bawah langit yang dipenuhi bintang.

Sementara di dalam villa, dua hati yang dahulu berjalan masing-masing akhirnya menemukan tempat untuk pulang.

Bukan karena kewajiban.

Bukan karena sebuah perjanjian.

Melainkan karena cinta yang tumbuh perlahan, melewati luka, kesalahpahaman, dan ketakutan, kemudian memilih untuk tinggal.

Malam itu tidak membutuhkan sesuatu yang lebih.

Karena bagi Reno dan Aura, genggaman tangan, pelukan, tatapan penuh cinta, dan kecupan lembut sudah cukup untuk mengatakan satu hal:

Mereka akhirnya benar-benar menjadi milik satu sama lain dalam arti yang paling sederhana dan paling indah sebagai dua hati yang memilih untuk saling menjaga.

1
Anonim
Karya yang bagus 👍
Neng Wendah: terimakasih😊 🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!