NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Penyatuan Dua Hati Di Bawah Langit Maldives

Langkah-langkah pelan menyusuri jembatan kayu privat terasa bagaikan sebuah mimpi indah yang tak nyata bagi Aura. Setiap pijakan kakinya di atas kayu dermaga berbisik lembut, diiringi suara hempasan ombak tenang yang memecah keheningan malam lautan Maldives. Usai momen mengharukan di bawah sinar candle-light dinner di ujung dermaga tadi, Reno tak membiarkan telapak tangan hangat istrinya terlepas sedetik pun.

Dengan gerakan yang begitu lembut namun sarat akan rasa posesif dan perlindungan, jemari tegap sang CEO bertautan erat dengan jemari lentur Aura. Pria itu membimbing sang istri kembali melangkah masuk ke dalam Overwater Villa yang kini dipenuhi sinar redup cahaya lampu temaram bernuansa warm gold, menciptakan atmosfer yang teramat privat, hangat, dan romantis.

Pintu kayu tebal berdesain modern itu tertutup rapat dengan bunyi klik halus. Seketika, hiruk-pikuk dunia luar, kenangan pahit tentang fitnah Clara, dan riuh suara publik di Jakarta seolah lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanyalah keheningan malam yang hangat, berpadu dengan nyanyian alam berupa desir angin laut yang membelai dinding-dinding kaca villa.

Aura berdiri agak canggung di dekat area ranjang bernuansa putih bersih yang ditaburi kelopak mawar merah segar. Pipinya kembali memanas hebat, memancarkan rona merah muda yang manis, sementara dadanya berdebar amat kencang. Walaupun pengakuan cinta yang jujur di antara dirinya dan Reno sudah terucap sempurna di bawah cahaya lilin tadi, naluri alaminya sebagai seorang wanita tetap membuat jiwanya bergetar penuh kepasrahan dan rasa malu yang menggemaskan.

Reno yang menyadari kecanggungan sang istri beranjak mendekat dengan langkah santai namun pasti. Pria itu melepaskan jas kasual yang tadi terpasang di bahunya, menyangkutkannya rapi di atas kursi kayu. Pria tegap itu kini berdiri tepat di hadapan Aura, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya yang tampak bergetar lembut di bawah naungan cahaya temaram kamar.

"Aura," panggil Reno halus. Suara baritonnya terdengar sangat rendah, dalam, dan menggetarkan relung hati terdalam Aura.

"I-iya, Reno?" jawab Aura terbata-bata, jemari tangannya meremas pelan ujung gaun pink pastel yang dikenakannya, berusaha meredam kegugupan yang melingkupi dadanya.

Reno tersenyum tipis sebuah senyuman tulus yang amat langka, dipenuhi kehangatan yang sanggup meruntuhkan segala benteng kecemasan di dalam jiwa Aura. Tangannya terangkat, merengkuh lembut kedua sisi bahu Aura, menyalurkan rasa aman yang luar biasa ke dalam sanubari istrinya.

"Jangan takut," bisik Reno tepat di depan wajah Aura. Hembusan napas hangatnya menyapu lembut kulit pipi sang istri yang halus. "Tidak ada yang perlu kamu cemaskan, Aura. Malam ini sepenuhnya milik kita berdua. Kamu adalah istri saya, dan saya adalah suamimu yang akan selalu menjaga, mencintai, dan menghormatimu seutuhnya."

Kata-kata Reno yang begitu dewasa, tegas, dan penuh penghargaan perlahan meluruhkan sisa-sisa rasa canggung dan cemas di hati Aura. Pria di hadapannya ini bukan lagi sosok CEO dingin yang mengikatnya dalam kertas perjanjian sementara, melainkan pelindung hidupnya,sosok suami sejati yang telah mempertaruhkan seluruh nama besar demi membentengi kehormatan dan kebahagiaannya.

Aura mendongak perlahan, menatap lekat paras tampan suaminya di remang cahaya kamar. Rahang tegas Reno, pendar mata teduhnya yang hangat, dan ulas senyum di bibirnya membuat dada Aura berdesir hebat.

"Aku tidak takut, Reno..." bisik Aura pelan, suaranya sarat akan ketulusan. "Aku hanya... merasa sangat bahagia sampai tidak percaya kalau semua keindahan ini nyata. Aku takut jika besok terbangun, ini semua hanya mimpi..."

Reno menatapnya dengan binar mata yang kian dalam dan sarat akan gelora kasih sayang yang suci. Tangannya terangkat, mengusap lembut pipi mulus Aura.

