Adara terpaksa menerima kehadiran seorang madu di rumah tangganya, dia tidak dapat berbuat apa-apa karena sang suami dan mertua yang begitu kekeuh menghadirkan madu tersebut. Madu bukannya manis, tapi terasa begitu menyakitkan bagi Adara.
Awalnya Adara merasa sanggup bila dirinya berbagi suami, tapi nyatanya tidak. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat sang suami dan adik madunya sedang berduaan. Apalagi hubungan sang mertua yang terlihat sangat dekat dengan adik madunya. Ditambah lagi suami dan mertuanya juga memperlakukan sang adik madu dengan begitu istimewa, bak seorang putri yang harus selalu dilayani dan tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Berbanding terbalik dengan Adara yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk menyiapkan kebutuhan sang adik madu.
Hati Adara sangat sakit menerima perlakuan tidak adil tersebut.
Sejauh mana Adara sanggup bertahan membina rumah tangganya yang tak sehat lagi?
Yuk ikuti terus cerita ini. InsyaAllah happy ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Pecat
Seminggu berlalu.
Jejak tentang kemana perginya Adara masih belum diketahui oleh Erlang dan yang lainnya. Padahal selama seminggu penuh mereka tiada henti mencari.
Siang malam, mereka tetap melakukan pencarian di mana Adara berada sekarang. Bahkan Saga sudah memerintah orang suruhannya untuk mencari Adara di setiap provinsi yang ada di Indonesia. Kota Jakarta pun sudah mereka telusuri hingga masuk ke gang-gang kecil, tetap saja mereka tidak menemukan Adara.
Adara seakan hilang ditelan bumi.
*
''Tama, mana Adara? Ibu sungguh takut terjadi apa-apa kepada nya,'' ucap ibu panti lirih dengan suaranya yang serak.
Kondisi Ibu panti semakin memprihatinkan, kini tubuh renta itu terbaring lemas di atas brankar rumah sakit. Semenjak tiga hari kepergian Adara tanpa kabar, kondisi ibu panti drop, sehingga dilarikan ke rumah sakit. Ibu panti terus saja menanyakan dimana keberadaan Adara. Beliau sangat mencemaskan Adara sehingga berefek buruk terhadap kesehatan tubuh nya.
''Ibu tenang saja, InsyaAllah Adara baik-baik saja dimana pun dia berada. Kita harus terus berdoa ya, Bu, untuk kebaikan Adara,'' kata Tama menenangkan sang ibu. Dia pun begitu cemas sekarang. Tama menggenggam tangan yang sudah berkerut tersebut, lalu mengecupnya beberapa kali. Tama sungguh takut sang ibu pergi sebelum bertemu dengan Adara. Nasib Tama dan Adara sama, sedari bayi mereka sudah tinggal di panti.
*
Setelah seminggu izin karena kondisi kesehatan nya yang masih belum memungkinkan untuk bekerja, akhirnya hari ini Erlang masuk kerja. Sekarang dia sudah kembali pulih, luka-luka di bagian tubuh nya sudah mengering.
''Hati-hati di jalan ya, suamiku,'' kata Winda melepas kepergian Erlang. Dia menyalami serta mengecup punggung tangan sang suami dengan takzim.
''Iya, Sayang,'' balas Erlang mengelus pucuk kepala Winda. Winda tersenyum lebar karena diperlakukan begitu lembut oleh sang suami. Mereka seperti pengantin baru yang begitu harmonis.
''Da ... da ... Suamiku sayang. Bekerja yang giat supaya jabatan kamu diangkat,'' kata Winda lagi saat Erlang sudah memasuki mobil.
Tidak jauh dari mereka, Sari berdiri, dia diam-diam memperhatikan anak dan mantunya tersebut.
''Indahnya pemandangan pagi ini. Inilah yang aku inginkan selama ini. Akhirnya Erlang menikah dengan wanita pilihan ku, dan kini sepertinya mereka sudah saling mencintai dan mengasihi. Baguslah. Akhirnya wanita miskin itu sadar diri dan pergi dari rumah ini. Mudah-mudahan saja dia tidak kembali lagi ke rumah ini. Capek banget selama setahun ini karena aku harus tinggal satu atap dengan benalu tak tahu diri itu,'' ucap Sari di dalam hati.
*
Setibanya di kantor, dia langsung masuk ke ruangan sang atasan.
''Selamat pagi, Pak,'' ucap Erlang sembari menunduk kecil. Kini, dia dan Saga tengah duduk berhadapan dengan satu meja sebagai pembatas.
''Selamat pagi juga, Pak Erlang,'' balas Saga dengan wajah datar. Dia menatap Erlang lekat.
''Kira-kira ada apa, ya, sehingga Bapak memanggil saya untuk menghadap Bapak?'' tanya Erlang sedikit gugup.
''Pak Erlang, apa anda sudah mendapatkan jejak tentang kemana perginya Adara?'' Saga balik bertanya dengan topik diluar pekerjaan.
Kini, Erlang memberanikan diri untuk menatap netra tajam Saga.
''Belum. Saya belum tahu di mana istri saya berada sekarang,'' jawab Erlang lesu dan putus asa.
