NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELAS DENGAN LANTAI RETAK

Hujan berhenti menjelang subuh. Atap masih menetes ketika Ibu membangunkanku. Nira tetap tidur dengan kaki terbungkus kain. Wajahnya terlihat lebih kecil tanpa suara dan pertanyaan yang biasanya memenuhi rumah.

"Hari ini kau berangkat sendiri," kata Ibu sambil memasukkan nasi jagung ke daun pisang. "Jangan menyeberang kalau air masih tinggi."

Aku mengangguk. Ayah sudah pergi ke rumah Pak Bramantya untuk membicarakan jembatan bambu. Di dekat pintu, sepatu Nira masih dijemur dengan mulut terbuka. Sepatuku sendiri terasa kaku karena semalaman berada dekat tungku. Retakan pada telapak kiri telah diolesi getah karet, tetapi setiap langkah tetap mengeluarkan bunyi kecil.

Perjalanan tanpa Nira lebih cepat, tetapi tidak lebih ringan. Tidak ada yang menanyakan nama tikungan. Tidak ada yang membaca tulisan pada karung pupuk atau menghitung burung. Aku sampai di sungai ketika kabut masih tebal. Airnya memang tinggi, tetapi batu ketiga terlihat lebih banyak daripada kemarin. Aku menyeberang dengan tongkat baru dan tidak berhenti sampai mencapai seberang.

SD Negeri Wanasetra berdiri di dekat jalan kabupaten dengan halaman tanah yang luas. Bangunannya tidak seperti sekolah dalam gambar buku. Dinding depan dicat putih, tetapi sebagian telah berubah abu-abu. Atap gentingnya miring di beberapa tempat. Hanya ada empat ruang kelas untuk enam tingkat. Kelas satu menggunakan ruangan paling kecil. Kelas dua dan tiga belajar bergantian, sedangkan kelas lima dan enam berbagi ruang besar yang dipisahkan dinding papan tipis.

Pagi itu aku masuk ke kelas lima dengan napas masih berat. Lantainya terbuat dari semen dan retak dari dekat pintu sampai meja guru. Retakan itu bercabang seperti sungai kecil. Kami sering meletakkan serpihan kapur di dalamnya dan berpura-pura sedang membuat bendungan. Di sudut ruangan ada lemari kaca yang pintunya tidak dapat ditutup rapat. Isinya buku-buku tipis, sebagian sampulnya hilang dan beberapa halaman ditempeli selotip. Aku selalu memandang lemari itu seperti orang lapar melihat etalase makanan. Kami hanya boleh meminjam satu buku setiap Jumat, lalu harus mengembalikannya Senin pagi. Bagi Nira dan aku, tiga malam bersama sebuah buku baru adalah kemewahan.

Bu Arum Satyani, yang kami panggil Bu Satya, berdiri di depan papan tulis. Ia wali kelasku, tetapi karena guru di sekolah kami sedikit, ia juga sering masuk ke kelas dua ketika Bu Ratri harus mengurus administrasi. Itulah sebabnya kemarin ia sempat membantu Nira setelah membaca.

Bu Satya memandangku dari kepala sampai kaki. Lumpur mengering pada ujung celana dan sisi sepatu. Aku bersiap menerima teguran karena datang sesaat sebelum pelajaran dimulai.

"Duduk dekat jendela, Langga," katanya.

Aku terdiam.

"Sepatumu basah. Di sana kena matahari."

Beberapa anak menoleh. Aku merasa wajahku panas. Aku tidak tahu mana yang lebih membuat malu: dimarahi di depan kelas atau diperlakukan dengan perhatian.

"Terima kasih, Bu," kataku pelan.

Tempat dekat jendela biasanya milik Gala. Manggala Pradipta adalah anak yang tinggal di belakang pasar. Ia bertubuh kurus, rambutnya selalu berdiri di bagian belakang, dan tidak pernah bisa berbisik dengan benar.

"Duduk saja," katanya sambil memindahkan tas. "Aku suka dekat retakan. Kalau bosan, aku bisa menghitung semut."

Aku duduk di sampingnya. Dari jendela, sinar pagi mengenai sepatu kiriku. Lumpur perlahan mengering lalu pecah menjadi serpihan kecil di lantai. Gala menyapu serpihan itu dengan telapak tangan agar tidak terlihat seperti aku mengotori kelas. Ia tidak mengatakan apa-apa, dan justru karena itulah aku mengingat kebaikannya sampai bertahun-tahun kemudian dalam seluruh hidupku.