"Ini bukan mimpi, Aura. Saya nyata, cinta saya nyata, dan pernikahan kita adalah takdir terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk saya," tutur Reno rendah.

Jemari tegap Reno kemudian bergerak pelan menelusuri tepi hijab pink yang dikenakan Aura. Dengan ketelitian dan kelembutan yang luar biasa, Reno melepas ikatan jarum hijab satu per satu dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada satu pun gerakan yang menyakiti istrinya.

Perlahan, kain hijab halus itu terlepas dari kepalanya, membiarkan helai demi helai rambut hitam Aura yang panjang, halus, dan beraroma wangi harum terurai bebas membingkai paras ayunya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, kemolekan dan keindahan alami Aura terpapar sempurna khusus hanya di hadapan sang suami sah.

Reno sempat menahan napas sejenak. Matanya menatap terkagum-kagum pada kecantikan sejati istrinya yang selama ini tersembunyi rapat di balik mahkota hijabnya. Pendar kecantikan Aura di bawah remang lampu kamar terlihat begitu suci dan memukau.

"Kamu sangat cantik, Aura... jauh lebih cantik dari apa pun yang pernah saya lihat di dunia ini," bisik Reno tulus dari dasar hatinya.

Tangannya terangkat, mengusap lembut helai rambut hitam Aura yang dingin dan halus, lalu mendaratkan kecupan hangat yang begitu lama dan penuh kedalaman emosi di kening sang istri. Kecupan yang menyimbolkan penghormatan, perlindungan, dan rasa syukur yang teramat dalam.

Aura memejamkan matanya rapat-rapat, menyerap kehangatan sentuhan Reno yang menyapu bersih seluruh rasa dingin malam. Rasa cinta, kepasrahan, dan kerelaan penuh bergelora hebat di dalam dadanya. Kedua tangan mungil Aura perlahan terangkat, melingkar mesra memeluk pinggang tegap Reno, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang sang suami yang berdetak konstan dan hangat.

"Terima kasih sudah memilihku, memperjuangkanku, dan mencintaiku ya, Reno..." bisik Aura pelan dengan suara bergetar haru.

Reno merengkuh tubuh mungil itu semakin erat ke dalam pelukan hangatnya, seolah menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan wanita ini lepas atau terluka lagi sepanjang hidupnya.

"Sayalah yang berterima kasih karena kamu sudah mau hadir, bertahan, dan melengkapi hidup saya yang hampa, Aura," balas Reno rendah, membalas dekapan itu dengan ketulusan mutlak.

Reno lalu membimbing Aura melangkah menuju peraduan hangat yang bertabur kelopak mawar. Dengan kelembutan yang teramat sangat, Reno mendudukkan sang istri di tepi ranjang. Pria itu menyusul, berlutut pelan di hadapan Aura, menatap lurus ke manik mata wanita yang kini menjadi belahan jiwanya.

"Di tempat ini, di hadapan Tuhan dan lautan malam Maldives, saya berjanji," tutur Reno dengan suara baritonnya yang mantap dan bergetar emosi. "Saya akan menjadi suami yang selalu memuliakanmu, menjaga senyummu, dan memberikan seluruh hidup saya hanya untuk kebahagiaanmu, Aura."

Mata Aura berkaca-kaca. Air mata kebahagiaan menetes perlahan membasahi pipinya. "Dan aku berjanji akan menjadi istri yang selalu mencintai, menghormati, dan mendampingimu dalam setiap helaan napasku, Reno."

Reno tersenyum menawan, mengusap lembut bulir air mata di pipi Aura. Pria itu mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan lembut di kedua kelopak mata istrinya, lalu berpindah menyapu bibir manis Aura dengan ciuman yang sarat akan rasa cinta yang begitu suci dan mendalam.

Aura membalas kehangatan itu dengan rasa kepasrahan penuh dan kasih sayang yang membuncah. Tak ada lagi kecanggungan, tak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam, dan tak ada lagi ikatan janji di atas kertas yang dingin.

Di bawah naungan keheningan malam Maldives dan nyanyian ombak laut yang syahdu, Reno dan Aura menyerahkan seluruh jiwa dan raga mereka. Dua hati yang sebelumnya dipisahkan oleh takdir dan status sosial, malam itu telah melebur dan menyatu sempurna dalam ikatan pernikahan yang suci saling memberi dan menerima cinta dengan penuh kelembutan, ketulusan, dan rasa syukur yang mendalam kepada Sang Maha Pencipta.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!