" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.
Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.
Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Nev mengambil ponselnya sesaat ia tahu Nara mencarinya. Ia sedikit penasaran kenapa Nara mencarinya sampai ke tempatnya bekerja. Apa ada hal yang begitu penting hingga ia memutuskan untuk mencarinya kesini.
" Halo kak". Terdengar suara Nara menjawab telepon itu.
" Ergi bilang tadi kamu kesini".
" Iya kak, tadi Nara memang datang kesana. Tapi dokter Ergi bilang kakak tidak ada".
" Aku sedang keluar tadi. Memangnya ada apa?".
" Hanya mau bilang terima kasih".
" Hmm??? hanya itu". Nev terheran dengan jawaban Nara itu.
" Iya". Terdengar suara tertawa Nev. " Kenapa kakak malah tertawa".
" Tidak, kenapa kamu malah repot datang kesini hanya untuk mengatakan itu".
" Apa tidak boleh ya?".
" Aku tidak bilang kamu tidak boleh datang kesini Nara tapi.....".
Tut...tuttt...
Nev melihat ponselnya.
" Kenapa dia mematikan teleponnya???".
Sebenarnya Nara tidak menutup teleponnya. Ini karena Deril tiba-tiba mengambil ponsel itu dan tanpa sengaja mematikan telepon dari Nev.
" Ya Deril, papa pasti mengira kalau mama yang mematikannya".
Nara ingin menghubungi Nev kembali tapi diurungkannya karena Deril terus rewel. Nara mengangkat anaknya itu lalu menggendongnya agar ia lebih tenang.
" Kamu suka digendong sama mama ya", ocehnya.
-----
" Loh bi Asih masih disini?", tanya Nev yang melihat bi Asih masih dirumahnya padahal Nara sudah pulang dari kampusnya sejak tadi.
" Iya tuan, saya kasihan dengan nyonya. Tadi den Deril sempat rewel tuan. Makanya saya bersih-bersih dulu sebelum pulang", jawabnya.
" Oh begitu", ujarnya. " Sekarang mereka ada dimana?".
" Diatas tuan".
" Kalau begitu saya ke atas dulu bi".
" Iya tuan".
Nev lalu menaiki tangga, didapatinya Nara bersama Deril yang sedang sibuk dengan mainannya sedangkan Nara sibuk membaca buku.
" Sayang, papa pulang". Deril langsung berdiri dan berlari menemui Nev. " Kangen papa tidak".
Nev melirik Nara yang tidak memberikan respon atas kepulangannya.
" Deril, mama kenapa?", ujarnya pada anaknya itu. " Apa?? mama lagi ngambek".
" Siapa yang ngambek".
Nev melirik tersenyum.
" Tapi tadi kenapa ada yang tiba -tiba menutup telepon ya".
" Tidak, bukan Nara kok. Deril tadi kak".
" Oh ya??? jadi Deril ya, bukan mama".
" Benar bukan Nara!!".
Nev tertawa yang membuat Nara semakin kesal.
" Aku hanya bercanda. Maaf sudah membuatmu kesal".
" Haaa....tidak seru ah".
" Apanya yang tidak seru".
" Langsung minta maaf sih, jadi tidak seru".
" Mamamu aneh Deril".
" Kalian sedang apa?", tanya Sarah yang tiba-tiba muncul. " Seperti keluarga bahagia saja", celetuknya.
" Bagaimana kamu bisa masuk?".
" Ya bisalah kak, kan ada pintu".
" Lalu sedang apa kamu disini?".
" Memang kenapa??"
" Terserahlah", ujar Nev meninggalkan mereka.
" Kak Nev kenapa?" , tanyanya pada Nara.
" Tidak tahu kak", jawab Nara seadanya.
Sarah merebahkan tubuhnya. Ia menghela nafas panjang.
" Apa terjadi sesuatu?".
" Hmm".
" Apa ini ada hubungannya dengan dokter Ergi?".
" Haa???".
" Bukan ya".
Nara tersenyum kecil. Entah kenapa dia selalu menghubungkan Sarah dengan Ergi disetiap pembicaraan mereka. Sebenarnya bukan tanpa alasan dia menganggap seperti itu karena disetiap kesempatan dimana ada Sarah disitu selalu ada Ergi. Jadi bukan salahnya beranggapan begitu.
Sarah memejamkan matanya sejenak. Nara yang ada disampingnya perlahan meninggalkannya agar ia bisa beristirahat sebentar.
Nara sibuk didapur menyiapkan makan malam sedangkan Nev dan Deril sibuk bermain. Sarah yang baru bangun dari tidurnya duduk disamping Nev dan juga Deril.
Nara memanggil mereka untuk segera makan malam. Disela makan malam itu, Sarah mengatakan akan menginap malam ini bersama mereka. Mendengar ucapan Sarah itu, hampir saja Nara tersedak lalu Sarah memberikan air padanya.