Pelajaran pertama adalah ilmu pengetahuan alam. Bu Satya menggambar akar tumbuhan di papan. Di balik dinding papan, suara kelas enam terdengar jelas. Guru mereka sedang menerangkan pecahan, sehingga penjelasan tentang akar bercampur dengan angka satu per dua dan tiga per empat. Kami sudah terbiasa memilih suara mana yang harus didengar.

"Akar menyerap air dari tanah," kata Bu Satya. "Apa yang terjadi kalau tanah terlalu kering?"

Gala mengangkat tangan. "Tanamannya pindah rumah, Bu."

Anak-anak tertawa. Bu Satya menggeleng, tetapi ujung bibirnya terangkat.

Aku mencoba memperhatikan, namun pikiranku kembali kepada rumah. Aku membayangkan Nira duduk di bawah pohon nangka, menunggu luka mengering. Aku juga memikirkan Ayah yang meminta bambu dari warga. Bagaimana jika Pak Bramantya menolak? Bagaimana jika hujan berikutnya datang sebelum jembatan selesai?

Bu Satya memanggil namaku.

Aku berdiri tergesa. "Akar menyerap air, Bu."

"Itu yang baru saja Ibu jelaskan. Pertanyaannya, mengapa kau tampak seperti berada di tempat lain?"

Kelas kembali tertawa kecil. Aku menatap lantai.

"Nira terluka kemarin," kataku. "Kakinya lecet karena sepatu basah."

Wajah Bu Satya berubah. "Parah?"

"Tidak. Hari ini istirahat."

Ia diam beberapa saat, lalu menyuruhku duduk. Setelah itu, ia tidak menegur ketika aku beberapa kali melihat keluar jendela.

Saat istirahat, sebagian anak berlari ke kantin kecil di samping halaman. Kantin itu hanya meja kayu beratap terpal. Bu Minah menjual singkong goreng, es lilin, dan permen gula. Aku membawa bekal sendiri, tetapi Gala mengajakku duduk di dekat sana karena tempatnya teduh.

Kami membuka daun pisang. Bekalku nasi jagung dengan garam dan sepotong kecil tempe. Bekal Gala berisi nasi putih dan telur dadar. Ia merobek telurnya menjadi dua tanpa bertanya, lalu meletakkan satu bagian di atas nasiku.

"Aku tidak minta," kataku.

"Aku juga tidak bilang itu pemberian. Telurnya terlalu besar."

Aku tahu ia berbohong, tetapi menerima karena perutku sangat lapar.

Beberapa anak berdiri di depan kantin. Di tengah mereka ada Jalu Baskara. Ayahnya memiliki toko bahan bangunan paling besar di kecamatan. Jalu datang ke sekolah dengan sepeda yang dicat merah. Sepatunya putih, bersih, dan bagian sampingnya memiliki garis biru. Hampir setiap beberapa bulan ia memakai model baru.

Jalu melihat ke arah kami. Pandangannya turun pada sepatu kiriku yang sedang mengering. Lumpur telah rontok, memperlihatkan kulit yang kusam dan jahitan lama di ujungnya.

Ia berjalan mendekat bersama dua anak lain.

"Langga," katanya, "sepatumu bunyi apa kalau berjalan?"

Aku tidak menjawab.

Jalu menggerakkan mulutnya, menirukan suara telapak yang terbuka. "Tek, plak, tek, plak."

Anak-anak di belakangnya tertawa.

Gala berhenti mengunyah. "Kalau mulutmu bunyi apa?"

"Aku tidak bicara denganmu."

Aku melipat daun bekal, berharap mereka bosan. Namun, Jalu berdiri tepat di depan kakiku. Ia mengamati sepatu itu seperti melihat barang aneh di pasar.

"Ini bekas siapa?" tanyanya.

"Bukan urusanmu."

"Dari pasar loak?"

Aku diam.

Jalu tersenyum kepada teman-temannya. Lalu ia menunjuk ujung sepatuku dan bertanya dengan suara cukup keras agar anak-anak di depan kantin mendengar, "Kau membawanya dari tempat sampah, ya?"

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!