''Makanya, kalau belum siap berpoligami, maka jangan kamu lakukan itu. Lihatlah, sekarang Adara lah yang menjadi korban, dia lah orang yang paling tersakiti karena ulah mu. Kenapa tidak kamu ceraikan saja dia sebelum kamu menikah lagi dengan perempuan lain. Adara pantas mendapatkan pendamping hidup yang jauh lebih baik. Dia pantas bahagia,'' ucap Saga serius.
Mendengar itu, Erlang jadi terpancing emosi nya.
''Maksud Pak Saga apa? Kenapa Bapak malah bawa-bawa urusan rumah tangga saya ke kantor? Tentang saya yang telah menikah lagi dan istri saya yang pergi dari rumah, semuanya biarlah menjadi urusan saya, saya bisa selesaikan sendiri. Bapak sama sekali tidak berhak ikut campur masalah pribadi saya. Saya tidak suka. Karena di sini, saya hanya bekerja untuk perusahaan ini dan mendapatkan upah yang layak dari pekerjaan saya. Selama ini saya sudah bekerja dengan baik di sini. Jadi jangan malah disangkut pautkan dengan urusan pribadi. Saya pun sekarang bingung harus mencari istri saya ke mana,'' ucap Erlang penuh penekanan. Dia menatap Saga penuh kecurigaan.
Suasana terasa semakin memanas.
Wajah Saga memerah mendengar perkataan Erlang. Dadanya turun naik karena emosi yang sudah menggebu-gebu. Rasanya ingin sekali dia menonjok wajah songong Erlang. Tapi dia masih berusaha untuk sabar.
''Erlang, apakah kamu tahu?''
''Tentang apa itu, Pak?'' Erlang masih memanggil Saga dengan sebutan Pak, karena dia takut kehilangan pekerjaannya. Dia menatap Saga dengan mata menyipit, dia penasaran dengan kelanjutan kata yang akan diucapkan oleh Saga.
''Tentang saya yang mencintai Adara sudah sedari lama. Saya sudah lama mengagumi nya, dan karena wanita yang saya cintai sudah kamu sakiti dan khianati, maka aku tidak akan terima hal itu. Aku sungguh membenci pria pecundang seperti mu,'' Saga berdiri dari duduknya, dia melangkah menuju jendela, lalu dia membalikkan tubuhnya menghadap jendela. Kini, dia berdiri memunggungi Erlang.
Erlang tidak terlalu kaget mendengar pengakuan Saga, karena dia sudah curiga dengan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh sang bos.
Erlang bertepuk tangan, lalu tertawa mengejek.
''Hah, apa tidak ada wanita lain di dunia ini sehingga seorang bos muda seperti anda harus memendam perasaan cintai kepada istri orang. Sungguh konyol dan menyedihkan sekali nasib anda. Pantesan saja saat saya sudah beristri dua, anda terkesan ikut campur urusan pribadi saya. Sepertinya anda masih kekurangan pekerjaan Pak Saga, sehingga harus mengurus urusan rumah tangga karyawan anda sendiri. Apakah pekerjaan anda di perusahaan masih belum cukup? Sampai kapanpun saya tidak akan pernah melepaskan Adara, jadi terus lah bermimpi dan berkhayal untuk memilikinya,''
''Dasar brengsek!''
Saga membalikkan tubuhnya, lalu.
Bugh.
Akhirnya dia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
''Anda yang brengsek Pak Saga, karena diam-diam menyukai istri saya,'' Erlang tersenyum sinis sembari memegang sudut bibirnya yang terasa perih akibat bogeman mendadak dari Saga.
''Mulai hari ini kamu saya pecat Erlang!'' tegas Saga.
''Keluar lah dan angkat kaki mu dari perusahaan ini,'' sambung nya. Sungguh, dia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Erlang, dia takut nyawa Erlang melayang karena dia yang tak bisa menahan amarah.
''Tapi, Pak ...,''
''Keluar!''
''Anda akan menyesal karena telah memecat saya!''
''Dan ingat, saya pastikan anda tidak akan pernah mendapatkan Adara!'' sambung nya. Lalu dengan langkah kaki lebar dia keluar dari ruangan Saga. Dia membanting pintu hingga mengeluarkan suara cukup bising.
*
Di tempat berbeda, seorang wanita menangis haru setelah membaca hasil tes yang diberikan oleh Dokter.
''Aku harus segera pulang. Agar kebenaran ini segera terungkap, rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin memberitahukan kabar baik ini kepada putri ku,'' gumam Vero seraya memasukkan kertas hasil tes ke dalam tas. Tangannya gemetar disertai detak jantung yang berpacu cepat.
Dengan tergesa-gesa dia berjalan melewati koridor rumah sakit, hingga beberapa kali tanpa sengaja dia menabrak orang-orang yang berada di tempat yang sama dengan nya.
Bersambung.
Jangan pernah bosan ya baca kisah Adara hingga dia menemukan cinta sejatinya.
Kira-kira jodoh Adara kelak siapa, ya?
Saga or Farras?
Like, subscribe, vote dan kasih hadiah juga ya. Terimakasih.
saga kasihan Thor😢😢
dan semoga rajin lagi Up nya 😍