" Kamu tidak apa-apa?", tanya Sarah yang khawatir.
" Tidak apa-apa kak", jawabnya.
Sudah dipastikan dia akan tidur dikamar Nev lagi malam ini. Baru saja ia bisa menikmati kamarnya sendiri malah dirusak dengan kedatangan Sarah yang akan menginap. Bukan Nara tidak suka dengan kedatangan Sarah tapi dengan Sarah menginap disini, itu berarti Nara tidak mungkin tidur dikamarnya itu.
" Sepertinya kamu kesal sekali", sindir Nev yang melihat Nara uring-uringan.
" Tidak, biasa saja", sahutnya. " Oh ya kak, kalau kak Sarah sudah tidur. Aku menyelinap keluar dan tidur dikamar sebelah ya".
" Coba saja. Tapi kalau terjadi sesuatu jangan libatkan aku".
" Baiklah...baiklah...". Nara mengurungkan niatnya itu lalu menarik selimutnya. " Kak".
" Hmm".
" Dokter Ergi dan kak Sarah....".
" Kenapa dengan mereka".
" Itu.... Omo!!". Nara terkejut melihat Nev yang sudah berada ditempat tidur. " Kenapa kakak tidur disini".
" Memang kenapa, ini kan tempat tidurku".
" Tapi biasanya kakak tidur di sofa".
" Tubuhku sakit sekali tidur di sofa itu lagi dan hari ini aku lelah sekali. Lagipula aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin tidur, hanya tidur, kamu mengertikan!".
" Mengerti", ujarnya terbata. Nara mengernyitkan dahinya.
Kakak ini kenapa, biasanya dia juga tidak ingin tidur disini.
Nara menarik selimut itu lalu menyelimutinya ke tubuh Nev. Ia keluar dari kamar Nev dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Setelah itu ia pun kembali kedalam kamar dan mendapati Nev sedang duduk sambil memegang ponsel ditangannya. Ia memberikan ponsel itu pada Nara dan yang membuat Nara terkejut adalah ketika Nev menyebutkan sebuah nama padanya.
" Hwan".
" Apa??". Nara melihat ponselnya dan terpampanglah nama Hwan dilayar ponselnya. Dengan kata lain tadi Hwan meneleponnya saat ia keluar dari kamar ini" Apa kakak menjawab telepon darinya?".
" Ya dan aku minta maaf".
" Apa kak Hwan mengatakan sesuatu?".
" Dia bilang dia merindukanmu. Mungkin dia mengira kamu yang menerima telepon itu karena aku sama sekali tidak bersuara sedikitpun".
" Lalu??".
" Tidak ada, aku langsung mematikannya".
Nara terdiam sesaat.
" Baiklah".
" Kamu bisa menghubunginya jika kamu mau", celetuknya kembali menarik selimutnya. Nara terdiam terpaku. Ia melihat ponsel itu sekali lagi. Didalam hatinya bergejolak, apakah ia harus meneleponnya kembali atau tidak.
Nara memandangi Nev yang sedang tidur. Dia juga sedikit heran mengapa suaminya itu bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudahnya. Padahal ia sedang berusaha untuk melupakan Hwan. Tapi mengapa ia mengatakan hal itu padanya.
" Aku tidak akan menghubunginya" ujar Nara lalu membaringkan tubuhnya diatas sofa.
Ia tidak bisa memejamkan matanya, ia tampak gelisah.
Nev pun demikian, ia membuka matanya dan melihat Nara berbaring di sofa itu.
" Maafkan aku", ujar Nev tiba-tiba. " Untuk kelancanganku tadi, aku benar-benar minta maaf padamu". Nara sedikit terkejut mendengar ucapan Nev itu.
" Memang benar aku kesal pada kakak untuk yang satu itu. Tapi, yang membuatku lebih kesal karena kakak dengan mudahnya menyuruhku menghubunginya jika aku mau. Sesaat dihati ini seperti bimbang apa aku harus melakukannya atau tidak. Tapi aku menyadarinya kembali kalau aku tidak boleh melakukan itu. Bukankah aku pernah mengatakan kalau aku sedang belajar melupakannya, tapi kenapa kakak mengatakan itu padaku. Bisakah kita menghargai perasaan satu sama lain??".
Raut wajahnya berubah, terlihat sekali saat ini Nara benar-benar marah padanya.
" Sebenarnya aku sedikit emosi saat mengatakan itu padamu. Sesaat aku berpikir, kamu ingin berbicara dengannya tapi tidak kamu lakukan karena terbebani dengan status pernikahan ini. Makanya aku mengatakan hal itu padamu".
Shock....ya itulah yang dirasakan Nara mendengar ucapan Nev barusan. Ia memilih diam karena ia tahu pembicaraan ini tidak akan ada habisnya dan malah akan memperbesar permasalahan ini.
Ia memilih menarik selimutnya lagi dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimutnya itu.
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